
“Ok, aku akan bilang pada sekertaris itu untuk mengeluarkan namanya dari daftar wartawan yang boleh hadir.” Andi lalu melanjutkan lagi pekerjaannya serta Syila dan Izraa juga masih melanjutkan draftnya.
Saat sedang mengerjakan draft itu, tiba-tiba telepon genggam Izraa berdering, Izraa melihat siapa yang menelponnya, lalu Syila tak sengaja reflek melihat ke arah layar telepon pintar milik Izraa itu dan saat sama-sama melihatnya, Syila tersadar kalau layar telepon Izraa backgroundnya adalah foto dirinya, Syila jadi kikuk dan pura-pura melihat laptopnya lagi.
Sementara Izraa tetap tenang dan santai menerima telepon yang ternyata dari salah satu orang suruhannya itu.
Izraa menerima telepon itu, ternyata orang suruhannya yang sedang tes jaringan di lokasi milik Ammarhudi itu, dia bilang semua hal sudah terkendali dengan baik, acara mungkin akan berjalan dengan lancar.
“Semuanya sudah aman terkendali, kita bisa jalan dengan lancar.” Izraa memberitahu Syila yang masih merasa aneh karena fotonya menjadi background dari telepon pintar milik Izraa, sedang dirinya, telepon genggam milikinya hanyalah pemandangan yang merupakan bawaan dari telepon pintar itu sendiri untuk jadi background.
Syila memang bukan gadis yang biasa menaruh siapapun sebagai background apapun, karena dia merasa itu terlalu merepotkan, menaruh seseorang untuk dijadikan pajangan di telepon pintarnya, bagi Syila itu juga norak. Lagi pula, dia bukan wanita alay yang menaruh idola atau pasangan sebagai background dari telepon genggamnya.
Tentu pandangan Syila tentang ini tidaklah benar, orang-orang yang menaruh foto orang yang dia cintai di telepon pintarnya sebagai sesuatu yang berlebihan dan lelucon, itu juga bisa bagian dari keromantisan, dipercaya sebagai cara seseorang mengekspresikan rasa cintanya.
Lalu apakah Izraa memang memiliki cinta itu? Atau ini masih perkara obat saja, karena dia tak ingin menjadi ketergantungan dengan obat sebenarnya, maka dia perlu obat yang bisa menyembuhkan? Dia selalu bilang bahwa wajah Syila adalah jalur herbal yang dia pilih.
“Alhamdulillah.” Syila lalu fokus ke laptopnya lagi dan mereka mulai saling berdiskusi, melanjutkan yang tadi belum selesai, tapi lagi-lagi terinterupsi dengan makanan yang mami pesan, baru saja datang.
“Mi, ini makanannya mau Andi taruh mana?” Andi membawa banyak makanan pesanan mami.
“Di sini aja dulu, biar mami sama mbak piringin dulu.” Andi masuk ke dapur dan memberikan makanan itu pada mami.
Lalu mami dan mbak mulai menata makanan itu ke piring, terpaksa Syila menaruh laptopnya di meja belakang, meja pajangan dekat meja makan, karena mami akan menaruh makanan-makanan itu untuk dimakan bersama.
Mami memesan ayam panggang, rendang dan juga semur, mami sengaja selalu memesan makanan berbagai lauk, agar semua orang bisa makan yang disukai, karena terkadang ada orang yang sukanya makan ayam atau daging saja.
Mami sudah menyiapkan makanan ini selama persiapan untuk acara itu, mami selalu menjamu para tamunya dengan baik, tentu saja mami dan papi tidak keberatan mengeluarkan budjet untuk makan saja, apalagi ini membuat Syila akhirnya mau keluar kamar, tidak di sana saja sibuk dengan pikirannya tentang kecacatan.
Lalu semua orang dipanggil untuk makan di meja makan, tidak terlalu banyak orang karena papi dan Alzam tidak pulang, seperti biasa mereka makan di rumah sakit, tersisa hanya mami Syila, Andi dan beberapa orangnya Izraa.
Izraa makan dengan lahap, Syila melihat itu tertawa, dia duduk di samping Izraa, dia merasa Izraa ini seperti habis menguli saja.
“Kenapa?” Izraa sadar dia telah ditertawakan.
“Abis nguli di mana sih? Makannya sampai begitu?”
__ADS_1
“Biasa sajalah.” Izraa bersikap sok keren lagi, padahal tangan dan mulutnya belepotan makanan.”
“Ini pasti makanan kesukaanmu ya?” Syila bertanya karena merasa Izraa lahap sekali.
“Biasa saja.” Izraa tak mau memberitahu, sementara semua orang memperhatikan betapa sumringanya wajah Syila, seperti dua orang remaja yang suka bersenda gurau, itulah Syila dan Izraa.
"Alah suka aja nggak mau ngaku, aneh ih." Syila tertawa lagi, Izraa melihat Syila pura-pura kesal karena tidak suka dianggap rakus bertemu makanan yang dia sukai.
Dia hanya berpura-pura, Izraa memang sering berpura-pura akhir-akhir ini, semua hanya tentang Syila.
Semua orang sudah selesai makan, yang lain di depan istirahat sebelum mulai kerja lagi, Syila bilang mau di kamar saja, mau istirahat, Andi di belakang membantu Mami, Izraa masih duduk di meja makan, dia sedang memeriksa beberapa hal.
Mami selesai membereskan meja bersama dengan pembantu dan Andi, dia duduk di samping Izraa, sementara Andi ke kamar Syila, dia bilang butuh udara dingin, karena ruang makan ACnya tidak dinyalakan, banyak pintu dan jendela yang dibuka, jadi percuma saja jika dinyalakan.
Izraa tahu, ada maksud dengan duduknya mami di sana.
“Apakah persiapan sudah selesai?”
“Hampir, Tan.”
“Terima kasih ya.”
“Apa membantu Syila menjadi tugas wajib bagimu?” Mami tiba-tiba bertanya, Izraa terdiam dari berkutat di laptopnya, dia lalu menutup laptopnya, ini mungkin akan jadi obrolan serius.
“Bukan membantu Syila, memastikan debut kembaliku tetap berjalan lancar, jika Syila tersandung masalah, maka aku akan kena imbasnya sebagai pemeran utama, aku tidak mau langkah kembaliku ke dunia perfilman setelah lama vakum jadi tercoreng, ada manfaat yang aku dapatkan atas bantuan yang aku dapatkan.”
“Aku tidak pernah melihat satu pun lelaki yang melakukan upaya sekeras ini untuk mendekati anakku, bahkan kekasih terakhirnya, aku tidak terlalu suka padamu sejak kejadian itu, membuat anakku harus kehilangan fungsi tangan, tapi aku juga harus setuju, ketika kau bilang pada Alzam, bahwa saat ini, takkan ada yang mampu menjaga Syila sebaik dan setulus dirimu, karena ada campur tangan rasa bersalah. Tapi, apakah rasa bersalah mampu bertahan cukup lama dalam sebuah hubungan? Apakah kau benar-benar akan menjaganya hingga akhir?”
“Aku tidak bisa berjanji, tapi Syila punya sesuatu yang tidak semua perempuan miliki, hanya dia yang mampu, mencari ke ujung dunia pun aku tak akan bisa menemukan pada perempuan lain, jadi … bukan berapa lama aku mampu bertahan menjaganya, tapi berapa lama lagi aku mampu bertahan berjauhan dengannya.” Izraa berkata secara terbuka, bahwa dia bersungguh-sungguh.
“Apa kau benar-benar mencintainya?”
“Cinta itu punya batasan, ada waktu, ada situasi dan kondisi bahkan bisa hilang begitu saja, dibanding cinta, aku lebih suka mengatakan bahwa … bukan Syila yang butuh aku, tapi aku yang butuh Syila, Tante. Aku tidak bisa berjauhan darinya, aku sangat ingin bersamanya.” Izraa memang tidak bisa bilang soal penyakitnya, tapi jawaban ini terasa sangat dalam, bukan?
“Kalau soal cinta tak bisa kau pastikan, tapi apakah kau bisa menjamin satu hal?” Maminya Syila bertanya.
__ADS_1
“Apa itu?”
“Membuat anakku bahagia.”
“Syila akan selalu menjadi prioritasku, aku akan selalu mendahulukan keinginannya di atas segala urusanku.”
“Aku rasa saat ini, itu cukup, aku akan mengizinkan kau untuk bersamanya sementara waktu, tapi jangan memaksa, jika Syila hanya ingin sebagai teman, jangan memaksanya.”
“Aku takkan memaksa, tapi aku akan berupaya, aku akan mencoba terus hingga akhir.”
Mami lalu bangkit dan hendak kembali ke kamar, tapi sebelum itu dia bicara lagi pada Izraa, “Tepati apa-apa yang kau katakan padaku, aku menganggapnya hutang. Tak kau lunasi, maka aku akan tagih dengan kasar, paham Za?”
“Ya, Tante.”
…
Hari itu tiba, Syila dan Ammarhudi akan segera melakukan konferensi pers bersama di tempat yang berbeda, Izraa bersama Syila, duduk dihadapannya mengatur kamera dan semua hal yang menghubungkan konferensi online antara Syila dan tempat Ammarhudi itu.
Dari ujung sana terdengar Sekertaris Ammarhudi sedang membuka acara, wajah Syila belum ditampakkan, ada juga berjejer beberapa kuasa hukum Ammarhudi dan juga Syila, karena nanti setelah sesi Syila berakhir, hanya pengacara kedua belah pihak yang akan meneruskan pernyataan hukum kepada wartawan, langkah yang akan mereka ambil untuk membuat plagiator itu jera.
Syila sudah duduk di ruang tamu yang sudah disulap menjadi ruang kerja dengan meja dan bangku yang kerja yang terlihat profesional, milik papi, tentu saja bagus.
Izraa terus memantau semua hal, dia akan memastikan bahwa semua akan berjalan dengan lancar.
Ammarhudi dipersilahkan membuka sesi, dia akan menjabarkan tentang penemuin plagiasi yang dilakukan oleh PH anak bawang, baru muncul tapi sudah mencari masalah dengan PH raksasa sekelas PH milik Ammarhudi.
“Sebelumnya saya ucapkan terima kasih untuk teman-teman pers yang datang dan mau meliput, saya tidak bermaksud untuk menimbulkan keributan sama sekali, tapi ini adalah langkah saya untuk menyelamatkan karya yang memang sudah diikat secara profesional, sehingga tidak bisa seenaknya dipakai menjadi naskah serial lain lagi.
Di sini saya juga ingin kita semua mulai paham tentang hak cipta yang ….” Ammarhudi belum selesai bicara tiba-tiba ada satu wartawan yang berteriak.
“Pak, kalau memang ingin melindungi karya, kenapa Penulisnya tidak datang ke sini untuk ikut membuat pernyataan? Kenapa Penulisnya terkesan bersembunyi? Apakah ini karena rumor itu benar, bahwa Penulisnya menerima perjanjian kerja sama ganda dan mendapatkan keuntungan yang double dari dua PH yang dia tipu? Kalau begitu kan, berarti ada dua PH yang ditipu, bukan PH yang hendak anda tuntut itu penjahatnya, tapi Penulis itulah yang menjual karyanya secara ilegal setelah terikat kontrak kerjasasama.”
Syila yang saat ini standby di depan layar yang menyiarkan secara langsung apapun yang terjadi di PH Amamrhudi itu, karena mereka sudah menggunakan aplikasi meeting online sejak acara itu dimulai terkejut, karena wartawan yang berbicara itu adalah wartawan yang seharusnya tidak diizinkan masuk, karena Syila sudah mengatakan bahwa dia menolak wartawan itu ada di konferensi pers ini.
Izraa melihat Syila, tubuhnya gemetar, dia tahu dengan jelas, bahwa hinaan tentang tangannya masih terasa perih di hati, sekarang bahkan wartawan itu berani sekali menuduhnya sebagai penipu yang menipu dua PH itu, Syila limbung, dia jatuh dari bangkunya, Izraa buru-buru memperbaiki duduknya Syila dan mencoba menenangkannya di sana, arah kamera masih menghadap Syila, bersiap untuk sesi miliknya. Wartawan itu tidak tahu, bahwa Syila akan bergabung tapi secara online dan begitu dia tahu, Syila pasti akan jadi bulan-bulannya lagi.
__ADS_1
Syila sudah bisa membayangkan bagaimana dia akan dihina lagi, Syila berkata sambil menangis, “Aku tak mau melakukan ini, aku tak mau!” Syila berusaha bangun dan ingin melepaskan diri dari Izraa, tapi Izraa menahannya, dia tak mau Syila kalah lagi, dia terus memeluknya dan berusaha agar Syila menahan amarahnya, di detik yang sama kamera milik Syila menyala, kamera itu menyiarkan secara langsung apa yang terjadi saat ini, yaitu ketika Izraa memeluknya dan Syila terlihat kalut, kamera itu seharusnya hanya menyala jika dinyalakan di tempat Syila, tapi sepertinya ada yang sengaja meretas sistem yang Izraa bangun dan mampu menyalakan kamera dari jarak jauh.
Andi memberi kode pada Izraa bahwa kamera sudah menyala, Izraa lalu mendorong tubuh Syila dengan lembut, mengambil bangku lain dan duduk di samping Syila, semua orang yang ada di tempat Amamarhudi terkejut, karena melihat pemandangan yang cukup mengejutkan tadi, Izraa memeluk Syila dengan erat saat Syila menangis.