Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 18 : Titik Nadir


__ADS_3

Pindah lokasi membuat semua orang menjadi lebih riang, walau letih, tapi tetap saja udara puncak yang segar membuat pikiran menjadi lebih tenang dan santai.


Syila sudah menghadirkan kembali senyum yang sempat hilang pada wajahnya, pikiran dan hatinya jauh lebih tenang. Izraa kembali menjadi lelaki dingin seperti biasanya.


Seluruh kru yang terlibat dalam produksi sehat, sungguh sesuatu yang baik untuk semua proses filming novel milik Asyila.


“Syil, istirahat pas makan siang aja, ya.” Sutradara bertanya.


“Iya.” Syila duduk di samping Sutradara, mereka duduk di bangku yang dinaungi oleh payung besar bermeja dengan bentuk lingkaran. Hanum dan Izraa duduk di sana juga.


“Terserah aja, bagusnya sih istirahat pas makan siang, biar pada semangat lagi.” Hanum berkata.


“Atau ngantuk, kekenyangan.” Izraa mengatakannya tanpa menoleh, dia masih memegang naskahnya, Hanum diam saja, dia tidak terlalu peduli.


“Yaudah, makan siang aja, kekenyangan tapi sibuk mah, nggak akan ngantuk kali, Za.” Sutradara menimpali.


“Dia begitu kali, Bang.” Syila tertawa.


“Elu, maksud gue.” Izraa membalas.


Hubungan mereka telah sangat hangat, hingga mampu mengejek satu sama lain, di lokasi syuting hanya Syila yang mampu mengejek Izraa dan begitupun sebaliknya, bahkan Bang Aryo si Sutradara tidak berani mengejek si dingin Izraa.


“Za, bagian yang makan malam, bajunya gue yang pilihin ya, moment ini jujur udah terbayang banget.” Syila berkata, Bang Aryo sudah tahu dan dia setuju.


“Warna apa tuxedonya?” Izraa bertanya.


“Biro dongker, terus mantelnya juga sama biru dongker, cutting jasnya sepanjang mantelnya, keren banget pasti.”


“Norak banget ah, apa sih, masa cutting jas sepanjang kaki.” Izraa menolak.


“Za, please Za, lu pasti gagah banget, serius gue.”


“Pake atau nggak, gue tetep gagah kok, warna ok, tapi cutting jangan coba-coba.” Izraa mengancam.


Syila kecewa, tapi dia tidak mau memaksa dan membuat Izraa bad mood.


Syuting berjalan dengan lancar, semua dilakukan hampir sempurna, semua orang memiliki mood baik hari ini, Syila juga sama.


“Kaos kaki nggak dipake lagi!” Andi protes, walau Syila tidak memakai gamis sehari-hari, tapi dia selalu menutupi telapak kaki dengan kaos kaki.


“’Iya, lupa.” Syila selalu memakai sepatu slip on, sepatu tanpa tali, jadi terkadang dia lupa pakai kaos kaki, merasa kakinya telah terlindungi oleh sepatu. Dia pikir semua tempat muslimah friendly, di mana mushala selalu ada yang terpisah antara lelaki dan perempuan.


Setelah hampir 4 jam shoot, waktunya istirahat, ada yang makan duluan, ada yang tidur-tiduran, ada yang hanya merokok dan mengopi saja, tidak sedikit yang solat Dzuhur dulu, termasuk Syila, kegiatan yang tidak pernah dia lewatkan adalah solat dulu baru yang lain.


Tapi dia cemas, karena ternyata tidak ada fasilitas mushala di dekat lokasi, ada masjid besar, tapi harus berjalan selama 30 menit, akan terlambat kembali ke lokasi kalau ke sana.


Semua orang memilih solat di ruang ganti, tapi wudhu harus di kamar mandi yang letaknya di luar ruang ganti itu, jarak kamar mandi ke ruang ganti tidak jauh, makanya setelah wudhu beberapa orang langsung berlari ke ruang ganti untuk solat, tidak disediakan sandal jepit karena memang bukan tempat wudhu, jadi setelah wudhu, mereka lari berterlanjang kaki ke ruang ganti.


Syila ragu, sialnya dia juga lupa pakai kaos kaki, padahal Andi selalu ingatkan untuk pakai kaos kaki, paling tidak kalau pakai kaos kaki, Syila bisa menggunakan kembali setelah wudhu, sehingga kakinya tidak terlihat walau bertelanjang kaki, kalau setelah wudhu keluar menggunakan sepatu, lebih buruk lagi, karena sepatu itu ladangnya najis, bisa-bisa wudhunya batal, kenapa juga tadi dia lupa membawa kaos kakinya.


Syila melihat kanan kiri, tidak ada orang, hanya satu dua orang wanita, seharusnya aman, kalau dia wudhu dan berjalan ke ruang ganti, Syila merasa tidak masalah.


Lalu dia masuk kamar mandi, memulai wudhu dan membuka pintu, dia tidak melihat siapa pun di sana, dia lalu keluar kamar mandi, menutup pintu kamar mandi, saat itu Izraa sedang berada di belakangnya, tapi Syila tidak sadar karena posisi tubuhnya menghadap pintu untuk menutupnya, setelah berhasil menutup pintu, dia berjalan cepat untuk ke ruang ganti, lalu menutup ruang ganti untuk solat, dia merasa aman, dan berhasil wudhu tanpa memperlihatkan auratnya, tapi dia salah ….

__ADS_1


Izraa yang melihat Syila dari belakang, tepatnya, kaki Syila yang tak beralas dan polos itu, hanya bisa terdiam, aliran darahnya mengalir deras, rasa panas menjulur dari kepala hingga seluruh tubuhnya, dia melihat ke arah bawahnya, atau lebih tepatnya, di bagian bawah perut, perasaan geli macam apa ini? itu yang Izraa pikirkan, perlahan dia merasa sesak, dadanya bergemuruh, satu-satunya yang dia inginkan saat ini adalah melihat Syila, Syila yang … tanpa sehelai benang pun, tubuh polos yang sangat ingin dia jamah.


Karena pikiran gila itu, Izraa berjalan ke arah ruang ganti, dia tidak peduli apapun, saat membuka pintu, dia melihat Syila sedang sujud, Izraa gemetar, tekanan apa ini, kenapa rasanya dia akan menggila jika terus berada di sini.


Izraa berlari ke kamar mandi, dia menyalakan kran agar tidak terdengar suara yang dia ciptakan.


Dia kembali mengingat kaki Syila yang putih itu, bagaimana mungkin kaki yang betisnya terlihat sedikit itu begitu memabukkan. Tanpa sadar, Izraa melakukan hal rendah, hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya karena tidak tahu kenikmatan macam apa yang diciptakan dari hal rendahan seperti itu, hal yang biasanya dilakukan oleh remaja-remaja untuk memuaskan nafsunya tapi belum mampu menikah. Memuaskan dirinya sendiri.


Izraa merasa jijik sekaligus nikmat, setelah berpuluh-puluh tahun, dia baru tahu kenapa mereka yang tidak memiliki pasangan sering menghabiskan waktu di kamar mandi untuk memuaskan diri, ini ternyata rasanya melakukan hal rendahan seperti ini.


Setelah menikmati sebuah kerendahan duniawi, Izraa keluar dengan perasaan yang membuncah, hal gila apa ini, kenapa nikmat sekali kerendahan yang dia lakukan barusan, terasa melelahkan tapi membahagiakan, rasa puas yang tidak terbayangkan, setelah puluhan tahun, dia baru merasakannya.


“Za, abis boker lu ya, lama banget.” Andi menegur Izraa, Izraa tidak menanggapi, mukanya merah dan dia langsung pergi.


Andi masuk ke kamar mandi untuk buang air kecil, setelahnya dia ke ruang ganti untuk bertemu Syila, tadi Syila pamit solat di ruang ganti.


“Syil, turunin tuh celana!” Andi menegur Syila yang celana panjangnya naik hingga memperlihatkan mulai dari telapak kaki hingga sedikit bagian betisnya.


“Eh iya, abis wudhu tadi lupa turunin, buru-buru sih ke ruang ganti, biar nggak ada yang liat gue telanjang kaki. Tapi aman kok, tadi sepi nggak ada yang liat.”


“Iya bagus deh, lain kali kaos kaki wudhu lu pake ya, yang bolong bagian bawah telapak itu, yang elu selalu pake, jadi kalau selesai wudhu bisa dipake lagi tanpa dilepas.”


“Iya Andi sayang.” Syila menjawab seadanya.


Syila tidak tahu, bahwa tindakan kecilnya memiliki efek dasyat bagi orang lain, kecerobohannya membuka gerbang neraka bagi dirinya sendiri. Seharusnya sebagai seorang muslimah, dia tidak lupa bahwa telapak kaki masih bagian aurat yang harus dia jaga. Tapi, dia malah lupa menurunkan celana dan tidak memakai kaos kaki wudhunya.



KEMBALI KE MASA SEKARANG


“Yang mana?” Syila bertanya.


“Gosip tentangku banyak? tentang itu, yang orang paling banyak percaya, tapi tetap menonton filmku.” Izraa enggan menyebutnya, karena jijik.


“Tentang … kau penyuka sesama jenis?” Syila bertanya dengan hati-hati.


“Kau percaya?”


“Lebih kepada tidak peduli sih, itu urusanmu dan Tuhanmu, aku tidak berhak menghakimi.” Karena Izraa menggunakan kata sapaan aku kamu, jadi Syila mengikutinya.


“Ayolah, kasih tahu aku, menurut prespektifmu saja, aku benar-benar ingin tahu.” Izraa memaksa.


“Kita tidak sedekat itu, hingga pendapatku penting, bukan?”


“Penting, penting sekali, untukku, penilaianmu yang paling penting.”


“Kita baru bertemu beberapa kali dalam beberapa bulan belakangan, lalu kau bilang seperti ini? aku jadi tidak percaya dengan gosip itu.” Syila merasa Izraa semakin aneh.


“Berarti sebelumnya kau percaya dong?” Izraa terlihat kecewa.


“Kenapa pendapatku sepertinya penting sekali untukmu?”


Izraa terdiam, dia yang tadinya duduk tegak, sekarang bersandar pada bangku istirahat yang tertulis namanya, dia sangat profesional jika sedang bekerja, tidak pernah meninggalkan lokasi syuting ketika istirahat, karena dia tidak ingin terlambat, jadi dia selalu duduk di dekat set pengambilan gambar.

__ADS_1


“Hmm, kau tau penyakit mental yang bernama aseksual?” Tiba-tiba Izraa menyambung obrolannya, padahal Syila sudah terpekur lagi dengan artikel tentang teknik pencahayaan filming yang tadi sempat dia tinggalkan.


“Apa itu? Seperti Unsocial? anti sosial?” Syila hanya asal menseragamkan, karena jujur obrolan ini tidak menarik sama sekali.


“Gosip itu benar, aku tidak suka wanita … dan juga lelaki, jadi gosip itu benar tapi tidak lengkap, aku bukan hanya tidak suka wanita, tapi juga tidak suka lelaki, aku tidak memiliki hasrat pada dua jenis kelamin itu.”


Seketika Syila tertawa terbahak-bahak, hingga beberapa orang melihat ke arahnya, dia lalu menutup mulut dan mengendalikan rasa yang menggelitik pada hati dan Pikirannya, kata-kata itu terasa seperti lelucon tingkat tinggi baginya.


“Kau Pfikir mungkin ini lucu, tapi untukku, itu penyakit. Kalau kau mau sedikit repot, kau bisa membuktikan ucapanku, di negara ini, hanya ada 5 orang penderita, karena penyakit ini memang langka dan di dunia, tercatat hanya 30 orang penderitanya. Memang, memang sangat langka, parahnya lagi, tidak seperti HIV yang bisa ditekan penyakitnya, hingga memperpanjang hidup penderita, penyakit mentalku bahkan tidak punya obat semacam itu.”


Syila berhenti tertawa, senyumnya saja berubah menjadi murung, dia merasa pusing, karena dia menertawakan orang yang benar-benar sakit.


“Maafkan aku.”


“Hanya dua orang yang tahu penyakitku, pertama, Dokterku, kedua, kamu.” Syila, berusaha melihat kesungguhan dalam mata Izraa, maklum dia seorang Aktor, berakting tentu bukan hal yang sulit untuknya, bahkan Syila sempat berpikir, apakah dia sedang dikerjai, lalu tiba-tiba akan ada kamera yang keluar dan mengatakan, ‘kamu kena prankkk’. Tapi, tentu saja, ini bukan lelucon.


“Aku tidak pernah merasakan hasrat kepada jenis kelamin apapun, ketika aku remaja, saat pria seusiaku gairahnya menggebu, aku bahkan tidak tahu apa itu rasanya jatuh cinta dengan penuh hasrat seorang ABG dan ketika semakin lama, aku semakin dewasa, bahkan penyakitku semakin parah, dalam otakku, kalian semua sama, laki-laki ataupun perempuan.


Itu semua karena otakku tidak dapat mengidentifikasi hasrat, akhirnya seluruh tubuhku tumpul, aku tidak tau apa rasanya mimpi basah, aku tidak tahu apa rasanya berdebar saat orang yang kusukai itu ada di dekatku dan tidak tahu, apa itu rasanya bergairah.”


Syila yang tadinya tidak terlalu perduli, menjadi tertarik, ini hal baru dalam hidupnya, seseorang yang tidak mampu merasakan gairah pada jenis kelamin apa pun, itu sebuah ide cerita yang luar biasa, tapi, daripada itu, satu hal yang membuat Syila penasaran.


“Ok, lalu kenapa kau cerita ini padaku, seseorang yang baru saja kau kenal?” Syila memberanikan diri bertanya, Izraa benar-benar semakin aneh.


“Karena, tadi aku melihatmu membuka sepatu, untuk solat, kita satu agama, tapi aku hampir tidak pernah solat, sama sekali tidak pernah, satu waktu pun, tidak subuh ataupun Isya.”


“Itu juga urusanmu dengan Tuhan, bukan urusanku, bukan itu yang aku tanyakan.”


"Kau tidak dapat poinnya Nona, aku melihatmu saat membuka sepatu hingga kau bertelanjang kaki untuk berwudhu, ketika melihat kakimu, aku jadi tahu, apa itu hasrat remaja, gairah dewasa dan nafsu dunia, aku baru tahu, apa itu rasanya, kepanasan bahkan ketika udara sedingin ini, kakimu, seketika, jauh lebih manjur dari semua obat itu, kakimu seketika membuat diagnosa Dokterku menjadi salah dan terapi yang aku lakukan selama hampir 15 tahun ini, sia-sia.”


“Kau gila!” Syila memundurkan badannya, karena penasaran, tadi dia sempat mencondongkan tubuhnya, agar bisa mendengar dengan jelas sang aktor berbicara tadi.


“Aku pikir juga begitu, kau yang membuatku gila.”


“Aku tidak ingin membicarakan hal menjijikan semacam ini lagi.”


“Tapi aku tidak bisa, karena sekarang, aku baru tahu satu hal, ternyata Tuhan tidak menciptakan hanya 2 jenis kelamin, Tuhan menciptakan 3 jenis kelamin, pertama lelaki, Lalu perempuan dan yang terakhir, Syila, kamu. Kamulah jenis kelamin yang membuatku tau apa itu gairah."


Syila semakin ketakutan, ini hal baru untuknya, bertemu dengan orang yang memiliki sakit mental yang langka, lelaki ini pasti tidak akan melepaskannya begitu saja, karena dia merasa Syila adalah penawar penyakit langkanya, dia pasti mengejar Syila, apa pun yang terjadi.


“Aku harus pergi, maaf.” Syila pergi, kalau bisa dia ingin berlari.


“Aku akan mengejarmu, kemana pun kau pergi, percayalah, aku bukan seorang yang mudah menyerah!” Izraa berteriak, dia terlihat menggila, Syila akhirnya berlari, tanpa terasa air matanya jatuh, dia merasa telah dilecehkan secara verbal, dia tidak menyangka, Izraa yang dia bela mati-matian untuk menjadi peran utama dalam karyanya, akan mengatakan hal menjijikan seperti tadi. Syila benar-benar kalut, dia merasa menjadi gadis murahan, karena perkataan Izraa itu, dia kalut dan ingin segera pergi, sejauh mungkin.


____________________________


Catatan Penulis :


Part ini adalah part lanjutan dari Part 1 ya, mulai saat ini kita tidak dalam alur mundur, tapi alur maju, semoga suka ya dengan part ini.


Selanjutnya aku kemungkinan akan banyak dialog dewasa, jadi buat yang masih di bawah umur, skip aja ya novel ini, jangan terusin. Aku tidak akan menggunakan kata-kata vulgar, kalian yang sudah baca seluruh novelku pasti tahu, bahwa aku akan berusaha mengemas kalimat-kalimat intim dengan kata-kata yang lebih indah dibanding kata-kata vulgar.


Tapi karena ini genrenya cinta dewasa, jadi buat yang masih di bawah umur, cari novel lain aja ya.

__ADS_1


Terima Kasih, selamat membaca.


__ADS_2