Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 36 : Dear 2


__ADS_3

Setelah kemarin ditolak Izraa untuk berbicara, Syila menjadi malas peduli lagi, jujur dua hari tanpa dikabari dan dikasari di lokasi syuting dan kafe, membuat Syila merasa cukup sudah.


Dia sangat ingin tahu apa yang terjadi dari mulut Izraa langsung, dia sampai harus cek sosial media untuk mencari tahu identitas orang tuanya kemarin, Wikipedia menjawab dengan baik tentang Izraa maupun papinya memiliki biodata lengkap di sana.


Tapi sisanya tidak banyak yang Syila dapat, hanya akun-akun gosip tidak jelas yang mengatakan Izraa suka lelaki, tentu Syila sudah tahu dengan jelas, bahwa Izraa tidak begitu.


“Cil, mau kemana? Jogging yuk di taman kota?” Andi mengajak Syila untuk pergi ke taman kota, karena ini hari sabtu, jadi akan menyenangkan pergi ke taman kota, jogging dan menikmati udara terbuka, ditambah di taman kota ada beberapa alat olahraga gratis yang pengunjung bisa pakai walau harus mengantri karena bebas digunakan oleh semua orang.


“Boleh, ayuk, sarapan bubur di sana aja ya, enak tuh.”


“Ok Acil.”


Mereka berdua akhirnya berkendara ke taman kota, perlu waktu lima belas sampai dua puluh menit untuk sampai di taman kota, Syila menggunakan setelan training yang longgar, Andi juga, mereka akan jogging dan memanfaatkan fasilitas taman kota.


Sudah sampai parkiran, ternyata hanya lima belas menit mereka sudah sampai, Syila turun duluan, Andi memarkir kendaraan, Syila mulai jogging sendirian, sedan Andi mencari parkiran.


Dia berlari sembari memperhatikan orang-orang yang jalan, lari atau sekedar menggunakan alat olahraga, ada anak kecil besama orang tuanya, ada sepasang muda-mudi, mereka jelas masih pacaran, karena gesturenya dengan tajam menunjukan hal itu, entah kenapa, kalau masih pacaran, sentuhan-sentuhan kecil itu intens sekali, sedang kalau sudah berumah tangga, pasti sentuhan tidak terlalu intens. Itu yang Asyila sadari dari memperhatikan orang-orang di sekitarnya.


Syila percaya, pasangan suami istri tidak akan terlalu sering menunjukan kemesraan di depan umum, karena mereka punya tempat pribadi untuk melampiaskan bahkan lebih jauh dari itu, tempat itu adalah, rumah.


Jadi kalau pacaran, sentuhan itu hanya bisa dilakukan saat bertemu, maka sentuhan itu terjadi di tempat-tempat terbuka.


Syila memperhatikan sembari lari-lari kecil, tak lama kemudian dia merasa ada yang mendekatinya, Syila pikir itu pasti Andi, jadinya dia memperlambat lari agar Andi bisa mengejar.


“Kak Syila.”


Syila kaget karena itu bukan suara yang familiar, Syila akhirnya menoleh ke belakang, arah di mana yang tadinya dia pikir ada Andi yang mengejarnya, tapi salah.


“Oh, kamu yang kemarin kasih saya cemilan ya?” Syila bertanya, dia masih tersenyum ramah.


“Iya Kak, suka nggak cemilannya?”


“Suka banget, makasih ya.” Syila hanya berusaha untuk ramah, walau kemarin Andi yang makan cemilan itu.


“Kak Syila sendiri?”


“Nggak, sama Andi, sepupu dan Managerku.”


“Oh, yang selalu menemani Kakak itu?” Lelaki bernama Aldo itu bertanya, penggemar yang dituliskan kata mutiara oleh Syila, lalu memberikan cemilan kepada Syila ketika sedang di basement kemarin itu.


“Kok, kamu tahu?” Syila bertanya dengan curiga.


“Tahu apa?” Aldo bertanya.


“Tahu kalau Andi selalu menemaniku kemanapun.”


“Kan, kita kemarin ketemu di basement sama sepupu kakak juga, jadi dia pasti selalu menemani Kakak, lupa ya?” dia menjawab.


Syila sedikit tidak percaya, karena perkataannya seolah dia tahu dengan pasti kalau Andi selalu menemani Syila dimanapun, bukan sebuah asumsi dari melihat satu kali.

__ADS_1


“Ada apa ini?” Andi ternyata sudah datang, dia mencairkan suasana.


“Ini Ndi, Aldo kan ya? dia jogging di sini juga.” Syila menjawab, dia jadi lupa dengan kecurigannya.


“Oh yang kemarin kasih cemilan ya? enak cemilannya, aku abis ….” Syila mencubit tangannya Andi untuk berhenti bilang bahwa dia yang habisi cemilan itu.


“Iya mau makan tapi abis ya, Ndi.” Syila berusaha menyelamatkan mukanya di depan orang yang mengagumi karyanya, akan sangat tidak sopan kalau sampai dia tahu Syila tidak makan pemberiannya sama sekali.


“Yaudah, selamat jogging ya Aldo, bye.” Andi menarik tangan Syila untuk menjauh, banyak orang yang merasa dekat dengan Syila hanya karena mereka membaca karya Syila, padahal hubungan pertemanan dibangun tidak semudah itu, apalagi dengan lawan jenis.


“Pokoknya kalau ada fans yang sok deket gitu, elu harus cari alasan menjauh ya, takutnya dia salah sangka, lu tahu kan, penggemar suka berlebihan menganggap orang yang dia kagumi, padahal kamu senyum untuk keramahan, tapi dia akan mengira kamu senyum untuk menggoda.”


“Ya nggak gitu lah, lebay ah, dia tadi lewat aja kok, trus ya nyapa, nggak sok deket.”


“Karena seharusnya elu nggak boleh terlalu lama ngobrol ama dia, apalagi dia lawan jenis, pokoknya harus bisa jaga diri ya Syil, ngerti nggak?” Andi sudah menggunakan kekuasaannya sebagai seorang kakak, bukan seorang Manager atau Pegawai Syila.


“Iya Papi.” Syila meledek Andi dengan memanggilnya Papi.


“Makan bubur yuk?” Andi mengajak makan, padahal dia belum juga lari.


“Baru juga beberapa putaran, masa udah mau makan.” Syila protes, padahal tadi dia yang ajak untuk jogging.


“Udah jangan banyak-banyak larinya, kasihan lemak di tubuh kita, nanti dia nggak punya rumah dan akhirnya kabur.”


“Ada ya orang kayak lu Ndi, masa lemak nggak punya rumah, lu pikir dia siput.” Syila mengalah dengan ikut Andi untuk sarapan bubur, tempat mereka biasa makan kalau sedang pergi ke taman jogging ini.


“Pakde, bubur dua, lengkap ya.” Andi memesan, Syila memilih tempat, mereka duduk di sisi kanan tenda tukang bubur, mejanya untuk tempat makan di tempat, meja itu memanjang, jadi satu meja gabung dengan orang lain.


“Udah, minumnya kayak biasa, elu kopi gue teh manis, kalau mau sate ambil sendiri aja ya nanti, di meja itu tuh.” Andi menunjuk meja tengah tempat pembeli biasanya mengambil sate sesuka hati.


Tidak berapa lama bubur mereka sampai, Syila mengambil satenya untuk dia dan Andi, masing-masing dua tusuk, sate usus dan sate hati ampela.


Saat sedang enak makan, ada seseorang duduk dihadapan Syila.


“Kak, boleh gabung?” Aldo lagi, ternyata dia makan bubur juga.


“Do, elu nongol di mana-mana ya, ini kan meja banyak ya, elu mening ….” Syila menyepak kaki Andi agar diam, karena itu tidak sopan, Syila tidak mau kasar pada penggemarnya.


“Boleh kok, makan bubur juga Do?” Syila bertanya basa-basi.


“Iya, Kak Syila tim bubur diaduk ya? sama dong kita.” Aldo menunjuk mangkuk Syila.


“Eh iya, sama kita.” Jawab Syila singkat, Aldo cukup detail memperhatikan keadaan sekitar ternyata.


“Aldo tinggal di sekitar sini?” Tanya Syila.


“Iya, di apartemen blok B, JakSel.” Jawabnya.


“Loh kok ….”

__ADS_1


“Kenapa?” Aldo bertanya, tapi Syila tidak melanjutkan perkataannya, bahwa dia juga tinggal di apartemen yang sama, kok bisa begitu kebetulan, Syila tidak tahu, dia sedang dibodohi.


“Nggak apa-apa, ini udah lumayan siang, Andi yuk makannya cepet, gue harus ketemu penerbit, takut telat.” Syila ingin buru-buru pergi.


“Mau diantar Kak? Kita searah kan?” Syila yang sedang makan tersedak, dia semakin merasa aneh, kok dia bisa tahu mereka searah?


“Nggak usah, kami bawa mobil sendiri.” Andi menjawab ketus, dia melihat Syila sudah berubah ekspresi, wajahnya menjadi sedikit khawatir.


“Yasudah, hati-hati, buburnya biar Aldo yang bayar ya.”


“Do, Syila punya uang yang cukup kok kalau cuma sekedar bubur.” Andi kesal mendengar Aldo akan membayari mereka makan bubur.


Andi akhirnya pergi ke tukang bubur dan membayar makanan mereka saja, Syila sudah berjalan kembali ke mobil, dia tidak ingin ditinggal berdua dengan Aldo saja.


“Tuh kan, kalau gue bilang dia aneh, bener! Sok banget, mau bayarin makanan, mau anter, niatnya jauh tuh Syil.” Syila tidak akan mengemukakan apa yang dia curigai, mulai dari tahu Andi selalu menamani Syila kemanapun, tahu apartemen mereka searah, Syila yakin, Aldo juga pasti tahu Syila tinggal di mana, melihat caranya berkata dan serba tahu itu, Syila merasa melihat Izraa tapi dalam bentuk yang lebih ramah dan sopan. Tapi matanya, sungguh mata yang terlihat licik dan culas.


“Udah yuk balik, makanya tadi gue minta elu cepet-cepet, udah, sekarang kita balik ke apartemen, emang paling bener itu di apartemen deh.”


“Iya Yang Mulia Ratu.” Andi akhirnya menyetir, Syila lumayan khawatir, tapi dia percaya, bahwa tidak akan ada lagi hal yang membuat Syila takut, karena tidak mungkin Aldo berbuat jauh, Syila masih ingin percaya Aldo orang baik.


Andi menurunkan Syila di lobby, dia akan pulang ke rumah keluarga, sementa Syila dapat jatah dua minggu sekali baru pulang, jadi sekarang bisa menulis dengan tenang di apartemen dulu.


Syila sudah masuk pintu lift, dia memencet tombol tutup dulu, baru setelah pintu lift tutup, dia akan memencet tombol lantai apartemennya.


Tapi saat pintu lift belum sepenuhnya menutup, tiba-tiba ada tangan yang menahan pintu lift itu.


“Oh, kakak tinggal di sini juga?”


Syila pucat melihat Aldo, bagaimana bisa dia ada di sini? bukankah tadi dia masih makan? Syila berusaha menenangkan dirinya dan menguasai keadaan.


“Iya.” Jawabnya singkat.


“Lantai berapa Kak?” Aldo bertanya, untuk sesaat Syila terdiam, dia tidak ingin menjawab dengan benar, karena takut Aldo akan tahu nomor unitnya, “Kak, lantai berapa?” Aldo kembali bertanya.


“Sembilan.” Syila meminta Aldo menekan tombol lantai yang salah, karena dia ingin menyembunyikan lantai unit milik Syila yang sebenarnya.


“Ok.” Aldo memencet lantai Sembilan, lalu setelahnya dia memencet lantai tujuh. Syila melotot melihat itu, bukankah itu lantai unit Syila, apakah Aldo tinggal di unit lantai tujuh?


“Kamu tinggal di lantai tujuh?” Syila bertanya dengan hati-hati.


“Iya, mau mampir dulu?” Aldo menjawab tanpa menoleh ke belakang, karena posisinya Syila di belakang Aldo, sedang Aldo dekat dengan pintu lift.


“Tidak, terima kasih.” Syila menjawab dengan ramah, hatinya agak tenang, karena sepertinya Aldo memang tinggal di apartemen ini, mungkin kekhawatiran Syila berlebihan karena mendapat impuls dari Andi yang tidak suka Aldo terlalu dekat dengan Syila.


“Kak, aku turun duluan ya.”


Lantai tujuh, benar saja Aldo turun di sana, Syila tetap akan naik, walau Aldo mungkin bukan orang jahat, tapi tidak ada salahnya berjaga, lebih baik dia tidak tahu unit apartemen Syila, untuk berjaga-jaga saja.


Setelah sampai lantai sembilan, Syila lalu berjalan, di lantai sembilan ini Syila bingung mau apa, dia harus menunggu agak lama dulu baru turun, agar Aldo sudah masuk dan tidak melihat Syila berjalan ke unitnya.

__ADS_1


Setelah berjalan tanpa arah bolak-balik di lantai sembilan selama setengah jam, Syila akhirnya turun melalui lift ke lantai tujuh, saat lift terbuka, Syila melongok dulu ke luar, untuk memastikan sepi.


Ternyata sepi, Syila buru-buru berlari, dia menuju unitnya dengan cepat, membuka kunci pintu dan langsung menutupnya lagi, tidak ada alasan untuk takut, tapi dia benar-benar gugup, perasaan apa ini, Syila tidak mengerti, apakah Aldo akan menjadi ancaman, atau ini hanya ketakutan belaka, Syila tidak ingin memikirkannya, karena di dalam unitnya semua akan aman.


__ADS_2