
Syila bangun pagi dan pergi lari, dia tidak ingin melakukan apapun tapi mau tidak mau dia harus tetap olahraga agar lupa tentang cinta beratnya.
Saat sedang lari, Syila tidak sengaja melewati sebuah taman di villa ini, taman bermain anak-anak. Mungkin karena bukan musim liburan, makanya, tidak ada yang bermain di taman itu, sehingga Izraa, objek sebenarnya yang Syila perhatikan sedang memakai taman itu sebagai tempat latihan beladiri bisa bebas tanpa harus terganggu.
Ada sesuatu yang membuat Syila menghentikan kakinya untuk melanjutkan jogging. Itu adalah, sikap Izraa dalam melakukan beladiri membuatnya terlihat sangat gagah, serangan ide yang menimpa otak Syila, ingin membuatnya buru-buru menulis judul baru.
Dia tersenyum, mengambil telepon genggamnya, membuka aplikasi note, lalu dia mulai menulis judul, saking begitu fokusnya dia tidak sadar duduk hanya di trotoar jalanan.
“Yakin hanya hubungan palsu?” Dokter Kevin, dia ternyata sudah ada di depan Syila, Syila yang baru sadar langsung berdiri dan mulai sedih lagi.
“Hai, Dok.” Syila tersenyum.
“Jogging bareng?” Dokter Kevin bertanya.
“Boleh.” Mereka mulai lari bersama.
“Kau mulai menyukainya.” Lari yang tidak kencang, membuat mereka bisa mengobrol.
“Siapa?” Syila bertanya.
“Izraa.”
“Oh … tidak.” Syila mulai merasa lelah menjelaskan pada seseorang yang jelas bukan siapa-siapanya lagi selain mantan.
“Lalu kenapa tatapan kagum itu terlihat jelas?” Dokter Kevin terdengar cemburu.
“Tidak, bukan tatapan kagum, tapi tatapan bersemangat, dia terkadang selalu menjadi inspirasiku.” Syila mengatakannya dengan ringan. Dokter Kevin berhenti.
“Seseorang yang membangun inspirasimu? tentu bukan orang sembarangan dan cukup penting untukmu kan?” Dokter Kevin masih memaksa Syila mengakui perasaannya, walau Syila tidak bisa menjelaskan, bahwa dia tidak punya perasaan apapun.
“Dia? ya, sangat penting malah, Dok. Buatku, dia tidak terganti untuk karakter novel ini, aku akan melawan siapa pun yang berani mencoba mengeluarkan dia dari proyek ini. Itu artinya dia untukku.”
“Kau menyukainya tanpa kau sadar, Syil.” Dokter Kevin mengambil kesimpulan.
“Dibanding semua orang, aku berharap kata itu tidak pernah keluar dari mulut seseorang yang cukup berarti bagiku. Terlebih, orang itu tidak punya hak untuk menanyakannya, kalau memang benar pun, itu bukan urusanmu, maaf, aku harus pergi.” Syila meninggalkan Dokter Kevin sendirian, terkejut, orang yang selalu punya cinta buta padanya, akhirnya mulai mampu pergi meninggalkannya, dalam hati, dia begitu takut Syila akhirnya meninggalkan hubungan tanpa kepastian ini.
“Wah, anak perawan pagi-pagi udah jogging ajah, sini sarapan Cil.” Andi menarik Syila yang terlihat kelelahan, Izraa dan Hanum sudah ada di sana, Izraa bahkan sudah berganti pakaian.
“Sarapan apa?” Tanpa semangat dia bertanya.
“Nasi goreng spesial.”
“Ok, aku mandi dulu.” Syila masuk ke kamar.
Setelah 10 menit Syila keluar lagi, ternyata Hanum dan Izraa masih ada, Izraa terlihat belum makan.
__ADS_1
Syila mengambil piring dan mengambil makanannya, Izraa juga.
“Nungguin gue ya?” Syila tertawa mengatakannya pada Izraa, dia sedang meledek saja.
“Iya.” Izraa mengatakannya dengan santai. Syila langsung berpaling ke belakang menatap wajah Izraa, tiba-tiba mereka berdua tertawa terbahak-bahak, ini adalah pertama kalinya melihat mereka tertawa bersama dengan lepas.
Hanum melihat itu dengan tatapan kesal, dia lalu pergi.
“Cewek lu nggak makan tuh?” Syila meledek setelah mereka berdua duduk bersama.
“Makan kok.”
“Oh udah.”
“Iya, lagi makan nih.” Dia menunjuk piring Syila, maksudnya Syilalah kekasihnya.
Syila menatap Izraa dan berkata, “Za, geli ah.” Izraa tertawa dengan renyah, Syila juga ikut karena melihat tawa itu, ternyata cuma pertengkaran hebat yang bisa membuat mereka kembali ‘hidup’ lagi.
Juna dan Dokter Kevin masuk saat Izraa dan Syila belum menyelesaikan ketawanya.
“Wah pagi-pagi udah pacaran aja.” Juna menyindir, Syila langsung menjadi suram kembali wajahnya.
“Hei, belum balik?” Andi mengusir secara halus.
“Belum lah, kan mau liburan bareng Syila.” Juna duduk di sebelah Syila, jadi Syila diapit oleh Juna dan Izraa.
“Tau gue, santai aja sih.”
“Jun, lu ganggu tau.” Syila mengatakannya dengan kesal sembari melihat Juna dengan tatapan tajam.
“Santai aja Cila.” Juna memegang kepala Syila, reflek, hal yang selalu dia lakukan.
“Jun, lu mau tangan lu patah kayak dulu waktu SMA?” Izraa mengatakannya tanpa melihat, Juna kaget seketika melepas tangannya dari kepala Syila.
“Santai Bosku, gue biasa kok begini ke Syila.” Juna beralasan.
“Mulai sekarang, jangan dibiasain.” Juna kembali mengatakannya dengan dingin.
“Kita mau pamit kok, tenang aja.” Dokter Kevin menengahi.
“Baguslah.” Izraa menanggapi dengan dingin.
“Syil, tapi aku mau ngomong sama kamu berdua dulu, boleh?” Dokter Kevin bertanya dengan hati-hati. Izraa ingin menjawab tapi Syila keburu menjawab.
“Ok, aku makan dulu ya. “ Syila tersenyum kepada Izraa, seolah memberitahu bahwa semua akan baik-baik saja.
__ADS_1
Setelah selesai makan, Syila ikut bersama Dokter Kevin, meninggalkan yang lainnya.
Mereka memilih duduk di taman dekat vila.
“Ada apa lagi, Dok?” Syila mencoba tersenyum.
“Syil, haruskah kita benar-benar selesai?” Dokter Kevin bertanya pertanyaan yang membuat Syila tertegun, apakah mereka masih dalam hubungan yang menyakitkan ini.
“Kita sudah menyelesaikannya sudah cukup lama, kan, Dok?”
“Syil, kamu ngerti maksud pertanyaanku, bahwa kita tidak akan pernah benar-benar selesai, kau yang bilang bahwa akan menungguku, lalu kenapa kau sekarang lari.”
“Dok, jangan mengatakan seolah aku adalah perempuan murahan, kau dan kekasihmu harus bahagia, kenapa?! karena kalian sudah mengorbankan satu orang yang seharusnya bahagia di sisimu, jadi jangan bersikap seolah kalian berdualah korbannya, aku korban kalian, ingat itu, jadi kau tidak berhak berbicara seolah aku selingkuh dengan Izraa, dia orang baik, seorang teman yang baik, kami bukan sepasang kekasih, tapi aku nyaman bersamanya sebagai seorang teman, jangan ganggu temanku. Apa itu cukup jelas?” Syila merasa tertekan dengan sikap Dokter Kevin yang menekannya terus, sementara dia memberi kepastian saja tidak bisa, tapi memaksa Syila menunggu, sungguh keegoisan yang nyata.
Syila berjalan dengan langkah mantab, dia akan melangkah melupakan hubungan ini, sudah cukup.
Syila lalu kembali ke kamar dengan wajah datar saja, dia melewati semua tetap dengan senyum yang menawan.
“Gue beresin baju dulu ya, Za, Ndi, kalian juga, kita pindah lokasi jam sepuluhan, kan?” Syila berjalan tapi tertahan dengan perkataan Juna.
“Gue boleh ikut, Syil?” Juna bertanya dengan polos.
“Menurut lu? kalau lu ikut, gue pastiin nggak akan ada gue di lokasi sampai lu pergi.”
Juna kaget dengan perkataan kasar Syila.
“Syil, kan gue sahabat lu.”
“Dulu, elu udah putusin itu sejak menjebak gue dalam hubungan terpaksa.” Syila akhirnya pergi ke kamar dan membanting pintu.
“Lu mening pergi deh, tahu kan, kalau Cila udah bilang enggak, artinya enggak, lu mau dia murka?”
“Tolongin gue, Ndi.”
“Capek gue, nolongin lu mulu, kalau lu tulus sayang Syila, berhenti maksa dia buat cinta sama lu, cinta itu nggak bisa dipaksa Jun, cinta itu datang dari hati yang tulus, Cila udah maapin lu berkali-kali, jangan sampai dia akhirnya menutup akses ke elu dengan sempurna, artinya dia nggak bakal mau ketemu lu lagi, cari cewek lain deh, Cila nggak akan pernah jadi milik lu.” Andi beranjak pergi juga, Juna dipermalukan bertubi-tubi.
Izraa juga beranjak hendak pergi ke kamarnya.
“Jagain Syila ya Za, sorry gue ganggu kalian.” Juna mengatakannya lalu pergi.
[Dia nggak perlu dijaga, dia wanita yang kuat lebih dari yang kalian pikir, orang-orang bodoh.] Izraa mengatakannya dalam hati, itu adalah pemikirannya.
___________________________________________________
Catatang Penulis :
__ADS_1
Mencintai tanpa dicintai itu rasanya melelahkan, sebanyak apapun aku memberitahumu bahwa aku mencintaimu, kau tetaplah jauh. Aku lelah.