
Mungkin benar kata para pemuka agama ketika berceramah, bahwa setiap orang akan diuji dari apa yang paling dia sukai.
Maka ketika Syila mengalami cacat pada tangannya, berimbas pada apa yang sangat disukai, maka di sanalah keimanannya diuji. Dia masih terus memenuhi perintah Tuhan dengan menjaga solatnya, tapi dia masih belum mampu mengendalikan marahnya pada takdir.
Dia tak ingin menyalahkan Izraa, dia hanya ingin menyalahkan dirinya sendiri, dia merasa bodoh dengan menyerahkan tubuhnya pada Fenita si pembunuh.
“Syil, mami pergi dulu ya, kamu kalau mau makan, suruh bibi aja siapin, sudah dimasakkan telur sama kentang balado kesukaanmu.”
Mami masuk begitu saja ke kamar Syila, Syila memang dilarang mengunci kamarnya, karena dia mami takut Syila butuh mereka dan sulit kalau kamarnya dikunci, hal ini juga membuat Syila semakin kesal, merasa tak berguna.
“Mami mau ke mana?”
“Ada arisan, mami sudah tak datang sejak kamu sakit, sekarang harus datang, kamu nggak apa-apa ditinggal?” Mami bertanya.
“Ya, tidak apa-apa.”
“Mau mami panggilkan Andi?”
“Tidak!” Syila masih tidak mau bertemu siapapun, semua orang mulai paham, bahwa dia tidak benar-benar membenci Andi, dia hanya mencari alasan agar tak bertemu siapapun, dia hanya ingin sendiri.
“Ok, kalau begitu mami jalan ya.”
Mami lalu pergi, dia berbohong, dia tak datang untuk acara arisan, tapi dia datang untuk bertemu dengan pihak PH, ada masalah yang harus dibicarakan, seharusnya Syila yang datang, tapi karena Syila kondisinya tak baik, maka Mami dan Papi yang akan datang, papi langsung dari rumah sakit.
Mami sampai di rumah sakit, dia langsung bertemu papi yang datang 15 menit kemudian, tak lama kedatangan papi, seorang asisten datang untuk mengantar mereka ke ruang meeting di gedung PH itu, gedung yang banyak didatangi para artis.
Tak lama kemudian mereka sampai di ruang meeting yang terletak di lantai 6 pada gedung berlantai 20 itu.
Saat masuk sudah ada Produser, Sutradara, Sekertaris Produser dan tentu saja Izraa.
“Baiklah, sebelumnya terima kasih karena kalian mau datang, maaf sekali kami harus memaksa agar kalian datang, tapi ini sangat urgent, makanya kami meminta kalian datang sebagai wali dari Syila.” Produser itu membuka meeting kali ini.
“Ada apa? Langsung saja.” Papi sudah tak sabar, dia tak ingin mendengar basa-basi lagi.
__ADS_1
“Ini mengenai film yang sudah di rilis di bioskop, awal penayangannya respon masyarakat sangat bagus, kami sangat senang, tapi … di saat film sudah turun, tiba-tiba ada masalah ini.”
Sekertaris itu menyerahkan sebuah dokumen yang harus dilihat papi serta mami Syila.
“Ini apa?”
“Ada serial yang menggunakan judul dan cerita yang sama ditayangkan pada sebuah acara televisi berbayar. Itu adalah novel yang kami angkat jadi layar lebar.”
“Hah?” Mami terkejut dan paham arah meeting ini, pantas mereka memaksa sekali bertemu Syila, mami dan papi terpaksa pasang badan untuk menghindarkan Syila dari banyaknya kegiatan perfilman ini.
“Ya, ada indikasi bahwa Syila menggandakan kontrak perjanjian adaptasi novel pada dua PH, PH kami dan PH yang menayangkan serial itu di acara televisi berbayar itu.”
“Anakku bukan orang yang serakah, dia takkan menjual barang yang sama ke tempat lain sehingga mendapatkan keuntungan yang dobel.”
“Kami tahu, karena saya sangat tahu kredibilitas Syila sebagai Penulis, tapi … ini tidak bisa kami biarkan, kalau sampai kami biarkan, maka siapa saja bisa seenaknya menggandakan kontrak perjanjian dan mendapatkan keuntungan yang lebih, padahal itu adalah hak kami.”
“Jadi, kami harus apa, supaya bisa buktikan kalau Syila tak melakukan itu?” Papi bertanya, dia memang mampu berpikir melalui kepala dingin.
“Syila harus melawan sendiri plagiarisme ini, dia harus mengadakan konferensi pers agar bisa mengklarifikasi mengenai pencurian karya dan juga menyelamatkan muka kami agar tidak malu, karena karya kami sudah dibuatkan serialnya tanpa sepengetahuan kami.” Produser memang yang paling marah dan ngotot Syila harus bicara di depan banyak orang.
“Kami sangat menyesal atas apa yang Syila alami kemarin itu, bukannya hendak lepas tangan, tapi kejadian seperti itu sama sekali tak terduga, maka kami mohon agar Syila bisa dibujuk untuk segara melakukan konfirmasi itu.”
“Jika kami keberatan melakukan itu?” Papi bertanya, dia lagi-lagi tahu dengan cepat maksud dari perkataan Produser itu.
“Maka Syila akan masuk dafta orang yang kami laporkan pada tuduhan menggandakan kontrak perjanjian, masuk pada pasal perjanjian di mana ini kategori penipuan, sedang penipuan bisa masuk tindak pidana. Maaf dengan berat hati aku harus mengatakannya.” Produser berkata dengan hati-hati.
Mami langsung menangis dan hendak marah, tapi papi menarik mami agar tak memperkeruh suasana karena mereka jelas sudah kalah telak.
“Kami bisa bantu kau ikut melaporkan, bukankah kooperatif dalam pemeriksaan bisa dianggap tak lari dari tanggung jawab, lalu apakah ada bukti bahwa anakku melakukan kontrak perjanjian ganda itu?” Papi memang cerdas.
“Belum ada bukti, apakah kalian yakin, bahwa memang taka da kontrak perjanjian ganda?”
“Aku yakin, kami kenal anak kami, dia bukan dari keluarga penipu dan tidak sedang kesulitan dana, jadi tidak mungkin dia melakukan itu.” Papi membela anaknya.
__ADS_1
“Tapi kami dengar rumor, bahwa Syila tak menggunakan satu penerbit untuk menerbitkan novelnya, dia menggunakan beberapa penerbit untuk mendapatkan keuntungan yang lebih dari para penerbit yang berbeda, sehingga perjanjiannya selalu diperbaharui.” Produser itu kekeh dan ternyata sudah memiliki banyak data yang mengarah ke sana.
“Benar bahwa Syila memakai beberpa penerbit, tapi alasannya bukan itu! Dia memakai beberapa penerbit untuk bagi hasil, agar penerbit kecil yang tidak memiliki Penulis best seller bisa mendapatkan keuntungan yang sama berkat bantuan Syila, dengan langkah ini juga banyak penerbit yang hampir bangkrut, sekarang mampu berdiri lagi berkat Syila yang tak mau satu penerbit mendominasi pencetakkan novelnya.” Mami menjelaskan, dia juga sedih, niat baik anaknya malah diartikan lain, Syila difitnah dengan brutal saat sedang kacau seperti ini.
“Niat seseorang tidak bisa dijadikan bukti, niat seseorang hanya bisa terbukti dengan semua dokumen yang ada, sementara, semua ini ternyata mengarah pada Syila, kondisi ini tak baik untuk Syila.” Produser tetap saja bersikukuh agar Syila mau untuk melakukan konferensi pers.
“Pak, saya kira, kita semua mengenal Syila dengan baik, betapa sulitnya bisa kerja sama dengannya, ini PH kecil yang menjual pada televisi berbayar itu, bahkan televisi berbayar itu adalah nama baru, sehingga penting bagi mereka untuk mendapatkan nama, ini pasti mereka yang mencuri karya Syila.”
“Maka dari itu, harus kita usahakan agar Syila mau untuk melakukan konfirmasi melalui Konferensi Pers.”
“Syila tak bisa bertemu banyak orang karena tangannya yang cacat, tak bisa kau lihat dia begitu terpukul saat acara prelaunching itu?!!! Gimana jika ini menimpa anakmu? Mampukah kau berkata setega ini!” Mami sudah geram dengan produser, walau dia tahu, kalau ini masalah bisnis, maka sisi perasaan tidak bisa dibawa-bawa.
“Tentu aku akan sedih dan akan lakukan apapun agar anakku tetap aman, kami akan pastikan menjaga Syila dengan ketat, Syila hanya harus bicara di depan pers dan mengklarifikasi bahwa karyanay dicuri, maka kita bisa melapor bersama, ini langkah yang paling tepat dan sesuai, aku tidak mau kalah di pengadilan, karena kalau kalah, aku pasti rugi banyak.”
“Pak, tapi kan bisa sebenarnya kalau kita hanya lapor saja, anda lapor, Syila lapor, maka kita berdua bisa dianggap orang yang bersekutu.” Papi mencoba berbicara dengan merendah dan lembut, agar si Produser bisa luluh.
“Itu dia masalahnya, kalau mereka melakukan langkah efektif lain, misalnya menghadirkan penulis lain yang mungkin tulisanya sama dengan Syila, maka habislah aku, mereka akan menuntutku balik dan juga Syila, tapi kalau kita melakuakn konferensi pers lebih dulu, kita langsung menyerang mereka dan membawa mereka ke hadapan publil, agar nama kita juga melambung tinggi.”
“Jadi, ini juga bagian dari marketing film kalian kan? Kalian mau Syila tampil karena namanya sedang naik akibat tangannya yang cacat, lalu dengan hadirnya Syila membela kalian, maka nama PH kalian akan semakin naik dan film juga akan semakin diminati, tapi apa yang kau lakukan mendorong anakku untuk kembali harus terpaksa depresi lagi dan lagi.” Mami jijik, karena baru sadar, ini semua adalah langkah marketing mereka untuk semakin mendapatkan nama di tengah masyarakat.
“Aku akan membujuk Syila untuk melakukannya.” Izraa yang sedari tadi diam akhirnya bicara juga.
“Apa maksudmu? Kau takkan mampu membujuknya!” Mami keberatan.
“Tante tahu dengan jelas, bahwa Syila akan mendnegarku jika saja kami dipertemukan, kalian takut Syila berubah pikiran makanya kami dilarang bertemu, tapi kali ini bukan soal cinta-cintaan, Tan. Ini soal nama baik dan film yang Syila impikan, film ini sudah sangat naik namanya, sekarang kalau ternayta pihak mereka dulua yang claim ini plagiat, Syila akan kehilangan nama baik dan juga kesempatan lain jika saja dia telah siap untuk kembali menulis.” Izraa mencoba untuk memberi masukan, dia tak sedang mengambil kesempatan, dia hanya sadang berusaha menolong saja.
“Ok baik, 3 hari, kau punya waktu 3 hari untuk membujuknya, jika saja kau gagal, maka dia tak boleh lagi dipaksa untuk melakukan konferensi pers itu, terserah kalian lah mau dilaporin juga kami pasrah aja, daripada anakku depresi, jadi kali ini kami mohon pamit dulu, terima kasih.” Papi dan Mami Syila lalu akhirnya pergi dari ruang meeting itu, meninggalkan Produser, Sutradara, Izraa dan Sekertaris produser.
“Kau yakin bisa membujuknya?” Bang Aryo tanya.
“Aku pasti bisa membujuknya untuk bicara di konferensi pers nanti, dia bukan gadis jahat kok, aku yakin dia jujur.”
“Kejujuran itu soal niat Za, niat itu nggak bisa dilihat seperti angin, cuma bisa dirasain, jadi dari mana kamu yakin Syila mau untuk bicara dengan pers yang banyak itu?” Produser bertanya.
__ADS_1
“Aku akan melakukan apapun agar namanya tetap bersih.” Izraa sudah bertekad, sekarang dia harus susun strategi.