
Pagi ini ada jadwal meeting, ya memang baru hanya ada 4 orang, yaitu Syila, Izraa, Andi dan Jane. Mereka meeting di ruangan pegawai yang bersekat kaca, dengan bangku dan meja yang lebih santai, bahkan ada televisi yang cukup besar menggantikan layar proyektor.
Jane memulai meeting dengan menjelaskan apa saja yang telah selesai dia kerjakan, salah satu jobdesknya adalah merekrut pegawai dan juga memastikan bahwa semua dokumen legal sudah selesai, mengenai nama perusahaan, perizinan dan juga semua hal yang dibutuhkan agar perusahaan bisa beroperasional dengan lancar.
Setelah Jane selesai, tiba giliran Andi yang harus melaporan apa saja yang selesai, dia mengurus urusan internal, posisinya berada di bawah Izraa jika bicara soal jobdesk, sedang Jane di bawah Syila.
Semua furnitur perusahaan sudah selesai dipasang dan dibuat, secara garis besar, perusahaan dapat beroperasional dengan baik, hanya satu masalahnya, mereka belum juga mendapatkan kartu akses masuk dengan kartu pegawai yang memiliki nama perusahaan sendiri.
Syila terdiam sesaat, karena baru tersadar, ini bukan masalah sepele, tapi sepertinya mamiya Izraa tak bsia dibujuk.
“Kita bisa tunda saja dulu, pakai kartu tamu saja, dengan nama perusahaan mereka, tak masalah, toh kita memang tenant dari perusahaan itu, tapi jangan pernah terima kartu kepegawaian selain nama perusaan, ini berlaku untuk semua pegawai baru, Jane. Kecuali kau tentunya, karena kau adalah pegawai mereka, jadi aku mohon bantuannya, untuk anak baru, buatkan perizinan untuk kartu tamu seperti kami dulu.”
“Baik bu, tak masalah aku bisa bantu untuk dapatkan kartu tamu itu, tapi masalahnya, jika sudah ada pegawai baru, maka kita perlu untuk menyediakan mesin absensi, kalau saat ini mungkin kita masih bisa abaikan Bu, tapi kalau kelak ada orang keuangan dan juga publisher, tentu saja mesin absensi sangatlah diperlukan.”
“Kalau kita pasang sendiri, absen finger print? Maksudku, kita pasang sendiri mesin finger printnya, tidak perlu menumpang pada mereka.”
“Tidak bisa, Syil. Kau butuh panel dan server Syil, kau harus membangun sistem, itu terlalu berlebihan untuk satu lantai ini saja dan yang pasti sistem baru takkan diterima oleh departemen IT di perusahaan ini, karena sistem kita akan membuat sistem mereka terganggu. “
“Apa yang terganggu?” Syila tak paham, karena dia memang tak begitu paham soal tekhnologi digital saat ini.
“Begini, pertama, perusahaan ini punya topologi sendiri dalam soal pemetaan mesin mereka, pemetaan kabel, pemetaan mesin dan mungkin client-client yang terhubung dengan server itu penting untuk sistem yang mereka sudah bangung, jika saja kita akan memasang mesin absensi baru, kita akan mengacak-acak topologi sistem mereka, makanya kenapa mami ingin kita pasang mesin absensi dan juga mesin akses tap kartu pada setiap pintu di lantai ini dari perusahaan mereka, karena mereka tinggal meneruskan sistem yang sudah mereka bangun. Kalau kita paksa, kita akan membuat topologi dan sistem mereka berantakan, Syil.
Kau tahu kan, aku setuju padamu, tapi ada hal tekhnis yang memang tak bisa kita abaikan.”
“Lalu apa jalan keluarnya? Jangan katakan kita akan menggunakan kartu akses dan mesin mereka, aku tak mau kalau perusahaan ini memiliki kartu pegawai dengan nama perusahaan miliki keluargamu, aku ingin perusahaan ini berdiri sendiri dengan mandiri.” Syila kekeh.
“Aku bisa usahakan cara lain, tapi kau tidak boleh mengeluh, yang penting kan kau tidak perlu memakai kartu akses milik perusahaan keluargaku bukan?”
Syila mengangguk, dia tidak peduli apapun itu, kecuali tunduk pada keluarga Izraa.
__ADS_1
“Baiklah, kalau begitu, apakah ada yang ingin kau sampaikan lagi Jane? Ndi?” Syila bertanya, meeting ini sudah sampai pada penutupan.
“Tidak ada.” Andi dan Jane sepakat menggeleng.
“Kalau begitu, Za, apakah kau ada yang ingin disampaikan?” Syila bertanya pada Izraa.
“Tidak ada.” Izraa juga menggeleng sembari berkata.
“Kau yakin?” Syila bertanya lagi.
Izraa mengangguk, tanda dia yakin kalau tidak akan ada lagi yang ingin dia sampaikan.
“Aku perlu bicara dengan Izraa berdua saja, tentang beberapa hal.” Syila tiba-tiba berkata dengan tegas, Jane dan Andi akhirnya pamit keluar, pintu kaca ruangan itu ditutup, tapi ruangan itu memang tak ada gorden yang menutupnya, jadi semua orang masih bisa melihat Izraa dan Syila di sana, walau tak terdengar apa yang mereka katakan, apalagi Syila mendekat pada Izraa, dia ingin berbicara soal proyek yang maminya Izraa katakan semalam.
“Ada apa?” Izraa bertanya, tapi matanya terpaku pada laptop, dia sedang mengerjakan sesuatu.
“Kua sedang apa?” Syila penasaran, dia ada di samping Izraa melihat ke arah laptopnya.
“Kerja apa?’ Syila bertanya lagi.
“Kerjasama dengan client.”
“Kerjasama apa?” Syila berbinar, karena tepat sasaran, dia hendak bertanya soal proyek itu, tapi takut kalau Izraa tidak mau terbuka.
“Masih terlalu prematur untu aku katakan, nanti kalau mereka setuju, aku akan beritahu.”
“Tapi aku kan partnermu, masa aku nggak dikasih tahu ada client apa? apakah ini proyek besar kita?” Syila bertanya lagi.
“Aku bilang masih prematur, aku tidak bisa katakan sekaran, jika gagal biarlah hanya aku yang tahu.”
__ADS_1
“Tidak bisa begitu Izraa! Aku ini partnermu! Kau harus beritahu aku, apa proyeknya?”
“Kita tak punya surat kerjasam, tak ada pasal yang harus aku penuhi, jadi aku kita, aku tak punya kewajiban untuk memenuhi rasa penasaranmu, maka bisakah kau memberiku ruang untuk bekerja? Jika kau ingin tahu lebih cepat, maka beri aku ruang untuk fokus, bisa kah kau tidak bertanya lagi dan pergi dari ruangan ini?”
“Za ... ayolah, aku ....”
“Yasudah, aku saja yang pergi kalau kau tidak mau pergi.” Izraa bangkit dan meninggalkan Syila sendiria, wah! Tadi itu terasa sangat memalukan bagi Syila, dia sudah mendekat pada Izraa, berbicara lembut dan lumayan memohon untuk diberitahu, tapi Izraa masih saja tidak mau memberitahu proyeknya, Izraa membuat Syila benar-benar kesal.”
Syila akhirnya pergi ke ruangannya dan tidak ada niat untuk memaksa Izraa memberitahu proyeknya. Iya Syila juga tahu, mereka tak punya perjanjian kerjasama, hingga tak ada pasal-pasal yang harus dipenuhi oleh mereka, Syila benar-benar merasa menyesal, seharusnya perjanjian kerjasama itu dibuat saat mereka masuk ke tempat ini untuk pertama kalinya, Syila terlalu banyak memikirkan hal lain makanya dia tak terpikir untuk membuat perjanjian kerjasama dengan Izraa, sementara perjanjian kerjasama dengan perusahaan keluarganya sudah disepakati dengan detail yang sudah Syila cek dan berani tanda tangani karena sudah dia cek pasal perpasal, tapi dia lupa, kalau ada perjanjian kerjasama yang harus dia buat antara dirinya dan Izraa, termasuk pembagian keuntungan yang belum dibicarakan juga, mereka berdua secara resmi bekerja di perusahaan itu tanpa digaji, maka seharusnya ada perjanjian pembagian keuntungan.
Syila bermaksud untuk membicarakannya dengan Izraa kelak, tapi tidak saat ini, karena Izraa pasti menyangka kalau Syila tak sabaran dan terlalu ikut campur, tidak bisa membiarkan Izraa mengerjakan tugasnya, maka dia butuh mencari waktu yang tepat.
“Tadi ngomong apa sih ama Izraa? Pasti soal proyek itu kan?” Andi sudah di ruangan itu bersama Syila.
“Iya, aku tanya padanya proyek apa yang sedang dia pegang.”
“Terus, proyeknya apa?”
“Tidak tahu, dia belum beritahu, dia bilang masih prematur untuk diberitahu, nanti katanya.”
“Oh.”
“Kok oh doang sih! seharusnya dia berbagi informasi padaku kan? aku kan partnernya, dia tak boleh sembunyikan apapun padaku!” Syila kesal.
“Kemarin, waktu aku sedang membuat furnitur kantor, apakah aku memberitahumu setiap detail dari hitungan furnitur yang aku buat?” Andi tiba-tiba bertanya.
“Tidak, untuk apa aku tahu, yang penting mah hasil furniturnya, aku percaya padamu, seleramu bagus kalau soal dekorasi.”
“Nah itu! kau juga tak perlu tahu detail proyek Izraa, karena yang penting adalah hasil, Izraa hanya perlu kepercayaan darimu saat ini, seperti kau percaya padaku, kau tak perlu tahu detailnya, karena mungkin akan memperlambat geraknya.
__ADS_1
Seperti ketika aku mengurus furnitur, kau tak perlu tahu detailnya, kalau kau tahu, mungkin kau akan intervensi dan membuat makin lama pekerjaan, karena selera orang kan berbeda, aku suka kau bisa saja tak suka, maka satu kepala cukup untuk mengambil keputusan pada satu hal tertentu, untuk efisiensi dan juga efektifitas.”
Syila terdiam, apa yang dikatakan Andi memang benar, tapi ... kenapa Syila merasa kesal ya? padahal nanti juga dia akan tahu, tapi kenapa dia kesal karena dia tak tahu apa yang Izraa kerjakan sekarang, dia merasa dulu Izraa selalu terbuka dan sekarang rasanya berbeda. Baru juga dua hari Izraa berubah, Syila sudah kebakaran jenggot, walau dia tak punya jenggot.