Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
(Bagian 7 : Marah)


__ADS_3

Beberapa hari ini Syila absen dari filming, Sutradara cukup kalang kabut karena beberapa adegan merasa kurang cocok, sebenarnya dia sangat membutuhkan Syila untuk berdiskusi mengenai beberapa adegan.


Tapi sayang, Syila sudah kesal, jadi dia menghukum orang-orang itu untuk tidak mencari masalah dengannya.


“Syil, Pak Produser nelpon gue barusan, elu diminta masuk hari ini.” Andi masuk ke dalam rumah Syila yang dia berikan untuk orang tua dan kakaknya. Mereka sedang sarapan.


“Males.” Syila kembali menyuap nasi goreng buatan maminya.


“Syil! Ah! Mau sampai kapan ngambek? jangan kayak anak kecil,” Andi berkata.


“Ngambek, ada apa?” Papi Syila bertanya.


“Ini, Syila ribut sama Sutradara dan beberapa Pemain.”


“Kan udah Papi bilang, ngapain kuliah jauh-jauh cuma buat jadi penulis.” Lagi, papinya Syila masih saja mengeluh soal keputusan Syila menjadi seorang penulis. Dia berharap Syila bisa menjadi Dokter seperti Kakaknya dan juga seperti dirinya.


Syila adalah anak yang paling disayang Papinya, tentu keinginannya, semua anak menjadi Dokter seperti dia.


Keputusan Syila yang akhirnya memilih tidak melanjutkan kuliah kedokteran padahal mampu, membuat papinya sangat marah.


Syila sangat pintar dari segi akademis, tapi dia tidak tertarik menjadi seperti papi atau kakaknya, dia ingin menjadi seperti apa yang dia impikan, seorang penulis.


Papinya sempat menolak keras, bahkan mengusir Syila dari rumah, tapi perang dingin antar anak dan papi itu berakhir ketika papinya Syila terkena masalah, terkait Mal Praktek yang dituduhkan padanya.


Papi Syila seorang Dokter Bedah Umum, tersandung masalah saat sedang mengoperasi Pasiennya, keluarga Pasien yang merupakan orang terpandang membuat papi Syila tersandung kasus hukum yang cukup rumit dan membuat keluarga Syila akhirnya bangkrut, karena biaya untuk menyewa pengacara dan memastikan kasusnya tidak sampai ke ranah publik, sangatlah besar, semua harta yang mereka miliki harus dijual.


Saat itulah Syila membuktikan kalau dia mampu menyelamatkan keluarganya, dia membelikan papinya rumah lagi, lalu menyelidiki dengan seksama kasus papinya, yang akhirnya membuat papi bebas dan membersihkan namanya, karena tidak ditemukan unsur kesengajaan dan operasi dilakukan sesuai prosedur.


“Pi, jangan berantem kali pagi-pagi.” Syila sudah biasa disindir seperti ini oleh papinya, dia bahkan tidak masukan ke hati, dia merasa, dirinyalah yang egois, karena tidak mengikuti kemauan papinya.


“Elu aja tukang berantem, gimana nih? yuk cus lah, abis sarapan ke lokasi ya.” Andi melahap roti tawar tanpa selai yang ada di meja makan, rumah Syila adalah rumah kedua baginya.


“Males! Males ribut gue, apalagi liat pasangan sok manis itu!”


“Mereka nggak pacaran, Izraa dingin banget sama perempuan.” Andi menjawab.


“Iyelah, kan die ….”


“Gosip itu Syil, dah ya, kalau lu nggak mau ke lokasi syuting, gue bakal bodo amat. Mami, nih anaknya susah banget.” Andi memanggil mami dan papi Syila sama dengan anak-anaknya memanggil mereka, mami dan papi. Begitu juga Syila memanggil orang tua Andi, dengan sebutan papa dan mama.


“Nggak mau komplein, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, Nak.” Mami tahu diri, karena dia pun sama kerasnya dengan Syila.


“Yaudah bawel, gue ikut, tapi ada syaratnya.” Syila akhirnya menyerah.


“RIbet amat sih, hidup lu kebanyakan syarat Syil.” Andi kesal.

__ADS_1


“Gue nggak mau ngomong ama siapapun selain sama Sutradra, titik.”


“Ya itu sih terserah lu, tapi setahu gue, si Izraa tuh bawel banget kalau ada lu, dia suka ribet ngatur set dan dialog. Gini nih kalau dua orang keras kepala disatuin dalam satu projek.”


“Makanya, lu bisa jamin nggak kalau dia nggak bakal ganggu gue?”


“Izraa kenapa? gangguin kamu?” Alzam kakaknya Syila bertanya.


“Bukan ganggu gimana sih  Zam, Cuma suka berdebat aja.” Andi yang menjawab.


“Kalau semua lelaki kamu debatin, nanti kamu nikahnya sama monyet.”


“Kak!” Syila melempar mentimun ke arah kakaknya.


“Dih, bener nggak Pi?” Alzam minta bantuan.


“Nggak, yang ngejar Acila kan banyak, jadi nggak perlu manis-manis selalu ke laki-laki.” Biar bagaimanapun Syila putri kesayangan papi.


“Tuh denger! Ini namanya jaga kualitas, kalau gue manis ke sana kemari nanti yang ada pada baper dan terkesan murahan.”


“Yaudah cepet tuan putri, gue tunggu di mobil.” Andi mencium tangan papi dan mami lalu pergi, sementara Syila bersiap setelahnya.


Dia memang tidak terlalu modis, tapi cukup kasual, seperti saat ini, dia hanya memakai kaus tangan panjang, celana parasut, sandal jepit lengkap dengan kaus kaki tentunya dan terakhir hijab rajut instan. Dia tak terllau suka pakai jilbab yang harus dikaitkan dengan peniti, terlalu ribet.



“Lu bisa disiplin sedikit nggak sih? Elu nyuruh gue dateng nggak telat, elu sendiri absen, banyak adegan kita tunda gara-gara lu nggak ada, kalau lu emang nggak sanggup, ngomong aja, jadi biar Bang Aryo bisa ambil keputusan sendiri.” Izraa langsung menegur Syila dengan kasar.


“Elu bisa diem nggak!” Andi yang kesal.


Syila berdiri dan mendekati Izraa, dia menatap lekat lelaki itu sambil tersenyum dan berkata, “Lu butuh penulis karya sampah ini?” Syila mengatakannya dengan tatapan menyalang sambil tersenyum liar.


“Bisa mundur nggak? elu sengaja mengintimidasi gue?” Izraa kesal, dia mundurkan bangkunya dan duduk kembali.


“Kalau masih butuh orangnya, jangan sok tahu makanya! Lu pikir nulis segampang goreng kerupuk! Lu masukin ke minyak panas langsung ngembang trus jadi! Nulis tuh butuh otak dan dedikasi! Kalau lu masih ngerasa ada yang perlu kita debatin, ayok sini!” Syila terlihat arogan sekali, Sutradara dan semua orang ngeri melihat tingkah Syila, apalagi dia mengajak bicara dengan mengepalkan tangannya seolah menantang Izraa dengan gerakan silat.


Izraa berdiri dengan wajah datarnya, mendekati Syila.


“Aku tidak pernah melihat seorang gadis menyelesaikan masalah dengan cara seperti ini, kau yakin kalau kau seorang perempuan?” Izraa menghinanya.


Syila kesal akhirnya dia mencoba untuk menyerangnya, tapi tidak berhasil, Izraa menghalau tangannya, lalu menyepak kaki Asyila dari samping hingga Syila kehilangan keseimbangan, dia bersiap untuk jatuh dan menutup matanya, gerakan reflek ketika orang akan menghadapi bahaya. Tapi di detik itu Izra  menahan tubuh Syila dengan kakinya, sedang tangannya masih dipegang oleh Izraa. Syila berhasil mendaratkan tubuhnya di kaki Izraa, tepatnya di paha Izraa dimana kakinya menekuk untuk menahan tubuh Syila.


Syila berdiri dengan malu.


“Aku pikir kau cukup pintar untuk tidak melakukan hal yang tidak kau kuasai.” Izraa mengejeknya.

__ADS_1


Lalu Izraa kembali ke tempatnya sementara semua orang menahan tawa, Syila malu sekali hingga wajahnya memerah.


Syila berbalik, dia hendak pergi.


“Mau kabur lagi? Ngambek lagi? Kalau begini, baru keliatan perempuannya.” Izraa berteriak.


“Bang! Ayo mulai.” Syila kembali ke bangkunya, dia akhirnya duduk tenang di samping Sutradara.


Syuting dimulai, tentu dengan bantuan Syila sebagai penulis, Izraa sangat hebat dalam berakting, dia terlihat memiliki tatapan yang lembut pada Hanum, padahal kalau di luar lokasi, tatapannya sungguh biasa saja. Sungguh aktor yang sangat mumpuni.


“Cil, die sabuk item garis tiga, sumpah elu bego banget!” Andi mendekatinya dan berbisik pada Syila.


“Serius!” Sabuk hitam dengan strip putih tiga diujung sabuk adalah tingkatan tertinggi bagi seorang pesilat, Syila yang masih seorang amatir berani melawan seseorang dengan tingakatan pelatih, pantas saja tadi dia menjadi lelucon bagi semua, tidak seharusnya Syila menyepelekan Izraa.


Mungkin dia pikir Izraa seorang lelaki kemayu yang suka dengan sesama jenis, seperti yang gosip itu katakan, dia tidak tahu, siapa Izraa sebenarnya.


Sepanjang Filming, Syila begitu serius, dia sudah melupakan kejadian sebelumnya, dia menjadi fokus kembali, sifat anak-anaknya memang masih muncul, maklum semua popularitas kadang membuat orang lupa bahwa Syila hanyalah seorang perempuan yang baru berumur 25 tahun sedang Izraa berumur 32 tahun, perbedaan umur yang cukup signifikan, tapi Syila sungguh sudah melampaui umur pada umumnya, pemikirannya, ketegasan dalam bersikap dan juga caranya memandang hidup, melampaui teman sebayanya.


Sekarang istirahat, semua orang makan nasi kotak, termasuk Syila, dia makan dengan Andi.


Izraa terlihat makan sembari membaca naskah, ini yang membuat Syila tidak mau menggantinya, walau dia menyebalkan, tapi tidak ada yang bisa melebihi kemampuan Izraa dalam memerankan peran utama dalam buku yang Syila tulis. Dia sangat gigih jika sudah masuk peran, Syila telah mengobservasi akting Izraa sebelum yakin memilihnya menjadi peran utama.


Ada rasa kagum sedikit dalam hati Syila saat melihatnya.


“Penulis sok pinter lagi liatin lu tuh.” Hanum mendekati Izraa yang sedang multitasking, makan dan hapalin dialog.


Izraa menatap sebentar pada Syila, lalu kembali terpaku pada naskahnya, karena di titik dia melihat Syila, dia telah berpaling tidak melihat ke izraa lagi.


“Gue sih yakin, dia naksir sama lu, jadi dia kayak cari perhatian gitu sama lu, makanya cari-cari masalah.”


“Kalau gue yakinnya, dia itu cerdas ….” Kata-kata yang cukup membuat Hanum terkejut, keluar dari mulut yang seharusnya membenci Asyila, tapi kenapa sekarang malah membelanya.


“Za ….”


“Yang gue heran, kok bisa ya, dialog sesimple ini, tapi elu nggak bisa hapal dan harus ngulang berkali-kali saat shoot tadi?” Izraa menatapnya dengan tajam setelah memotoh kalimat yang hendak Hanum ucapkan.


“Gue … gue ….”


“Di umur 25 tahun, Syila udah buat banyak buku best seller, lu inget nggak, waktu umur lu segitu, prestasi lu apa?” Izraa kembali menatap Hanum dengan tatapan menyerang.


“Gue nggak maksud hina dia, tapi gue ….”


“Urusan gue sama dia, itu soal kerjaan dan gue nggak tertarik sama urusan pribadi dia, jadi nggak usah repot maksain pandangan lu tentang dia ke gue. Soal dia milih gue sebagai peran utama dengan sangat keras, gue anggap itu karena intuisi dia yang tajam dan gue sangat berterima kasih karena dia udah mempertemukan gue dengan karyanya, karya yang sangat bagus ini, buah pikiran kecerdasan dia dan itu nggak ada sangkut pautnya dengan kepribadian dia, buat gue, karya ya karya, sifat dan sikap si pembuat karya, tidak akan mempengaruhi karyanya, hebat ya hebat. titik.” Setelah mengatakan itu, Izraa lalu pergi hendak membuang sampah, nasi kotaknya telah selesai dia makan dan juga kembali mendekati Produser dan Asyila yang sedang berdisukusi.


_______________________

__ADS_1


Catatan Penulis ;


Katakanlah kau mampu menjangkau hatinya, tapi apakah engkau mampu menggapainya?


__ADS_2