
Pagi yang indah, Syila sarapan di rumah keluarganya seperti biasa, tapi papi sudah berangkat duluan sejak pagi, ada panggilan darurat dari rumah sakit, makanya dia tidak sarapan bersama, sementara Alzam dan mami turut sarapan di meja makan itu.
“Gimana kantor?” Alzam bertanya.
“Baik, kami baru saja dapat rekan bisnis yang sangat kompeten.” Syila terlihat bersemangat.
“Oh ya, siapa?”
“Tebak siapa?” Syila bercanda, tentu saja semua orang tidak menerka.
“Siapa sih? Kok senang banget kayaknya.”
“Itu loh, Media Mulia, perusahaan yang punya toko buku banyak banget, bahkan salah satu toko bukunya seperti mall itu.”
“Wah bagus dong.” Mami terlihat senang.
“Ya Mi, Izraa yang dapat proyeknya, dia ternyata akhir-akhir ini sibuk mendapatkan kerjasama ini, dia melobi perusahaan itu agar dibantu untuk cetak novelnya, jadinya kami bisa lebih mudah membantu banyak Penulis untuk menerbitkan buku.”
“Wah kerena banget sih, tapi apakah itu takkan tumpang tindih?” Alzam bertanya, tak ada muatan meragukan tapi hanya khawatir saja.
“Tumpang tindih gimana?” Syila tak paham.
“Kau kan berniat membangun perusahaan penerbit juga, sekarang kau kerja sama dengan perusahaan besar untuk jenis bisnis yang sama.”
“Ya nggak apa-apalah, kan bisa jadi kerjasama ini malah membuat perusahaan kami berkembang dengan lebih cepat.”
“Gini maksudku Syil, misal ada satu perusahaan kosmetik yang sangat besar, lalu kenapa dia perlu untuk kerjasama dengan perusahaan kosmetik yang kecil? Dia memiliki manfaat apa kerjasama dengan perusahaan kosmetik kecil itu?” Alzam hanya bicara secara logika saja.
“Hmm, bisa aja kan membantu perusahaan kami untuk ….”
“Syil, yakin mau bawa arah pembicaraan kita jadi begini?” Alzam terlihat kesal karena Syila lagi-lagi senang saja tanpa memikirkan lebih jauh.
“Iya maksudku, aku belum tahu bagaimana isi MOUnya, jadi aku belum bisa membantah argumenmu.”
“Syil, kau tak perlu membantah argumenku, aku bukan musuhmu dan tak bermaksud mendebat, tapi bisakah kau belajar hati-hati?” Alzam mulai khawatir.
“Tentu saja! Aku bisa jaga diri kok. Lagian yang dapat proyek itu Izraa, jadi dia pasti takkan membuat perusahaan ini bangkrut.”
“Jangan terlalu percaya orang lain ya, biar bagaimanapun, dia bukan keluarga, jangan kepercayaanmu padanya, melebihi kepercayaanmu pada kami.” Alzam berkata dengan dingin lalu menyelesaikan sarapannya dan bersiap pergi ke rumah sakit.
“Jangan terlalu dipikirin, kakak hanya takut kalau kau ditipu atau dimanfaatkan, ikuti kata hatimu, kau itu sangat hebat melakukannya bukan?” Mami berkata dengan lembut, mereka masih di meja makan walau sarapan telah selesai, Syila menunggu Andi menjemputnya.
__ADS_1
“Tapi kak Alzam masih sangat tidak suka Izraa ya, Mi?” Syila sedih.
“Biarkan saja, nanti juga dia membaik, perlu waktu, karena kamu tahu kan, kakak itu sangat sayang sama kamu, jadi melihat keadaanmu kemarin itu sungguh membuatnya terpukul. Makanya dia jadi lebih hati-hati jika kau berhubungan dengan orang lain.”
“Tapi aku dan Izraa kan belum ada apa-apa, Mi.”
“Belum kan, tapi bisa jadi akan.” Mami terkejut Syila mengatakan kata belum, daripada tidak. Sungguh itu membuat Mami senang.
“Mi, jangan ngeledek lah. Tapi Mi, buktinya Mami bisa maafin Izraa, padahalkan, sebelumnya benci banget, lebih terlihat malah dibanding kakak, sekarang berbeda, sudah tidak benci lagi dan kembali seperti dulu sikapnya pada Izraa.”
“Seorang ibu tidak bisa selalu bersikap sesuai egonya, Nak. Ibu tahu mana yang paling mampu membuat anaknya bahagia.”
“Memang Izraa bisa membuatku bahagia?” Syila kali ini hanya bertanya dengan bercanda saja.
“Sejauh ini, tak ada yang berkorban sejauh dia dan aku kira juga, tak ada yang berkorban sejauh kamu untuknya. Kalian sudah saling terikat, lalu aku pikir akan sia-sia jika saja aku membuat kalian harus terpisah, maka aku membiarkan Tuhan yang menakdirkan semua, karena jodoh milik-Nya. Maka dari itu, aku memafkan dan membiarkan kau tetap dekat dengannya. Karena aku tahu, keterikatan kalian membuat kalian berdua bahagia.”
“Mi, gimana kalau saja, kalau … mungkin Izraa memang mengharapkan manfaat dariku, bukan murni keterikatan.” Syila tiba-tiba berkata dengan sedikit hati-hati.
“Misalnya? Memanfaatkan apa? Keluarganya lebih kaya dari kita, dia lebih terkenal darimu, dia artis dan kau Penulis, jelas target pasa kalian berbeda, lalu keluarganya bahkan bosnya ayahmu. Apa yang mau dia manfaatkan?”
“Tubuhku?”
“Subhanallah Syila! Bukankah teman-teman Izraa banyak yang lebih seksi dan lebih cantik darimu, bukankah lebih menyenangkan kalau bersama yang lebih cantik dan seksi.” Mami meliuk memperagakan cara wanita memperagakan gaya seksi.
“Berarti keterikatan! Itu namanya keterikatan yang sudah ditakdirkan Syila, kalau memang tubuhmu yang membuatnya merasakan hanya kamu yang dia inginkan, berarti itu kan sudah digariskan? Kau ini sudah berkerudung, mamimu ini bahkan belum pakai kerudung, seharusnya ilmu agamamu juga lebih dalam dong, Syil. Masa kamu mau sangkal garis yang sudah Allah buat?”
“Kok jadi terasa beda ya Mi, saat Mami berbicara begitu, rasanya apa yang dia yakini terasa lebih masuk akal.”
“Memang apa yang dia yakini?” Mami bertanya.
“Hmm, yaitu, aku ini masuk ke dalam kriterianya dan membuat dia sulit berpaling, mungkin karena memang aku cantik.” Syila bergaya dengan imut, kedua tangan di taruh di dagu, hanya agar maminya tak bertanya lebih jauh lagi.
“Hei, gue chat udah sampe, nggak keluar juga!” Andi ternyata sudah datang, tadinya enggan masuk ke rumah biar cepat saja, eh Syila malah sibuk dengan mami.
“Biasalah, girls talk Andi, kamu mau ikut nimbrung?” Mami lalu bangun dari kursi makannya dan hendak mengambilkan piring untuk Andi sarapan.
“Nggak usah Mi, orang mau jalan kok.”
“Yaudah Mami bekalkan ya? Biar kamu bisa sarapan di kantor.”
“Ah, udah kelamaan, yuk berangkat nona muda.” Andi menarik Syila, agar tidak dibawakan bekal sarapan oleh mami, Andi kesal karena pasti bekalnya itu 4 sehat 5 sempurna, itu membuat Andi jadi tak nafsu makan, dia kurang suka sayur dan buah, dia lebih suka sarapan kopi dan juga roti setiap pagi, dari pada sarapan yang sehat dan lengkap.
__ADS_1
Mereka akhirnya sudah di mobil dan berhasil pergi dari paksaan bekal makanan dari mami, Andi menyetir dan mereka drive thru dulu untuk kopi, bukan di kafe karena terlalu jauh jika ke sana, ini adalah tempat minum yang banyak orang gandrungi karena sendang trend, Syila dan Andi cukup sering mampir untuk drive thru.
Setelah mendapatkan kopinya, mereka kembali meneruskan perjalanan untuk pergi ke kantor itu.
Tak lama sudah sampai kantor, Syila melihat Izraa tidak ada di ruangannya, dia lalu menaruh kopi yang sudah dibelikan untuk Izraa dan kembali ke ruangannya.
Salah seorang pegawai masuk ke ruangan dan memberikan beberapa dokumen curriculum vitae yang masuk ke email mereka, walau website belum jadi, tapi para publisher sudah bergerilya menyebar informasi untuk rekrut karya penulis di semua media sosial perusahaan yang sudah dibuat sejak lama, jadi sudah masuk beberapa Penulis yang mengirimkan CV dan juga garis besar karyanya sebagai pengajuan karya.
Syila mendapatkan soft copy semua dokumen itu, tapi untuk CV Syila minta dicetak, dia ingin melihatnya sembari bisa melihat karyanya, jadi tak perlu membagi layar untuk beberapa dokumen.
Tak lama kemudian Izraa datang masuk begitu saja sambil meminum kopinya.
“Upahku hanya ini? Aku menang proyek besar loh?” Izraa menunjuk kopinya.
“Itu saja dulu sebagai DP, nanti kalau sudah benar tanda tangan kontrak kerjasama, aku kasih yang lebih nikmat.”
“Apa?” Mata Izraa menjadi lebih nakal.
“Kau mau kuhabisi, berani sekali matamu melihatku seperti itu!” Syila berpura-pura hendak melempar tempat pensil yang sedang dia pegang.
“Kau kan bilang lebih nikmat, aku tidak tahu apalagi yang lebih nikmat di banding … makan malam bersamaku.” Izraa tertawa meledek, karena tahu Syila pasti berpikir kalau Izraa akan melecehkannya dengan mengatakan bahwa tidak ada yang lebih nikmat dibanding tubuh Syila, tapi ternyata undangan makan malam.
“Makan malam bersama keluargamu?” Syila enggan.
“Kau mau makan malam bersama mereka? aku saja malas.” Izraa meledek.
“Justru aku enggan.”
“Kalau makan berdua saja mau?”
“Sama Andi ya?” Syila mengerlingkan mata agar terlihat membujuk.
“Kalau sama mantanmu, kau pernah makan malam berdua saja?”
“Kok tanyanya gitu? Nggak boleh itu, terlalu pribadi untuk dibahas.”
“Ini tak adil, aku membagi apapun padamu, bahkan hal paling mengerikan dalam hidupku, sekarang kau tidak memberitahuku, kalau memang bukan kekasih, paling tidak kita sahabat kan? masa hal seperti ini aku tak boleh tahu.” Izraa terlihat kecewa dan dia hendak keluar dari ruangan.
“Za … ok, kita makan malam, tapi di tempat umum ya, aku nggak mau berduaan aja di tempat yang tertutup.” Syila melemah.
“Ya, itu bisa diatur, lagian … siapa yang mau ajak kamu makan malam private? Otakmu itu loh, berharap ya?” Izraa keluar dengan senyum yang menyebalkan, Syila melempar pulpen karena kesal tapi tak kena karena pintu baru saja ditutup.
__ADS_1
Makan malam bukan sesuatu yang berlebihan baginya, makanya dia mau untuk ikut.
Izraa sangat senang, karena kopi pagi ini dia jadi bersemangat, kopi dari kekasih hatinya yang bukan kekasih.