Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 68 : Berpisah 6


__ADS_3

Pagi ini Syila sudah bersiap untuk datang ke acara prelaunching tersebut, dia lalu teringat kata-kata maminya Izraa untuk post foto di sosial medianya ketika menggunakan baju yang kemarin dibelikan, jujur, sudah hampir satu bulan Syila tak pernah pasang status apapun di sosial medianya karena dia memang tak ingin kehidupan pribadinya diketahui siapapun, dia merasa masih kurang percaya diri untuk sekedar menyapa para pembacanya, karena sosial medianya memang lebih banyak berisi orang yang membaca novelnya bukan orang-orang yang dia kenal secara pribadi.


Syila meminta Andi untuk mencari tempat yang bagus, dia ingin Andi memotretnya menggunakan pakaian yang dia beli dari Ana, dia juga sudah berdandan sendiri, tidak perlu pergi ke salon karena ini bukan acara perhelatan yang sangat besar.


“Di sini bagus Syil.” Andi memilihkan tempat tepat di balkon yang terletak di lantai 2, balkon yang tidak menempel pada kamar manapun, mereka terpaksa naik ke lantai 2 karena Andi merasa tempat itu yang paling bagus.


Lalu mereka mulai foto, Syila terlihat kikuk, berusaha menyembunyikan tangannya. Beberapa foto di dapat dan semuanya diambil pada sisi kiri, Syila berusaha menyembunyikan tangan kanannya, padahal kalau di foto tangan kanan tidak perlu bergerak, tapi tangan kanan yang lemah tak berfungsi itu, pasti kelihatan kalau memang tak sengaja terfoto.


“Syil, kenapa sih harus sembunyiin tangan kananmu? Kan memang sakit, maksudku, seharusnya kamu malah berbagi dan beritahu semua penggemarmu kalau kamu baik-baik saja.


Kamu tidak baca coment yang ada di sosial mediamu ya? Banyak sekali para penggemar novelmu bertanya, kenapa kau jarang sekali pasang status ataupun story, mereka menunggumu.”


“Apa yang perlu aku post, Ndi? Kasih tahu kalau aku cacat?” Syila langsung kesal, karena semua orang selalu memintanya tidak menutupi keadaan, kalau mereka yang alami apakah mereka akan bisa terbuka soal kecacatan semudah itu?


“Bukan soal cacat! Tapi soal kau bertahan, kau terapi dan aku yakin, pada akhirnya, kau akan sembuh.”


“Sudah sebulan dan rasanya aku hampir mati, aku tidak bisa menulis sama sekali! Di antara semua orang, kau yang harusnya paham, bukan tanganku yang membuatku sangat merasa rendah diri, tapi kemungkinan aku tak bisa menulis lagilah yang membuatku terpukul!” Syila menangis, Andi terdiam.


Mami naik dan mendengar ini semua sebelumnya, dia terpukul, karena keadaan ini sungguh membuatnya sakit, anaknya rapuh, dalam benaknya teringat lagi perkataan suaminya, dia khawatir kalau kelak Syila benar cacat, siapa lagi yang akan mau mendampinginya, karena kecacatan itu, dia tak mungkin bersama selamanya dengan Syila, terbayang wajah Izraa, lelaki yang seharusnya bertanggung jawab atas ini semua.


“Sudah waktunya berangkat, kalian pakai mobil mami saja, jangan mobil Syila, terlalu kecil, sudah disiapkan supir, Andi kau jangan menyetir, hanya fokus menjaga Syila.” Mami memerintah, mereka akan naik mobil lebih luas, mobil dengan bukaan pintu yang bergeser itu, mobil mami, hadiah ulang tahun dari papi tahun ini.


Syila patuh, tasnya dibawakan Andi, lalu mereka turun ke bawah dan naik ke mobil. Butuh waktu 45 menit untuk sampai tempat yang mereka tuju.


“Syil, Izraa bertanya, kita sudah di mana, dia tahu kita akan datang?”


“Iya, maminya yang beliin aku baju.”


“Kalian balikan lagi? Dihubungan yang ….”


“Ndi!” Syila mengingatkan karena ada supir mami di sini.


“Gue jawab nggak?” Andi bertanya lagi.


“Nggak usah, mami udah kasih izin untuk datang, biarkanlah aku menghormati mami, dia kan nggak suka Izraa.”


“Ok.” Lalu Andi akhirnya membiarkan Syila tenang tanpa bertanya apapun lagi.

__ADS_1


Perjalanan tak terasa sudah sampai pada tujuan, lalu Andi turun duluan, pintu mobil sisi Syila terbuka, Andi hendak membantu Syila untuk turun, karena kalau dilihat secara seksama, terlihat sekali, kalau tangan kanan Syila tak bisa digunakan bahkan untuk sekedar berpegangan dan turun dari mobil.


Andi mengulurkan tangan agar Syila bisa turun, tapi pada detik yang sama, tiba-tiba ada tangan lain yang merangkul bahu Syila dan memapahnya untuk turun, tidak seperti Andi yang menunggunya mengulurkan tangan, sehingga dia jadi telat untuk mengambil Syila dari tangan itu.


“Za, nggak usah.” Syila berusaha melepaskan dirinya agar Izraa tak perlu membantu, tapi karena itu kakinya terpeleset, tidak memijak bagian pijakan mobil dengan benar karena dia berbicara sambil melihat ke Izraa, hal itu justru membuat Izraa jadi memeluknya dan berhasil mendaratkan kakinya pada aspal parkiran underground yang sepi, karena hari itu, parkiran khusus digunakan hanya untuk semua tamu undangan prelaunching film.


“Aku hanya mencoba membantu, aku takut Andi nggak kuat kalau kamu kepeleset, benar saja, kau tepeleset, kau itu kan ceroboh.” Izraa kesal melihat Syila malah mencoba untuk melepas rangkulannya tadi dan itu berbahaya, karena dia tidak bisa berpegangan dengan tangannya.


“Jangan terlalu dekat Za, takut ada yang foto lagi.” Syila hanya berkata begitu, dia mencoba melepas pelukan Izraa.


Andi menarik tangan kiri Syila, dia tidak ingin Syila nyaman dalam pelukan Izraa.


“Kami masuk duluan, jangan sampai ada yang melihat kau datang bersama penulis filmmu, akan menjadi isu yang tak baik bagi film, kau harusnya datang bersama Hanum.” Andi mengingatkan, dia lalu membawa Syila masuk.


Saat masuk Syila di arahkan ke ruangan yang dikhususkan untuk tamu undangan bagian PH, sedang untuk artis ruangannya berbeda.


Syila masuk ruangan itu dan melihat banyak orang di sana, ada Produser ada Sutradara Bang Aryo.


“Syila!” Bang Aryo berteriak dan segera mengambil Syila dari Andi dan membawanya mendekati Produser.


“Pak.” Syila hanya mengangguk dan tidak bisa mengulurkan tangan untuk salaman, “Sorry Pak, ini tanganku ….”


“Ya dong Pak, ini lagi sibuk terapi kita.” Andi menjawab, karena Syila tak suka kecacatannya menjadi basa-basi yang dijadikan obrolan.


“Izraa! Kok di sini, kan ruangan artis bukan di sini.” Bang Aryo kaget, Izraa ada di sini.


“Ya, aku perlu mendiskusikan beberapa hal padamu dan Syila.” Semua orang tahu, ini hanya alasan, dia sangat merindukan wanita pembangkang yang lebih pendiam itu.


“Apa?” Bang Aryo bertanya.


“Untuk sesi bicara jadi hanya aku, Hanum dan Syila?” Izraa bertanya.


“Ya, kalian bertiga saja, aku akan bicara di pembukaan, sebelum film dimulai.”


“Syila apakah kau ingin ditiadakan sesi bicara bagianmu?” Izraa bertanya, yang lain terlihat iri, karena Izraa begitu perhatian.


“Tidak apa-apa, aku bisa kok.” Syila berkata dengan sedih, bahkan Izraa saja tak percaya dia masih bisa bicara dengan baik.

__ADS_1


Syila menghapus kemungkinan Izraa hanya khawatir Syila tak nyaman, Syila tetap pada pendiriannya, takkan membuka hati lagi untuk kekasih palsunya.


“Ok, aku hanya memastikan kau tak keberatan dan terpaksa melakukannya.”


“Aku harus menepati janji juga pada Ana, mamimu memberikan baju ini dan aku merasa harus membuat baju ini terlihat indah di hadapan banyak orang, sebagai balas budiku.”


“Kau tidak perlu melakukan itu kalau tak nyaman.”


“Aku yang rasakan, ketika aku bilang mau lakukan, berarti aku memang bisa melakukannya, kau tenang saja, aku takkan bikin malu.”


“Aku tidak pernah bilang kau takkan bisa melakukannya atau merasa takut kau mempermalukan kami, aku tidak peduli isi kepala ribuan orang itu, aku hanya peduli satu kepala ini.” Izraa menunjuk kepala Syila tanpa menyentuhnya. Setelah itu dia pergi, Izraa tak bisa sabar pada orang yang sakit secara fisik dan mental.


Syila hanya menunduk, dia menahan tangis, sejak sakit, dia memang jadi sensitif atas apapun, dia merasa selalu rendah diri, jadi setiap omongan orang, terasa seperti menghinanya, padahal itu bisa saja dukungan untuknya. Tapi tak bisa disalahkan, dia memang sedang tidak dalam kondisi baik secara mental.


Andi mengambil tissue dan memberikannya pada Syila, Syila mengusap ujung matanya, karena takut merusak riasan.


Lalu semua oran dipanggil untuk masuk ke dalam bioskop, Syila duduk di barisan VIP pada studio besar itu bersama Produser, Sutradara, para pemain utama dan juga beberapa investor besar.


Bang Aryo turun karena dipanggil untuk bicara pada sesi pembukaan, setelah itu film diputar.


Syila tak sabar melihat keseluruhan film itu, dia melihat studia besar itu penuh, pasti di antaranya ada pembaca novel yang ikut tak sabar melihat film itu diputar.


Sungguh akting Izraa dan Hanum sangat natural, mereka memainkan peran dengan sangat baik, Syila melihat penonton terpukau, bahkan Izraa menyelesaikan beberapa adegan laga dengan sangat mahir, dia memang jago bela diri, jadi tak heran.


Film terus berlanjut, scene-scene humor selalu membuat para penonton tergelak, hingga akhirnya, film selesai ditutip dengan kematian Izraa sebagai pemeran utama, para penonton terenyuh dan beberapa terlihat menangis.


Setelah selesai menonton, lampu studio dinyalakan, para undangan, baik dari para kalangan Pengusaha, Selebirtis dan orang biasa semua antusias.


Bangku disediakan untuk Izraa, Hanum dan Syila, Syila duduk di tengah, posisinya tersorot cahaya dengan pakaian yang sangat kekinian, membuat tampilannya menjadi sorotan bagi para penonton dan juga reporter.


Syila akan menjadi pembicara pertama, Andi memintanua agar Syila bisa langsung selesai dan pulang lebih dulu.


Syila berbicara dengaj antusias, duduknya tetap agak menyamping sebelah kanan, untuk menutupi tangannya yang memang tidak berfungai, dia tak ingin orang tahu, kalau dia cacat.


Karena sambutan yang menarik dari Syila, walau dia sekarang lebih merasa rendah diri karena kecacatan, tapi kemampuan bicara dan kecerdasannya tak pernah hilang.


Setelah selesai bicara, tiba-tiba ada satu reporter yang berteriak, "Kak Syila, apakah benar ini akan menjadi projek terakhir untuk novel dan film karena tangan Kak Syila yang cacat akibat kecelakaan? Apakah benar itu tangan kanan?" Mendengar itu semua orang terlihat tegang, Syila terdiam, tangan kiri yang memegang microphone terlihat gemetaran, Syila tak menyangka ada reporter yang tak sopan seperti itu, Syila berdiri dia hendak pergi, tapi kesulitan karena gugup dia hampir jatuh dan tangan kanannya tak dapat menopang tubuh, dia terjatuh dari kurai duduknya, karena itu semua orang dapat mengkonfirmasi bahwa tangannya memang benar cacat.

__ADS_1


Seketika Hanum berlari dan mencoba untuk membangunkan Syila, Hanum meminta Izraa mundur, karena akan jadi isu yang berat kalau sampai Izraa yang menggendong Syila, Hanum cekatan meraih calon adik iparnya, dia menatik Syila berdiri, Syila menangis tanpa suara, Hanum berbisik, "Jangan berani-beraninya kau menangis, kau ini wanita kuat, jangan tunjukkan pada mereka kau lemah, bangun, lalu pergi dengan anggun, jangan terlihat gemetar, paham!" Hanum tak ingin calon adik iparnya jadi bulan-bulanan banyak orang.


Syila berjalan meninggalkan studio dengan langkah tegasenahan air mata, setelah keluar studio Andi menarik tubuh Syila yang lemas dan langsung membawanya ke lift untuk menuju mobil. syila hanya pasrah pada apa yang dilakukan Andi, Syila tidak dapat berpikir, dia sudah dipermalukan begitu hebatnya.


__ADS_2