
Mereka berdua sudah sampai di kantor, saat sampai, seorang lelaki sudah menunggu, lelaki yang kemarin menjemput Syila dan menemani sampai dia pulang.
“Bu, ini kartu yang nanti akan digunakan untuk masuk ke gedung ini dan juga untuk tap lift.” Lelaki itu memberikan kartu pegawai pada Syila, kartu itu berwarna biru dengan logo perusahaan milik keluarga Izraa.
“Tapi aku bukan pegawai dari perusahaan ini.” Syila memberikannya lagi pada lelaki itu, dia menjadi bingung, Izraa mengambil kartu itu dan menaruhnya di kantung.
“Naiknya diantar dulu sampai kartu perusahaan kami jadi.” Izraa memerintahkan lelaki itu.
“Ta-tapi Pak, sistem di perusahaan ini tidak bisa ....”
“Antar kami sampai lantai kantor kami ya.” Izraa menatapnya dengan tajam dan memintanya diam.
“I-iya, baik pak.”
Pegawai lelak itu terlihat bingung karena gedung ini milik perusahaan keluarga Izraa tak ada tenant lain yang ada di perusahaan ini, sehingga semua kartu pegawai, ya atas nama perusahaan induk, sistem juga tak bisa dipecah untuk perusahaan lain, karena mesin pembacanya sejak awal membaca satu nama perusahaan saja, baik untuk lift dan juga pintu putar untuk masuk sebelum lift.
Jika Syila meminta untuk ganti nama perusahaan di kartu pegawai yang artinya akan berelasi dengan absensi dan juga nantinya akan menjadi bukti untuk absensi, sistem harus dipecah menjadi sistem induk dan sistem cabang, maka program harus disetting ulang, itu akan sangat sulit.
Izraa dan Syila sudah sampai pada lantai yang diinginkan, Andi sudah di sana ternyata, dia memakai kartu pegawai dari perusahaan keluarga Izraa yang berwarna biru itu, lengkap dengan lanyardnya.
“Kau pegawai keluarga Izraa?” Syila melihat itu langsung sewot, sedang Andi bingung, kenapa Syila terlihat kesal, Andi juga sejujurnya lelah karena seharian ini sibuk dengan furniture permintaan Syila dan sekarang sedang mengatur tukang yang didatangkan dari tempat furniture untuk mengukur tempat yang akan dibuatkan lemari arsip.
“Dia kenapa?” Andi bertanya pada Izraa, Syila langsung menuju ruangannya yang belum berfurnitur lengkap, dia hanya butuh bangku untuk memangku laptopnya dan siap bekerja dengan satu tangan saja.
“Buka lanyardmu, dia sensitif melihat itu.” Izraa menjawab, dia masih di sana, ikut melihat Andi dan tukang yang sedang menghitung tempat.
Andi membuka lanyard kartu pegawainya, tapi masih tetep bingung, “Kenapa sih, padahal ini bagus tahu, aku merasa menjadi pegawai kantoran, apalagi kantor di gedung ini, wow, sungguh sebuah kemewahan yang harusnya bisa dipamerkan.”
“Kau tidak paham rupanya, dengan memakai lanyard dari perusahaan keluargaku, Syila pasti merasa kesal, karena saat ini, dia bukan pegawai dari perusahaanku, tapi dia adalah pemilik perusahaan penerbit, dengan memakai kartu pegawai ini, dia pasti merasa bahwa keluargaku sedang berusaha untuk menyetirnya, memberitahunya bahwa, dia hanya bagian dari perusahaan ini yang berada di bawah kendali mereka. Makanya dia kesal, karena dia merasa tak memiliki perusahaan ini.”
__ADS_1
“Hah, kok lu bisa nebak sejauh itu? kayaknya elu lebay deh Za, dia tuh nggak sepicik itulah. Gue kakaknya, jadi ... gue lebih kenal.” Andi menolak setuju pada pernyataan Izraa.
“Salah.”
“Apa yang salah?” Andi tak paham.
“Kau bukan kakaknya, kau sepupunya, kalian bahkan tidak satu rahim, sedang yang satu rahim aja bisa salah.” Izraa lalu menarik lanyard yang ada di tangan Andi dan mengambilnya, ada hal serius yang harus dia bicarakan pada ibunya, ini pasti ulah dia.
Dalam pemikiran Izraa, tak bisakah wanita itu menunggu dengan sabar.
Sementara Andi masuk ke ruangan Syila yang masih terlihat kesal.
“Acil, kenapa sih? kok rese, padahal baru hari pertama.” Andi membujuk anak manja ini.
“Aku nggak suka kamu pakai kartu itu Ndi, kau kan bukan pegawai mereka, kau itu pegawaiku!” Syila memberitahu letak kesalnya.
“Ndi, ini tuh bukan soal operasional, tapi ini soal harga diri.”
“Hah? ini apalagi, harga diri apa sih?”
“Kalau mereka sengaja memberikan kartu pegawai padaku, artinya mereka secara tidak langsung, sedang memberitahu padaku bahwa aku hanya salah satu pegawai mereka, secara tak langsung mereka memberitahuku untuk tunduk pada peraturan perusahaan, sedang aku bukanlah pegawai mereka, aku tidak mau diatur untuk hal sekecil apapun! Aku tidak mau mereka seenaknya mengaturku untuk hal sepele, jika saja aku biarkan sekarang, besok mereka akan terus mengaturku dan memaksaku tunduk dengan alasan operasional dan lainnya seperti saat ini.”
“Izraa benar menebakmu, aku tidak menyangka kalau dia ternya lebih kenal kau dibanding aku, sungguh aku kecewa mendengarnya.” Andi bergumam dan hampir tak terdengar Syila.
“Kenapa, Ndi?” Syila bertanya.
“Enggak apa-apa, Tapi, Syil, bukankah ini berlebihan, ini hanya alasan operasional sih, nggak sejauh itu soal harga diri.” Andi masih tak mengerti pemikiran Syila yang dimengerti oleh Izraa.
“Ndi, kita harus paksa mereka membuat sistem cabang, aku tak mau pakai kartu itu apapun yang terjai, aku akan memaksa mereka untuk menuruti mauku, hanya agar memastikan, kelak, aku yang mengendalikan perusahaanku sendiri, jika saat sepele seperti ini saja mereka tak mau menuruti keinginanku dan merupakan hakku sebagai tenant, anggap saja begitu, karena mereka yang mengatur gedung perusahaanku kan? maka sekarang waktuku yang meminta hakku, aku sudah menuruti mau mereka dengan berkantor di sini, maka aku harus membuatnya satu sama, mereka sekarang harus menurutiku, ini pertarungan Ndi, jangan sampai lengah, kita harus tetap pada keyakinan, perusahaan ini milik kita dan semua keputusan di tanganku, jangan biarkan mereka seenaknya mengendalikan perusahaan ini, karena kalau sampai perusahaan ini dikendalikan oleh mereka, kelak, aku pasti dipaksa untuk ikut pada kendali yang mereka pegang.”
__ADS_1
“Syil, aku kok jadi merinding ya, kalau itu benar, sungguh pertarungan ini mustahil kita menangkan.”
“Aku nggak rugi apapun kok, maka untukku, pertarungan ini sangatlah sepadan, aku menggunakan segala upaya yang aku mampu, tapi karena aku tak punya kelemahan yang bisa mereka gunakan sebagai alat untuk mengendalikanku, maka aku bisa bertahan pada posisi sebagai pengusaha yang bebas.”
“Hmm, aku tak paham, tapi yasudahlah, sekarang aku urus furnitur saja dulu ya.” Andi lalu keluar dari ruangan Syila dan tak sengaja berpapasan dengan Jane yang berlarian, dia kaget karena Syila sudah datang sejak tadi, sedang dia masih di ruangannya.
“Bu, maaf saya ....”
“Keluar Jane, saya belum butuh kamu.”
Belum juga dia masuk, baru saja buka pintu dan minta maaf, sudah diusir Syila, Jane kaget dan malu, lalu dia keluar, kebenciannya pada Syila semakin menjadi, dalam hatinya, dia berjanji akan menggoda Izraa agar Syila ditendang dari sini.
Sementara di lantai atas, Izraa mendatangi ibunya. Ibunya sedang di ruang kerjanya yang besar itu, Izraa menaruh tiga kartu pegawai di meja ibunya yang sedang bekerja di depan laptop.
“Ini apa?” Dia bertanya.
“Kau terlalu terburu-buru, dia akan langsung mengambil jarak, dia menolak kartu ini dan pasti akan memaksamu untuk membuat kartu atas nama perusahaannya. Seharusnya kau memberikan kartu tamu saja dulu.”
“Gadis cerdas, tenang saja, aku itu sangat sabar dan jarang sekali salah langkah, aku hanya sedang memastikan seberapa berat lawanku dan sekarang aku tahu, calon menantuku itu bukan wanita biasa, aku memang sedang melakukan tes padanya dan dia langsung lolos, dia membaca pergerakanku dengan mudah.”
“Sudah kubilang, dia bukan wanita biasa, kau tidak percaya.”
“Aku ingin lihat bagaimana dia memaksaku membuat sistem cabang, karena kau tahu, membuat itu tak mudah, kita harus merombak sistem utama di server karena seluruh panel sudah dibuat sebagai sistem induk, aku akan lihat bagaimana dia mampu membuatku berubah pikiran.”
“Aku tak sabar melihat pertarungan kalian, aku akan tetap berada di sisinya, ingat itu.”
“Tak masalah, anak dan menantuku harus banyak belajar dari pertarungan ini, toh kalian kelak yang akan menggantikan kami.”
Tanpa pamit Izraa keluar dari ruangan itu, lalu maminya Izraa sedikit melirik kartu pegawai itu dan tersenyum sinis sambil bergumam, “Gadis kecil yang licin, aku harus hati-hati.”
__ADS_1