Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 100 : Jebakan 11


__ADS_3

Syila dan Izraa sampai di restoran yang sudah diinformasikan oleh maminya Izraa, restoran hotel yang sangat terkenal, Syila dan Izraa hanya pergi berdua saja, tidak pakai supir.


Begitu sampai ke hotel itu, mereka berdua sudah ditunggu oleh seorang pegawai lelaki, dia orang kantor tapi sepertinya adalah asistennya papi.


Lelaki itu mengantar Syila dan juga Izraa ke restoran yang sangat intim karena ada ruangan-ruangan bersekat yang dibatasi dengan pintu, setiap ruangan itu mampu menampung sekitar 15 orang, biasanya jika mau makan di tempat seperti itu, ada minimum pesanan yang harus dipenuhi, tapi bagi keluarga Izraa makan di tempat seperti itu bukanlah hal yang sulit.


Syila dan Izraa duduk untuk makan. Sedang pegawai lelaki tadi menutup pintunya, mereka makan makanan khas negara kita di sana.


Beberapa pelayan masuk untuk menghidangkan makanan, rupanya makanan sudah dipesan, para pelayan mulai menghidangkannya, setelah semua terhidang, Izraa mengambilkan piring, sendok dan garpu untuk Syila makan.


Syila mengambil nasi dan juga lauk dengan tangannya sendiri, setelah sebelumnya dia meminta maaf karena harus mengambilnya dengan tangan kiri. Semua orang mengangguk tanda setuju dan tidak keberatan.


Semua orang mulai makan dengan santai.


“Bagaimana kantormu? Aku dengar sudah mulai proses untuk rekrut pegawai?” Mami bertanya, makan telah selesai sedang teh herbal sudah disajikan, teh yang sangat mahal itu menjadi penutup, karena makanan yang disajikan memiliki bumbu pekat sebagai penyedap rasanya, maka teh herbal enak itu bisa membantu menenangkan tubuh setelah dapat asupan yang berat seperti itu.


Maminya Izraa mulai berbicara, Syila tahu, ini bukan sekedar ajakan makan siang, pasti ada yang ingin dibicarakan, pasti terkait dengan kartu kepegawaian, Syila butuh untuk tahu, apakah permintaannya akan dipenuhi.


“Ya, sudah proses rekerutmen, baru saja memutuskan menerima pegawai, Bu.” Syila menjawab, ikut menyeruput tehnya.


“Mami atau tante saja, kan ini di luar kantor, tidak perlu formal, lagian, kita semua tak perlu berlaku formal di manapun, kau seharusnya lebih santai.”


“Iya Tante, tapi kalau di kantor Syila pikir lebih baik menjaga etika, biar bagaimanapun, Tante adalah pemilik perusahaan, rekan kerja Syila.” Syila sengaja mengingatkan kembali maminya Izraa bahwa dia bukan pegawai mereka, agar permintaannya bisa diperhatikan.


“Baik, tak masalah, yang mana buat kamu nyaman saja.” Maminya Syila menjawab.


“Tante, soal ID card, apakah pengajuan Syila masih ada yang kurang, Syila bisa perbaiki jika memang  masih ada yang kurang.” Syila mengingatkan secara halus, tentang ID Card pegawai dia kelak, Syila ingin kartu itu terpisah, tidak bagian dari perusahaan keluarga Izraa, agar status perusahaan juga menjadi jelas, bukan bagian dari perusahaan keluarga Izraa, di gedung itu, perusahaan Syila hanya tenant saja.  Karena perjanjian mereka, tidak atas nama perusahaan keluarga itu, tapi perjanjian kerja sama ats pihak pribadi, yaitu Syila dan Maminya Izraa.


“Baiklah, begini Syila, kami sudah ajukan ke vendor, apakah bisa membantu untuk merombak program induk, yaitu menambahkan variable lain agar kartu dengan nama perusahaanmu bisa dijadikan kartu akses untuk masuk dan juga sebagai kartu untuk absen yang di tap di mesin absensi, saat ini masih dicarikan jalan keluar, karena system yang kami gunakan itu stand alone, di mana semua system berjalan tanpa percabangan, jadi perlu dirombak secara besar-besaran.”


Jadi ini yang menjadi bahasan utama, Syila paham, ini pasti tolakan secara halus, maka perkataan berikutnya sudah bisa ditebak.


“Apakah tidak lebih baik jika kau menggunakan ID card buatan kami saja terlebih dahulu, hanya sampai vendor kami menemukan cara untuk membuat percabangan pada system kami, agar perusahaan lain bisa dijadikan acuan untuk akses dan abesensi, bagaimana?” Ini dia, ini yang Syila masuk sebagai apa yang bisa ditebak barusan, tentu dikatakan dalam hati.

__ADS_1


“Tidak usah Tante, kami bisa menggunakan kartu guest saja selama kartu itu belum jadi, itu lebih baik, jadi tidak membuat kalian repot untuk menghapus identitas kepegawaian kelak jika kartu kami sudah jadi.” Syila sudah bersiap, dia tahu bahwa semangat untuk menundukkan dirinya masih ada dalam keluarga ini.


“Tapi Syila, Mami tak bisa janjikan loh, waktunya kartu itu jadi,” maminya Izraa berkata.


“Mi, kita pakai kartu tamu saja, toh itu juga bisa di-link supaya bisa menjadi key untuk tap masuk ke pintu putar dan juga untuk absensi, sementara pakai kartu tamu itu saja.” Izraa turun tangan, dia tidak membiarkan maminya terus memaksa.


“Baiklah, kita akan gunakan kartu tamu.” Papi yang menjawab, mami terlihat tak puas, tapi akhirnya menahan diri, Syila tersenyum dengan ramah dan hangat.


“Terima kasih Om, Tante.” Syila berkata dengan santai, membuat maminya melotot, karena gadis ini sama sekali tidak ada merasa tak enak karena telah menolak keinginan seorang yang lebih tua, mentalnya tidak main-main ternyata, walau kesal, ada rasa tertantang yang sudah lama sekali mami tidak rasakan, dia jadi tersenyum sinis karena merasa bersemangat.


Setelah makan, mami dan papinya Izraa lalu pulang duluan, Izraa dan Syila masih di sana, menyelesaikan makanan penutup, mami memeluk Syila dengan hangat, sebelum pergi mami berbisik ... “Aku sangat senang bisa bertukar pikiran denganmu.” Syila tersenyum dan menjawab, aku juga, dengan berbisik juga, kata lain dari yang mereka bicarakan adalah, aku siap menghadapimu, Tante.


“Jadi, ini yang jadi alasan makan siang kita?” Syila bertanya, mereka masih di restoran, sedang mami dan papi sudah pergi dari sana, hanya tersisa mereka saja.


“Apa?” Izraa terlihat bingung.


“Membujukku untuk menggunakan ID card itu?” Syila berkata dengan tegas.


“Menyangkallah terus, aku juga akan pura-pura percaya.” Syila menyuap suapan terakhir es krimnya.


Setelah selesai dengan es krimnnya, mereka berdua keluar dari restoran hendak kembali ke kantor, tapi sebelum itu, Syila minta ke kafe Izraa dulu, dia ingin kopi dari tempat itu, seperti biasa, Izraa memesan dulu pada pelayan kafe yang sangat Syila sayangi, tapi saat sampai di sana, Izraa tak lagi menunggu pelayan itu mengantar kopi mereka dengan berlari ke arah mobil, tapi Izraa keluar dari mobil dan mengambil kopinya sendiri ke dalam kafe, Syila tersenyum melihatnya.


“Ini kopinya.” Izraa memebrikan kopi itu pada Syila.


“Terima kasih Izraa yang baik hatinya.” Syila mengambil kopi itu dengan tangan kiri dan berkata dengan hangat dan manis, tidak seperti biasanya.


“Kau kenapa?” Izraa memegang kening Syila.


“Apa sih!” Syila menampik tangan itu.


“Aku takut kau sakit, karena prilakumu berbeda dari biasanya.” Izraa berkata sambil menyetir dan sedikit tersenyum, karena Syila sadar Izraa mendengar perkataannya dan tidak lagi bersikap bossy.


Mereka lalu pergi kembali ke kantor.

__ADS_1


...


“Jane, jadwal interview besok bagaimana?” Andi bertanya pada Jane yang sedang membereskan dokumen. Dia membereskannya di ruangan pegawai tanpa sekat itu.


“Tidak ada, Ibu Syila tak ada jadwal interview, kenapa Kak Andi?” Jane bingung karena tak ada interview yang Syila minta besok.


“Ok, aku ingin mengajak Syila unttuk pergi ke lokasi syuting.”


“Lokasi syuting? Ibu Syila artis?”


“Bukan, dia itu penulis, novelnya sudah difilmkan, sekarang novelnya sedang diserialkan. Syuting sudah berjalan, besok giliran Izraa dan Syila harus lihat beberapa hal sebelum tayang perdana.”


“Wah, ternyata novel ibu Syila sudah difilmkan, sudah lama jadi novelis ya?” Jane bertanya, Andi duduk di sampingnya.


“Ya, di sudah sejak SMP suka sekali nulis, dia juga orang yang sangat aktif menulis, SMA dia ikut ekskul kepenulisan juga, menjadi ketuanya dan lalu pas kuliah dia menjadi anggota Lembaga Pers Mahasiswa.


Dia itu sepertinya sudah menulis sejak bisa menulis.” Andi jadi terkenang Syila kecil.


“Oh, pantas saja terlihat cerdas.”


“Bukan terlihat saja, dia memang cerdas, Jane. Bahkan hanya Syila yang bisa membuat Izraa mengejar-ngejarnya.” Kesal karena Jane kelepasan mengatakan Syila kelihatan cerdas, seolah aslinya tidak.


“Jadi, Pak Izraa mengejar-ngejar Ibu Syila?”


“Yaiyalah, memang tak terlihat?” Andi jadi semakin memanasi Jane, yang jelas pasti suka pada Izraa, Andi juga paham kalau semua wanita di sini suka pada Izraa, senang sekali melihat bahwa saat semua orang menatap Izraa, tapi Izraa hanya menatap Syila.


“Terlihat sih. Apa mereka akan menikah?” Jane bertanya hal yang Andi tak bisa jawab.


“Entahlah, sepupuku belum menjawab lamaran itu, tapi aku rasa kalau Izraa terus berusaha, Syila akhirnya akan luluh.”


“Jadi ... bahkan Pak Izraa belum diterima lamarannya?”


“Belum, kau pikir kenapa perusahaan ini dibuat? Untuk menyenangkan sepupukulah.” Andi lalu bangun dan hendak kembali mengerjakan pekerjaannya, meningalkan Jane yang merasa tak ada harga diri sama sekali karena segitu tingginya posisi Syila di mata Izraa dan keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2