Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 47 : Pelaku 2


__ADS_3

Izraa keluar dari rumah sakit, Syila tetap berada di sampingnya hingga mengurus kepulangan, hubungan mereka yang hanya pura-pura terlihat semakin seperti hubungan yang serius. Karena hanya kekasih yang menemani seorang lelaki di rumah sakit tanpa pulang. Andi mengeluh karena harus membawa semua kebutuhan harian Syila ke rumah sakit.


"Tidak bisa!" Izraa menolak.


"Tapi terlalu bahaya jika kau sendirian di apartemenmu!" Ibunya berkata.


"Bukan urusanmu!"


"Za ...." Syila berkata dengan lembut.


"Syil, jangan ikut campur."


Ibunya Izraa masih terus membujuk anaknya untuk pulang ke rumah, dia datang dengan beberapa orang untuk membantu kepulangan Izraa.


"Nggak, gini deh, waktu aku celaka kemarin, kamu juga kan bilang, bahaya kalau aku masih sendirian di apartemen, sekarang kondisinya berbeda, kami semua adalah orang-orang yang khawatir seperti kamu kemarin padaku."


"Tidak, itu berbeda. Karena aku lelaki dan kau wanita. Jadi tentu saja itu berbeda."


"Gimana kalau Izraa tinggal di rumah Om aja?" Tiba-tiba papinya Syila masuk dan langsung berkata seperti itu.


"Pap, jangan aneh-aneh deh, nggak bisa lah, nanti urus izin ke RT dan RW gimana?" Syila menolak.


"Kamu pilih mana? Izraa tinggal sendirian di apartemennya atau kamu izinkan dia untuk tinggal bersama kita?" papinya Syila berkata.


Maminya Izraa memandang papi dengan tatapan menyelidik, papi cuma mengangguk, tanda memang ada rencana licik yang dia siapkan. Tentu hanya untuk melancarkan perjodohan ini.


"Aku mau kalau tinggal di rumahmu." Izraa berkata dengan cepat, maminya Izraa lega, karena saat ini prioritasnay adalah memastikan bahwa anaknya tetap aman. Bukan di mana dia tinggal.


Walau dia sedih, karena kunjungannya yang hampir setiap hari, harus selalu ditolak hingga Syila yang akhirnya membawa makanan bawaan Mami Izraa dan memaksa Izraa memakannya.


"Za!" Syila kesal karena ini memojokkan dirinya.


"Iyalah Syil, nanti gue bantu Papi urusin ke RT sama RW, lagian kan dia tinggalnya bareng keluarga kalian, lu nggak berdua." Andi ikut mengompori, dibanding dibilang setuju dengan hubungan ini, dia lebih setuju untuk segera mendapat jalan keluar, dia lelah dengan masalah dua pasangan aneh ini.


"Kalau ada masalah, ya kita tinggal adakan tunangan aja dulu, maksudnya biar ...."


'Itu berlebihan, Pi!" Syila protes, kalau tunangan itu namanya menjebak Syila, hubungan mereka kan cuma pura-pura.


"Pi, nggak perlu tunangan, nanti aku aturin biar nggak jadi masalah ya, udah sepakat semua, Izraa tinggal bareng Syila, papinya Syila dan Izraa sepakat juga, kita sudah menemukan jalan tengah, administrasi juga sudah beres, karena ini rumah sakit pribadi, milik keluarga.

__ADS_1


Sekarang mari kita pulang, saya lelah kalau harus berdebat terus, ini keluarga benar-benar unik ya." Andi lalu membawakan tas Syila, sedang tas keperluan Izraa dibawa oleh orang-orangnya mami, yang tidak terlalu banyak bicara, karena memang Izraa bukan orang yang bisa diajak diskusi, lain hal kalau Syila yang bicara.


Andi mengendarai mobil Izraa yang lebih besar untuk ke rumah Syila, ada Syila, Izraa dan Andi si pengemudi. Syila duduk di samping Andi, sedang Izraa di belakang. Maminya Izraa mengikuti dari belakang, katanya sekalian meminta izin untuk ke rumah Syila.


begitu sampai rumah, Syila memapah Izraa untuk turun.


"Izraa sini langsung ke meja makan dulu, Mami udah siapin masakan kesukaan kamu." Maminya Syila ternyata menyambut di luar, sekarang kedua mami itu terlihat sumringah, seolah mengantar anak dan mantu ke rumah baru.


"Kok tahu masakan kesukaan Izraa?" Syila bertanya menyelidik, dengan wajah curiga. Mereka sudah ada di meja makan.


"Tanya ke maminya Izraa." Maminya menjawab Syila tapi tetap memaksa Izraa untuk duduk di bangku meja makan. Syila ikut duduk di meja makan. Mami Izraa dan Andi juga ikutan.


"Makan yang banyak ya Za, kamarmu sudah disiapkan, sudah diganti kasur dan tempat tidurnya, Mami juga sudah kasih lampu yang redup, kamu nggak suka lampu yang terlalu terang bukan?" Maminya Syila membuat Syila semakin menatap dengan tajam.


"Kok bisa?" Syila makin curiga


"Acila makan ya, udah jangan ganggu Izraa." Maminya memotong perkataan Syila yang mencurigakan.


Bagaimana mungkin kasur dan tempat tidur dibeli dalam waktu satu jam, yaitu perjalanan dari rumah sakit ke rumah Syila, yang adalah waktu di mana kesepakatan Izraa akan tinggal baru saja dibuat. INI PASTI KONSPIRASI TINGKAT TINGGI! itu yang ada di benak Syila.


Syila makin yakin bahwa ini sudah direncanakan sebelumnya. Pasti sudah ada kesepakatan di belakang Izraa dan Syila. Kenapa semuanya terasa sangat mulus, tempat tidur, kasur, kamar, makanan kesukaan Izraa.


"Mam, sejak kapan kalian merencanakan ini semua?" Syila bertanya.


"Tempat tidur itu, kasur itu, kamar yang rapi, makanan yang sudah siap, padahal kesepakatan Izraa tinggal di sini baru disetujui satu jam yang lalu loh." Syila menatap ibunya dengan tajam.


"Ya kan aku bilang apa? sudah aku pulang saja deh ke apartemen." Izraa terlihat kesal karena Syila seperti tidak rela dengan rencana tinggal Izraa di rumahnya.


"Bu-bukan itu, maksudku, aku nggak masalah kau tinggal di sini, di apartemen bahaya, kalau aku sering ke sana juga nggak bagus. Kamu nggak apa-apa tinggal di sini sementara waktu, aku hanya ...."


"Jadi boleh atau tidak?" Izraa bertanya dengan lembut dan tegas dalam satu waktu. Kedua mami saling menatap, karena paham, Izraa masuk ke dalam rencana ini.


"Boleh." Syila sudah terjepit, dia tak bisa kabur lagi.


"Yaudah, jangan banyak tanya lagi." Maminya Syila akhirnya menutup percakapan.


Syila tidak jadi makan dan masuk ke kamar.


"Jadi sebenarnya ini sudah dibicarakan, kan Tante?" Izraa bertanya, dia masih menikmati makan siangnya. Mami juga sama, menikmati makan siang di meja itu, Syila pamit untuk membersihkan badan dan mengganti baju, dia juga tak selera makan, walau tidak sopan meninggalkan tamu di meja makan, tapi semua orang paham, Syila sedang kesal.

__ADS_1


"Mami aja manggilnya. Iya sudah, papi dan mamimu bilang kalau kamu pasti akan menolak untuk tinggal bersama mereka, ya kan Jeng? makanya akhirnya kami sepakat untuk memaksamu tinggal bersama kami dulu, izin juga sudah diatur Andi. Jadi sebenarnya semuanya sudah diatur ... sejak kau masuk rumah sakit 2 hari itu. Terima kasih karena tadi kamu sudah membantuku menenangkan Syila."


"Ya, dia memang perempuan yang unik." Izraa tidak marah, karena dia merasa kesempatan ini bagus, dia bisa meminum obatnya setiap hari, menikmati setiap inci keindahan dari hasrat dunia yang Tuhan berikan.


Calon menantu dan mertua itu terlihat akrab dan saling mengerti kebutuhan masing-masing. Maminya Izraa pamit pulang, setelah memberi banyak wejangan pada Izraa yang berusaha tetap sopan di depan maminya Syila, walau masih ada rasa enggan berbicara dengan wanita itu. Tapi di depan calon mertua harus tetap menjaga sikap.


[Ndi, elu pasti tahu kan, kalian semua udah rencanain Izraa tinggal di sini kan?] Syila menelpon Andi yang saat ini berada di luar, alasannya mau urus izin RT dan RW untuk izin tinggal Izraa, padahal dia akan pulang ke rumah. Karena izin itu sudah diatur sebelum Izraa dinyatakan bisa pulang dari rumah sakit.


[Lu ngomong apa sih, Cil?] Andi berusaha mencari alasan dengan mengulur waktu.


[Nggak usah pake ngeles ya, Ndi.]


[Cil, gue nyetir nih. Dah dulu ya.] Andi takut, makanya dia langsung menutup telepon. Untuk sementara dia aman, dengan mematikan telepon genggamnya.


...


Malam tiba, semua keluarga berkumpul di ruang televisi, Izraa masih di kamarnya, setelah makan malam dia langsung masuk kamar. Mungkin butuh untuk istirahat.


"Aku yakin kalian sudah merencanakan ini bukan?" Ashila masih penasaran, di antara semua anggota keluarga yang menikmati waktu senja bersama, Syila masih memburu dengan pertanyaan.


"Apa sih Cil!" kakaknya bertanya, papi dan maminya memelototi kakaknya Ashila karena bertanya lebih jauh.


"Mana mungkin semua persiapan begitu matang hanya dalam satu jam sebelum Izraa sampai di rumah ini, kalau memang tidak direncanakan jauh-jauh hari!"


"Oh soal itu, bisa aja lagi, selama ada uang mah. Persiapan apa sih?" Kakaknya Syila ternyata memang cerdas dan cepat paham.


"Kasur, tempat tidur dan kamar?"


"Kamar? udah bersih sejak lama, mami kan paling benci kamar kotor, kasur dan tempat tidur? bisa ditelpon langsung anter, tapi nggak banyak pilihan seadanya di toko, terus apa masalahnya?" Kakaknya Ashila mencoba untuk menyelamatkan keluarganya dari amukan gadis cilik dalam tubuh dewasa yang masih gampang ditipu keluarga itu.


"Baiklah, tapi kalau sampai aku temukan ini semua memang direncanakan, aku akan pakai pasal Pasal 340 KUHP, ancamannya nggak main-main loh, hukuman mati!" Syila lalu membuat gerakan melingkar pada lehernya. Dia mengancam seluruh keluarga.


"Salah! itu untuk pasal pembunuhan berencana. Kau tak punya landasan, di sini tidak ada yang terbunuh apalagi mati, jadi tidak akan bisa." Kakaknya memang pintar, jadi tidak mudah ditakuti.


"Ada yang terbunuh, harga diri dan prinsipku!" Syila lalu pergi ke kamar karena kesal.


_______________________________


Catatan Penulis :

__ADS_1


Aku melihat dari berbagai sisi tentang seseorang yang mencintai, jika kau mencintai tapi tak dicintai, maka tidak ada yang salah. Yang salah adalah, perasaan yang ditempatkan di tempat yang tidak tepat.


Maka kau hanya perlu mengambil lagi hatimu, simpan untukmu sendiri.


__ADS_2