Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 53 : Pelaku 7


__ADS_3

Syuting memang sudah selesai, tapi tidak benar-benar berhenti, kadang ada saja hal yang harus Izraa selesaikan, hanya masalah-masalah kecil.


Tapi sejak dia harus menunggui Fenita di rumah sakit, Izraa tidak bisa terlalu sering datang untuk bekerja, fokusnya pada kesembuhan Fenita.


“Susah banget sih Syil, kan lu tau, kita nih udah mundur banyak banget loh, biaya jalan terus, elu sama Izraa kenapa makin ke sini jadi kayak main-main aja sih?” Bang Aryo Sutradara film Syila marah-marah pad Syila yang datang ke kantor PH, tentu dengan didampingi empat bodyguard dan juga Andi.


“Nggak gitu dong Bang, ini kami sedang ada masalah besar, Bang. Kan Abang tahu.”


“Syil, kami semua turut berduka dengan apa yang kamu dan Izraa alami, tapi kamu juga harus memiliki empati pada kami, yang harus mempertanggung hasil kerja pada penanam modal, kau bagian dari kami kan, Syil? Ini proyekmu loh, tidak seharusnya kau sibuk dengan hal lain!”


“Bang, Syila paham, tapi Syila juga sulit untuk memaksa Izraa yang khawatir pada Syila dan teman kami yang sedang celaka.”


“Ini soal cinta segitiga nggak sih, Syil?” Bang Aryo tiba-tiba bertanya.


“Kok jauh banget sih ngomongnya?”


“Buktinya sekarang, kalian tuh biasanya kayak kembar dempet, kemana-mana selalu bareng, kalau gue cari Izraa, gampang, tinggal cari lu aja, begitu juga sebaliknya. Tapi sekarang, kenapa elu ke sini sendiri, katanya ada mafia yang hendak berbuat jahat sama lu, karena anaknya dipenjara, tapi kenapa Izraa sekarang malah sibuk sama perempuan lain?”


“Bang, jangan ngaco lah. Udah itu urusan kami, nggak ada namanya cinta segitiga, wanita itu temanku dan juga Izraa, dia menyelamatkan Izraa saat ketembak, sekarang kami yang menjaganya karena dia kecelakaan, itu pun karena masalahku, Bang. Dia ikut terbawa, wajah Izraa menjaganya, wajar dia begitu, karena dia takut ada orang yang menjadi korban lagi.”


“Ya terserahlah, pokoknya gue mau kalian berdua hadir saat gue panggil, lakukan apapun untuk film ini Syil, ingat, ada Nasib ratusan orang yang nasibnya dipertaruhkan di film ini Syil, ingat para kru, gue, Produser dan semau karyawannya, mereka menggunakan dana tidak sedikit, maka hargai kami! Jangan cuma karena masalah cinta-cintaan, kalian pertaruhkan hal besar menyangkut hajat hidup orang banyak.”


“Iya Bang, gue akan coba ngomong deh sama Izraa ya, semoga kita bisa tetap bertanggung jawab di film ini.”


“Lu lebih serius ya Syil, gue tahu, elu dan Izraa itu anak-anak orang kaya, sedang kami, semua pekerja kami mengandalkan hidup dari sini, dari pencapaian film ini, kalau film ini hancur, gue dan ratusan orang yang berbaris di belakang gue juga bakal hancur, jadi gue mohon banget, elu lebih fokus, usahain apapun. Kayak dulu lagi Syil, elu bener-bener fokus untuk film ini.”


“Ya Bang, gue janji, kali ini gue nggak bakal hilang fokus lagi, maaf ya.” Syila si keras kepala tahu bahwa ini semua karena Aldo brengsek itu, mau sampai kapan mereka harus ketakutan.


“Syila kita mau kemana?” Andi bingung, saat ini mereka sudah di mobil, tapi Syila tidak menuju rumah, dia malah berbelok ke arah lain, makanya Andi bertanya.


“Gue harus ngomong sama Izraa, dia harus selesaikan beberapa scene yang masih gantung, kita harus selesaikan film ini Ndi, gue mau ngomong sama Izraa.”


“Tapi Izraa nggak ngizinin lu buat jalan ke mana-mana, lu juga nggak izin ke sini tadi, bodyguard Izraa juga pasti udah ngadu ke tuannya, sekarang lu malah mau ke sana, lu mau Izraa marah lagi!”


“Ndi, tapi ini juga penting, Fenita penting, tapi film gue juga penting Za.”


“JANGAN LU BERANI NGOMONG BEGITU YA!” Andi terlihat marah.

__ADS_1


“Ya gue tahu, itu tidak sopan, karena gue membandingkan hidup orang dengan film gue, itu nggak sebanding memang, tapi bang Aryo juga benar, hajat hidup orang banyak kita pertaruhkan di sini. Ini bukan tentang film lagi Ndi, tapi ini tentang hidup banyak orang.”


“Syil, elu pakai akal sehat kan ini? Elu nggak lagi … cemburu kan?”


“Ndi! Bisa-bisanya elu mikir begitu! Nggak ada ya, sedikit pun terbesit dalam otak gue kecemburuan yang elu bilang barusan, gue nggak masalah Izraa jagain Fenita, tapi gue masalah kalau dia berlebihan, dia juga harus tanggung jawab sama apa film ini, nggak bisa lepas tangan begitu aja.”


Tak terasa mereka pun sampai di rumah sakit Fenita dirawat, mungkin karena pertengkaran mereka jadi tidak sadar, mobil bodyguard masih di belakang mengikuti mereka.


Syila memarkir mobil, keluar dengan diikuti Andi dan para bodyguard.


Di depan kamar Fenita ada beberapa orang berbadan kekar, menjaga Fenita tentu saja.


Mengenali Syila, para bodyguard yang menjaga Fenita itu, sebelum masuk Syila melihat Izraa dan Fenita sedang tertawa bersama, Syila menahan sesuatu yang bergemuruh di dalam hatinya, entah apa itu.


Syila lalu membuka pintunya, membuat Izraa terkejut, bukan karena ketahuan tertawa bersama Fenita, tapi melihat Syila berani keluar dari rumahnya tanpa sepengetahuan Izraa.


“Kok ke sini, bukannya kau harusnya pulang setelah dari kantor PH?” Izraa kesal melihat Syila di sini.


“Gue perlu bicara sama lu, serius! Ini masalah film. Gue harus banget ngomong sama lu Za, sebentar aja, please.”


“Iya, gue bakal bawa pulang dia.” Andi hendak menarik Syila, tapi tidak jadi, karena Syila menampik tangan Andi dan berteriak.


“Fenita penting, Demi Tuhan dia penting bagiku, tapi film ini juga penting, karena menyangkut hidup banyak orang, elu mangkir Za, kita harus bertanggung jawab pada PH, mereka udah ngeluarin dana untuk kita, maka kita harus bertanggung jawab.”


“Kalau soal uang, gue akan coba cari cara buat ganti, sekarang lu pulang!”


“Bukan Cuma soal uang Za, ini soal orang-orang yang ….”


“Nggak, ini soal buku lu kan? Elu yang masih terlalu ingin buku lu difilmin, elu egois banget!”


“Za, jangan kasar!” Fenita marah pada Izraa.


“Lihat perempuan ini yang mau lu korbanin keselamatannya, bahkan masih mikirin perasaan lu, elu malah sibuk mikirin mimpi, elu bener-bener egois ya!”


“Za, ini bukan tentang mimpi, ini tentang nasib ratusan orang yang bergantung pada film ini! ini bukan tentang gue, kalau pun itu harus dikorbankan, gue nggak masalah, tapi ini tentang banyak orang, mereka butuh uang buat makan, mereka ....”


“Kalau ini masalahnya uang, gue bisa bayar ganti rugi, gue bisa bayar setiap kepala yang merasa rugi, tapi jangan pernah minta gue buat biarin satu orang ini akhirnya celaka! Lu nggak punya otak atau nggak punya hati, dia yang nolong gue, kalau aja kemarin dia nggak ada ataupun ada tapi nggak niat nolong gue, gue udah mati!

__ADS_1


Bahkan dia berani menghadapi orang-orang jahat itu sendirian sementara gue udah tertembak dan elu suruh gue tinggalin dia cuma buat mimpi sepele yang lu kejar untuk mendapatkan pengakuan dari papi lu! ini masalah hidup dan mati orang dan elu masih suruh gue main-main!”


“Za, mungkin mimpi gue sepele buat lu, gue nggak masalah, karena gue nggak pernah nyepelein keselamatan Fenita, gue mau elu selesaikan proyek film kita, lalu Fenita sudah dijaga bodyguard dan gue bakal di sini nungguin Fenita, gue bakal pastiin dia selamat, gue ....”


“Elu aja nggak bisa jaga diri lu sendiri sampai bisa diculik! Sekarang elu mau jagain orang, gimana caranya gue percaya sama lu! ini masalah sepele gara-gara lu nggak bisa jaga diri, makanya sekarang semua orang jadi susah ....”


“Za!” Andi dan Fenita berteriak agar Izraa berhenti, karena apa yang dia ucapkan sudah sangat keterlaluan, Syila menatap Izraa dengan mata sendu, hatinya begitu sakit, dia tahu ini semua salahnya, salahnya menulis kata sapaan yang tidak memikirkan efek sampingnya kelak, pemikirannya sangat dangkal, itu yang Izraa coba lontarkan.


Syila tak membantah, dia terdiam dan berusaha untuk menahan air mata yang hendak jatuh sekuat tenaga, tapi tidak mampu, air mata itu jatuh tanpa disengaja, Syila buru-buru memalingkan wajahnya agar Izraa tak melihat air mata itu jatuh, walau terlambat, semua orang melihat air mata itu dengan jelas.


Syila yang masih memalingkan wajahnya, lalu hendak keluar dari kamar perawatan Fenita, tapi sebelum pergi dia berkata, “Maafkan aku karena membuat kalian celaka.” Syila mengatakannya dengan dingin lalu pergi ke luar dari kamar itu.


“Elu keterlaluan Za, gue setuju kalau Syila di rumah aja dan melepas tanggung jawab film itu untuk sementara, tapi dia datang ke PH sendirian atas nama kalian berdua, memohon pada Bang Aryo untuk empati pada musibah yang menimpa kalian, gue tahu dia terdengar egois, tapi ga seharusnya elu bilang ini semua salahnya, ini semua adalah musibah, Syila bahkan nggak pernah minta elu selametin dan akhirnya membuat elu diincar keluarga asli Aldo. Ingat ini, bukan Syila yang deketin elu, tapi elu yang maksa kalian untuk jadian, sekarang, terima akibatnya kalau dia bakal jauh dari lu, dia hampir nggak pernah nangis sesakit apapun hatinya, tapi kalau dia udah sampai menangis, artinya ... elu nggak punya kesempatan lagi untuk memperbaiki.


Aku pulang dulu Fen, nanti aku ke sini lagi kalau orang ini udah nggak di sini.” Andi pergi mengejar Syila setelah mengatakannya, tentu Syila masih dijaga oleh orang-orang Izraa saat keluar tadi.


“Elu keterlaluan Za!” Fenita marah.


“Dia itu keras kepala, perlu untuk memberitahunya dengan keras agar dia paham betapa situasi ini tidaklah sepele, ini mengenai nyawa kamu dan juga Syila, bagaimana mungkin aku bisa menjaga kalian berdua, kalau kalian tidak mau mendengarku!


Keadaanmu lebih gawat, makanya aku meninggalkan Syila, dia ke sini dari PH, apakah itu tidak keterlaluan, kalau dia sampai celaka lagi, aku mungkin sulit bertahan dari tidak menghabisi Aldo, aku hanya memberinya waktu untuk merenung, makanya aku terpaksa mengatakan itu.”


“Tetap saja, kau menyakiti hatinya dan aku sedih melihatnya menangis seperti itu, kau harus mendatanginya dan meminta maaf, aku di sini dijaga oleh orang-orangmu bukan? atau kau harus ke PH itu, kau selesaikan tanggung jawabmu, aku akan di sini baik-baik saja, kalau perlu tambah orang agar kau semakin tenang.”


“Tidak, aku tidak percaya siapapun saat ini.” Izraa tidak mau menerima saran dari siapapun.


Sementara Syila dan Andi sudah berkendara menuju rumah, Andi yang menyetir kali ini, di belakang mobil mereka masih diikuti oleh orang-orang Izraa yang harus menjaga Syila.


[Pi, usir semua orang yang sekarang ada di rumah, aku tidak mau lagi ada orang Izraa di rumah, aku tidak perlu penjagaan berlebihan seperti itu, aku mau Papi usir, kalau sampai aku pulang orang Izraa masih ada di rumah, aku akan pergi dari rumah dan menghilang.] Rupanya Syila menelpon ayahnya dan meminta supaya ayahnya mengusir orang-orang suruhan Izraa. Papi mendengar Syila seputus asa itu, hanya mengatakan akan melakukan apa yang Syila minta, pasti ada sesuatu yang membuat Syila berteriak setengah menangis begitu, kalau sampai Izraa menyakiti Syila, Papi takkan segan membatalkan perjodohan ini, karena Syila bukan tipikal perempuan cengeng kecuali ada hal besar yang harus dia hadapi.


________________________________________________________


Catatan Penulis :


Aku mencintaimu pada malam hari, lalu membencimu pada paginya, tak lama kemudian aku ingin memelukmu lalu berkata, tetap menatapku jangan tatap orang lain, setelah itu aku menjadi enggan melihatmu.


Bagaimana satu orang mampu membuat hidupku menjadi begitu melelahkan? Dan atas semua itu, aku masih tetep sangat mencintainya, tapi takkan pernah kuberitahu lagi, karena pada akhirnya kau selalu mengabaikan apa-apa yang aku katakan.

__ADS_1


__ADS_2