Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 46 : Pelakunya


__ADS_3

“Om, Tante, Izraa gimana?” Syila yang sebenarnya belum putih betul, datang dengan cara berlari, membuat semua orang ikut khawatir, karena dia juga tidak dalam keadaan baik-baik saja. Ini masih sangat pagi, Syila bahkan semalaman tidak bisa tidur dan memaksa untuk langsung datang begitu tahu Izraa tertembak, papi menahannya hingga subuh tiba, lalu mereka solat dan setelahnya, papi langsung antar Syila ke rumah sakit.


Syila memaksa untuk datang, walau ayahnya sudah memperingatkan bahwa Syila juga masih dalam keadaan pemulihan. Jadi, tidak bisa banyak bergerak atau tegang.


“Baru saja selesai, dia sudah melewati masa kritis, kau jangan lari-lari, baru saja sembuh bukan?” Papinya Izraa memapah Syila untuk ikut ke kamar inap, semua orang mengikuti mereka.


Izraa masih belum siuman, ruangan VVIP tentu sangat luas, sehingga semua orang bisa masuk dan menunggui Izraa yang masih terlelap. Dia sudah di ruang inap.


“Syila ini Fenita, dia yang menemukan Izraa di jalanan dekat rumahmu, dia yang menelpon ambulans dan Polisi.” Maminya Izraa memperkenalkan Fenita.


“Oh halo, terima kasih sudah menolong Izraa.” Syila berkata dengan ramah. Fenita menyodorkan tangan untuk perkenalan. Lalu dia duduk di samping Syila.


“Kau baik-baik saja?” Fenita bertanya, karena Syila terlihat pucat.


“Ya, aku baik-baik saja.”


“Kau bisa tenang sekarang, karena Dokter bilang bahwa Izraa sudah stabil.” Fenita bersikap seperti seorang kakak, wajahnya cantik, pembawaannya anggun, bicaranya sungguh menenangkan. Syila tersenyum, karena dia tahu, hatinya merasakan bahwa, Fenita wanita yang baik.


Mami dan papi Syila akhirnya pulang, Fenita juga pamit pulang karena dia sudah cukup lama menunggu di rumah sakit dan Izraa belum bangun juga, jadi dia pamit karena ada beberapa jadwal kerja yang harus dipenuhi.


Syila mengantarnya sampai ke lobby rumah sakit.


“Fenita terima kasih ya, kau sungguh menolong Izraa, jika terlambat, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padanya.”


“Syila, semua sudah ditakdirkan Tuhan, jadi kau tenang saja ya, kalau Tuhan mengirim orang untuk menolong orang lain yang sedang celaka, berarti orang itu memang dimaksudkan untuk tetap sehat. Kau itu pucat sekali, seharusnya kau juga jaga dirimu. Nanti kalau kekasihmu bangun melihatmu sepucat ini, dia pasti akan menyesal karena telah membuatmu khawatir.”


“Fenita kau orang baik, semoga kau selalu sehat dan dilindungi Tuhan ya.” Syila memeluk Fenita lalu mereka berdua berpamitan.


Syila kembali ke ruang inap dimana Izraa masih tertidur.


Orang tua Izraa sudah tidak ada, mereka istirahat di kamar VVIP lain karena lelah semalaman tidur berbagi sofa, menunggui Izraa yang baru saja masuk ruang rawat inap.


Syila mendekati ranjang Izraa, dia duduk di sampingnya, menatap Izraa, betapa pucat wajah tampan itu. Syila menangis, yang dia tangisi itu adalah, kejadiannya masih di dekat rumah Syila, tapi dia bahkan tidak tahu.


Izraa selalu ada di waktu sulitnya, tapi Syila selalu alpa di waktu sulit Izraa.


Syila mengusap wajah itu, menatapnya dalam dan berdoa dengan mata terpejam, dalam doanya dia meminta kepada Tuhan agar Izraa bisa baik-baik saja dan sehat kembali.


"Za, bangunlah, aku berjanjin, jika saja kau bisa sehat dan pulih seperti semula, aku berjanji akan bersikap jauh lebih baik padamu, aku akan belajar membuka hati untukmu, aku mohon Za, jangan tinggalin aku kayak gini ya, aku bener-bener nggak mau kamu sakit. Hatiku rasanya sangat sakit melihatmu lemah begini." Syila berkata sambil berurai air mata, dia sangat tidak suka keadaan ini, dia dan Izraa sama-sama sakit.


Tak lama dia terpejam, saat matanya terpejam, dia merasa ada yang menyentuh wajahnya, mengusap air mata.


Syila membuka mata, melihat Izraa sedang tersenyum menatap padanya dengan senyum yang dipaksakan.


“Za ….”


“I’m ok,” Izraa berkata.

__ADS_1


“No, itu pasti sakit banget, kan?” Syila menangis, air matanya tidak dapat dia bendung lagi. Walau sebenarnya dia juga malu, perkataannya ternyata di dengar.


Izraa tersenyum dan tetap mengusap wajah Syila. Syila langsung memencet tombol panggilan tenaga medis, dia ingin Izraa segera di periksa.


Beberapa Dokter datang bersama beberapa Perawat.


Mereka memeriksa keadaan Izraa, Syila menyingkir sejenak, tidak lama kemudian Andi datang, dia menemani Syila sementar Dokter sedang memeriksa Putra Mahkota rumah sakit ini.


“Gimana kejadiannya? Kenapa bisa gantian sih, kemarin elu yang diculik, sekarang Izraa yang ditembak, berat banget kalian jalanin hidup setelah bertemu.”


Omongan Andi membuat Syila tersentak, tidak ada yang mendengar itu selain Syila, tapi perkataan itu terasa benar.


Orang tua Izraa datang, mereka berbicara dengan para Dokter setelahnya di ruangan berbeda, meninggalkan Syila dengan Izraa, Andi sibuk dengan jadwal Syila di sofa ruang inap yang berada agak jauh dari tempat Izraa berbaring. Syila duduk kembali di samping ranjang Izraa dan memberinya minum, duduk Izraa pun sudah duduk lebih tegak.


“Apa yang terjadi malam itu? daerah rumahku terlalu aman untuk seorang pembegal, kau tahu kan, untuk masuk komplek rumahku saja kau perlu menaruh kartu identitas.” Setelah sedih, logika Syila kembali, dia heran, karena selama belasan tahun, ini adalah kejadian yang pertama terjadi.


“Bukan hanya seorang, ada beberapa orang yang datang, salah satunya membawa senjata api, tidak mungkin jika ini hanya aksi begal, ini seperti sudah direncanakan.”


“Kau akan meneruskan masalah ini?”


“Menurutmu?” Izraa bertanya.


“Harus! Kita harus tahu, siapa dibalik penyerangan ini.”


“Kita mulai dari security yang menjaga komplek itu, aku tahu wilayah ini sudah di luar komplek rumahku, tapi untuk ke jalan raya, kau masih harus berkendara selama sepuluh menit, jadi seharusnya tetap ada security yang bolak-balik untuk cek keadaan walau ini adalah luar komplek, tapi belum masuk jalan raya.”


“Ya, kau benar.”


“Ini karena insting kepenulisan, atau kau memang khawatir padaku?” Izraa keluar dari topik yang sedang mereka bicarakan.


“Rasa bersalah, karena kau datang ke rumahku, makanya terjadi penyerangan ini.” Syila menolak untuk mengatakan ini adalah pembegalan, dia yakin ini penyerangan. Tapi Syila lagi-lagi tidak menepati janji, padahal dia tadi berjanji akan bersikap lebih baik pada Izraa, dia masih saj menutupi rasa khawatirnya.


“Baiklah, itu lebih masuk akal.” Ada raut kecewa dalam wajah Izraa.



“Ini Fenita, dia yang menolongmu saat pembegalan itu terjadi, Za.” Syila yang masih di ruang inap Izraa selama dua hari ini memperkenalkan wanita yang menolongnya.


Fenita datang menjenguk lagi setelah dua hari Izraa dirawat, banyak media datang untuk meliput, berita ini bocor, tapi entah siapa yang membuat berita ini terendus media, padahal seharusnya berita ini tidak boleh keluar. Syila takut project filmnya akan berantakan karena pemberitaan yang tak berimbang, sementara ini, Polisi tetap menetapkan ini sebagai kejadian pembegalan, karena belum ada indikasi pembunuhan, Izraa telah memberikan pernyataan bahwa dia tidak memiliki musuh yang dicurigai.


“Oh ya, terima kasih, aku sedikit ingat wajahmu karena saat aku meminta tolong, kau langsung menelpon ambulans, setelahnya aku lupa.” Izraa berterima kasih.


“Iya, aku juga kaget malam itu, kawasan itu biasanya aman, walau aku tidak selalu di lingkungan itu, tapi aku tahu kalau lingkungan di sana aman sekali.” Fenita membuat pasangan yang sudah curiga ini semakin yakin.


“Ya makanya, kami bermaksud menyelidikinya Fen,” Syila berkata.


“Wah seru sekali, kalau butuh bantuanku, aku bersedia bantu ya.” Fenita terlihat ikut bersemangat.

__ADS_1


“Ya, aku akan hubungi kalau butuh bantuan, tapi apakah itu tidak menakutkan untukmu? Karena bisa jadi ini berbahaya.” Izraa terlihat khawatir pada semangat dua wanita muda yang cantik ini.


“Aku bosan dengan latihan dan juga konser, aku sedang ingin cari udara segar, boleh kan?”


“Tentu saja, semakin banyak kepala, semakin baik. Lagi pula Fenita itu orang yang seharusnya ikut dalam penyelidikan ini Za, karena dia adalah saksi kunci yang melihat wajah dari para pelaku itu, dia juga sudah memberikan pernyataannya pada Polisi lalu akhirnya Polisi bisa membuat sketsa wajah.” Syila terlihat senang, dia merasa Fenita sungguh mirip denganya.


“Tenang, jangan bergerak terlalu gegabah, kalian ini dua wanita, jadi harusnya berhati-hati.” Izraa mengingatkan, akan sangat bahaya kalau mereka kenapa-kenapa karena ingin mengungkap kasus ini.


Setelah berbincang cukup lama, Fenita pamit, Syila masih di ruang inap Izraa.


“Kau tidak lelah? Tidak ingin pulang ke rumah dan istirahat?” Izraa tiba-tiba bertanya.


“Tidak, aku lebih suka di sini, di rumah aku sulit fokus menulis.”


“Memikirkanku?” Izraa tersenyum.


“Tidak, kau tahu kan, kalau Papi tidak suka aku menulis, dia suka mengganggu jika aku sedang fokus menulis, kalau di sini aku bisa bebas menulis.” Syila tersenyum dengan lebar. Dia masih saja tidak menepati janji.


“Jadi kau melarikan diri ke sini, bukan menjagaku?” Izraa kesal.


“Tak apa kan?” Syila bertanya.


“Ya, bisa saja, tapi seharusnya itu menjadi hitungan budi.” Maksudnya, lagi-lagi Izraa dimanfaatkan untuk kesenangan Syila saja, Izraa tidak tahu kalau jauh dari keinginan menulis, Syila lebih takut kecolongan lagi, takut kalau akhirnya Syila tidak tahu Izraa celaka.


“Kau perhitungan.” Syila memonyongkan mulutnya.


“Aku memang perhitungan dan hutangmu banyak sekali padaku. Jadi hati-hati, kalau sudah tiba waktunya, aku akan tagih, jika tak bisa membayar, aku bisa saja meminta hal di luar nalar.”


“Tagih saja, aku pasti bisa membayar, kau tahu kan, aku orang kaya dan papiku juga kaya.” Syila menyombongkan diri pada lelaki yang jelas jauh lebih kaya dari dia. Bahkan papinya Syila digaji oleh papinya Izraa.


Syila meneruskan kembali menulis bukunya yang sudah pending cukup lama karena banyak masalah yang mereka hadapi. Dia menulis di hadapan Izraa.


Pemandangan di luar rumah sakit cukup indah di malam hari, Syila senang berada di ruangan ini, melihat pada indahnya kota Jakarta pada malam hari, menulis kata indah, menulis puisi yang sempat dia abaikan karena akhir-akhir ini kesulitan menulis puisi cinta.


Tapi entah kenapa, beberapa hari ini puisi cinta itu mengalir dengan mudahnya, entah karena pemandangan malam Jakarta dari jendela ruang rawat inap Izraa atau karena lelaki yang diam-diam Syila pandangi dalam tidurnya, menatap betapa tampannya lelaki itu, dalam tidur saja begitu menggemaskan. Syila tidak sadar telah tersesat dalam wajah pria yang tidak ingin dia cintai, karena mencintainya adalah suatu kesalahan, cinta pria itu semu, hanya karena ‘sakit’ lah pria itu mencintai Syila, Syila adalah obat yang membuat pria itu memiliki harapan sembuh. Maka mempercayai cintanya adalah hal bodoh.


Tidakkah kalian kasihan pada Syila, jika akhirnya dia benar-benar mencintai Izraa, maka hatinya memilih mencintai, lalu jika akhirnya Izraa sembuh dan bisa mengenali rasa cintanya hanya sebagai obat, begitu sembuh, obat tak dibutuhkan lagi, Izraa bisa bertahan hidup tanpa obat lagi, sedang Syila? cintanya mungkin kembali hilang lagi, hatinya mungkin hancur lagi, jiwanya akan semakin mati.


__________________________________


Catatan Penulis :


Wahai hati yang jauh, aku mencintaimu.


Wahai hati yang jauh, aku tahu kau tidak mencintaiku tapi mencintainya.


Wahai hati yang jauh, aku akan merelakanmu, untuk bahagia.

__ADS_1


Tapi maukah kau tetap mengingatku, sebagai jiwa yang mencintaimu dengan sepenuhnya, tanpa sisa dan berakhir menjadi jiwa yang mati.


Maaf karena pernah hadir di dalam hidupmu.


__ADS_2