Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 35 : Dear


__ADS_3

Setelah berbicara panjang lebar, mereka makan bersama lalu saling pamit pulang, jujur apa yang dibicarakan oleh maminya Izraa membuat Syila bingung sekaligus iba pada Izraa, bagaimana dia memperjuangkan haknya sebagai anak benar-benar hebat, Syila merasa melihat dirinya dalam diri Izraa.


Syila kembali ke tempat syuting, ternyata mereka baru setengah jalan karena tadi ada beberapa masalah.


“Bang, kenapa? kok syutingnya lambat?” Syila begitu sampai langsung bertanya.


“Lu ke mana? Mood laki lu jelek banget, sok perfeksionisnya bikin kita semua kesal, masa satu adegan di-take ampe berkali-kali, yang bener aja. Gue juga jadi merasa dia Sutradaranya bukan gue.” Bang Aryo terlihat frustasi."


“Gue ngomong deh ama dia ya.” Syila menyerah, dia harus berbicara dengan kekasih paksanya itu.


Izraa sedang di ruang ganti, dia sendirian, membaca naskah, tapi matanya entah kenapa terlihat kosong.


“Za, lagi apa sih?”


“Menurut lu?” Jawab Izraa ketus.


“Nggak lagi ngapa-ngapain.” Syila meledeknya, tapi itu membuat Izraa kesal hingga meliriknya dengan tajam.


“Bukannya elu harusnya di sini ya tadi? Kemana sih? sibuk sendiri, padahal ini proyek lu.” Izraa kembali melontarkan kata yang pedas, seolah Syila tak bertanggung jawab.


“Tadi? Gue ketemu sama orang penting, makanya gue harus pergi.”


“Presiden?”


“Bukanlah, kalau Presiden itu orang penting untuk semua orang, kalau dia, mungkin penting buat beberapa orang, termasuk gue.”


“Ya, pokoknya yang disiplin dong, jangan bikin kesel.”


“Lu kesel ama gue, ama proyek film ini, ama dialog, ama Bang Aryo atau sama diri lu sendiri?” Syila menyindir.


“Maksud lu apa?”


“Nggak ada yang mau lu ceritain ke gue?” Syila bertanya.


“Nggak.”


“Yakin?” Syila memastikan.


“Ya.”


“Yaudah kalau gitu, syuting bentar lagi lanjut ya, yang bener bacanya.” Syila hendak beranjak, tapi dia tertahan oleh perkataan Izraa.


“Syil, kalau lu lagi tertarik sama suatu tema novel, apa yang bakal elu lakuin?”


Syila berbalik dan menjawab, “Tentu aja observasi, cari tahu lebih dalam dan mulai menulis.” Syila menjawab dengan semangat.


“Kalau lu nggak tertarik dengan suatu tema novel?”


“Nggak tertarik? Ya gue abaikan, pilih tema yang membuat gue tertarik. Buat apa buang waktu untuk tema yang jelas nggak buat gue tertarik?”


“Jadi gue itu yang mana?”


“Hah? Maksudnya?”


“Nggak, gue udah tahu kok jawabannya, karena saat ini elu nggak observasi sama sekali.” Izraa lalu bangkit dan hendak pergi, meninggalkan Syila yang sedang bingung dengan maksud perkataan Izraa, tapi dia tidak mau memikirkannya. Masalah tentang Izraa sudah sangat banyak dan itu memenuhi kepala Syila.


Syuting mulai, Izraa masih sama, terlalu perfeksionis, walau hasilnya memang jadi sangat bagus, tapi itu membuat semua orang lebih lelah dan waktu syuting pun jadi mulur jauh.


Jam dua belas malam, syuting baru kelar, Syila dan Andi pamit pulang, Izraa sudah pulang duluan, Syila kesal karena Izraa bahkan tidak pamit, biasanya dia selalu rewel inign mengantar Syila pulang, kenapa sekarang tenang sekali, walau semua kru dibuat tidak tenang olehnya.


“Ndi, Izraa kenapa ya?” Syila bertanya pada kakak sepupunya, Andi menyetir, karena Syila paling malas nyetir malam hari, matanya minus dan sakit silinder.


“Kenapa emang?”


“Kok kayak lebih tenang gitu, biasanya dia ribet banget sama urusan gue.”


“Lu … yang ada masalah apa?”

__ADS_1


“Kok gue?”


“Apa elu udah nyaman sama semua perlakuan dia, sampai elu bertanya-tanya kenapa dia berubah?”


“Nggak kok! Aneh lu, gue cuma ….”


“Ini strategi dia, strategi kami kaum lelaki. Kasih dulu yang banyak, nanti tiba waktunya kami tahan, setelah itu si wanita pasti mencari kami, artinya, wanita itu sudah terjerat. Penulis best seller macam lu masa nggak paham.”


“Nggak gitu kayaknya Ndi, apakah ini masalah keluarganya dia?” Syila tidak mau cerita tentang maminya Izraa yang ngajak ketemuan, takut Andi jadi semakin memojokkannya.


“Udah jangan dipikirin, anggap aja dia mulai bosan sama lu.”


“Itu kalau bener lebih baik sih Ndi, gue takut aja dia tuh ada masalah, gue nggak lagi jatuh cinta kok, tenang aja, ini yang gue rasain juga ke Juna, gue anggap dia salah satu teman gue, udah baik sama gue, makanya seharusnya gue juga peduli kalau dia ada masalah.”


“Syil, awalnya teman lalu lama-lama cinta deh.”


“Au ah, rese lu.”


Malam itu sungguh terasa sepi, sama seperti yang Izraa dan Syila rasakan, apakah cinta perlahan mulai menyeruak ke dalam hati mereka?



Hari ini jadwal penandatanganan novel Syila yang enam bulan lalu rilis, lokasinya di salah satu mall buku yang ada di Jakarta.


“Udah siap semua?” Syila bertanya pada panitia yang semuanya adalah pegawai mall buku itu.


“Udah, yuk ke mejanya.” Panitia acara menyuruh Syila yang sudah berias dan berpakaian rapih untuk masuk ke panggung dan duduk di meja, tempat di mana nanti penandatanganan novelnya dilakukan.


“Banyak sekali.” Syila senang tapi juga khawatir, takut kalau nanti ada yang kelamaan nunggu dan kecewa.


Acara penandatanganan sudah dimulai, banyak orang berbaris membawa novel Syila, satu persatu mulai Syila mulia menandatangani novel yang dibawa oleh para pembaca itu.


Ada yang membawa bingkisan boneka, ada yang membawa kue, ada yang membawa hiasan kepala dan aksesoris lainnya, itu semua diberikan kepada Penulis kesayangan mereka.


Tiba giliran seorang Pemuda yang membawa novel Syila, pemuda itu tampak bahagia sekali melihat wajah Syila.


“Wah, terima kasih ya udah selalu baca karyaku, siapa namamu?” Tanya Syila.


“Aldo.”


“Yaudah ini aku tulis kata-kata mutiara di bawah tanda tangan aku ya.” Syila menulis kata-kata ini ....


'Dear Aldo yang baik, terima kasih ya, sehat selalu, dari Syila.'


Setelah itu Syila memberikan novel yang sudah ditanda tangani dan juga diberikan kata-kata mutiara.


“Terima kasih Kak Syila, semoga sukses selalu ya.” Aldo berlalu dari hadapan Syila, yang lain mulai maju untuk minta tanda tangan.


Penandatanganan novel berakhir sekitar tiga jam, Syila merasa lelah, sekaligus bahagia, dia melihat pembacanya secara langsung dan terlihat bahagia bertemu Syila, baik Penulis maupun Pembaca sama-sama bahagia, ini yang membuat Syila begitu cinta dengan dunia kepenulisan.


“Udah yuk.” Andi mengajak Syila pulang, mereka berdua lalu ke basement, karena mobil mereka diparkir di basement, saat akan masuk, Syila mendengar seseorang memanggilnya.


“Kak, Kak! Kak Syila.”


“Oh kamu, halo, kenapa ya?” Syila lupa namanya, tapi dia ingat, pria ini tadi meminta tanda tangan juga.


“Kak, terima kasih ya tulisan kata mutiara itu indah sekali." Lelaki bernama Aldo itu berkata.


“I-iya.” Syila kurang ingat apa yang dia tulis karena saking banyaknya penggemar buku yang dia tulisi kata-kata mutiara.


“Kak Syila sudah makan?”


“Sudah kok.”


“Kalau begitu ini, tadi aku belikan cemilan, kesukaan Kak Syila.” Aldo sang penggemar pria itu memberikan pisang goreng coklat, makanan kesukaan Syila.


“Terima kasih, maaf tadi nama kamu siapa?” Syila berterus terang karena memang tidak ingat.

__ADS_1


“Saya Aldo kak, terima kasih ya, sungguh kamu wanita yang sangat baik dan hebat.”


Lalu Aldo berlalu.


“Baik banget ya si Aldo itu, dia bener-bener ikuti perjalanan karir menulis gue dari lama banget, dari gue baru nulis di SosMed Ndi.”


“Ya baik, tapi jangan terlalu terbuka ya, takutnya salah tangkap, padahal elu kan cuma berusaha bersikap sopan.”


“Iya, dia keliatan baik kok.”


“Jangan terlalu cepat percaya orang Syil, kalau lu terlalu baik, takutnya dia malah berharap lebih, apalagi dia kagum banget sama lu, nanti kalau dia tau elu udah punya pacar, dia bakal ngerasa elu bohongin, banyak tuh kasusnya yang menimpa Artis ibu kota.” Andi mengingatkan.


“Gue kan bukan Artis, jadi nggak perlu takut.”


“Iya yaudah, yang penting jangan sampai lengah.”


“Elu kan selalu ama gue, tenang aja, nggak semua lelaki jahat kok.” Syila memang selalu percaya bahwa orang baik itu banyak. Keluarga yang hangat, membuatnya kurang waspada.


“Kita mau kemana?” Andi bertanya.


“Kafe langganan ya, mau minum kopi, bosen nih nulis di apartemen mulu.”


“Ok bos Acil.” Andi lalu menyetir ke arah kafe langganan mereka, kafe yang dulu mempertemukan Izraa dan Syila.


Saat sudah sampai, Syila memilih duduk di bangku yang biasa dia duduk, lalu dari kejauhan, dia melihat Izraa sedang membaca buku di bangku paling pojok, bangku tempat dia biasa duduk juga, Syila menghampirinya, sementara Andi sedang memesan minuman.


“Hei, kok nggak bilang ke sini?” Syila bertanya, Izraa melirik sebentar lalu membaca lagi.


“Mood masih jelek?” Syila bertanya.


“Ada apa?” Izraa bertanya dengan dingin.


“Ada kopi, ada teh, ada susu, ada cake, mau yang mana?” Syila bercanda.


“Mau kamu pergi aja bisa?” Izraa malah menanggapi dengan dingin dan kasar.


Syila terdiam mendengar Izraa berkata kasar seperti itu, lalu Syila perlahan mundur dan berjalan kembali ke bangkunya.


“Ngapain lu nyamperin dia?”


“Cuma nyapa.” Wajah Syila berubah menjadi muram.


“Itu muka kenapa? kok sendu banget?”


“Nggak apa.”


“Berantem lagi?”


“Nggak kok, udah ah, mau ngetik lagi.” Syila lalu membuka laptopnya dan mulai menulis.


Syila hanya melihat punggung Izraa yang terlihat lebar sekali, ketampanannya kadang membuat Syila terpukau, tapi sikap dinginnya sulit dicerna, kemarin begitu hangat bahkan menempel seperti cicak pada dinding, sekarang dingin sekali, tidak dapat dipungkiri, Syila rindu dengan semua kehangatan Izraa, walau dia masih menyangkal telah memiliki perasaan untuk Izraa.


Saat ini dia tidak ingin mengganggu Izraa lagi, karena dia juga menjaga hatinya untuk tidak terluka lagi, diabaikan sungguh tidak enak, seharusnya Syila tidak mendekatinya tadi.


Sementara Syila dan Izraa berkutat pada apa yang mereka lakukan, dari kejauhan ada seseorang di dalam mobil yang memperhatikan Syila dan Izraa dari kejauhan, dia nampak sangat fokus memperhatikan Syila dan Izraa, dia bahkan tidak beranjak dari mobilnya sampai Syila keluar, setelah Syila keluar, seseorang itu baru pergi dari depan kafe, dia mengikuti mobil Syila hingga apartemennya, tidak bisa masuk karena bukan penghuninya.


____________________________________________________


Catatan Penulis :


Meski terlambat dan tak ada kesempatan, aku tidak pernah berhenti mengagumi, betapa menawannya wajah itu. Bait-bait yang tercipta untukmu seperti kata-kata magis yang membuat setiap dentuman jantungku tak berhenti mengucap pujian untukmu.


Tapi Sang Pecinta kelelahan, karena cinta yang tak tergapai meluluhlantahkan harga diri yang sudah dibangun setiap inci.


Sang Pecinta berubah menjadi hamba, padahal objek cinta bukan Tuhan.


Aku hanya ingin tahu, apakah kau mencintaiku? Aku tahu jawabannya, pasti tidak, melihatku saja kau tak bisa lakukan.

__ADS_1


__ADS_2