
Hari berjalan, waktu terus bergulir, sementara Izraa masih cuek dengan sikapnya, perusahaan sudah mulai jalan, sudah ada beberapa karyawan, ada bagian keuangan satu orang, bagian publishing 3 orang, bagian publishing mengerjakan pekerjaan gado-gado, tidak hanya untuk bantu publish karya, tapi juga bantu proses editorial sebelum akhirnya difinalisasi oleh Syila.
Maka beberapa pelatihan kepenulisan dilakukan agar divisi publising bisa menguasai kepenulisan dengan baik.
Syila sudah merevisi kontrak kerja dengan para karyawan, memastikan karyawan tahu apa saja jobdesknya dan kemungkinan jobdesk editorial bagi divisi ini, sehingga tak ada penipuan kerja, tak ada pekerjaan yang dipaksakan dilakukan, semua sudah dibicarakan diawal.
Lalu mengenai mesin absensi yang dibicarakan Izra, akhirnya sudah datang hari ini, perlu waktu beberapa hari akhirnya Izraa mendatangkan mesin absensi itu dan langsung diperagakan olehnya di ruangan Syila, bahkan setelah beberapa hari pegawai datang hanya mengisi absensi berdasarkan tanda tangan saja, formnya disediakan jane, hanya agar kelak jika bagian keuangan menghitung gaji, maka tak ada kesalahan berdasarkan absensi.
Ya, bagian keuangan juga menangani pekerjaan payroll, yaitu penghitungan gaji, seharusnya pekerjaan ini dikerjakan oleh divisi HRD, karena bagian payroll ini biasanya bagian dari divisi HRD. Tapi karena perusahaan Syila masih kecil, maka Syila mendelegasikan pekerjaan ini pada bagian keuangan, hal ini juga sudah dibicarakan saat proses penadatanganan kontrak kerja yang disepakati selama tiga bulan di awal atau masa percobaan, orang-orang bilang masa probation, jika masa ini telah selesai, maka pekerjaan selam tiga bulan akan review untuk memutuskan apakah kontrak akan diperpanjang selama satu tahun, atau selesai di masa tiga bulan itu.
Ya, Syila memang menerapkan kontrak kerja berlapis, yaitu pada masa tiga bulan, lalu satu tahun, setelah satu tahun, barulah di review lagi untuk menjadi karyawan tetap, hanya memastikan bahwa orang yang dipekerjakan memang kompeten dan juga bisa dipercaya, karena kejujuran adalah hal utama di kantor yang Syila bangun ini.
“Jadi ... ini mesin absensi yang kau janjikan akan digunakan?” Syila terlihat kecewa.
“Kau kan bilang mau mesin yang bisa dipakai tanpa harus mengganggu sistem di perusahaan ini. Jadi, hanya ini mesin yang bisa digunakan!” Izraa kesal karena kerja kerasnya tak dihargai.
“Mesin absensi ceklok.” Andi tertawa, karena ini adalah mesin absensi yang masih wajar jika digunakan di pabrik-pabrik di pelosok, dengan jumlah karyawan yang banyak dan kartu absensi adalah penanda kehadiran, kelak jika sudah waktunya cutt off atau masa penghitungan gaji, maka kartu itu menjadi acuan.
Tapi ... jika digunakan di perkantoran ibu kota, dengan jumlah karyawan sedikit dan berlokasi di sebuah gedung yang canggih, sunggung mesin ini terlihat seperti mesin klasik hiasan ruangan saja, bukan mesin yang harusnya digunakan.
Perusahaan ini sudah menggunakan mesin absesnsi finger print dan setiap pintu sudah pasang kunci otomastis, maka ketika setiap orang mau masuk, dia hanya perlu menempelkan kartu pegawai yang sudah ada kode unik yang mampu membuka pintu saat kartu itu ditempelkan ke mesinnya, ada di bagian dalam dan luar pintu ada setiap ruangan di perusahaan ini, ruangan yang digunakan tentu saja, tapi untuk lantai Syila memang belum dipasang, kan sebelumnya lantai itu memang kosong, sengaja tidak diberikan pada divisi apapun karena tepat berada di bawah lantai CEO, jadi untuk keamanan saja, lantai itu memang tidak bisa sembarangan digunakan.
“Za, tak adakah mesin lain, misal mesin finger print digital?” Syila bertanya, siapa tahu ada.
“Ada, tapi ....”
__ADS_1
“Tapi apa?” Syila kesal karena kenapa Izraa tak memilih mesin semacam itu, kenapa harus mesin sejadul ini.
“Harus terkoneksi dengan telepon genggam, berarti kau harus menyediakan telepon genggam untuk karyawan yang memegang rekap absensi, lalu telepon genggam itu haruslah cukup mumpuni, belum lagi kau sediakan simcardnya, simcard perlu didaftarkan, terlalu ribet! Ini saja, tidak ribet, hanya sediakan kartu dan aman, sulit melakukan kecurangan dengan mesin ini.”
“Kau aneh, kalau tujuanmu hanya soal kecurangan, tak tahukah kau, bahwa kecurangan itu pasti bisa saja dilakukan, jika mesin digital saja bisa ada lubang kecurangan, apalagi ini, misal, titip absensi, Ndi, tolong dong ceklokin kartu gue, gue bentar lagi nyampe kok, padahal terlambat. Kau tidak memikirkan itu?” Syila memberi contoh karena kesal, Izraa sungguh dangkal pemikirannya.
“Sudahlah, pakai ini saja dulu, apa kau ingin sekalian pakai sistem perusahaan ini?” Izraa kesal karena dikoreksi.
“Yasudah, kita pakai yang ini saja, tidak usah dipermasalahkan, tapi ... ada masalah sebenarnya, Syil.” Andi tiba-tiba berkata, ini jam 10 pagi, hanya ada mereka bertiga di ruangan Syila.
“Masalah apa?” Syila bertanya.
“Anak-anak baru makan di kantin perusahaan kemarin, mereka asal makan, terus kita dapat teguran, kalau mau makan di sana, kita harus pakai voucher makan, ternyata para pegawai di perusahaan ini biasanya dikasih voucher makan setiap bulan untuk makan satu bulan, mungkin sekitar 20 sampai 22 hari kerja, jadi mereka makan sudah sesuai hitungan.
“Mereka makan di sana? Bukankah tidak ada dalam surat perjanjian mengenai makan? makan siang mereka tidak ditanggung perusahaan, kok bisa mereka tiba-tiba makan? semua karyawan kita, yang hanya 4 orang itu?” Syila bertanya.
“Iya, mereka semua. Kok bisa?” Syila lalu berjalan ke arah mereka, 4 orang yang sedang bekerja dengan meja bersekat di ruangan tanpa sekat itu kaget karena Syila langsung memanggil mereka dan menyuruh mereka semua masuk ke ruangan karyawan yang bersekat kaca dan bergaya lebih santai tanpa meja dan kursi kerja, hanya beberapa bangku udara dan bangku serta meja estetik lainnya.
“Kalian kemarin makan di kantin perusahaan Mitra Beton Konstruksi?” Syila menyebut nama perusahaan keluarga Izraa.
“I-iya, Bu. Maaf kami nggak tahu, kami ....”
“Bagaimana kalian tahu letak kantinnya? Ceritakan padaku dari awal mula kalian bisa tahu letak kantin dan makan di sana.” Syila mencoba fokus dulu pada masalah, dia abaikan marahnya sementara Andi dan Izraa ikut masuk, Jane sudah tak selalu di perusahaan Syila, karena dia memang selama ini hanya diperbantukan.
“Kami rencananya kemarin mau makan siang, kami turun lift, karena Ibu Syila dan Pak Andi sedang meeting, yasudah, kami istirahat makan, rencananya kami mau cari tempat makan, biasanya di parkiran paling bawah, setiap gedung besar, itu ada warung makan, kami hendak mencari ke sana.
__ADS_1
Lalu saat kami turun dari lift dan bertanya pada orang yang lewat, dia bilang ada kantin perusahaan, makan di sana saja, sudah tersedia bagi semua pegawai perusahaan, kami bahkan diantar sama orang itu ke sana, kami pikir memang benar, kalau makan ditanggung oleh perusahaan, jadi kami ikut saja.
Orang itu pun ikut mengantri makan dengan kami, lalu kami benar dikasih makan sesuai menu hari itu, kami makan bersama karyawan lain, orang yang mengantar kami juga makan di sana, lalu setelah makan kami hendak kembali lagi ke lantai ini, tapi pas keluar, tiba-tiba ada security yang menghampiri kami dan kami langsung digiring ke sebuah tempat, kantor security sepertinya, ada seorang pria dan juga wanita lain, kami tidak kenal. Mereka bilang kalau kami penyusup, makan tanpa voucher.
Jujur kami tak mengerti, kenapa kok bisa dituduh penyurup, bahkan kami diantar oleh pegawai itu, tapi entah kenapa, saat security itu menghampiri kami, orang itu tak ada, mungkin sudah kembali ke ruangannya, kami lupa bertanya nama orang itu siapa dan dari divisi mana, tapi kalau lihat orangnya lagi, aku pasti akan ingat.” Ucap salah satu pegawai publishing yang bernama Dira itu.
“Kenapa kalian mau pas diajak makan? kan tidak ada perjanjian menanggung makan siang dari perusahaan ini, kenapa kalian ke sana dan tak tanya padaku dulu?” Syila kesal, karena pegawainya ceroboh.
“Kami tahu bu, tak ada pasal soal makan siang pada perjanjian kontrak kerja kami, kami salah karena percaya omongan orang itu.”
“Laki-laki atau perempuan yang menyuruh kalian makan di kantin perusahaan?” Syila bertanya.
“Perempuan bu, dia berpenampilan sangat rapi dan juga sangat cantik.”
Tentu saja bukan Jane, mereka mengenal Jane, karena Jane yang merekrut mereka, siapa perempuan it? Kenapa dia main ajak orang, lalu ... kenapa mereka berempat bisa makan tanpa menyerahkan voucher terlebih dahulu? Karena jika ingin makan, tentu voucher harus diserahkan dulu di bagian depan, baru mereka bisa ambil piring untuk makan.
Tentu saja mereka akan langsung tertangkap, karena jumlah piring sesuai dengan jumlah karyawan yang masuk, akan lebih jika ada karyawan yang tidka masuk, tapi tidak mungkin piring kurang, karena sudah dihitung pas, kantin ini memang khusus untuk karyawan, bukan untuk bos yang datangnya tidak tentu, itu ada restoran VIP tertentu, bahkan makanan Syila, Andi dan Izraa datang dari sana, bukan kantin ini, karena kantin ini sudah punya hitungannya sendiri.
Syila benar-benar berpikir keras.
“Aku takkan marah, tapi kalian tahu ya sekarang, makan siang kalian tidak ditanggung perusahaan, makanya ada uang makan yang aku split di perincian gaji kalian, jika saja kalian tidak masuk kerja, makan uang makan tidak akan dihitung pada saat perhitungan gaji, kalian tahu itu kan, salah kalian adalah tidak berpikir lebih jauh dan langsung mau.
Kali ini aku takkan marah karena ini untuk pertama kalinya, tapi jika besok kalian merasa ragu, kalian harus tanya padaku dulu, sepele apapun itu, kalau aku tak ada, kalian boleh tanya pada Andi atau Izraa? Paham?” empat pegawai itu mengangguk lalu mereka keluar dari ruangan itu meninggalkan para bos di dalam sana.
“Mereka dijebak, mereka bisa makan tanpa voucher karena digiring seseorang, mereka dijebak untuk menyerangku, siapa yang melakukannya?” Syila kesal, sementara Andi dan Izraa jadi khawatir, karena surat peringatan ini membuat malu perusahaan mereka.
__ADS_1