
Jam kantor berakhir, Syila, Andi dan Izraa pulang bersama, Andi bilang ingin nongkrong dulu di kafe milik Izraa, sebenarnya Syila malas, tapi cukup penat hingga butuh kopi rasanya. Izraa diajak Andi, tapi dia menolak, dia bilang, “Aku harus reading naskah.” Setelah mengatakan itu dia langsung masuk ke mobilnya, mereka parkir bersebelahan.
“Kasihan ya Syil, sudah capek kerja, harus reading untuk serial, karena katanya Bang Aryo masih ada beberapa scene yang harus dia penuhi.” Andi dan Syila sudah masuk mobil.
“Seharusnya dia mengalahkan salah satunya, misalnay fokus ke serial dan biarkan perusahaan aku yang tangani.”
“Gue tahu sih elu itu egois, tapi nggak tahu kalau elu juga licik.” Andi berkata dengan ketus.
“Aku harus begini Ndi, biar mereka tak terus menggiringku untuk bisa dekat dengan Izraa.”
“Tapi tetap saja, Izraa tuh manusia, dia bisa capek kayak kamu, pagi kerja sampai sore, malam harus sibuk dengan serial DARI NOVELMU! Proyekmu juga, kesel aku Syil, dengar kamu nggak ada empatinya, sebagai keluargamu, aku ngerasa bertanggung jawab dengan sikap burukmu ini pada orang lain.” Andi benar-benar kesal dengan sikap Syila yang tak pedulian pada Izraa.
“Lalu siapa yang berempati padaku?”
“Dari segimana kau ingin empati itu muncul? Orang harus punya masalah agar orang lain punya alasan untuk berempati, kau punya masalah apa? aku tak mau dengar ini soal tanganmu ya!” Andi sudah tak tahan lagi melihat sikap Syila yang seperti anak kecil kejam tak tahu diri, sudah diberi mainan bagus, bukannya berterima kasih, tapi malah menyerang balik orang yang memberikannya mainan.
“Aku ingin didekati karena cinta, aku ingin orang yang menginginkanku adalah orang yang mencintaiku, aku ingin merasakan gairah itu timbul karena cinta, dia melakukan apapun untukku karena cinta, Ndi ... papi dan mami bertahan sejauh ini, itu karena cinta, kau tahu kan, bagaimana cueknya papi, bagaimana papi selalu mendahulukan pekerjaan, para pasien, sedang mami selalu kesepian di rumah, kami anak-anaknya selalu bisa menghibur dan membuatnya lupa kalau suaminya selalu pergi dan banyak tidak bisanya menemani mami yang mungkin terkadang butuh sosoknya.
Tapi sekarang? Saat semua orang sibuk dengan dirinya, mami kembali harus berurusan dengan kesepian, ditambah anak lelaki yang ikut jejak ayahnya, betapa sibuk dan cueknya dia, persis seperti ayahnya, yang tentu saja ayahku juga, kau bisa kebayang betapa kesepiannya mami?
Tapi kenapa mami bisa bertahan, Ndi? Karena mereka saling mencintai, mami bertahan karena mampu menutup mata dan telinganya untuk rasa kesepian, cemburu dan curiga, cinta mampu menutup lubang itu hingga mereka langgeng, karena kesetiaan itu tak punya para meter selain tidak ketemu bukti apapun pasangan kita berselingkuh, tapi hati siapa yang tahu, maka menerima semua kekurangan pasangan adalah, wujud cinta dan kesetiaan.
Lalu apakah kau tidak ingin melihatku bahagia bersama orang yang melakukan apapun untukku karena cintanya, bukan karena ... nafsunya! Dia sedang mengedepankan nafsunya, Ndi. Tak kah kau sadari, kalau dia selama ini bersikap baik karena belum aku berikan apa yang dia inginkan, coba bayangkan, jika saja aku sudah memberikan apa yang dia inginkan, apakah dia akan tetap bisa bersikap baik padaku? Aku tidak yakin.”
Andi terdiam, tidak terpikir sejauh ini, tapi dia benar-benar tak tahu kalau Syila masih mendambakan cinta yang besar, Andi pikir Syila sudah menyerah pada cinta sejak kejadian Kevin, Andi pikir Syila hanya sedang menikmati perlakuan baik Izraa padanya tanpa ingin terikat.
Mereka tiba di kafe, lalu Andi dan Syila sudah diasiapkan meja yang telah ditandai ‘reserved’ oleh pelayan kesayangan mereka.
Kopi langsung tersaji begitu mereka duduk dan tentu saja cake kesukaan Syila.
“Selamat menikmati kopinya, sudah lama banget nggak ke sini Kak, kangen tahu.” Pelayan itu berkata dengan santai, mereka memang dekat.
“Makasih ya.” Syila berterima kasih dan mereka mulai menikmati kopinya sembari mengobrol santai.
“Syila!” Seseorang menyapanya dari belakang, Syila menengok, ternyata ... Winda eh Sofia, ah terserahlah, itu yang Syila pikirkan.
“Hai Sofia, sedang ke sini juga?” Syila bertanya.
__ADS_1
“Ya, boleh gabung?” Sofia bertanya dan Syila mengangguk.
Sebenarnya dia ingin menolak, tapi apa daya, dia adiknya Izraa dan tak tahu apapun soal urusan di belakangnya, makanya Syila hanya bersikap sopan.
“Sudah pesan minum atau makan?” Syila bertanya, Sofia sudah duduk di samping Syila, tentu dengan kursi rodanya, dia diantar seorang wanita yang duduk terpisah dengan mereka, sepertinya itu adalah perawat pribadinya.
“Sudah, tadi sudah chating ke pelayannya kak Izraa, kami biasa minum di sini.” Sofia berkata dengan sumringah.
“Dengan Izraa?” Andi bertanya, hanya iseng saja.
“Bukan, dengan tunanganku, dia juga suka minum kopi di sini, wah, kopi pesananmu persis seperti kesukaannya.” Syila terdiam, mendengar perkataan Sofia, dadanya sangat sakit.
“I-iya.” Syila benar-benar perih mendengarnya.
“Kami sering menghabiskan waktu di sini karena ini titik tengah antara aku dan tunangaku, Syil, dia Dokter seperti papimu, satu rumah sakit juga dengan papi dan kakakmu, huft ... mereka pasti sibuk juga seperti Kevin, rasanya kadang susah sekali untuk bertemu.” Sofia mengeluh.
“Ya, namanya juga Dokter, wajarlah kalau sibuk, papi juga suka sibuk, tapi mami bisa tetapmengimbangi dengan melakukan kegiatan lain selama papi sibuk, kalau sudah tak sibuk, papi pasti menemui mami. Tungananmu juga kalau sudah tak sibuk, dia pasti akan menemuimu. Tenang saja.”
“Kak Izraa juga biasanya sibuk, tapi aku dengar dari mami dan papi, Kak Izraa bahkan mulai terjun ke perusahaanmu? Wah rasanya melihat orang yang berbeda.”
“Hah?” Syila tak paham.
“Ya, sampai sekarang juga sama lah.”
“Tapi dia mengejarmu sampai mau terjun ke perusahaan dan masih sibuk dengan serialmu kan? aku tahu loh soal konferensi pers hari itu, kau sungguh panutan.”
“Ah, jangan terlalu memuji, aku tidak sebaik itu.”
“Kakakku bukan lelaki yang mudah dihadapi, tapi dia orang yang tulus jika sudah mencintai, sama ketika dia membelaku, bahkan keluar dari rumah tanpa bantuan dana dari orang tua kami, menunjukkan betapa kecewa dia karena sikap orang tua kami, duh maaf, aku jadi curhat begini.”
“Nggak apa Sofia, terima kasih sudah memberitahuku ....”
“Win ....” Seseorang memanggil Sofia dari belakang.
Tentu saja ... mantan kekasih Syila.
“Eh, kamu udah sampai, ini kenalin, ini Syila.” Sofia yang dipanggil Winda oleh Kevin itu memperkenalkan Syila.
__ADS_1
“Sudah kenal kok.” Kevin berkata dengan tenang.
“Oh ya, kenal di mana?” Sofia penasaran.
“Hmm, kami ....” Kevin berkata tertahan, karena tiba-tiba Syila menjawab.
“Dokter Kevin ini kan kolega papi dan kak Alzam Sof, jadi kami beberapa kali bertemu saat aku mengunjungi rumah sakit, kemarin saat aku dirawat juga sempat dibantu dirawat Dokter Kevin. Halo Dok, terima kasih ya sudah bantu aku waktu itu.”
Syila tak berharap Dokter itu memberitahu adiknya Izraa siapa dia, Syila tak ingin ini menjadi pertemuan yang aneh dan canggung, biarlah dia berbohong dulu.
“Oh iya ya, sorry, Kevin tak pernah cerita, dia terlalu sibuk untuk cerita hal keseharian seperti itu, Syil.”
“Ya, namanya juga Dokter Sof, santai aja.”
“Kevin, duduk dulu ya, aku baru pesan minum, kau mau apa?” Sofia menawarkan, “oh ya, kau mau kopi biasa yang kau minum, ternyata kopi kesukaanmu dan Syila sama loh.” Sofia tidak sedang menyindir, dia tak tahu apa-apa, bahkan soal kopi yang sebenarnya Kevin suka karena memang kesukaan Syila.
“Tidak, aku sudah pesan teh tadi.” Kevin menjawab dengan dingin.
“Kau sedang mengurus perusahaan baru?” Kevin tiba-tiba bertanya.
“Ya, Syila sedang mengurus perusahaan baru bersama kakakku, mereka ... pacaran.” Sofia memang tak benar-benar tahu hubungan Syila dan Izraa, dia hanya menabak.
“Membuat perusahaan bersama pasangan, apakah itu nyaman? Kalian kan belum menikah.” Kevin bertanya dengan ketus.
“Ya, tak masalah dong Dok, kami memang mencoba membangun perusahaan bersama.”
“Mimpinya Syila kan ya? kata mami papiku, perusahaan itu mimpinya Syila, kakakku mau mendampingi, kakakku itu ternyata sangat romantis ya.” Sofia masih hanya sekedar berkata, tidak ada niat apapun, tapi raut wajah Kevin berubah.
“Mendampingi mengejar mimpi atau proyek balas budi?” Kevin tiba-tiba berkata kasar, itu membuat Andi sangat kesal, Syila memegang tangan Andi, agar Andi tak bereaksi, Sofia juga terlihat kaget dengan perkataan Kevin.
“Mungkin proyek balas budi, aku tidak masalah, karena kami semua untung.” Syila tak ingin termakan dengan emosi, apalagi ada Sofia.
“Wah, Izraa sangat hebat ya, bisa membuat Syila yang sangat prinsipil menjadi begitu fleksibel.”
“Tentu saja, namanya juga kekasih, siapa lagi yang mampu membuat seorang berubah selain kekasihnya?” Izraa tiba-tiba muncul di sana, dia merangkul Syila dan mencium kepalanya, seolah sapaan sayang saat mereka baru bertemu.
Sofia melihat itu merasa sangat senang, kakaknya memang berubah, menjadi romantis.
__ADS_1
“Apalagi yang lebih indah selain dua orang yang saling jatuh cinta dan berubah? Syila menjadi lebih fleksibel sementara kakakku menjadi lebih santai dan romantis, aku iri pada kalian, tapi tetap saja bersyukur, tunaganku juga pekerja keras.” Sofia tertawa, sementara yang lain hanya tertawa sinis.
Hanya Sofia yang tak paham keadaan ini,, Syila bersyukur Izraa muncul, sungguh hinaan Kevin cukup membuat Syila kecewa. Proyek balas budi, seolah Syila memang tak ada harganya sejak cacat.