
Mungkin hari-hari Syila masih kelabu karena tangannya yang tak kunjung sembuh, tapi Izraa selalu memastikan bahwa gadis itu takkan pernah turun nilai di matanya, karena mau berusaha sekuat apapun mencari cinta yang lain, jiwanya sudah digenggam Syila tanpa dia sadari.
Izraa tidak tahu bahwa menginginkan seseorang sebegitu serunya, kadang ada rasa lelah karena mengejar tak selalu menyenangkan, tapi sebagai pemburu yang baru saja bangun dari tidur panjangnya, tentu saja, ini perburuan yang dia pastikan takkan sia-sia.
Syila tak paham, srigala telah mengintainya dan memastikan gadis berkerudung merah itu pada akhirnya akan dia dapatkan, bukan untuk dimakan dagingnya, tapi untuk dilumat jiwanya, agar tak bisa pergi ke manapun.
“Harusnya kita bertemu di kantor saja, kenapa harus di sini?” Syila kesal karena Izraa meminta Syila untuk datang ke kafe langganan mereka, kafe yang setengahnya adalah milik Izraa, karena dia join usaha dengan temannya dan ternyata sudah memiliki beberapa cabang di setiap daerah.
“Kau tidak rindu pada kopi di kafe ini?”
“Tidak, aku bisa pesan online jika memang sedang ingin, jadi aku tidak pernah rindu.”
“Oh begitu, tapi aku rindu, karena sejak tak ada kau di kafe ini, rasanya kopi menjadi lebih pahit.”
“Kau sedang mendalami peran jadi perayu handal? Perasaan proyek serial tak ada scene gombal-gombalannya.” Syila merasa jijik dengan Izraa yang merayunya seperti lelaki receh.
“Bukan serial, tapi iklan, aku sedang mencoba merasakan menjadi lelaki dengan gombalan receh, apakah itu berhasil?”
“Wajahmu tidak mendukung, karena kau itu terkenal dingin dan sangat pemilih, kalau tiba-tiba kau merayu dengan senyum dipaksa begitu, aku yakin, orang yang melihat iklanmu akan merasa kasihan.”
“Kok bisa kasihan?” Izraa tak paham hendak ke mana Syila membawa ejekannya.
“Karena kau akan dianggap kurang uang, makanya kau mengambil iklan ini dan berubah citra, hanya agar dapat iklannya.”
“Kau!” Izraa kesal dan matanya mendelik, karena Syila berhasil membuatnya marah, rupanya perkataan Syila langsung mengena ke hati.
“Aku hanya memberi saran, kau menjadikanku objek dari latihanmu, maka aku tidak bisa, tapi kalau jadi mentor, kau mampu.”
“Baiklah mentor, kalau begitu, coba katakan padaku, bagaimana caranya merayu dengan keren, masuk ke dalam karakterku, hingga aku tak dikasihani lagi.”
“Mudah saja, pertama, jangan terang-terangan mengatakan cinta, kalau pun harus dikatakan, katakanlah pada waktu yang tepat.”
“Misalnya? Coba contohkan.” Izraa benar-benar ingin tahu.
Kopi mereka sudah datang ke meja, bahkan pelayan di sana sempat memeluk Syila karena rindu dan sedih, Syila sebenarnya tak suka momen ini, tapi pelayan di kafe ini memang cukup baik dan dekat dengan Syila dan Andi.
“Kopi ini terasa pahit saat kau tak ada … itu kan yang tadi kau katakana?”
“Ya,” Izraa mengiyakan.
“Jangan langsung pada intinya, kau tidak membuat seseorang mendapatkan sensasi naik gunung lalu jatuh ke jurang.”
“Hah? Apa sensasi seperti itu ada?”
__ADS_1
“Kau lupa bicara dengan siapa? Aku adalah Penulis, dulu aku juga adalah penulis puisi, tapi ternyata novelku lebih banyak diminati, makanya aku jarang menulis puisi lagi.”
“Coba sebutkan salah satu puisimu, aku ingin tahu, seberapa hebatnya dirimu, kalau bagus aku akan gunakan puisi itu untuk iklan, bagaimana?”
“Bayar ya.”
“Tentu saja, aku akan terakan namamu di iklan tersebut sebagai Penulis puisinya.”
“Ah, itu namanya barter, lagian, popularitas bukan lagi eraku. Aku sudah mendapatkan sebelumnya.”
“Kau mungkin tidak butuh, tapi perusahaan baru kita, dia butuh dikenalkan, siapa yang tertarik jadi Penulis di perusahaan itu jika saja tak ada yang kenal, anggaplah ini langkah kita mengenalkan perusahaan itu, makanya, coba sebutkan satu saja puisi indahmu, aku ingin dengar.” Izraa memaksa, itu membuat Syila tertantang, dia lalu mengeluarkan telepon genggamnya, tentu dengan tangan tangan, dia mencari beberapa catatan puisinya, maka setelah itu dia memilih satu yang paling dia sukai.
Syila mulai membaca puisinya dengan santai.
Pagimu mungkin terlewat, tapi siang, sore dan malam masih jadi milikmu.
Seperti aku, masih jadi milikmu.
Mari kita tidak bicara soal waktu, karena dia hanya bilangan.
Walau berjalan maju, tapi tetap meninggalkan kenangan.
Selamat pagiku mungkin terlambat, mungkin juga tidak selalu terucap.
Tapi percayalah, sapaanku pada langit tetap sama, Tuhan, jagalah … dia.
Mereka bilang, pemakaman adalah peristirahatan terakhir.
Tapi kenapa memandang wajah seseorang rasanya seperti waktu berhenti, bilangan tak muncul lagi.
Bahkan ketika sendu dan sumringahmu untuk orang lain, tapi tetap saja terlihat indah pada netraku.
Aku menunda berhentiku, sebentar, sebentar saja lagi. Aku janji.
Hanya agar kau tahu, jika pada akhirnya kau memiliki kisah cintamu yang baru bersemi dan tidak bermekaran pada hatiku. Maka aku tetap akan mengarah padamu.
Ketika kau bertanya, takkah aku ingin pergi dari kisah ini?
Aku katakan padanya, kisah ini rumahku, kalau pergi, maka aku akan menjadi tunawisma.
Kisah ini adalah tempatku menyembunyikan hati, kalau pergi, aku takkan memiliki hati untuk siapapun lagi.
Kau boleh pergi, tapi aku tak akan.
__ADS_1
Rasanya sudah terlalu lambat mengatakan selamat pagi lagi, untuk kau yang sedang menghirup wangi tirta amarta dan diterpa baskara pada Pelabuhan jenggala, aku menjeremba wajahmu yang tetap saja terlihat indah walau baskara telah menerpanya.
Kau tahu, melihat wajahmu itu seperti dahaga dalam pelarian padang pasir yang tak berarah, lalu fatamorgana tiba dengan sifat yang berbeda, nyata dan mampu teraba.
Perjalanan cinta yang paling panjang adalah, tidak mampu menggenggam, tapi tak pernah putus doa.
Karena hakikat mencintai adalah, mengizinkan bahagia.
Orang yang pura-pura baik-baik saja, sebenarnya adalah orang yang paling terluka. Dia tak membiarkan siapapun menyentuh Iukanya. Seolah tak ada, padahal dia jaga.
Satu hal yang tidak dia sadari, membiarkan lukanya terus ada membuatnya perlahan mati rasa.
Maksudnya adalah, tak mampu merasai pada yang lain, karena habis pada satu jiwa.
Ketika cupid masih mencoba melontarkan anak panahnya.
Aku berkata, ada seorang anak beriari di padang rumput yang tinggi. Kukatakan padanya berhenti, tapi tak juga ia mengakhiri.
Aku berlari mengejarnya dengan putus asa. la masih menghindari jari jemariku yang berusaha menangkapnya.
Anak itu adalah hatiku dan aku adalah logikanya sedang padang rumput itu wajahmu.
Mereka berkejaran, yang satu tetap bertahan yang lain menahan
Anak kecil itu berhasil lepas, lagi dan lagi. Berlari bebas di padang rumput yang luas.
Sebelumnya dia berkata, "Aku selalu menang."
Kukira Cupid mengerti saat diminta berhenti. Tapi ternyata dia hanya mengangguk, meletakkan panahannya dan tetap berdiri tegak pada sasaran, maksudku … kamu.
Kutanyakan padanya, "Kau masih hendak membidiknya?" Cupid mengangguk, dasar keras kepala.
Cupid itu adalah aku, sasarannya adalah kamu. Anak panahnya adalah, kisah monolog yang aku ciptakan untuk kita.
Lalu di mana cinta itu berada? Pada udara yang dilewati anak panah saat dilontarkan.
Maka tak ada ruang lagi bagi cinta yang lain, hampa udara hanya ada di sisi lain semesta, maka di semesta ini hanya kau yang mampu aku cintai.
Jadi baiklah sedikit pada kami yang tersesat di hutan cinta di mana pohon begitu lebat, kami tak takut kegelapan, karena tersesat ini menghipnotis kami dengan kekaguman yang memabukkan.
Aku mencintaimu, kemarin, sekarang dan nanti.
Hingga kopi ini terasa lebih pahit saat kau tak ada.
__ADS_1
Syila menambahkan kalimat yang Izraa lontarkan sebagai penutup, dia memberinya contoh, kalimat Izraa jika ditambah puisi Syila akan sangat cocok untuknya, mampu menjaga harga diri, walau kalimat cinta tetap terlontar.
Izraa terdiam, menatap Syila dengan wajah yang aneh.