Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 113 : Kevin 3


__ADS_3

“Kevin, bolehkah aku bicara padamu?” Akhirnya Syila menurunkan harga dirinya dan ingin berbicara pada kekasih yang sudah tak pernah menghubunginya lagi selama satu minggu terakhir, ini sudah bukan soal saling mengerti lagi, karena tanpa kabar selama 1 minggu penuh, itu hal yang patut dicurigai.


“Aku sedang sibuk, memang Syila tak lihat, betapa banyak pasienku ini?” Kevin mencoba untuk menghindar lagi, dia memang masih ingin berada di dua sisi tanpa meninggalkan yang satunya.


“Aku butuh tahu, apa kau ada masalah? Hingga harus selalu menghindar dariku?” Syila bertanya lagi.


“Tidak, aku hanya sibuk saja.”


“Kau bohong, sesibuk apapun, kau pasti bisa menghubungiku sekedar tanya kabar, ini sudah seminggu dan kau seperti menghilang.”


“Kalau kau berharap jawaban lain, aku tidak punya, aku sibuk, hanya itu jawaban yang aku punya.”


“Apa ada perempuan lain, Kevin?” Syila sudah memanggil nama, artinya dia memang sudah sangat kesal, dia bukan perempuan yang suka merengek, bukan juga perempuan yang cemburuan, tapi ini sudah melewati batasan, karena di merasa dirinya tak diberi kepastian, bingung  harus berbuat apa untuk menghadapi masalah ini.


Syila paling benci jika dia tak paham harus melakukan apa, karena dia selalu punya persiapan untuk melakukan apapun, ketika akhirnya dihadapkan pada masalah seperti ini, dia bingung harus apa, tidak lagi bisa bersikap maklum, seminggu tanpa kabar sama sekali, tak satu pun teleponnya diangkat dan satu pun pesan singkatnya dibalas, itu sudah sangat keterlaluan.


“Kupikir kau bukan wanita pencemburu seperti ini, kupiki kau wanita yang sangat logis dengan pemikiran yang baik, tapi ... ternyata kau sama saja, cemburuan.”


“Kevin! Dengar baik-baik, jika memang kau sudah ingin bersama wanita lain dan aku bukanlah bagian dari kisah cintamu lagi, kau harus bilang! dengan begitu aku mundur.”


“Tidak! bukan itu maksudku, aku hanya ingin fokus pada pekerjaanku, aku ingin memampukan diriku agar bisa bersanding denganmu.”


“Kau lebih dari cukup Kevin, apalagi yang membuatmu merasa kurang mampu!” Syila berteriak, lupa kalau mereka lagi di ruang kerja Kevin yang bisa saja para perawat mendengar mereka.


“Mungkin aku cukup untukmu, tapi untuk keluargamu, ayahmu Direktur rumah sakit ini sedang aku hanya Dokter Umum, aku tidak ingin merasa rendah diri saat masuk ke keluargamu, tunggulah aku, aku mohon, bersabar dan maklumlah, tutup mata dan telingamu, tetaplah menungguku.”


“Kau pikir aku dungu atau kerbau yang dicucuk hidungnya hingga mau menunggu tanpa kepastian!” Syila semakin kesal.


“Aku tidak bisa memberimu kepastian, karena fase hidupku belum sampai ke sana Syila!”


“Jangan gunakan keluargaku sebagai alasan, jika memang kau tak ingin lagi hubungan ini, jika memang kau ingin berakhir, katakan, aku akan berusaha melupakanmu, itu saja.”

__ADS_1


“Syil, percayalah, aku tidak ingin berakhir, aku mohon, beri aku waktu ya.” Kevin menarik tangan Syila yang hendak pergi dari ruang kerjanya.


“Kevin, jangan bermain-main denganku, kalau kau memang ingin bersamaku, tunjukkan semua kesabaranku memang tidak sia-sia.” Syila melepas tangan Kevin dan keluar, begitu dia keluar, dia melihat para Perawat seperti terkejut, karena mereka ketahuan memperhatikan ruang kerja itu.


Melupakan sopan santun, Syila yang hangat biasanya akan menyapa tapi kali ini dia pergi begitu saja, rasa malu benar-benar menghinggapi dirinya, Syila bukan tipikal perempuan yang suka cemburu dan buta karena cinta, tapi dia juga tak terima jika hanya dipermainkan saja.


Syila akhirnya pergi ke kafe itu untuk riset, karena hanya menulislah yang membuatnya mampu melupakan masalah yang memalukan ini.


Dia menyetir sendiri dan sampai ke kafe itu, seorang pelayan wanita yang tahu dia penulis dan selalu menjaga bangku langganan Syila datang dan membawakan kopi bahkan tanpa dipesan terlebih dahulu.


“Cookies baru Kak, enak, rasa coklat pisang.” Pelayan itu sepertinya tahu kalau Syila sedang tak enak hati, dia memberikan apa yang Syila butuhkan, sebuah cookies coklat yang bisa menenangkan hati.


“Kamu nih ya, tahu aja.”


“Tuh dateng, kan aku bilang apa?” Pelayan itu memang berjanji untuk memberitahu Syila jika aktor itu datang, Pelayan itu diberitahu Syila jika dia sedang meriset untuk tulisan barunya dan aktor itulah yang menjadi inspirasinya dalam menulis novel action ini, tidak dapat dipungkiri, bahwa tubuh semampai aktor tersebut, serta sikap tegapnya sungguh membuat Syila jadi mampu meneruskan novelnya, dia tak menggunakan aktor itu sebagai objek imajinasinya, tapi dia menggunakan imajinasinya terhubung pada aktor tersebut, kelak, Syila akan mengejar lelaki itu untuk main sebagai pemeran utama dalam novelnya, tentu kalian juga kelak tahu, mereka akan jadi seperti apa. Tapi saat ini, masih tentang Kevin yang mendua.


“Makasih ya.” Syila tersenyum dan menatap lelaki itu lalu serangan ide muncul, sungguh seperti melihat oase di tengah padang pasir yang tadus.


Menikmati oasenya, Syila lancar menulis, sementara waktu, papinya Syila dipanggil ke ruangan oleh pemilik yayasan.


“Wah Dok, maaf sekali mengganggu di waktu yang sibuk ini.” Pak Hansyar berbasa-basi begitu papinya Syila masuk ke ruang kerja kepala yayasan dan sekaligus pemilik yayasan itu, dia memang jarang sekali datang, bisa dibilang datang hanya jika ada urusan yang mendesak saja, karena bisnis utamanya adalah kontraktor dengan skala besar, dia menangani banyak proyek pembangunan jalan tol, pembangunan gedung pemerintah dan juga tempat wisata. Rumah sakit hanya proyek sampingan dan merupakan mimpi yang tak terwujud dari Pak Hansyar yang bercita-cita jadi Dokter, tapi tak kesampaian karena orang tuanya ingin Hansyar menjadi pebisnis saja dibandingkan Dokter. Maka membangun rumah sakit adalah proyek mimpi yang tidak tercapai. Sebagai bonus, rumah sakit itu berjalan dengan baik dan bisa dikatakan sukses.


“Tidak apa, boleh saya tahu Pak, ada apa ini?” Papinya Syila merasa canggung, tapi berusaha tetap tenang, dengan duduk di sofa kepala yayasan itu dan menyilangkan kaki, dia memang tidak pernah menempatkan diri seolah berada di level yang lebih rendah dari Hansyar, karena dia Direktur rumah sakit ini, semua kesuksesan adalah karena kemampuannya dalam mengelola rumah sakit. Maka Hansyar harus menghormatinya, tidak boleh merendahkan.


“Mau teh?” Hansyar menawarkan.


“Tidak terima kasih, saya sudah membawa minum saya sendiri, istri saya membuatkan jahe setiap pagi untuk menghangatkan tubuh.” Papinya Syila menunjukkan botol minum yang selalu dia bawa berbahan stainless steel tahan panas, maminya Syila memang suka membawakan minuman kesehatan untuk papi.


“Baiklah, sepertinya Direktur kita memang orang yang sangat sibuk sehingga lebih suka to the point ya.” Hansyar mencoba tetap berbasa basi.


“Silahkan.” Papi Syila tetap bersikap dingin.

__ADS_1


“Tentu kau kenal Dokter Kevin.” Hansyar bertanya.


“Ya, dia adalah Dokter umum yang cukup berprestasi dan kami andalkan, ada apa dengannya?” Papinya Syila was-was, karena takut Kevin dipecat karena kejadian terakhir, walau papinya Syila tahu akhirnya yayasan membantu dengan menurunkan pengacara kepercayaan yayasan, tapi jujur, Kevin tidak boleh keluar dari rumah sakit ini karena dia Dokter yang baik dan menantu yang mumpuni untuk papinya Syila.


“Aku ingin kau membantuku untuk ... maaf ini mungkin melewati batas, tapi harus aku lakukan, aku ingin agar, anakmu mundur dari kisah cinta dengan Dokter Kevin, karena ... anakku menyukainya dan aku setuju untuk menjodohkan mereka.”


Papinya Syila terdiam, bagaimana mungkin dia terlibat drama macam ini, sungguh dia ingin memukul Hansyar karena berani melontarkan hal semacam ini.


“Aku pikir, tanggung jawabku hanya seputar rumah sakit ini, bukalah seputar, kehidupan rumah tangga anakmu.” Papi menjawab dengan kasar.


“Kehidupan rumah tangga anakku bukan tanggung jawabmu, karena ini bukanlah perintah dari kepala yayasan, tapi ini adalah permohonan.” Hansyar turun dari bangkunya dan memberikan foto Sofia pada papinya Izraa lalu duduk bersujud, seolah memohon pada papinya Syila.


Papinya Syila terkejut dan langsung ikut duduk bersujud, agar posisi mereka sama. Ini sikap sopan santun saja dari papinya Syila.


“Anakku cacat, dia ... tidak pernah jatuh cinta pada lelaki mana pun, hidupnya hanya menjalani hari saja tanpa keinginan apapun, hanya ketika itu dia pulang dari berobat di rumah sakit ini, dia bilang dia ingin menikah dengan Kevin, aku tidak pernah melihat binar di matanya yang begitu bersinar, aku meminta ini sebagai seorang ayah dari anak yang cacat, Dok. Kalau kau menolak, aku takkan marah dan tidak akan pernah mempengaruhi kinerjamu sebagai pemimpin operasional rumah sakit ini, ini hanya permohonan dari lelaki yang sangat ingin anaknya bahagia, kau punya anak perempuan juga kan, jadi kau tahu dengan jelas, kebahagiaan anak adalah segalanya.”


“Bangun dulu Pak, bangun, saya tak suka berbicara seperti ini.” Papinya Syila menarik Hansyar agar dia duduk di sofa dan mereka berdua sudah duduk di sofa.


“Aku ingin menolak sebenarnya karena anakku mungkin juga sangat mencintai kekasihnya, Kevin juga mungkin mencintainya, kalau pun anakku setuju untuk berpisah, lalu apakah Kevin akan menyerah dengan anakku?” Papinya Syila bertanya.


“Kau bisa lihat ini, mereka sudah makan malam bersama, Kevin sudah berterus terang dia punya kekasih pada anakku, tapi mungkin Sofia masih punya kesempatan jika saja anak Dokter mundur.”


Papinya Syila menghela nafas, karena ini bukan lagi soal cinta-cintaan, tapi soal anak perempuan orang lain yang cacat dan anak perempuannya yang sehat dan energik.


“Kalau dia setuju dan patah hati, lalu bagaimana dengan anakku? Apakah dia bisa bertahan atau jatuh cinta lagi?” Papinya Syila bertanya.


“Maka sebagai gantinya, aku akan mencoba untuk membujuk anak lelakiku untuk kita jodohkan dengan anak perempuanmu, kau dan aku berbesanan, bukankah itu cukup adil?”


Papinya Syila terdiam, di waktu ini memang masih sangat jauh ketika Syila dan Izraa untuk pertama kalinya bertemu, tapi perjodohan mereka sempat dibicarakan.


“Tidak adil jika anakku tidak ingin, tapi untuk membujuknya berpisah dengan Kevin, aku akan usahakan, hanya sebagai seorang ayah dari anak perempuan yang sehat, aku akan coba bicara dengan anakku, tapi tidak memaksa, dia yang akan memutuskannya.”

__ADS_1


Lalu papinya Syila berjalan dengan lunglai, dia tak ingin menjadi besan dari lelaki itu, sungguh karena biarpun menguntungkan, dia ingin hubungan anaknya dengan suami, tidak ada embel-embel bisnis, kecuali memang cinta dan mustahil jika dia menjodohkan anaknya Hansyar dengan Syila, tidak ada embel-embel bisnisnya dan murni karena cinta, itu mustahill!


Apa yang dianggap mustahil oleh papinya Syila kelak ... terjadi.


__ADS_2