
“Aku mau menemuimu bukan karena aku sudah tak marah lagi.” Alzam dan Izraa ada di sebuah taman rumah sakit, tempat para pasien menghabiskan waktu untuk mendapat sinar matahari, rumah sakit milik keluarga Izraa memang sangat luas.
“Aku tidak akan meminta yang berlebihan.”
“Apa maumu?”
“Saat ini banyak orang yang akan menyerang Syila karena sakitnya itu, kau tahu kan kalau film kami sedang launching, lalu kasus kami pernah diisukan pacaran lalu kami bantah dulu itu, dia akan menjadi target para penggemarku dan Hanum, kau tahu kan, kalau film kami naik dan respon dari semua orang bagus, maka aku dan Hanum akan dijodoh-jodohkan, seperti itu kan negeri ini memandang pekerja seni seperti aku dan Hanum?”
“Ya, lalu kau mau apa sekarang?”
“Aku hanya ingin menjaga Syila, menjaganya agar dia tak terluka.”
“Tidak perlu kau, kami bisa menjaganya, dia bukan anak kecil yang harus ditunggui dan dipantau 24 jam, dia akan merasa jadi orang yang cacat permanen kalau kita melakukan hal itu.” Alzam tidak menangkap maksud Izraa.
“Maksudku bukan itu.”
“Lalu apa maksudmu?” Alzam bertanya dengan tergesa-gesa karena dia tak tahu maksud Izraa apa,
“Aku ingin menikahi adikmu.”
“Kau! Kau bodoh atau apa sih?! tidak akan, tidak akan aku biarkan adikku menikah denganmu.” Alzam hendak pergi meninggalkan Izraa.
“Pada kenyataannya, adikmu hanya butuh aku, bukan pria lain.”
“Kau terlalu arogan mengatakan itu, kau bukan siapa-siapa yang harus kami terima dengan bangga. Mungkin bagi banyak orang kau adalah artis terkenal, tapi untukku dan keluargaku, kau sama sekali bukan apa-apa yang harus ....”
“Kau pikir siapa yang kelak akan menikahi adikmu setulus aku ingin menikahinya? Apakah ada pria yang kelak akan menerima adikmu tanpa maksud apapun?” Izraa mulai mempengarui Alzam.
“Apa maksudmu? Apa yang kau katakan? Kau sedang menghina adikku?” Alzam bertanya.
“Tidak, aku sedang memberitahumu kenyataannya. Ini kenyataannya, hanya aku yang akan menikahinya dengan tulus dan menerima keadaan Syila apa adanya, sedang lelaki lain, mungkin punya agenda saat kelak ingin menikahinya, karena mereka pasti sulit menerima kekurangan Syila sebagai sesuatu yang akan mereka lihat seumur hidup jika menikahi Syila.
Bagi mereka tangan Syila yang tidak berfungsi adalah sesuatu kecacatan, tapi bagiku, tangan Syila adalah yang menyelamatkanku. Maka tangan itu bagiku anugrah!
Coba kau pikir lagi, jika saja kau melihat perempuan lain yang cacat tanpa mengenalnya, tapi ingin menikahinya, apakah kau mampu? Jika selain tanpa alasan bisnis dan lainnya?” Izraa semakin memberi pandangan pada Alzam.
“Kau adalah orang yang penuh omong kosong dan kurang ajar.” Alzam lalu benar-benar pergi dari sana, meninggalkan Izraa begitu saja.
Tapi saat sampai ruang kerjanya, Alzam lalu termenung, dia mulai mengeluarkan air mata, dia dan ayahnya tahu betul bagaimana kondisi Syila, dia benar-benar sakit dan kemungkinan sembuh itu sangatlah kecil, maka apa yang dikatakan Izraa benar, dia bisa saja menjadi orang yang dinikahi dengan tujuan tertentu jika itu adalah lelaki lain.
Maka dia menangis karena adik kecilnya bisa jadi korban penipuan lelaki lain jika kelak memutuskan untuk menikah.
“Zam, kok belum pulang?” Papi yang ada jadwal operasi datang ke ruangan anaknya yang terlihat terkejut, “kamu kenapa?” Papi sadar dengan ekspresi Alzam.
“Tadi aku ketemu sama Izraa.”
“Oh ya? untuk apa?” Papi terkejut juga jadinya.
“Dia bilang ingin ... menikahi Syila.”
“Hah! apa-apaan itu?” Papi kali ini benar-benar sangat amat terkejut, karena Izraa tak bicara sama sekali pada dirinya.
“Jadi dia belum bicara pada papi?”
“Dia tidak, tapi papinya bicara padaku, papinya ingin Syila jadi menantu.”
Oh jadi begitu, papi ke papi dan dia sekarang ke aku, dia bersungguh-sungguh ternyata.”
“Apa Papi akan mengizinkannya?” Alzam bertanya.
“Ini pertaruhannya besar, Syila itu gadis keras kepala. Tidak akan mudah baginya untuk menerima apa yang akan aku paksakan.” Papi menolak memaksa anaknya.
“Tapi Pi, bagaimana jika kelak ada pria yang ingin menikahinya tapi pria jahat yang bermaksud memanfaatkan Syila saja?” Alzam termakan omongan Izraa ternyata.
__ADS_1
“Apa maksudmu? Bicaramu kejauhan.”
“Seperti yang papi tahu, dia patah hati hebat karena Kevin, sekarang jika akhirnya dia bertemu dengan pria lain yang tidak tulus dan hanya akan menyiksanya bagaimana?” Alzam menjadi sangat khawatir.
“Sudah cukup, jangan pernah kau bicara seperti itu di depan adikmu, ingat ini, kalau kau sampai keceplosan, bagaimana sakitnya Syila, mungkin dia akan memutuskan untuk tidak menikah selamanya, kita harus mengusahakan agar dia mau operasi lanjutan, kita harus cari cara menyembuhkan tangannya.”
“Pi, aku takkan pernah berhenti belajar untuk memastikan adikku bisa sembuh dan aku akan melakukan apapun agar dia bisa kembali percaya diri dan penuh karya seperti sebelumnya, tapi aku takut, benar-benar takut, jika saja Syila malah jadi sebaliknya, kita harus menjaga dengan baik siapa saja yang sedang dekat dengannya, aku takkan pernah membiarkan dia bertemu dengan lelaki brengsek.”
“Zam, jangan terlalu posesif, adikmu takkan suka itu, dia akan tersiksa dnegan apa yang akan kau lakukan.”
“Pi, dia akan tersiksa jika saja kita melewatkan kesempatan untuk menjaganya dari pria brengsek.”
“Sudahlah, pulang sana, kau kelelahan.”
Alzam nurut dan dia akhirnya pulang ke rumah dan ini sudah larut.
...
“Pagi, sarapan yuk.” Maminya Izraa meminta anak-anaknya untuk sarapan, sedang Sofia terlihat sangat senang, pemandangan yang jarang terlihat, anggota keluarga yang lengkap.
“Kakak akan tinggal di sini lagi kan?” Sofia bertanya.
“Tidak, hanya mampir untuk sarapan.”
“Senangnya.” Sofia memeluk tangan kakaknya, karena Izraa duduk di samping Sofia.
“Jadi, kapan tanggal yang kau inginkan untuk lamaran?” Papi bertanya pada Izraa.
“Tiga bulan lagi, lalu pernikahannya satu bulan setelah lamaran.”
“Kau yakin keluarga Syila akan setuju?”
“Aku akan usahakan.”
“Kenapa memang?” Izraa bertanya pada adiknya.
“Karena dia bisa membuatmu tergila-gila.”
“Ya, mami juga takjub pada kemampuan Syila membuat kakakmu tunduk.” Mami menyuap roti panggangnya tanpa isian apapun, mami takut gemuk.
“Setelah menikah, kau harus tinggal di sini.” Papi melanjutkan obrolan lagi.
“Itu juga akan aku usahakan.”
“Harus, karena aku tak mau kau berkeliaran di luar sana, aku akan malu pada papinya Syila, jika anaknya tinggal di apartemen sempitmu itu.” Papi menyepelekan apartemen 2 kamar milik Izraa, padahal apartemen itu adalah salah satu apartemen mewah di pusat kota itu.
Karena buat papi, rumah layak adalah yang besar, dengan taman yang luas dan halaman rumah yang sama luasnya dengan luas rumah, tak heran, untuk sampai rumahnya dari gerbang, cukup jauh.
“Aku akan usahakan untuk tinggal di sini.”
“Wah, aku tak sabar untuk bisa segera menyambut anggota baru di rumah ini, aku ....”
“Jangan terlalu berharap banyak ya, dia bukan wanita yang bisa kau ajak ngobrol dengan seenaknya, mentalnya saat ini sedang tak baik, makanya jangan banyak berharap, jika kelak kakak iparmu bukan orang orang yang asik diajak ngobrol.”
“Aku paham, sebagai orang cacat, kami seharusnya terkoneksi.” Lelucon gelap dari Sofia.
Izraa terdiam karena baru ingat, adiknya juga memiliki kondisi terbatas seperti Syila.
“Aku akan minta semua orang bersiap untuk pernikahanmu, bagaimana dengan Alzam? Dia yang paling sulit dibujuk, masih muda dan tidak punya kepentingan apapun membuat dia tak punya kelemahan untuk dibujuk.”
“Dia punya kelemahan.”
“Apa?” Papi bertanya.
__ADS_1
“Syila, kelemahannya adalah Syila, dia bahka nmemutuskan Hanum saat tahu Hanum mengintimidasi Syila, bagi Alzam, mungkin Syila adalah nomor satunya, maka aku menyerang bagian itu. Aku sudah memberinya pandangan agar dia bisa melihat dari sisi lain yang aku maksudkan.”
“Alzam kakaknya Syila sama sepertimu ya, Kak, adik nomor 1, kau juga begitu.” Sofia tertawa dan juga sedih, mengingat bagaimana kakinya diamputasi dan Izraa pergi dari rumah karena marah.
“Ya, bagiku, kau nomor 1.” Izraa memegang kepala adiknya.
“Kalau dibanding sama Syila?”
“Tetap kau nomor 1, Syila itu nomor ... 0nya.”
“Kak!” Sofia kesal karena Syila menang, tapi dia hanya bercanda, karena Sofia Arawinda ini juga punya kekasih, baginya, kekasihnya memang sangat penting, apakah kalian teringat sesuatu saat aku menyebut nama panjang Sofia?
...
“Kau masih tak ingin menemui kakakmu, Andi?” Mami bertanya pada Syila yang masih mengurung diri di kamar, mami masuk dengan kunci cadangan.
“Aku tak ingin ketemu siapapun.”
“Syila, kau harus menerima apapun takdir Tuhan, kau harus kuat Nak, jangan jadi seperti ini.”
“Apa orang-orang yang cacat seperti aku tak bisa hidup tenang, Mi?”
“Kok gitu?”
“Kami selalu dipaksa menerima keadaan oleh orang normal seperti kalian, tanpa kalian tahu, betapa tersiksanya kami karena kecacatan ini.”
“Nak! Nggak ada kami maksa, tapi kami mencoba agar kau lebih tenang menjalani hidup.”
“Tenang? Bagaimana caranya kami tenang kalau kami diusik terus? Aku tak ingin ketemu Andi atau siapapun, aku hanya ingin di kamar, lagian, aku bisa apa di luar sana?”
“Syila! Mami nggak suka ya, kamu merendahkan dirimu sendiri, kamu adalah anak hebat yang selalu bikin mami bangga.”
“Bagi mami aku tetap membanggakan walau begini!” Syila berdiri dan dia tak bisa seimbangkan tubuhnya, karena tidak bisa berpegangan dengan tangan kanan.
“Nak, jangan begini.”
“Mi, lihat, aku bangun sendiri aja kesusahan, gimana di luar sana semua orang melihat Syila kelak?”
“Jangan pernah peduli dengan omongan orang yang nggak penting.”
“Nggak penting memang, tapi pandangan mereka yang merendahkan akan selalu menggangguku.”
“Syila, Mami ....”
“Bisakah mami lebih paham keinginan orang cacat ini?”
“Syila!”
“AKU INGIN SENDIRI!” Syila berteriak, hal yang tidak pernah dia lakukan sama sekali, dia sudah sangat depresi, dia jadi menyerang semua orang yang bermaksud menolongnya, Syila benar-benar kalut dengan keadaannya.
“Syila mami selalu ada di luar pintu itu ya, apapun yang kamu katakan dan lakukan saat ini, semua masih dalam kendali emosi dan rasa kecewa, kau hanya sedang depresi, ini bukan kau yang sebenarnya, anak mami itu anak baik dan ....”
“KELUAR!!!”
Syila semakin meninggikan suara, sementara mami akhirnya keluar, dia melihat Papi ada di sana, sepertinya dia menguping.
“Jangan marah pada anakmu, karena dia sedang tidak baik mentalnya.
“Tapi dia tak boleh membentakmu seperti itu.”
“Kita harus banyak mengertinya, karena kalau bukan kita yang mengerti dia, lalu siapa lagi?” Mami menarik papi agar tak menegur Syila, sementara Syila masih terus menangis di dalam sana.
Tak ada yang tahu, betapa depresinya dia tak bisa menulis sama sekali selama berbulan-bulan ini.
__ADS_1