
“Dia tetap memaksa untuk melakukan konferensi itu Syil.” Andi sudah di rumah Syila lagi, “aku tidak bisa memaksa karena dia membawa para pegawai sebagai orang-orang yang menjadi bebannya, alasan kita tak sebanding dengan yang dia pegang.”
“Jadi, rasa maluku tak ada apa-apanya karena penderitaan dia menanggung banyak orang? maluku terhadap kecacatan ini tak ada harganya?” Syila hampir menangis mendengar itu.
“Syil, aku tahu bahwa beban ini tak bisa dibandingkan dengan apa yang kau rasakan, tapi ingat ini, kita tak akan pernah bisa mengendalikan orang lain, kita hanya bisa mengendalikan diri kita sendiri.”
“Aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri! Bagaimana caranya aku mampu mengendalikan diriku sendiri, sementara tanganku saja tidak bisa aku gerakkan!” kecacatan sungguh membuat Syila menjadi orang yang jauh lebih bodoh dibanding diri yang sebelumnya, dia tidak bisa memaksa dirinya menjadi kuat.
“Cil, minum obat dulu ya.” Andi memberikan obat, ada satu jenis obat yang tidak Syila ketahui, bahwa itu adalah obat penenang, Papi menambahkannya setelah berkonsultasi dengan dengan Psikiater, karena takut Syila menjadi semakin kalut dan melakukan hal yang bisa mencelakai diri, maka ketika dia tak terkendali, biasanya mami langsung memberikan obat itu, Andi dititah untuk memberikannya siang ini.
Andi lalu meminta Syila berbaring, setelah ini Syila akan tertidur, maka benar saja, tidak dibutuhkan waktu lama Syila sudah tertidur, lalu Andi keluar kamar, sedang mami sedang duduk di meja makan, tidak makan, hanya duduk termenung.
“Sudah minum obat dia?”
“Sudah, sekarang tertidur.”
“Kalau begitu biarkan saja dulu,”
“Mami istirahat saja, aku harus pergi dulu, nanti kalau ada apa-apa telpon aja ya.” Andi pamit untuk ke suatu tempat.
“Ndi, jangan ambil hati perkataan adikmu ya, pokoknya kau harus sabar padany, kau tahu kan, kondisinya sangat tidak baik, itu benar-benar mempengaruhi mentalnya.”
“Iya Mi, aku akan selalu jagain adikku, walau kemarin dia menyebalkan dan tak ingin bertemu, tapi Andi tidak pernah berhenti memantau kok, Mi. Syila itu tanggung jawab Andi, pertengkaran kami, ya kayak adik kakak aja.”
“Mami tahu, Andi bisa diandalkan, yasudah hati-hati, jangan lupa bawa masakan Mami buat di rumah ya.”
“Iya Mi, yaudah Andi pergi dulu ya.” Andi lalu benar-benar pamit, dia menggunakan mobil keluarganya.
Dia menuju suatu tempat, karena dihubungi seseorang, dia harus berbicara dengan orang itu karena katanya dia punya jalan keluar.
...
“Jadi, apa yang mau kau tawarkan?” Andi bertanya.
“Aku tahu kalau Ammarhudi memaksa Syila untuk melakukan konferensi pers itu dan aku tahu kalian tidak punya jalan lain, pertama ikut konferensi pers atau ikut menjadi tersangka.”
“Ya, bisa langsung ke intinya aja?” Andi protes pada Izraa, ya, orang yang ditemuinya adalah Izraa.
__ADS_1
“Aku punya jalan keluar, ini bisa dibilang win-win solution.”
“Apa jalan keluarnya?”
“Kita buat konferensi persnya seperti ini ....” Izraa menjelaskan lebih lanjut, Andi memperhatikan dengan sangat serius, sekitar satu jam kemudian Andi mengangguk, yakin cara ini akan berhasil dan akhirnya pamit, sedang Izraa masih di kafe itu, tempat ngopi langganannya, dulu Syila juga sering ke sini.
Andi merenungi semuanya dan menunduk lalu berkata, aku akan membuatmu baik-baik saja, apapun yang terjadi. Dia bertekad.
Setelahnya dia pergi untuk mempersiapkan apa yang sudah dia bicarakan dengan Andi, tapi sebelum itu, dia harus bicara dengan Pak Ammarhudi secara langsung.
Maka dia pergi ke perusahaan itu.
“Bapak nggak bisa diganggu dulu, mungkin nanti kalau ada waktu lagi.” Sekertari Ammarhudi menolak.
“Ini penting soal kasus Syila.”
“Tak bisa, katanya bapak, hanya akan bicara soal kasus itu, jika Syila yang menemuinya, dia sudah tak ingin bicara lagi dengan orang lain selain Syila, dia cukup kesal saat Andi memaksa tadi, jadi aku minta maaf, tidak lagi bisa membantmu.” Sekertaris itu lalu pergi menyelesaikan pekerjaannya yang lain.
Izraa kesal karena lelaki itu sombong sekali menolaknya, dalam hati Izraa berkata, awas saja, besok kalau ada proyek, Izraa akan menolak, biar tahu rasa orang itu.
Di tempat yang lain, seorang wanita sedang berada di ruang kerja suaminya, mereka sedang makan siang bersama, sengaja makan siang di kantor tidak keluar karena butuh bicara soal yang penting.
“Kau sudah memberi reporter itu uang?” Lelaki itu bertanya pada istrinya.
“Sudah, aku meminta asistenku memberikan uangnya secara tunai biar nggak ke track.” Istrinya berkata sembari menyuap nasi, mereka makan di sofa mewah yang ada di ruang kerja suaminya.
“Apa Syila terguncang parah karena kejadian itu?” Suaminya bertanya.
“Ya, dia terguncang parah, tak ingin bertemu dengan siapapun lagi, apalagi acara dengan orang ramai.” Istrinya menajwab, mereka menikmati makan siang dengan santai sembari terus membicarakan tentang suatu kejadian.
“Lalu soal PH kecil yang mendompleng nama itu bagaimana?”
“Mereka sudah luncurkan satu episod, aku minta mereka hanya memplagiat untuk 3 episod saja, setelahnya jalan dengan naskah lain, kau tahu kan, kalau plagiat akan bisa dikenakan maslaah hukum jika terbukti memplagiat hampir keseluruhan, nama dari tokoh juga aku minta mereka ganti, hanya 3 episod saja yang sangat mirip dengan novel Syila, agar Ammarhudi masuk jebakan dan menekan Syila melakukan konferensi pers.”
“Lalu soal bukti kontrak kerjasama ganda itu, apakah Ammarhudi percaya?”
“Orang-orangku bilang, Ammarhudi adalah orang yang mudah tersulut, kontrak kerjasama palsu itu sudah kami buat sedemikian rupa, tapi jelas, kalau dinilai keasliannya, akan langsung terlihat jika dicek tenaga ahli. Maka akan aman untuk Syila jika kemungkinan terburuk kasus ini masuk pengadilan, Ammarhudi akan kena batunya karena terjebak.” Maminya Izraa sebagai eksekutor menjelaskan.
__ADS_1
“Tentu kita berharap, kasus ini tak masuk pengadilan.” Papinya Izraa berkata.
“Tapi aku sudah siap jika memang harus masuk pengadilan, Syila pasti menang, Izraa akan hadir sebagai penolong, dia takkan mungkin membiarkan Syila sendirian menghadapi ini, mereka akan dekat lagi, kita lihat saja, mereka akan menikah, kita akan pastikan mereka menikah.”
“Apapun yang Izraa inginkan, pastikan dia dapatkan, semakin banyak dia berhutang budi pada kita, maka semakin baik untuk kita, supaya dia akhirnya bisa menjalankan perusahaan ini.”
“Aku akan pastikan dia kembali pada keluarga kita, Syila kuncinya, kita harus pegang Syila agar Izraa tak bisa kemana-mana.”
“Kau memang paling bisa aku andalkan.” Papinya Izraa mengelus kepala istrinya yang sangat cerdas itu, rupanya dari mulai baju dari designer itu, lalu reporter serta masalah kontrak kerjasama ganda itu diprakarsai oleh mami dan papi Izraa, sungguh mereka berdua mengerikan.
...
Keluarga Syila sedang makan malam, semua orang berkumpul, termasuk Hanum, Andi dan ... Izraa.
Syila terkejut ada lelaki itu dan diterima oleh mami, dia tidak ingin membicarakan apapun, dia anggap Izraa hanya berkunjung, tak lebih dari seorang teman.
Lalu mereka semua makan dengan santai dan setelahnya, mami memberikan makanan penutup pada semua orang, alih-alih menggiring semua orang ke ruang kerja, mami akan membicarakannya di ruang makan itu.
“Syil, ini soal konferensi pers itu.” Mami membuka obrolan. Syila yang tadinya bersemangat menyuap makanan dengan tangan kirinya, karena sekarang dia harus belajar makan dengan tangan kiri dan sudah lumayan mahir, terdiam, karena paham, obrolan ini pasti ke arah sana, makanya semua orang berkumpul, walau dia tak bisa menebak apa yang ingin mami bicarakan.
“Ada apa Mi?” Syila bertanya.
“Kami sudah membicarakan soal kasusmu dan kami sepakat untuk mengadakan konferensi pers itu, Syil.” Mami melanjutkan, Syila terdiam, dia menaruh sendok makanan penutupnya dan mulai menangis. Hal yang semua orang tak sangka Syila akan melakukan itu.
“Apa kalian lupa, kalau aku perempuan cacat yang trauma hadir di khalayak ramai? Aku tidak mau ikut pernyataan publik itu, aku tidak mau jadi olok-olokkan atau belas kasihan orang lain!”
“Syil, dengar dulu.” Andi meminta Syila diam dan mendengar.
“Syil, kita akan lakukan bersama, kau takkan melakukan itu sendirian, maka dengarkanlah, kita akan melakukannya seperti ini ....”
Mami mulai menceritakan skema rencana yang Izraa kemukakan kemarin bersama Andi, rupanya Izraa sudah bicara duluan dengan semua orang kecuali Syila, Izraa ingin agar semua orang mengerti dulu, baru Syila yang akan diberi pengertian. Maka semua akan semakin jauh lebih mudah, termasuk membujuk Syila.
“Bagaimana? apa kau setuju?” Mami sudah selesai membicarakan rencana itu dan tetap memberitahu bahwa ini ide Izraa.
Syila terdiam, dia berhenti menangis dan memikirkan kemungkinan itu, apakah bisa dia lakukan atau tidak.
Semua orang optimis, Syila akan setuju.
__ADS_1