Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 65 : Berpisah 3


__ADS_3

Film sudah selesai proses editing, tinggal proses finalisasi saja, Izraa dan Bang Aryo sudah mengerjakan film ini selama 1 bulan penuh. Cukup alot, karena Izraa menggunakan asumsi dirinya dan Syila sebagai acuan untuk menilai.


Kalian tahu kan, kalau Izraa adalah si perfectionist dan Syila yang kurang lebih sama, membuat Bang Aryo hampir muntah darah karena selalu bersitegang dengan Izraa, tapi sejauh ini, ketika rumah produksi melihat hasilnya, mereka sangat puas.


Maka saat ini adalah tahap untuk promosi, biasanya artis-artis pendukungnya akan diminta untuk promosi di sosial media mereka dan juga ikut berbagai acara untuk mendukung promosi filmnya.


Maka jadwal Izraa mulai padat lagi, selama sebulan Izraa menahan diri untuk tidak melihat Syila dan sekarang saat promo, Syila mau tak mau harus datang jika diundang, walau perampungan film, dia tak dilibatkan, karena ini murni rasa bersalah Izraa pada Syila yang dikasari saat mencoba meminta Izraa menyelesaikan proyek film ini.


“Jadi ... filmnya suda selesai?” Syila terkejut, Bang Aryo datang ke rumah untuk memberi informasi.


“Ya, kami sudah menyelesaikannya selama sebulan ini Syil, Izraa begitu gigih siang dan malam menemani prosesnya agar semua sesuai dengan novel yang kamu tulis, tidak ada yang melenceng, Izraa memastikannya dan pasti sudah sesuai ekspektasimu. Dia mengenalmu dengan baik sepertinya.”


“Tapi Bang ... bukankah proyeknya mandek dan akan ditunda dulu?”


“Tidak, Izraa memohon pada PH dan PH mengabulkan asal Izraa punya rencana untuk promo. Dia juga membuat presentasi promosi jenis apa yang akan digunakan untuk mengenalkan film ini, PH puas dan hendak mendanai promosinya secara penuh juga.”


Syila tertegun, dia benar-benar telah menyerah dengan film ini sebelumnya, ada rasa haru, tapi juga minder, karena tangannya masih ... tidak berfungsi dengan baik.


“Syil, temani kami promosi ya, prelaunching akan diadakan 3 hari lagi, kami mengundang banyak artis dan juga para kritikus film, kau harus datang untuk melihat filmmu sendiri, kau tahu kan, kita tak diizinkan memperbanyak file filmnya, jadi kau hanya bisa menonton filmmu di prelaunching atau di bioskop jika sudah tayang.”


“Bang ... ini beneran nggak sih?” Syila menahan haru, air matanya hendak turun.


“Ya, Syil, ini bener kok, kami sudah merampungkan filmnya. Kau harus datang ya.”


“Kalau itu ... aku tidak janji Bang, karena ... tanganku masih sakit, aku ....”


“Kau hanya perlu menonton, tidak perlu menulis, jadi yang kau perlukan hanya matamu!” Bang Aryo kesal, dia merasa kehilangan gadis yang sangat bersemangat itu.


“Iya tapi ... aku tidak suka bertemu banyak orang dan mereka akan menilaiku dengan pandangan yang merendahkan, aku tidak suka itu.”


“Tidak perlu bicara dengan orang lain, kau hanya perlu datang, bicara satu dua patah kata, kami akan gunakan clip on yang ditempel di bajumu, jadi kau tak perlu mengangkat microphone untuk bicara, duduk dan bicara dengan santai, sudah itu saja. Tidak perlu ada yang tahu tentang tragedi di belakang film, tidak perlu ada yang tahu soal tanganmu, itu juga jika kau mengizinkan ada sesi bicara untukmu.”


“Kalau aku tidak mau bicara, maksudku sebagai tamu saja. Bisa tidak?”


“Bisa saja, tapi kan ini film dibuat karena novel best sellermu, pasti banyak penggemar tulisanmu datang, kalau kau tak diseratakan dalam sesi bicara, pasti nanti ramai di sosial media, kalau film ini kau tak ikut campur, padahal kau bukan hanya ikut campur, tapi benar-benar mencampuri urusan film ini secara penuh.”


“Bang, ah! Malas aku.”


“Ayolah, ini proyek pertama filmmu, debutmu di dunia perfilman, maksudku, bukankah kau bilang kalau novelmu adalah anak-anakmu, kau ibu dari mereka jadi tidak boleh ada yang menjamah seenaknya novelmu dengan mengganti alur jika dijadikan film, maka sekarang, sebagai ibu dari anak yang sedang naik kelas, kau harus hadir, kau harus lihat bagaimana kerja keras kita akhirnya bisa dinikmati semua orang.”


“Bang, aku harus bicara pada mami dulu ya, karena kalau mami nggak izinin, aku nggak bisa pergi.”


“Bujuk mamimu ya, pastikan kau bisa hadir, ingat ... kau menunggu sangat lama untuk proyek ini, bagian dari pembuktian diri juga loh Syil, kalau ini berhasil, maka tidak menutup kemungkinan novel lainmu akan ikut difilmkan.”


“Ya, aku akan berusaha membujuk mami, terima kasih ya Bang.”


“Jangan cuma sama aku, tapi sama Izraa juga ya. Dia yang kerja keras mengumpulkan pemain apabila ada scene yang kurang pas, maka proses pengambilan gambar kami ulang, tidak banyak tapi kan effortnya tinggi mengumpulkan yang lain, kalau bukan karena nama Izraa yang sudah senior, mana mau artis-artis baru yang sok terkenal itu mau syuting ulang untuk yang kurang itu.”


“Iyaaaa, nanti aku telepon dia untuk ucapkan terima kasih.”

__ADS_1


Bang Aryo pamit, bertepatan dengan datangnya Andi.


“Bang, udah mau pulang aja nih.”


“Iya, abis elu dateng sih, kan kita lagi ngomongin elu.” Bang Aryo asal jawab dan langsung pamit pulang.


“Kenapa dia datang Syil?” Andi bertanya, mereka berdua duduk di halaman, Syila ingin merasakan udara yang sepoi-sepoi, udara senja yang menguning karena matahari mulai turun ke peraduannya.


“Lu tahu nggak kalau film gue dilanjut sama Izraa dan Bang Aryo?” Syila bertanya.


“Hah? serius, keren banget, terus?”


“Jadi elu beneran nggak tahu?”


“Nggak lah! kalau tahu juga gue pasti udah cerita ke elu.”


“Ini mungkin kenapa mereka nggak libatin elu Ndi, karena takut gue tahu, kata Bang Aryo, Izraa yang minta untuk meneruskan film ini, mereka benar-benar kerja keras untuk selesaikan film ini.”


“Trus?”


“Tiga hari lagi prelaunching, Bang Aryo minta gue dateng, mungkin gue juga harus bicara sedikit, kata Bang Aryo, aman. Nggak perlu ada yang tahu tragedi di belakang film ini dan tidak ada yang perlu tahu soal tanganku.”


“Emang kalau ada yang tahu, kenapa?”


“Ndi, menurutmu? Mereka akan repot dengan pertanyaan apakah aku masih bisa menulis dan juga mulai merendahkanku dengan kasihan.”


“Nilaimu tidak turun sama sekali walau tanganmu sedang sakit, karena kau menulis bukan dengan tangan, kau menulis dengan otakmu, aku bisa menggantikan tanganmu untuk sementara, maka kau tetap akan produktif, gimana?”


“Yasudahlah terserah kau saja, yang penting, jangan merasa rendah diri ya, karena nilaimu tetap sama dan bahkan jauh lebih tinggi bagi orang-orang ang mencintaimu, tak perlu hiraukan orang yang menghinamu, tegakkan kepalamu seperti biasanya, jangan nunduk dan merasa tak berharga, tangan ini bukan keseluruhan hidupmu.” Andi memberi wejangan yang membuat Syila merasa sedikit tenang.


“Makasih ya sayangku.”


“Jangan terlalu mesra, itu menjijikan.” Andi melepas pelukan sepupunya, mereka memang sedekat itu, karena benar-benar dibesarkan bersama.


Tapi jujur sikap Syila ini membuat Andi senang, karena baru sekarang Syila sumringah, dia bahkan sudah bisa lebih luwes dengan tangan yang tidak berfungsi satunya.


...


“Dia datang nggak, Bang?” Izraa bertanya.


“Mungkin datang, dia senang banget Za, wajahnya langsung sumringah begitu mendengar film rampung dan siap diluncurkan.”


“Serius, Bang?” Izraa ikut senang.


“Ya, aku menjual namamu tuh, kau harus mentraktirku minum kopi sesekali karena memujimu terus.”


“Kopi saja? Itu mah mudah.”


“Kopi di raja ampat maksudku.”

__ADS_1


“Nah itu repot, bukan masalah uang, tapi waktu.” Izraa tetap saja sombong, maklum memang orang kaya tidak pernah mau terlihat bermasalah dengan uang.


“Aku yakin dia datang Za, tapi dia agak ... kurang percaya diri, jujur memang aku melihat Syila agak minder dengan keadaannya. Dia bilang tak ingin ikut bicara kalaupun datang di acara prelaunching itu Za, dia bilang takut kalau ada yang tanya soal tangannya.”


“Ya, karena tangannya adalah apa yang menjadi kebanggaannya, menulis, Bang.”


“Gue sih berdoa supaya Syila bisa secepatnay pulih ya, karena jujur, feeling gue ke film ini bagus, kalau ini ok, proyek selanjutnya pasti PH mau pakai novel Syila lagi.”


“Ya, aku juga berharap itu terjadi.”


Izraa lalu pamit untuk pulang, barusan dia mampir hanya untuk melihat terakhir kalinya film yang sudah dia finalisasi bersama tim.


Begitu sampai apartemen, Izraa mendengar telepon pintarnya berdering, malas sekali rasanya dia mengangkat, tapi sebelum mengabaikannya, dia melihat siapa yang menelpon, saat dia melihat nama yang tertera di layar ponselnya, maka dia langsung mengangkat telepon itu.


[Ya?]


[Ini Syila, Za. Apa kabar?] Syila yang menelpon ternyata.


[Baik, kenapa Syil?]


[Lagi sibuk nggak?]


[Baru sampai apartemen, nggak lagi sibuk kok.]


[Hmm, Bang Aryo tadi ke rumah, dia bilang kalau film rampung dan akan segera tayang, tiga hari lagi prelaunchingnya, aku cuma mau ucapin makasi ya Za, makasih udah lanjutin film itu. Aku benar-benar senang.]


[Ya, tentu saja aku teruskan, karena itu kan apa yang paling kamu inginkan.]


[Iya, makasih banyak ya, Za.]


[Tapi nanti datang kan?]


[Aku belum bicara sama mami, nanti kalau mami izinin aku datang.]


[Ok, istirahat yang banyak ya, jaga kesehatan, sampai ketemu nanti.]


[Iya Za, makasih ya.]


[Nggak perlu diulang-ulang, itu kerja keras kamu dan tanggung jawabku, ingat, film itu apa yang kamu usahain, buat aku, kamu itu tetap terbaik, wanita hebat yang kadang menyebalkan.]


Syila tertawa di ujung sana, sementara hati Izraa rasanya bergetar, ada rasa sakit yang aneh, Izraa merasa sangat ... rindu.


[Syil, kamu sehat, kan?] Izraa tiba-tiba bertanya.


[Ya, aku sehat kok, tenang saja, aku masih terapi dan mengusahakan banyak hal.]


[Ya, aku tahu, kalau begitu selamat istirahat dan jangan lupa minum obatmu ya.]


Lalu sambungan telepon diputus.

__ADS_1


Tentu saja Izraa tahu, karena walau berpisah, setiap hari Izraa punya orang suruhan yang menguntit Syila melihat kesehariannya dan sesekali difoto, dia tak mampu untuk benar-benar putus kontak dengan Syila.


Cinta yang berat memang.


__ADS_2