
Setelah berita gosip itu keluar, diadakanlah meeting dadakan diantara petinggi film tersebut, yang meeting hanya pemilik modal dan orang-orang inti dalam pembuatan film ini, mereka adalah, Produser, Sutradara, para Pemain Utama dan Syila sebagai penulis, tentu bersama dengan Andi dan sekertaris Produser tentunya.
“Syil, ini bener kalau kalian pacaran?” Produser yang baru saja datang dan paling telat bertanya.
Mereka semua sudah duduk di meja bundar dengan ukuran besar. Izraa duduk bersebelahan dengan Syila, lalu Hanum di sebelah Syila, Sutrada di sebrang mereka, pada meja bagian tengah tidak di isi karena akan ditembakan proyektor ke layar yang ada di depan bagian tengah meja.
“Bisa langsung bahas masalahnya aja nggak, Bos?” Syila malas menjawabnya.
Lalu sekertaris itu memperlihatkan gosip-gosip yang muncul, baik yang dimuat pada majalah online besar maupun akun gosip di sosial media melalui laptop yang diproyeksikan pada layar proyektor depan meja bundar itu, semua memuat tagline berita tentang.
‘Sang Penulis Pelakor berwajah polos.’ Sungguh judul yang sangat menyakitkan hati bagi Syila, termuat fitnahan dan juga tuduhan yang tidak ada sumbernya.
“Bagaimana mereka memuat ini? Apakah ada orang dalam yang membocorkan pada media? Coba cari orang yang mungkin kalian curigai.” Produser mengambil kesimpulan secara prematur.
“Tidak mungkin orang dalam.” Syila membantahnya.
“Kenapa kau begitu yakin?” Produser bertanya.
“Karena kalau orang dalam, mereka tidak akan menyebar berita palsu begitu, orang dalam tahu yang terjadi sebenarnya, antara aku, Izraa dan Hanum, jelas ini orang luar, karena dia asal menyebarkan berita, mengarang seenak jidat, lihat saja taglinenya, menggunakan bahasa sampah. Mengambil beberapa foto yang mendukung artikel palsu itu lalu menyebarkannya seolah itu benar. Fotonya menjadi pendukung berita sampah itu.” Syila berargumen.
“Cerdas.” Bang Aryo si Sutradara berkata.
“Ok masuk akal, lalu siapa asumsimu?” Produser bertanya lagi.
“Coba liat foto yang gue sama Izraa di restoran fast food.” Syila meminta sekertaris memuat foto itu di layar proyektor.
“Ini tuh beneran ngarang banget, karena aku sama Izraa nggak berdua, kita tuh berempat, ada aku, Andi, Izraa dan Juna. Tapi dia sengaja memotret kami berdua, seolah kami sedang berkencan. Trus kasih lihat foto Izraa sama Hanum di lokasi syuting.” Syila meminta foto lain.
“Ok, lalu?”
“Bos, ini dia ngarang dengan bukti foto yang dicocoklogi, aku sama Izraa makan di restoran fast food, lalu besoknya Izraa sama Hanum bertengkar, seolah-olah, Izraa berselingkuh denganku lalu ketahuan oleh Hanum, lalu mereka bertengkar. Dia benar-benar menggiring opini masyarakat.” Syila geram dengan berita fitnah itu.
Jadi semalam papi marah karena ada foto Izraa dan Syila sedang di restoran fast food, tangan Syila ke paha Izraa dan Izraa merangkul Syila, itu dilakukan untuk mengelabui Juna, sialnya ada orang malah mengambil gambar mereka saat melakukan itu.
Lalu pagi ini berita semakin menggila karena foto Izraa dan Hanum yang bertengkar itu juga ikut tersebar, lalu beritanya adalah,
‘Izraa bertengkar dengan Hanum pacarnya karena berkencan dengan Pelakor, si Penulis berwajah polos.’
Lalu ditampilkanlah foto itu diseluruh media gosip dan media-media online besar, foto Syila dan Izraa berkencan di restoran fast food, lalu baru foto Hanum dan Izraa bertengkar diasumsikan karena Izraa pergi makan bersama Syila, lalu Hanum marah, benar-benar sebuah karangan yang runut, cocoklogi yang licik.
Beritanya diputarbalikkan, seolah Syila perempuan jahat dan Hanum malaikat, padahal kemarin Izraa marah pada Hanum yang memeras Syila atas hubungan mereka. Reporter gadungan ini benar-benar menjual berita yang digoreng sendiri.
“Jadi kesimpulannya apa?” Produser bertanya.
“Hanya ada tiga kemungkinan, pertama fansnya Hanum, kedua fansnya Izraa, ketiga hatersku, karena hanya tiga kemungkinan itu yang mau membuatku jatuh.
Fans Hanum, suka dengan chemistry yang Izraa dan Hanum bangun, lalu marah saat melihat aku dan Izraa makan bersama.
Fans Izraa tidak suka padaku karena makan bersama dan mencari celah menjatuhkan namaku. Kalian tahu lah, fans-fans perempuan itu sungguh menakutkan, mereka bisa saja menjatuhkan perempuan di samping idolanya, hanya karena tidak rela idolanya dimiliki oleh orang lain.
Hatersku, jelas tujuannya hanya ingin aku jatuh.
Masih luas cakupannya, tapi bisa kita cari.” Syila benar-benar terlihat seperti detektif, kemampuan menulisnya yang telah banyak melakukan observasi, membuatnnya menjadi memiliki wawasan yang luas.
“Wah, setelah ini seharusnya kau buat novel misteri atau Psikopat Syil, akan kudanai lagi pembuatan filmnya.” Produser terlihat tergiur dengan kemampuan Syila.
“Sudah, sekarang sudah masuk bab akhir dan proses pembicaraan naik cetak, kita bisa buat MOUnya lagi nanti.”
__ADS_1
“Kalian bisa fokus sama masalahnya aja nggak?” Bang Aryo kesal karena Produser dan Syila malah membicarakan hal lain.
“Sorry Bang.”
“Trus gimana Syil?” Bang Aryo mendesak.
“Ya nggak tahulah! Gue cuma kasih kronologi aja, bukan berarti gue tahu pelakunya, lu pikir gue cenayang!” Syila protes.
“Terlalu melelahkan kalau kita harus mencari pelakunya, aku punya ide, tapi ini beresiko.” Hanum menawarkan bantuan.
“Idenya bagaimana?” Semua orang penasaran.
“Begini, besok ….”
…
Hari ini semua orang sepakat menjalankan ide yang Hanum kemarin diskusikan, mereka sudah berkumpul, ketiga orang yang terkena berita fitnah sudah duduk di depan, sementara seluruh reporter gosip dan media ternama sudah berkumpul duduk rapih di hadapan ketiga orang itu.
Hanum berdandan sangat anggun, Izraa juga rapih walau memakai pakaian casual, sedang SYila seperti biasa, memakai pakaian yang nyaman untuknya.
Selain mereka bertiga, Bang Aryo, Produser dan Sekerterisnya juga duduk di sana menemani konferensi pers.
“Baik, sesi pertama adalah Hanum akan membuat pernyataan, lalu disusul oleh Izraa dan juga Syila. Setelahnya baru sesi tanya jawab, jadi selama sesi pernyataan, tidak diperkenankan untuk memotong atau bertanya.” Sekertaris menjadi moderator dan menyiapkan semua bahan, mereka semua mengikuti ide yang Hanum berikan.
“Baik, terima kasih, Assalamualaikum semuanya, terima kasih sudah mau datang, saya akan langsung pada pernyataan, kisah yang diberitakan oleh semua media itu benar.” Ruangan bergemuruh, semua reporter seperti merendahkan Syila.
Syila mencoba untuk tetap tenang walau geram dengan pernyataan Hanum.
Lalu Hanum melanjutkan lagi pernyataannya, setelah suasana kembali tenang, “Benar bahwa saya dan Izraa bertengkar dan benar bahwa kami bertengkar karena Syila.” Semua makin terlihat menatap rendah pada Syila.
“Tapi ada satu yang salah,” lanjut Hanum lagi, “kami bertengkar bukan karena aku marah mereka berkencan, yang benar adalah, Izraa marah padaku karena tidak profesional saat di lokasi syuting.” Hanum menunduk, dia memainkan peran sebagai seorang wanita yang sedang menyesal. Sungguh aktingnya semakin naik kelas.
Kalian bisa buktikan hari itu banyak saksi, kakaknya Syila datang, kami berusaha menyelesaikan masalah tapi tidak mampu, makanya kakaknya Syila pergi dengan cepat hari itu, sedang Syila setelahnya marah padaku, banyak saksi juga, di situ aku dan Syila bertengkar, lalu Izraa menegurku.
Jadi semua gosip itu fitnah, aku dan Izraa tidak berpacaran, hubungan kami murni karena pekerjaan. Itu saja pernyataan dariku, terima kasih.”
Semua reporter yang datang menjadi bingung.
“Baik silahkan untuk Izraa memulai pernyataannya.” Moderator meminta Izraa memulai pernyataannya.
“Terima kasih untuk semua yang mau hadir, pertama pernyataan saya mendukung pernyataan Hanum, kedua saya melakukan pembelaan untuk Syila, karena dia adalah mantan pacar saya.”
Mendengar pernyataan Izeaa semua kembali berbicara sendiri-sendiri dengan opininya, semua hal berbalik saat ini.
“Kami benar pernah berpacaran tapi sudah selesai, tidak ada lagi hubungan selain profesional di antara aku dan Syila, aku makan bersama dengannya dan tertangkap kamera itu semua karena Syila dan aku sedang mendalami karakter. Baik aku, Hanum dan Syila, kami tidak punya hubungan selain hubungan profesinal rekan kerja. Terima kasih.” Pernyataan ini Syila yang minta agar Izraa lakukan, karena Syila ingin papi percaya mereka tidak lagi berhubungan, Izraa mau menolak, tapi melihat Syila memohon, akhirnya dia mengalah dan terpaksa memberi pernyataan ini.
“Baik terima kasih Izraa, sekarang giliran Syila memberi pernyataan.” Moderator kembali menunjuk orang yang berikutnya akan memberikan pernyataan.
Syila lalu mulai bicara.
“Baik terima kasih semua sudah datang, assalammualaikum, pertama saya mau membahas tentang tagline yang kalian buat, bahwa saya si Pelakor berwajah polos, saya baru tahu bahwa imej saya adalah si Penulis berwajah polos, baik, itu cukup menyakiti hati karena ada iringan kata Pelakor di sana.” Memang berbeda sekali kalau pernyataan dibuat oleh Penulis, karena lebih dalam kata-katanya.
Saya lanjutkan, pernyataan Hanum benar, pernyataan Izraa juga benar, kami mantan pacar dan tidak berniat membina hubungan kembali, semua yang kami lakukan kemarin dan selanjutnya hanya untuk mendukung proyek film kami. Sekarang masuk ke pembahasan mengenai gosip itu, tolong tunjukan dong foto aku dan Izraa makan di restoran fast food kemarin.”
Syila meminta moderator untuk menampilkan foto, pertama foto yang tersebar oleh akun gosip, lalu foto selanjutnya disandingkan, foto keseluruhan.
“Baik, adakah perbedaannya? Benar, kami tidak berkencan, kami pergi makan berempat, ini untuk membahas proyek film dan semua gesture yang saya dan Izraa lakukan hanya untuk film, kami sedang membahas dialog.” Syila mantab mengatakannya, Izraa hanya terdiam, ada rasa perih dalam hatinya, tidak diakui, itu yang dia rasakan.
__ADS_1
“Jadi ini adalah foto yang seharusnya disebarkan dari awal, kami tidak berswa foto jadi tidak punya bukti, tapi Alhamdulillah, ada seorang penggemar bukuku, yang ternyata makan juga di sana, dia melakukan swa foto bersama teman-temannya dan secara tidak sengaja kami berempat terfoto, dia mengirimiku foto tersebut melalui sosial media, Alhamdulillah fitnah ini jadi bisa disangkal dengan fakta yang sesungguhnya.” Syila tersenyum penuh kemenangan.
Sementara di antara Reporter tersebut ada yang geram dan marah karena beritanya dibuat mentah.
“Baiklah sesi pernyataan sudah selesai, sekarang sesi tanya jawab, silahkan yang mau bertanya.” Moderator membuka sesi tanya jawab.
“Mbak Syila kenapa putus dengan Izraa? Apakah benar karena gosip miring itu?” Seorang Reporter malah bertanya hal lain, membahas gosip Izraa yang suka lelaki juga, sungguh tidak sesuai dengan tema konferensi pers hari ini.
“Baik, apakah Syila mau menjawab?” Syila mengangguk, karena pertanyaan ini pas untuk membuat papinya semakin yakin mereka telah putus.
“Kami putus karena memang sudah tidak sejalan lagi dalam banyak hal, makanya kami memutuskan untuk hanya berteman saja dan mengerjakan proyek film ini dengan lebih profesional. Terima kasih.” Syila menjawab dengan jumawa, dia akan selamat dari murka papinya.
“Apa semua pernyataan kalian benar? Apakah kalian tidak mengarangnya saja?” seseorang bertanya, dia tidak memakai nametag seperti Reporter yang lainnya, dia juga bertanya tiba-tiba tanpa dipersilahkan, Izraa dan Syila saling menatap, mereka yakin dia orangnya yang mengambil gambar dengan diam-diam dan menyebarnya.
“Semua bukti sudah jelas, apalagi yang menjadi masalah sampai anda tidak percaya?” Izraa bertanya.
“Foto itu semua buktinya, kalian bisa saja mengedit fotonya dan seolah pernyataan kalian itu benar, bukti foto berempat itu juga bisa saja editan, terlihat blur begitu.” Lelaki itu masih saja memaksa bahwa gosip itu benar.
“Berarti foto yang disebar juga mungkin saja palsu, karena blur juga, blur itu karena diambil dari jarak jauh, lagian kami tidak semesra itu saat makan bersama, tinggal kalian saja yang memutuskan mau percaya kata fitnah atau kata kami sebagai korban fitnah?” Syila kesal dan menekan lelaki itu dengan kata-kata yang lumayan keras.
“Kalian semesra itu kok! Aku tahu itu, kalian bahkan saling melempar senyum dan kata-kata cinta, untuk memperlihatkan kalian berhubungan lebih dari seorang teman, kalian berpacaran, aku tahu itu!” Lelaki oknum Reporter itu berteriak.
“Kena!” Izraa berlari ke arah lelaki itu untuki menangkapnya dan Andi memanggil security, dia telah melanggar undang-undang ITE, konferensi pers ini memang bertujuan untuk menangkap pelaku dan meluruskan berita, walau banyak muatan bohong juga dalam pernyataan mereka, tapi sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.
Hanum tersenyum, dia senang karena akhirnya bisa menebus kesalahan pada Syila dan Izraa, sejak Alzam berkata tidak ingin bersama dirinya lagi, Hanum merasa menyesal, Alzam sekarang bahkan terlihat jauh lebih baik dari Izraa di matanya, benar kata pepatah, jika sudah bukan milikmu, maka baru terasa kehilangan.
Ini adalah wujud penyesalan Hanum, yang mungkin saja bisa diberi kesempatan untuk bisa bersama Alzam lagi.
Ide Hanum itu menjadi jalan keluar yang sangat cerdas.
“Num, makasih ya.” Syila mengatakannya dengan tulus, mereka sekarang sedang di kedai kopi dekat gedung konferensi pers. Oknum Reporter itu sudah diamankan dan selanjutnya akan dilaporkan oleh management, ternyata dia hanya seorang Reporter yang membenci Syila, dia adalah seorang Penulis yang tulisannya tidak pernah laku dan iri pada Syila yang masih muda tapi bisa selalu menciptakan buku best seller, makanya dia ingin menjatuhkan Syila.
Beruntung mereka bisa menyelamatkan nama baik dan juga proyek film ini kelak.
“Ya, gue juga minta maaf udah meres lu jadinya foto gue bertengkar sama Izraa kesebar, sebagai pendukung fitnah itu, tapi beneran, gue nggak ada niat ngaduin hubungan lu sama Izraa ke om.”
“Ya, udah lewat semua, kita saling maafin aja. Tapi, soal Kak Alzam, apa elu udah suka sama kakak gue? kalian belum pacaran, tapi elu ngakunya pacaran, cerdas juga bilang bahwa kedatangan kakak gue waktu lu panggil kemarin itu karena kalian bertengkar, nggak kepikir gue sejauh itu.” Syila untuk pertama kalinya memuji Hanum.
“Hanya terpikir begitu saja. Soal Kak Alzam, dia masih nggak balas chat gue dan nggak angkat telpon gue.” Hanum terlihat sedih.
“Gue bantuin, tenang aja, dia masih suka kok ama lu, dia cuma marah, nanti kalau udah nggak marah lagi, dia bakal cair kok, soalnya cuma elu cewek yang dia kejar.” Syila menyemangati.
“Tipikal banget, macam Izraa, cuma elu yang dikejar.” Hanum tersenyum, Syila tersedak mendengar itu, Izraa hanya diam sembari meminum minumannya dengan santai, padahal ini obrolan perempuan, tapi izraa terus saja menempel, ikut ke manapun Syila pergi, macam tuan sama anak kucingnya.
________________________________________________
Catatan Penulis :
Arah mana yang hendak kau tuju dengan membawa hatiku?
Laut? gunung? atau daratan luas?
Kenapa rasanya setiap kali melihat wajahmu aku tenggelam seperti di lautan.
Kenapa rasanya berdebar seperti berada di puncak gunung dan melihat ke bawah, rasanya tinggi dan menakutkan.
Kenapa rasanya jauh sekali, sebanyak apapun aku berjalan, lalu berlari untuk mengejarmu, tapi tak sampai juga, seperti pada daratan luas.
__ADS_1
Apakah memang kau hanya membawa hatiku sesuka hatimu, lalu kau tinggalkan di mana kau ingin menyiksaku? tak mengapa, karena kau memang bodoh, selama aku mampu menatapmu, maka cukup.