Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 14 : Sakit


__ADS_3

"Kalau memang Syila pikir ini bukan jalan yang tepat, lalu kenapa mesti bertahan?"


"Karena Papi, dia ingin Syila jadi Dokter."


"Syilanya sendiri mau jadi apa?" Dokter Kevin bertanya.


"Syila ingin jadi Penulis Dok."


"Kau yakin mampu?"


"Sangat yakin, karena aku sudah berkarir di dunia kepenulisan saat ini, walau menggunakan nama pena, papi tidak tahu aku sudah menerbutkan buku dan best seller beberapa kali. "


"Berarti tidak ada hal yang mampu menahanmu lagi, seharusnya, Syil. Melangkahlah yang tinggi, jangan biarkan papimu menjegal kepakan sayapmu."


Syila teringat ucapan yang diucapkan Dokter Kevin beberapa tahun lalu.


Ucapan itu memang akhirnya mampu membuat Syila berdiri tegak dengan karya-karya hebat selanjutnya.


Walau karir kepenulisan Syila sudah cemerlang jauh sebelum itu.


Ucapan Dokter Kevin akhirnya membuat Syila tersadar untuk hanya fokus pada kepenulisan.


Dokter Kevin satu-satunya yang membuat Syila tahu apa itu rasanya diterima apa adanya.


Berbeda dengan Juna yang memang hanya karena sangat menyukai Syila maka benar atau salahnya Syila tidak benar-benar menjadi perhatiannya. Pandangannya tidak bisa objektif.


"Cil, udah ah, jangan cemberut mulu." Andi kesal pada Juna karena membuat sepupunya menjadi semakin badmood.


"Gue sama Izraa nggak ada apa-apa, elu tau itu kan?! gue nggak punya perasaan apapun sama Izraa! kemarin Izraa cuma nolong gue aja, gue sangat berterima kasih untuk itu."


"Cil, gue tahu elu, gue tau elu nggak ada apa-apa sama Izraa, tapi apa yang Dokter pikirin sudah bukan bagian yang harus lu ambil pusing, pandangan dia ke elu bukan hal yang harus menjadi fokus lu, sama seperti Izraa dan elu yang nggak ada apa-apa, antara elu dan Dokter Kevin juga nggak ada apa-apa lagi."


"Kalau perempuan itu nggak ada ...."


"Tapi perempuan itu ada!!!" Andi menepikan mobilnya untuk berbicara pada Syila, "dan dia lebih memilih wanita itu ketimbang elu! paham!!!"


perkataan yang menyakitkan tapi Andi harus menyadarkan Princess kecilnya ini.


"Dia terpaksa, wanita itu terlalu lemah untuk ditinggalkan."


"Jadi elu sekuat itu sampai ditinggalkan dan masih aja menunggu!" Andi geram, sejauh yang dia kenal sepupunya adalah wanita yang cerdas, tapi jika sudah menyangkut Dokter Kevin, Syila menjadi wanita bodoh.


"Ini soal nyawa Ndi."


"Jadi nyawa dia seberharga itu ssmentara nyawa lu nggak?! berarti elunya yang bodoh!"


"Ndi."


"Mau sampai kapan lu nyangkal kalau lu emang ga pernah dia perhitungkan!"


Andi kembali mengendarai mobil yang mengantar Syila pulang, sepanjang jalan dia hanya diam.


"Pulang, nulis dan ingat ini, elu nggak punya kewajiban menjelaskan apapun pada lelaki itu, bahkan gue berharap hubungan lu sama Izraa jadi beneran aja atau sama Juna sekalian, karena kalaupun Dokter itu jadi sama lu, nggak kebayang gue, bakal semenderita apa lu nanti. Siapa yang sanggup menjalani hidup dengan orang yang tidak mencintaimu."

__ADS_1


Syila keluar dengan perasaan gamang. Syila mengerti kenapa Andi begitu, itu karena dulu saat putus dengan Dokter Kevin, Syila terpuruk di titik terendah. Ditinggalkan tapi masih saja memuja, miris.


...


Syufing film dimulai lagi setelah Izraa istirahat dua hari, akhirnya dia kembali syuting, Syila selalu datang untuk melihat proses syuting.


"Syil! mata makin item aja, pulang sono!" Bang Aryo mengingatkan.


Syila memang sudah beberapa hari ini kurang tidur, dia menjadikan alasan deadline novel untuk melupakan rasa sakit yang diakibatkan mantan.


"Santai, aman kok, aman." Syila mencoba meyakinkan Sutradara.


"Aman? lu ngomong aja kayak orang mabok gitu."


Syila tidak mendengar dia terus ikut syuting dan masih saja sembari menulis novel.


"Syil, adegan ini gue ubah dikit dialognya jadi lebih baku ya, soalnya ...."


"Ya, dia emang gitu orangnya." Syila menjawab Izraa, tapi tidak nyambung. Izraa menengok pada wajah Syila, ternyata dia mengetik sambil menahan kantuk. Pantas jawabannya nggak nyambung.


"Siapa yang kayak gitu?" Izraa tersenyum iseng.


"Si Omlah, siapa lagi?" Syila kembali menjawab tidak nyambung.


Izraa mengerutkan dahi, siapa si om?


"Om?" izraa bertanya.


"Sok ganteng dia, sok dingin juga, padahal bakwan lebih enak dari pada pisang goreng." Syila makin ngawur Izraa tertawa tertahan.


"Sorry Za, deadline, gue jadi kurang tidur."


"Yaudah, pulang gih."


"Cil, ikut gue." Andi menarik Syila, ini untuk pertama kalinya Izraa melihat Andi kasar sekali pada Syila, Izraa jadi penasaran, ada apa, dia melihat jam, syuting baru akan mulai satu jam lagi.


Izraa memutuskan untuk ke toilet dulu, tapi saat dia hendak masuk toilet, dia mendengar Andi membentak Syila, rasa penasaran yang sempat hilang tadi timbul kembali.


"Lu goblok!" Itu yang Izraa dengar, sangat kasar, untuk ukuran seorang Andi yang selalu menjaga Syila.


Izraa mendengar Syila terisak.


"Dimana harga diri lu? ngapain lu telepon dia dan chat dia untuk jelasin hubungan boongan lu sama si izraa!"


"Gue ... gue nggak mau dia salah paham, gue nggak mau dia sangka kalau gue udah move on." Ini sisi terlemah Syila yang pernah Izraa dengar dan lihat.


"Dia nggak peduli sama lu, tolol!" Andi masih mencaci Syila.


"Tapi gue peduli."


"Perlu gue sita lagi semua gadjet lu?!"


"Gue lakuin kesalahan apa sih, Ndi?"

__ADS_1


"Dokter Kevin kasih tahu bokap lu, kalau lu masih mencoba hubungi dia!"


Kali ini Syila menangis sejadinya.


"Harus gue sujud sama lu, harus gue mati dulu supaya lu berenti berharap sama lelaki itu? harus gue ngurung lu lagi!" Dari sini Izraa bisa tarik kesimpulan, Syila mencintai seseorang dengan dalam. Dalam pikiran Izraa ini hanya masalah keluarga. Dia akhirnya masuk toilet dan tidak mau lagi ikut campur.


...


Izraa mampir ke kafe langganan, saat masuk dia melihat Syila sedang mengetik, awalnya Izraa hanya ingin membeli kopi lalu pulang, karena dia baru selesai syuting, sudah tiga hari Syila tidak datang ke lokasi.


"Absen aja kerjaan lu, taunya nongkrong." Izraa menyapa Syila, yang disapa kaget.


"Eh iya, biasa nulis."


"Boleh duduk?"


"Duduk aja, gue nggak beli bangkunya, cuma beli kopinya." Syila menjawab dengan ketus.


Izraa duduk pesanan kopinya sampai.


"Kenapa sih Syil?" Izraa bertanya hal yang aneh.


"Kenapa apa?"


"Kenapa novel-novel lu berat banget dan setiap pemeran utama ceweknya pasti kuat dan mencintai tokoh utama lelakinya dengan dalam tapi kebanyakan sad ending?"


"Wah, elu baca novel gue?"


"Elu pikir gue terima job asal-asalan? gue baca buat referensi aja. Jadi, kenapa?"


"Apa?"


"Itu tadi, soal tokoh utama."


"Oh, itu karena pasar sukanya yang begitu. jadi gue buat begitu biar laku." Jawaban diplomatis dari Syila.


"Oh, gue pikir karena pengalaman pribadi."


"Ya kali, semua novel gue pengalaman pribadi, umur gue aja baru 25."


"Ya, tapi, keseragaman tentang tokoh dan alur kisah, bisa aja apa yang pernah elu alami, terus elu ulang-ulang, kayak menjaga sesuatu yang tidak mau elu hilangkan dalam hidup." Izraa berkata sembari menatap Syila.


Sementara Syila yang mendengar itu juga langsung menatap Izraa, dia kaget karena Izraa seperti mampu membaca dirinya.


Mereka saling menatap lekat, dalam kebingungan tapi perlahan menemukan kenyamanan.


_____________________


Catatan Penulis :


Kau tahu, cinta yang tidak pernah padam padahal sudah berakhir itu jauh lebih melelahkan.


Aku melihatmu bahagia, rasanya seperti sembilu yang menikam hatiku dengan dalam.

__ADS_1


Aku ingin kau kembali, tapi kau mendorongku pergi, lalu bagaimana hatiku bisa sembuh lagi?


__ADS_2