
“Next!” Andi berteriak, karena peran utama adalah tanggung jawab Syila, makanya saat ini audisi diadakan oleh Syila di salah satu studio di Jakarta selatan, casting diumumkan di sosial media semua orang yang terkait dengan film ini.
Sudah 8 orang sejauh ini yang di-casting, dari pagi hingga jam 3 sore ini, tidak ada satu pun yang memenuhi harapan Syila atau pun Andi.
“Gimana Syil? Belum dapet juga nih.” Andi beranya, tadi yang terakhir masih sama buruknya.
“Apa target kita ketinggian ya? Ndi, coba review lagi.”
“Kagak, capek review ulang mah, elu aja gih! Ada yang ganteng tapi kurang macho, ada yang macho tapi kurang ganteng, sekalinya ganteng dan macho, aktingnya amburadul. Giliran aktingnya bagus, tapi sama sekali buta beladiri, laki kok gitu!” Andi kesal, dia lalu pergi untuk membeli kopi kesukaannya.
“Gue pasti bisa, pasti!” Syila kembali mereview video casting yang hari ini mereka lakukan, jujur, dia padahal tahu,dari 8 orang yang dia casting, tidak ada yang bahkan mendekati akting Izraa.
“Gimana? udah ada yang bisa gantiin dia?” Andi datang membawa es kopi dan camilan untuk mereka.
“Belum.” Syila menatap layar laptopnya.
“Lagi ngapain lu?”
“Coba hubungi beberapa agensi, siapa tahu ada yang berbakat.”
“Syil! Lu tau Izraa, kan? dia itu artis top kelas satu, walau saat ini sedang redup dan cenderung sepi job, tapi sama sekali nggak bisa remehin kemampuan dia.”
“GUE TAU!!!” Syila teriak, sepertinya dia kesal, bukan karena ucapan Andi, tapi lebih kepada takdir yang sulit ini.
“Syil ….” Andi memeluk Syila yang seperti akan menangis.
“Ndi, gue cuma mau filming aja, ini novel bagus banget, gue cuma mau pemain yang bagus juga, terus kenapa sekarang jadi begini?” Syila mengeluh, ini pertama kalinya Andi melihat Syila seperti hilang harapan.
“Kita bayar penalti aja ya, kita mundur aja dari proyek ini.”
“Terlalu mahal Ndi, sayang juga sebenarnya. Gue suka novel gue dikasih kesempatan buat difilmin.”
“Tapi gue juga nggak mau elu serahin hidup lu sama orang bejat kayak gitu.”
“Lu pikir gue juga mau! terlebih hati gue masih belum bisa untuk siapa pun.”
“Kalau soal Kevin gue juga nggak setuju, pun, tentang Izraa, mereka berdua nggak pantes buat dapet hati lu.”
“Gini amat ya nasib percintaan gue, padahal novel gue selalu happy ending loh, tapi kenapa kisah cinta gue nggak happy ending? Selalu aja ngenes. Cinta pertama ninggalin karena wanita lain, gue izinin pula! Lalu sekarang orang yang suka gue, kagak waras.”
“Iya, ngenes. Dah, nikah ama Juna aja, seenggaknya, dia cinta beneran ama lu.”
“Najis! Apa sih lu! lebih buruk lagi kalau gue ama dia, pertama dia anak manja, dia nggak akan bisa jadi pelindung gue, pinter, tapi sama sekali nggak bisa diandelin, nggak bisa kasih tahu gue juga, mana yang bener dan salah, karena terlalu tergantung sama gue, jadi temen aja gue ngerasa berat, apalagi jadi pasangan, bisa mati berdiri.”
“Iya ya, bener juga.” Andi baru sadar.
“Nikah sama lu aja, gimana?”
“Gue gampar ya mulut lu! tarik lagi ucapan lu! dulu waktu elu masih balita, gue yang sering bantu nyokap lu beresin popok lu, gue juga udah liat tai lu, udah liat juga semua daleman lu, berasa nikahin anak sendiri kalau kita kawin, brengsek!”
Syila tertawa ngakak dalam tangisnya, dia juga cuma bercanda, Andi suka perempuan walau sedikit kemayu, tapi Syila bukan kategori yang bisa dia sukai sebagai perempuan, karena dari kecil mereka tumbuh bersama.
Syila melepas pelukan Andi dan bersiap pulang, cukup dulu untuk hari ini, targetnya tiga hari, semoga dalam waktu tiga hari Syila bisa mendapatkan pengganti Izraa.
“Gimana Mbak?” Hanum ternyata datang ke studio, Syila memang belum keluar Studio.
“Apanya yang gimana?”
“Udah ketemu belum?”
“Kalau udah, emang mukaku bakal selecek ini?” Syila masih bersiap untuk pulang, semua peralatan dia masukan ke tasnya.
“Mbak!” Hanum tiba-tiba bersuara keras.
“Apa sih!”
“Izraa serius out dari film ini?”
“Iyaaa, kalau nggak serius, ngapain gue casting?! Lucu lu.”
“Mbak, pokoknya kita harus dapat pengganti secepatnya, karena film ini bagus banget, buat mbak juga kesempatan, kalau nggak dapet, mohon-mohon aja sama Izraa.”
“Num! film ini memang bagus, kesempatan juga nggak cuma buat gue, tapi buat lu dan para pemain lain, gue lagi berusaha, soal mohon-mohon nggak perlu lu bilangin, gue udah lakukan, tapi Izraa emang udah bulat, nggak mau main lagi.”
__ADS_1
“Kalau emang elu udah mohon-mohon, lalu kenapa Izraa mencantumkan alasannya dia tidak mau ikut lagi film ini karena Mbak tidak memberikan yang Izraa syaratkan.”
“Hah! Izraa bilang sendiri ke elu tentang alasannya tidak mau ikut syuting lagi?” Mata Syila melotot mendengar itu.
“Iya, barusan kita selesai meeting membahas tentang alasan Izraa menolak melanjutkan syuting.”
“Lah, gue nggak diajak?”
“Izraa bilang nggak mau ada elu, Mbak.”
“Eh, brengsek!” Syila kesal lagi.
“Mbak, yuk gue temenin, yuk kita mohon-mohon ke dia.”
“Num, udah deh, elu nggak tahu apa pun, jadi jangan seolah lu bisa kasih solusi.”
“Ini nih yang buat film terasa berat, elu yang keras dan Izraa juga lebih keras, lebih penting mana? Film itu atau prinsip lu sih, Mbak!” Hanum pergi setelah mengatakannya, tanpa memberi Syila kesempatan untuk membalas.
“Jangan dengerin, dia juga nggak tau permasalahan sebenarnya, jadi jangan pikirin ya.” Andi menarik Syila untuk pulang. Syila hanya bisa terdiam, salah dari awal, seharusnya dia tidak pernah kenal Izraa dan mengajaknya dalam film ini.
Syila sampai di rumah, hari ini jadwal makan keluarga, Syila dan keluarga memang punya acara rutin setiap seminggu sekali pada hari sabtu, sesibuk apapun, semua anggota keluarga harus datang, Syila juga akhir-akhir ini sering di apartemen, jadi makan malam ini sebuah kesempatan untuk temu kangen keluarga.
“Ndi, bantuin mami ya, keluarin makanan.” Begitu sampai Andi langsung disuruh bantuin, Andi memang selalu bisa diandalkan.
Syila masuk dulu ke kamar, mau mandi baru makan bersama.
Setelah 15 menit mandi dan ganti baju, Syila keluar, dia melihat semua sudah siap makan.
“Masak apa Mam?” Syila duduk di meja makan, samping papinya, sementara papinya duduk di bangku paling ujung, karena meja makan berbentuk persegi panjang.
“Rendang daging sama opor, emping kesukaan kamu tuh ada juga.”
“Wow, Mami ter-the best.”
Mereka semua mulai menyendok makan, Syila lahap sekali, beberapa hari ini memang jadwal makannya berantakan karena masalah film ini.
“Gimana syuting? Katanya Kakak denger Izraa ngundurin diri dari film?” Kakaknya Syila tiba-tiba bertanya.
“Hmm.” Syila hanya menganggapi dengan tidak antusias.
“Apa karena diputusin makanya dia nggak mau ikut proyek film kamu itu lagi?” Papi masih bertanya.
“Mungkin.” Syila lagi-lagi hanya asal jawab.
“Yaudah, tinggalin aja proyek filmny, Papi udah tau kok, kalau novel sama film kamu itu nggak akan jadi apa-apa, cuma hal sepele yang nggak akan bawa kamu kemanapun, selain kegagalan.” Enteng sekali papi mengatakannya kepada Syila.
Sementara mata Syila sudah merah karena marah, masalah tentang film memang sangat berat, ditambah caranya Papi merendahkan Syila, membuatnya semakin marah.
“Pi, bisa nggak makan malam keluarga ini tenang, kita cuma makan malam seminggu sekali, jadi Mami mohon kalau ….”
“Pi, Syila ini penulis best seller, semua orang selalu bilang buku Syila tuh bermanfaat buat mereka, banyak juga yang bilang bahwa hidup mereka jadi lebih baik setelah baca buku Syila, itu semua bahkan menyamai apa yang seorang Dokter lakukan, kan, Pi. Kalian menolong orang dengan kemampuan kedokteran, aku menolong orang melalui tulisanku, cuma Papi yang nggak pernah mau tahu, seberapa bermaknanya karya Syila.” Syila bangkit, bermaksud meninggalkan meja makan.
“Lihat, bagaimana Papi yakin, kalau apa yang kamu katakan benar, kau saja tidak berubah, masih keras kepala, pergaulanmu yang membuatmu jadi kurang ajar, meninggalkan meja makan, apa itu sebuah sikap yang baik?” Papi masih terus menyerang Syila.
Syila hanya terus jalan dan masuk ke kamarnya, setelah masuk kamar dia mengunci pintu, masuk kamar mandi dan menangis. Seperti biasa, Papinya selalu punya cara untuk menyakiti hati Syila dengan sangat dalam.
Caranya menyepelkan Syila selalu membuat Syila merasa tidak berharga dan rendah diri. Dari kecil dia memang tidak ingin menjadi Dokter, seperti papi dan kakaknya, dia selalu suka dengan gambar dan tulisan, tidak dengan hitungan dan juga hal-hal yang mendekati minat pada bidang kedokteran.
Papinya selalu memaksa, Syila pernah menyerah dan mengikuti semua kemauan papinya, tapi dia tersiksa, dia tidak ingin menjadi Dokter, dia ingin menjadi Penulis, makanya dia berusaha sangat keras untuk belajar teknik kepenulisan yang benar, tapi semua itu tetap tak ada arti, bahkan setelah sejauh ini, tidak ada satu pun penandatanganan buku Syila yang dihadiri papinya, bahkan ketika bukunya masuk ke nominasi buku dengan tulisan paling menginspirasi pada salah satu Koran ternama di Negeri ini, Papinya bilang bahwa, jika Syila mendapatkan penghargaan di bidang kedokteran, akan lebih baik.
Makanya masalah ini seperti sebuah doa dari papinya, agar Syila gagal, yang dibenci Syila bukan kegagalan, tapi sebuah cemooh yang harus Syila tanggung, bukan dirinya, tapi keyakinannya yang disepelekan, seolah dia tidak mampu membuktikan bahwa dia bisa berhasil melalui tulisan.
“Syil! Mau kemana?” Andi mengejar, makan malam sudah selesai, mereka sedang di ruang keluarga, saat akan ke pintu keluar, Syila bertemu dengan seluruh keluarganya termasuk Andi.
“Keluar dulu, assalammualaikum.” Syila berjalan buru-buru.
“Papi emang keterlaluan.” Mami juga pergi, tapi ke kamar. Dia kesal, karena suaminya lagi-lagi menyakiti hati putrinya.
“Papi cuma mau yang terbaik untuk anak-anak, emang itu salah?” Papi curhat ke dua orang lelaki di keluarga itu, satu anak satu keponakan.
“Salah kalau maksa, apalagi Syila itu miripnya sama Papi.” Kakaknya bicaranya.
“Maksudnya?”
__ADS_1
“Sama-sama keras kepala!” Andi dan Kakanya Syila berkata bersama.
“Hmm, kalian ini.” Papi menyusul mami ke kamar, dia lebih takut kalau mami sudah marah, karena wanita anggun itu jarang sekali marah, kalau marah tentu orang yang membuat dia marah pasti salah.”
Syila menyetir sendiri, dia sudah janjian dengan orang yang akan dia temui, mereka akan bertemu di kafe langganan.
Setelah sampai, dia melihat orang itu sudah di sana, sedang membaca buku dan minum kopi kesukaannya, dia duduk di tempat yang cukup pribadi, hingga tidak ada orang yang lalu lalang.
“Sorry telat, tadi macet.” Syila duduk dan kopinya sudah langsung tersedia, seperti biasa kafe langganan yang dia sudah kenal semua pegawai bahkan pemiliknya.
“Udah biasa.” Orang itu hanya membalas tanpa menoleh sedikit pun.”
“Mbak Syila, mau cake juga?”
“Nggak, makasih ya.” Syila tersenyum, lalu pelayan itu meninggalkan mereka berdua.
Syila terdiam, mereka berdua hanya diam saja selama setengah jam, orang itu selesai membaca buku lalu fokus pada Syila.
“Jadi, hari ini tanggal 19 September, kita resmi pacaran.” Lelaki itu tiba-tiba berbicara dengan menatap tajam mata Syila.
“Aku bisa apa, itukan satu-satunya cara agar kau mau kembali syuting?” Syila mengatakan dengan lemas.
“Ekspresimu tidak seperti orang yang baru saja jadian, kau bahkan telihat sangat sedih.”
“Bagaimana tidak.”
“Tersenyumlah, aku ingin senyum cantik kekasihku.” Izraa menggoda.
“Tidak usah, lagian kita hanya pacaran, kan? oh ya, bicara soal itu, ini daftar apa yang boleh dan tidak boleh kau lakukan, seperti yang aku katakan sebelumnya, aku menerima untuk menjadi kekasihmu asal kau mau menerima semua syaratku.”
“Siapkan saja draftnya, setelah itu aku akan pertimbangkan.”
“Tidak bisa Za! Kau harus menerima semua syarat itu tanpa terkecuali!” Syila memaksa.
“Mana bisa kayak gitu, dalam setiap hubungan harus ada sebuah ketulusan, kau ingin memberi syarat pada sebuah hubungan, aneh!”
“Kalau aneh kenapa mau pacaran.” Syila memonyongkan bibirnya sembari nyeruput es kopi.
“Berhenti melakukan hal seperti itu kalau tidak mau kukerjai lagi dengan ketamin.”
“Apa maksudmu?” Syila tidak mengerti.
“Bersikap dengan sangat manis seperti itu.” Izraa menunjuk bibir Syila yang monyong manja.
Syila begitu sadar telah kembali memancing srigala langsung mengubah posisi bibirnya yang monyong alami tanpa dibuat-buat.
“Ok Acil, berikan dulu draftnya, aku akan memenuhi semua itu, tapi kau tetap tidak bisa seenaknya.”
“Aku tidak akan seenaknya, tapi kau juga tidak boleh menyepelekan aku.”
“Aku tidak pernah menyepelekanmu.” Izraa membantah.
“Oh ya! kalau begitu, semua sikap dinginmu dan seenaknya itu apa?”
“Itukan dulu, sebelum ….”
“Cukup! Kau membuatku … tidak nyaman.” Sebenarnya Syila ingin bilang jijik, tapi dia tidak ingin Izraa kesal, sudah cukup hari ini membuat hari Syila berantakan.
“Jadi, kapan kau akan memberitahu semua orang?” Syila bertanya.
“Soal hubungan kita?”
“Bukan!!! soal kapan kau kembali syuting!” Syila gelagapan.
“Tenang, tenang Cil.”
“Jangan panggil aku dengan nama seperti itu, itu hanya untuk keluargaku!” Syila menolak dipanggil Acil.
“Bukankah aku bagian dari keluargamu sekarang? Bahkan lebih dari itu bukan?”
“Belum! Kita hanya pacaran, itu juga ….”
“Terpaksa?” Izraa melanjutkan kalimat yang terpotong.
__ADS_1