
Pertengkaran semalam membuat mereka berdua terpisah jarak yang cukup terlihat, Izraa menjadi lebih dingin dan Syila menjadi lebih kaku lagi.
Pada dasarnya mereka memang memiliki sifat dan karakter yang mirip.
“Syil besok pindah lokasi ya, ke hutan lindung yang ada di deket sini.”
“Iya Bang.” Syila hanya menanggapi ala kadarnya, dia jauh lebih pendiam, Izraa juga sama.
Saat ini mereka sedang makan malam bersama, biasanya memang kalau mereka akan berganti set, akan diadakan makan malam untuk perpisahan tempat, tidak mewah tapi cukup untuk menjamu semua orang.
Syila dan Izraa duduk jauh sekali, Syila tentu bersama Andi.
Saat sedang menikmati makan malam, tiba-tiba seseorang menepuk bahu Syila, dia berbalik dan terkejut ….
“Juna! Dok- Dokter Kevin!” Syila kaget setengah mati. Kenapa mereka ke sini, terlebih keadaan sedang seperti ini.
“Surprise!!!” Juna berteriak, sungguh membuat Syila kesal.
“Apaaan sih lu!” Syila kesal.
“Gue sama Dokter Kevin lagi cek lokasi untuk pembangunan tempat rehabilitasi pecandu narkoba, taukan? Gue subkontraktornya dan Dokter Kevin sebagai pemimpin pembangunan, karena beliau yang akan menata letak sebagai tujuan medisnya.” Juna menjelaskan panjang lebar.
“Oh, trus ngapain ke sini?” Syila terlihat malas melihat Juna, kalau Dokter Kevin tentu saja suka.
“Kita tau elu lagi di deket sini dari statusnya si Andi yang tag location, jadinya kita mampir, nginep di vila ini juga loh.” Juna membuat kesal Syila karena seenaknya datang tanpa bilang-bilang.
“Mana sepupu gue? nggak makan malam bareng.”
Syila melotot, karena baru sadar, dia dan Izraa di mata Juna adalah sepasang kekasih. Tapi ada Dokter Kevin juga, Syila terlihat bingung, apa lagi yang harus dia lakukan.
Di tengah kekalutan, seseorang duduk di samping Syila cukup dekat, karena Syila duduk di pojok, jadi tempat mereka tidak terlihat mencolok. Orang itu Izraa, dia juga mrangkul bahu Syila.
“Ngapain lu, ke sini?” Izraa bertanya pada Juna, mereka berlima duduk melingkar. Izraa, Juna, Andi, Syila dan Dokter Kevin.
“Main-main Bang, kan gue kontraktor buat tumah sakit rehabilitasi di deket sini.”
“Oh, kapan pulang?” tangan Izraa masih aja di bahu Syila. Syila pasrah, lebih baik begini daripada nanti dia dipaksa lagi lamaran kalau Juna tahu dia dan Izraa jadian dan putus bohongan.
“Busyet emang ini tempat lu, ngusir aja.” Juna protes.
“Emang ini tempat acara kami, makan malam filming kami, kau tidak berhak di sini, tidak ada yang mengundang.” Izraa mendominasi.
“Iya-iya, gue kan, cuma ….”
“Perkenalkan, saya Dokter Kevin, saya teman lama Syila, saya berkunjung untuk bertemu dengannya, apakah saya mengganggu, Syil?” Dokter Kevin menatap Syila.
“I-iya ... nggak apa-apa Dok.” Syila menatap ragu pada Dokter Kevin.
“Berarti saya dan Juna berhak ada di sini karena kami datang satu mobil dan tentu saja bersamaan.”
__ADS_1
Syila terdiam.
“Syil, ambil kopi dingin yuk.” Andi menarik Syila dan akan meninggalkan tiga pria yang membuat hidupnya sulit.
“Saya ikut, boleh?” Dokter Kevin bertanya.
“Nggak usah , Dok ….”
“Boleh!” Syila memelototi Andi. Lalu mereka bertiga berjalan ke stand kopi dingin berada.
“Za, lu tau nggak, Dokter Kevin nih mantannya Syila.” Tiba-tiba Juna berkata setelah mereka hanya tinggal berdua saja.
“Trus?” Izraa tidak benar-benar perduli.
“Dia nggak akan pernah nolak apapun yang Dokter Kevin bilang. Gue cuma mau buka mata lu aja, Syila jauh di atas lu, dia nggak akan benar-benar cinta sama lu.”
Izraa tertawa sinis, dia juga tidak bisa mencintai Syila, jadi seharusnya impas.
“Gue nggak peduli, lu tau itu kan?”
“Lu yakin bisa saingan sama Dokter itu? gagah, pintar dan lembut.” Juna masih memprovokasi.
“Buat apa saingan, gue udah dapetin Syila kan? toh mereka udah putus.” Izraa hanya bicara sesuai kebohongan yang mereka ciptakan.
“Tapi … hati Syila nggak pernah pergi kemanapun loh, hatinya selalu untuk Dokter Kevin.”
“Udah tau gitu, kok elu masih aja ngejar Syila? Seenggaknya dia pernah jadi pacar gue, kalau elu?”
“Tujuan lu apa bawa mantannya Syila ke sini?” Izraa langsung ke pokok pembicaraan.
“Cuma buat bikin kesel elu.” Juna mengatakannya dengan ringan.
“Bikin kesel gue, apa nyakitin Syila? Cinta lu ke dia, serendah itu?” Izraa kembali menghina Juna.
“Gue nggak akan pernah nyakitin Syila.”
“Trus apa yang lu lakuin emang benar? Bawa masa lalunya yang mungkin aja bikin dia sakit. Kalau mereka benar-benar saling mencintai, kenapa tidak bisa bersatu? Pasti ada yang menghalangi hubungan mereka bukan? trus lu mau nambahin garam di luka mereka berdua!” Izraa tidak tau masalah sebenarnya, tapi dia tau lelaki ini rupanya yang membuat Syila beberapa hari ini penuh tekanan, karena hatinya sakit.
“Gue nggak maksud begitu, gue cuma bercanda.”
“Lu nggak berubah Jun, hidup orang, perasaan orang, apakah itu selalu jadi lelucon buat lu?” Izraa menatap Juna dengan kasar.
“Gue ….”
“Za, nih kopi lu.” Syila membawakan kopi untuk Izraa.
“Udah malam, yuk balik kamar.” Izraa menarik tangan Syila, itu membuat Dokter Kevin terkejut, spontan dia menarik tangan Syila lainnya, adegan ini akhirnya membuat semua orang menatap mereka berdua.
“Syil.” Dokter Kevin memohon agar Syila tetap di sana.
__ADS_1
“Maaf Dok, sebaiknya kita sama-sama istirahat, karena sudah malam.” Syila melepas tangan Dokter Kevin dan ikut Izraa. Andi mengikuti Syila dan Izraa.
“Gue nggak pernah lihat Izraa sengotot itu ama perempuan, mereka beneran jadian?” Juna bertanya sendiri.
[Tidak, hati Syila tetap milikku, akan kupastikan itu semua. Setelah semua ini berakhir, akan kupastikan dia kembali padaku.] Dokter Kevin berkata dalam hatinya.
…
“Lepas, Za.” Syila meminta Izraa melepas pegangan tangannya.
“Oh, iya.” Ternyata mereka sudah di depan kamar Syila.
“Terima kasih.” Hanya itu yang Syila bisa ucapkan.
“Jadi dia orangnya?” Izraa bertanya, tadinya Syila ingin langsung masuk kamar, sementara Andi sudah ke kamarnya sendiri.
“Bukan urusanmu.” Syila kasar lagi.
“Aku sudah menurunkan harga diri loh narik kamu di depan orang-orang.” Izra mengingatkan.
“Iya, terima kasih.” Syila mengucapkan dengan lemah lembut.
“Tidak sebaik yang aku kira.”
“Maksudmu!” Wajah Syila menegang.
“Dari matanya aku melihat, dia seseorang yang licik.”
“Hebat sekali kau, mampu menilai hanya sekali lihat.” Syila makin memasang muka galak.
“Aku sedang menolongmu, kau pintar lepas dari dia.”
“Aku tidak pernah lepas dari dia, dia yang melepaskanku!” Syila berteriak.
“Berarti dia bodoh, melepas gadis sehebat dirimu.”
“Kau pun tidak lebih baik dari dia!” Syila menyerang Izraa.
“Begitu? setidaknya aku selalu menolongmu! selalu ada untukmu!” Izraa terpancing.
“Tapi dia yang mampu membuat hatiku hangat, tidak akan ada seorang pun yang lebih mampu dari dia!” Syila mencoba membuka pintunya yang terkunci, karena marah, dia tidak ingat kalau dia belum membuka kuncinya.
“Kau hanya belum bertemu orang yang tepat, karena kau menutup diri, gadis bodoh!” Izraa masuk ke kamar dan membanting pintunya.
Syila masih berdiri terdiam di depan pintu kamarnya, dia membuka pintu kamarnya dan masuk.
Lalu menangis sejadinya di kamar mandi yang ada di kamar.
Setelah puas mennagis, dia lalu keluar dan berusaha tertidur.
__ADS_1
Hari ini melelahkan sekali, tidak, beberapa hari ini bagi Syila adalah seperti di neraka, pernahkah kau merasakan begitu menginginkan seseorang, tapi tidak mampu kau gapai, bukan karena tidak saling mencintai, tapi karena keadaan.