Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 26 : Masih Belum kita


__ADS_3

“Kita tidak harus selalu pergi bersama bukan? terlalu repot jika kau menjemputku, lagian aku sudah bersama Andi.” Andi duduk di belakang mobil Izraa, untung Syila memutuskan untuk tinggal di apartemen dulu sementara hingga Papi tidak melihat Izraa menjemputnya, kalau dia tahu Syila masih berpacaran dengan Izraa, tentu saja itu akan membuatnya marah.


“Tapi aku ingin.” Izraa berkata dengan sederhana tapi langsung membuat Andi naik pitam.


“Heh! Lu pikir, begitu lu ingin, terus Syila harus gitu ikutin?” Andi duduk agak menjorok ke depan dari kursi belakang kemudi, Izraa lalu menekan pedal gas mobil dengan kakinya, hal itu membuat Andi terjungkal ke belakang.


“Woy, pelan-pelan lu!” Andi yang biasanya kemayu menjadi kesal dan mengeluarkan kelaki-lakiannya dengan sangat tegas.


“Kalau nggak suka sama cara nyetir gue, lu bisa naik mobil sendiri, nggak usah ikut nebeng.”


“Ya, ok. Kalau gue out, Syila juga out, kita ini dua tubuh tapi satu paket, ngerti lu!” Andi tidak mau kalah.


“Lu lupa, gue siapa?”


“Siapa emang? Oh iya, pacar paksaan ya?” Andi kembali berkata dengan menyakitkan, tujuannya memang membuat Izraa marah.


“Kalian bisa diem nggak, gue lagi nulis nih, buyar deh serangan ide gue!” Syila ternyata dari tadi masih saja fokus dengan judul baru novelnya.


Lalu perjalanan menjadi hening sampai lokasi syuting.


Mereka kali ini syuting di tempat terbuka, taman kota, lumayan besar dan ramai, tapi hari ini ditutup untuk keperluan syuting.


“Za adegan kali ini bakal nguras emosi, karena berdasarkan perkiraan cuaca bakal hujan, sesuai mau kita, jadi kita tunggu ujan dulu, kalau kurang deras bisa kita tambah efek, gue udah sewa truk penyiram tanaman, kalau-kalau ujan cuma gerimis aja kita harus buat efek derasnya pakai air dari truk penyiram tanaman ini.” Bang Aryo sedang standby dengan set, semua artis sudah berkumpul, ini kali pertama Izraa kembali syuting setelah kemarin ‘ngambek’ karena ditolak Syila.


“Bang Aryo, scene ini kan sebenarnya nggak terlalu penting, kenapa harus banget dipake sih?” Syila ngeluh karena Bang Aryo malah memotong inti dari cerita dan mengambil scene yang tidak terlalu penting.


“Syil, ayolah, ini tuh malah scene yang bakal komersil banget, karena moment romantisnya bold banget nih, bayangin saat Izraa memandang Hanum dengan dalam, lalu hujan membasahi tubuh mereka, rangkaian kata lu aja bisa buat gue terbuai, lah elu masa merasa scene ini nggak bagus.”


“Yaudah! Tapi jangan lupa, ini tuh film laga, action, bukan film drama.” Syila menjauh dari lokasi sementara Izraa sedang dirias untuk keperluan syuting, Hanum terlihat berbicara manja dengan Izraa, seperti biasa Izraa dingin menanggapinya, berbeda sekali jika sedang dengan Syila.


Set sudah selesai, artis sudah siap, sekitar dua jam baru bisa mulai syuting.


Ternyata benar hanya gerimis, maka truk penyiram tanaman taman kota akhirnya ada gunanya, dia menyiram air dengan tempo yang ditentukan kepada dua artis yang sedang berakting, Hanum beberapa kali salah dialog, Izraa terlihat mulai kedinginan, Hanum juga, hampir tiga puluh menit mereka diguyur hujan dan juga air dari truk itu, pantas saja kedinginan.


“Izraa bawa jaket nggak? baju ganti mah pasti bawa ya?” Syila bertanya pada Manager Izraa.


“Bawa baju, kalau jaket enggak deh.”


Syila lalu pergi ke mobil dan mengambil jaketnya, tentu dengan payung agar tidak kebasahan.


Lalu dia memberikan jaket itu ke Manager Izraa agar nanti bisa digunakan.


“Hanum nggak ditanyain? Makin perhatian aja? Pacaran beneran lu?” Andi protes dengan apa yang dilakukan Syila.


“Hanum bawa, gue kan lihat tadi, tuh jaketnya.” Syila menunjuk jaket yang digantungkan pada bangku duduk yang bertuliskan nama Hanum.


“Gue cuma mencoba menjadi lebih maklum aja Ndi, mungkin dengan hardirnya gue, dia bisa belajar agama, jadi lebih baik lagi.”


“Emang agama lu udah bagus?” Andi menyindir, karena menurutnya Syila saja masih belum berpakaian syari.


“Ndi, setelah proyek ini selesai, kita bakal putus kok, percaya deh.”


“Gue cuma nggak mau lu ancur Syil, lepas dari Kevin, trus elu masuk ke hubungan gila sama Izraa, kalau kayak gini, Juna lebih baik.”


“Anak mama itu? gue tau die dari masih kecil, macam gue nikahin elu aja.”


“Pokoknya awas, kalau sampai elu diapa-apain ama dia, biar gue kalah kalau berantem, tapi gue bakal pastiin dia babak belur, elu itu berlian buat gue, Alzam dan Papi, jadi elu nggak usah khawatir, pokoknya ….”


“Cut!” syuting selesai, adegan sudah dirasa tepat oleh Bang Aryo, Hanum bergegas ganti baju karena kedinginan, begitu juga Izraa.


Setelah mereka selesai ganti baju, Izraa menghampiri Syila.


“Jaket lu pas, biasa beli oversize ya?” Izraa sumringah dipinjamkan jaket.


“Gue kasian ama lu, ini kan karena novel gue.”


“Alasan kemanusiaan lagi?” Izraa cemberut.


“iyalah, apa lagi?” Syila lalu mengeluarkan lidah tanda meledek.


Hatchiii!!! Izraa bersin spontan, sepertinya dia kedinginan.


“Yaelah Za, baru juga syuting begitu, lemah banget lu.” Bang Aryo meledek.

__ADS_1


“Nggak apa Bang, sering aja, biar sering-sering diperhatiin pacar.” Izraa menunjuk Syila menggunakan matanya kepada Bang Aryo.


“Hah? Serius! Lu berdua jadian, wah nggak bener nih.”


Syila langsung memukul perut Izraa, kesal karena dia bermulut besar, bukankah seharusnya mereka menyembunyikan hubungan ini, tapi sepertinya tidak bisa, karena Izraa memang selalu menunjukan mereka sepasang kekasih.


“Wah makan-makan dong, jadian nggak dirayain.”


“Bang! Bisa diem nggak, kita jadiannya diem-diem tau.”


“Lah kenapa?”


“Kita nggak direstuin sama Papinya Syila Bang.” Izraa membuat alasan, dia tidak ingin Syila bilang terpaksa pacaran, bisa dilaporkan Polisi dia karena pengancaman.


“Oh, gitu, yaudah tapi yang penting lu berdua profesional ya, jangan sampai mengganggu pekerjanaan kita, eh tapi, apa kemarin elu mundur karena kalian bertengkar?” Bang Aryo ingat Izraa pernah ingin mundur dari film ini.


“Nggak sih, itu mah belum jadian, kita ribut dulu baru deh jadian.” Izraa tidak terlalu berbohong, dia hanya tidak menjelaskan alasan mereka jadian.


“Ya sih, biasanya gitu, ribut dulu untuk saling kenal, abis itu malah jadian, ini berlaku di banyak hubungan, pokoknya gue mau kalian profesional dan satu lagi, jangan sampai media tahu ya, karena Izraa harus membangun chemistry sama Hanum dulu, biasalah untuk keperluan komersil.”


“Iya nggak masalah, gue sih santai aja kok, hubungan kami dewasa, jadi nggak masalah, bahkan kadang saya lupa kalau punya pacar.”


Izraa menatap Syila kesal, karena dia menyepelekan hubungan mereka.


“Yaudah take care Za, hari ini cukup sampai di sini aja ya, besok jangan telat, lokasi akan diinfokan di grup.” Lalu Bang Aryo pamit, sementra kru masih membereskan set, Izraa bilang mau pulang ke apartemen, Andi tidak ikut karena ada urusan, dia juga tidak tahu kalau Izraa mampir.


“Ngapain mampir lagi, jangan terlalu sering, nanti ada mulut tetangga yang nggak enak.” Syila kesal sebenarnya dia tidak ingin Izraa ikut.


“Mau belajar solat. Lu aja yang ajarin, susah cari orang lain.”


“Hah, masa nggak bisa solat sama sekali, emang nyokap bokap lu nggak ajarin waktu lu kecil.”


Izraa diam tidak menjawab, wajahnya murung seketika, seperti mendungnya langit sore menuju malam ini.


“Za, nyokap bokap lengkap, kan?” Syila bertanya lagi, sedang Izraa hanya mengangguk.


“Dulu gue sekolah di sekolah beda agama, jadi nggak ada pelajaran agama, di keluarga gue, agama bukan patokan hidup.” Izraa akhirnya membuka suaranya.


“Oh, sorry.”


“Ok, udah siap?” Syila tanya.


“Makan dulu dong, belum makan malam nih.”


“Za, elu alasan doang mau belajar solatnya ya? Sebenarnya lu ke sini mau ngapain sih?” Syila kesal.


“Mau makan dulu, baru belajar solat.”


“Hih, nyebelin lu!”


“Nyebelin tapi lu suka nggak?”


“Najis!” Syila bergegas ke dapur, dia masak nasi goreng saja, ada nasi bekas kemarin dan tinggal goreng telur, ditambah bakso dan sosis, sepertinya cukup.


Setelah menunggu setengah jam, nasi goreng jadi.


“Nih, makan yang bener, minum kayak biasa, ambil sendiri, jangan pake gelas … percumalah dibilangin juga nggak ngerti, terserah lu deh, mau minum pake gelas apa.” Syila menyerah dengan prilaku Izraa.


Izraa makan sangat lahap, seolah itu adalah makanan dari koki ternama, padahal dimasak dengan bumbu instant dan bahan seadanya, tapi itu membuat Syila sedikit tersenyum.


“Seenak itu?” dia bertanya.


“Biasa aja.”


“Lah, biasa aja tapi lahap, puji pak puji, kan nggak bayar, minimal pujian kek.”


“Mau dibayar? Nih.” Izraa mengeluarkan dompetnya dan menaruhnya di meja setelah itu mendorongnya ke arah Syila.


“Apa nih?”


“Apa yang gue punya sekarang, itu punya lu juga, cukup?”


Tiba-tiba pipi Syila menghangat, ucapan Izraa mampu menggetarkan hatinya, perasaan Syila yang semula dingin, perlahan menghangat, dompet adalah hal paling pribadi bagi pria, jika dia sudah mempercayakan seluruh isi dompetnya, artinya dia menganggp orang itu sangat berharga.

__ADS_1


Terbawa kenangan beberapa tahun lalu, ketika Syila masih berhubungan dengan Dokter Kevin.


“Dompetku ketinggalan, aku ambil dulu ya.”


“Eh aku ambilin deh, kamu jemput aja di lobby biar cepet, kita kan nonton jam 8 malam, ini udah jam 7 malam, takut telat, jemput aku di lobby ya, biar aku yang ambil dompetmu.”


“Nggak usah, kamu aja nyetir ke lobby, biar aku yang ambil.” Dokter Kevin menolak diambilkan Syila dompetnya.


“Loh kenapa? kok aku nggak boleh ambil dompetmu?”


“Oh ayolah Syil, kamu mau cemburu nggak jelas lagi, kita lagi buru-buru kan? Nih nyetir dulu deh, biar aku yang ambil, aku juga lupa naro dompetnya di mana, makanya harus aku yang ambil karena harus di cari dulu.” Alasan yang cukup masuk akal, tapi itu mengganggu Syila, setelah satu tahun berpacaran, Syila tidak pernah sekalipun memegang dompet kekasihnya itu, tidak juga telepon genggamnya, Syila tidak terlalu peduli, jadi masalah jika sekarang dia malah dilarang memegangnya.”


“Woy! Bengong lo!” Izraa mengembalikan pikiran Syila pada tubuhnya saat ini, kenangan itu masih terasa perih tapi perlakuan Izraa hal yang baru baginya, apakah ini juga obat bagi Syila? Tidak, Syila tidak ingin terlalu serius dengan hubungan ini.


“Nggak usah bayar, itu kemahalan, ini cuma nasi goreng biasa aja kok.” Syila mendorong kembali dompet itu.


“Siapa yang bilang ini buat sekali nasi goreng ini? Buat selamanya maksud gue.”


“Siapa yang mau masakin selamanya, males banget gue, kalaupun gue nikah, gue bukan tipikal istri diam di rumah.”


“Wah, jauh banget, udah kepikiran nikah sama gue.”


“Hei! Nggak usah macem-macem ngomongnya.”


“Cuma satu macem kok, elu!”


“Za, kayaknya gue bakal mual sama gombalan lu deh, trus akhirnya muntah, karena kebanyakan.”


“Nggak apa, lebih baik kebanyakan daripada kurang.”


“Yaudah bawel, makan dulu, abis itu kita belajar solat, paling nggak hubungan kita yang singkat ini bisa bermanfaat.”


Izraa meneruskan makannya, tidak menjawab kata-kata Syila yang mengatakan bahwa hubungan ini akan sangat singkat untuk mereka.


Izraa selesai makan, lalu Syila sudah mempersiapkan sejadah dan buku bacaan solat, tidak ada sarung di apartemen Syila, karena yang tinggal kan dia, jadi tidak perlu sarung. Hanya butuh mukena, kalau Andi solat, dia selalu pakai celana panjang. Sedang Izraa saat ini memakai celana pendek, yang terasa kurang pantas digunakan untuk solat, walau hanya untuk latihan, memberikan dasar-dasar solat itu jauh lebih baik, agar terbiasa, yaitu pakaian bersih dan menutup aurat.


“Lu serius gue pake ini?” Izraa protes dia pakai bawahan muken untuk solat. Syila menahan ketawa melihat betapa lucunya Izraa dengan bawahan mukena berwarna pink cerah.


“Iya, kalau solat auratnya harus di tutup, kamu pakai celana pendek, nggak bawa celana panjang kan? Tadi ujan pas syuting celana panjang kamu basah, kamu cuma punya celana pendek ini buat ganti, kan? kalo solat nggak boleh pakai celana pendek karena aurat lelaki dari pusar sampai lutut, udah jangan banyak ngeluh, pakai aja bawahan mukenanya, trus belajar yang bener."


"Ini sih malu-maluin ah." Izraa mau melepas bawahan mukena itu.


"Pake lagi nggak? Kalo nggak, lu nggak boleh main ke sini lagi, kita belajar solat dulu."


Izraa kesal tapi dia pasrah, lalu belajar solat dimulai dari niat awal, karena belajar solatnya pada saat isya maka niatnya solat isya.


Lalu dilanjut dengan hafalan Al Fatihah, surat penting dalam solat. Izraa sedikit banyak hafal.


Selesai belajar solat, mereka berdua istirahat. Syila menahan untuk tidak tertawa tadi, tapi melihat Izraa berjalan mengambil minum masih mengenakan bawahan mukena membuat Syila sukses tertawa ngakak.


Badan Izraa yang tinggi proporsional membuat seolah ini adalah fashion show dengan tema unisex, lucu sekali.


Izraa melepas bawahan mukena itu dengan marah.


"Jahat lu, orang niat solat malah dikerjain."


"Siapa yang ngerjain, gue cuma nggak mau belajar solat lu batal, makanya gue pake yang ada."


"Syil, kalau nanti gue udh jago solat, gue mau jadi imam lu, boleh?"


Satu lagi yang membuat Syila terpaku, perkataan sederhana dari lelaki yang minim ilmu agama, mampu membuat Syila berdebar.


Tidak ada yang pernah mengatakannya pada Syila dulu, seperti Izraa mengatakannya.


Tidak ada yang bersikap sebaik Izraa padanya, mengejar tanpa henti hingga akhirnya diberi kesempatan walau terpaksa.


Selalu Syila yang berjuang untuk suatu hubungan, sifatnya yang dominan membuat siapapun menjadi enggan dan kurang percaya diri mendekati Syila. Hingga akhirnya ketika Syila begitu menginginkan Dokter Kevin, maka Syilalah yang mendekatinya lalu berakhir kekecewaan.


______________________________________________


Catatan Penulis :


Pada apa yang mendekat, tak mampu kau salahkan, karena cinta, bukan kau yang memilih. Bergetarnya hati, bahkan tidak mampu kau kendalikan, saat hati sudah menetapkan.

__ADS_1


Lalu bagaimana caranya membatalkan perasaan pada hati, sedang seluruh sistem tubuh, dikendalikan hati, abhkan akal pun menjadi bisu, tuli dan cacat mental.


__ADS_2