
Mereka terus diarahkan pada lantai yang memang diperuntukkan untuk perusahaan yang akan mereka bangun, setelah melihat semuanya, lalu saatnya makan siang tiba.
“Sudah disiapkan makan siang oleh bapak dan ibu, saya tunjukkan jalannya,” Pegawai lelaki itu akhirnya mengarahkan Syila, Andi dan Izraa ke restoran di gedung itu, Jane ikut karena memang tugasnya menemani mereka.
Restoran sepi.
“Sepi sekali, ini sudah jam makan siang kan?” Syila bertanya karena bingung, jam makan siang kok sepi.
“Ini restoran VIP, Bu.” Jane berkata dengan lembut, tidak seperti sebelumnya mengabaikan Syila.
“Oh, VIP tidak ada yang makan?” Syila bertanya lagi, mereka menuju meja yang sudah dipersiapkan, Izraa menggeserkan bangku untuk Syila agar dia bisa duduk, Jane melihatnya dengan iri tapi tak diperlihatkan.
Syila duduk dan tetap menunggu jawaban, semua duduk termasuk Jane dan pegawai lelaki yang menemani mereka.
“Terkadang ada, terkadang tidak, biasanya kalau ada untuk menjamu tamu VIP saja, sisanya VIP jarang makan di sini, karena terlalu sibuk, biasanya VIP makan di ruangan jika memang ingin makan.” Jane akhirnya menjawab.
“Oh begitu, baiklah, makanan apa yang enak di sini?” Syila bertanya lagi.
“Suka masakan apa Bu? Western? Asia?”
“Hmm, aku tidak terlalu pemilih, coba tawarkan padaku?” Syila bertanya kembali.
“Jane, tidak perlu, siapkan kentang balado dan juga ayam bakar saja, nasinya buat yang sangat pulen, karena Syila tidak suka nasi yang keras, kau tahu, gaya nasi pada restoran Jepang, tidak perlu yang aneh-aneh, dia hanya selalu bingung harus makan apa jika ditanya.”
Andi tertawa, karena itu benar sekali. Jane makin iri mendengarnya, maka dia makin sadar, siapa perempuan berjilbab sederhana ini, wanita yang dia sebelumnya kira hanya pegawai Izraa saja, karena tampilannya tidak menunjukkan kekayaan yang sama dengan Izraa, bajunya bukan baju branded, bahkan pakaian sekertaris umum itu terlihat bermerk sekali. Sedang Syila, hanya berjilbab sederhana.
“Baik Pak, akan saya mintakan chef untuk dibuatkan.” Jane lalu memanggil pelayan dan memintakan semua makanan yang mereka inginkan, karena di restoran VIP ini memang tidak ada menu, VIP memang berbeda, karena VIP akan minta apa yang mereka ingin makan dan chef akan buatkan. Jadi walau sepi, sekalinya ada yang order makanan, maka itu akan sangat sulit.
Karena semua VIP yang ada memang makannya diatur di sini, di restoran ini, walau tak makan di restoran ini tapi makan di ruang kerjanya.
__ADS_1
Makanan sudah jadi dan dihidangkan tepat di hadapan mereka.
Syila terdiam karena teringat tentang tangan kanannya, dia memang selama ini makan dengan tangan kiri, tapi pasti dilihat aneh karena dia memakai jilbab.
“Silahkan dimakan, Bu.” Jane tanpa maksud apapun hanya menawarkan saja, Syila terdiam menatap nasinya.
“Kami akan bahas masalah pekerjaan, bisakah kalian meninggalkan kami bertiga saja?” Izraa tiba-tiba bicara seperti itu, membuat Jane terkejut karena itu sebenarnya tak sopan.
Pegawai lelaki memanggil pelayan, meminta mereka juga menjauh dan tak terlihat menjaga pelayan dengan jarak aman agar pembicaraan bisnis tak terdengar tapi masih bisa melayani jika dipanggil, lalu dia meminta pelayan membantu Jane dan dirinya membawa piring keluar dari restoran menuju restoran pegawai.
Sekarang restoran sepi hanya mereka bertiga saja, Izraa memastikan tak ada yang lihat lalu dia mulai bicara.
“Kau bisa makan dengan tenang sekarang.”
“Terima kasih, tapi seharusnya kita tak memperlakukan mereka seperti itu, itu tidak sopan, tapi ini salahku, seharusnya aku yang menolak makan di sini sejak awal.”
“Tidak perlu merasa bersalah, karena mereka pegawai, mereka tetap bisa makan dengan santai, siapa yang suka makan dengan bos, pasti tidak nyaman dan tak leluasa, mereka takkan tersinggung.” Izraa mencoba menenangkan Syila.
“Tapi sikapku masih mening dibanding kau yang jelas menunjukkan posisimu padanya, menjatuhkan dia tepat dihadapan semua orang.”
“Jane maksudmu? Itu sikap balasan karena dia tak menganggapku sejak awal, keluar dari lift saja dia langsung mendekatimu dan membelakangiku
"Ya, aku percaya." Izraa tak menganggap serius keberatan Syila.
“Apa kau yang meminta ibumu untuk melakukan ini semua untukku?”
“Kau punya tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi ya.” Izraa berusaha menampiknya.
“Bukan kepercayaan diri, tapi lebih kepada kecurigaan.”
__ADS_1
“Kalau curiga, kenap diterima?”
“Tawarannya bagus, makanya aku terima.” Syila masih memakai tangan kiri untuk makan, tentu saja dalam ajaran agamanya hal ini tidak baik, tapi bukankah dia terpaksa melakukannya, karena kalau dia tak melakukannya, bisa jadi dia tak makan. Bahkan orang yang tidak memiliki kedua tangan sejak lahir, harus terpaksa makan dengan kakinya, ini namanya insting bertahan hidup dan kukira Tuhan Maha Kasih dan Sayang sehingga bisa jadi tidak akan menjadi hitungan keburukan jika melakukan hal ini.
“Aku tidak meminta ibuku melakukannya, dia yang menawariku untuk bekerja sama denganmu, aku kira ini juga tawaran bagus untukku.”
“Bukannya kau sangat suka bidang seni, kau tidak terlalu suka bisnis, kenapa kau tiba-tiba merasa tertarik?” Syila bertanya, mereka masih sibuk makan sembari mengobrol.
“Aku tidak pernah bilang tidak tertarik dengan bisnis. Kau berasumsi karena aku tidak ikut terjun dalam bisnis mereka, artinya aku tidak suka berbisnis, apa itu kesimpulan yang kau ambil dari mengenalku selama ini? Apa kau yakin benar-benar mengenalku? Bertemu saja tidak intens, setelah syuting kita bahkan lost contact, apakah waktu kurang dari satu tahun itu bisa membuatmu mengenalku?” Izraa bertanya dan menghentikan makannya.
“Tentu saja waktu satu tahun tak cukup, tapi aku kira asumsiku tidak sepenuhnya salah, karena kalau kau begitu sukanya pada bisnis, seharusnya kau tidak pergi dan ….” Syila baru sadar sesuatu.
“Aku bukannya tidak suka bisnis, aku hanya tidak suka mereka, kau pikir jika mereka malam itu pulang untuk bertemu dengan Sofia, aku akan pergi dari rumah dan masih tetep berkecimpung di dunia seni? Jadi bukan bisnisnya musuhku, tapi ….”
“Pemiliknya.” hal yang membuat Syila tak melanjutkan perkataannya barusan, karena sadar akan hal ini.
“Ya, karena bisnisnya, aku tetap suka, asal kau tahu, aku ini salah satu pemilik cafe langgananmu, aku juga punya beberepa restoran lain yang belum kau ketahui, kau pikir honor artisku bisa membuatku hidup nyaman seperti ini, apartemenku saja biaya perawatan pertiga bulannya bisa mencapai 30 persen honorku, jadi bagaimana mungkin aku bisa punya banyak asset dan tabungan hanya dari honor keartisan, ditambah aku juga baru saja kembali setelah vakum beberapa waktu lalu.”
“Hmm, baiklah, aku paham.”
“Jadi, bisakah kita melanjutkan bisnis ini tanpa saling curiga dan menjadi … partner?”
“Ya, aku kira bisa, asal taka da usulan lain yang lebih intim.”
“Maksudnya?”
“Ya, banyak hal, sudahlah, aku ingin menikmati makanku dulu, bisa kan?” Syila tak ingin menyampaikan kecurigaannya tentang pernikahan, tapi dia hanya ingin memberitahu Izraa, bahwa dia masih tetap waspada dengan rencana bisnis ini.
Walau sebenarnya Izraa menyembunyikan seringainya, dia tahu kalau Syila sudah masuk perangkap, bak gadis berkerudung merah yang diintai oleh srigala, Syila masuk ke dalam jebakan, bahkan Izraa sudah buat timeline untuk rencananya dan dia berharap semua yang dia rencanakan akan tepat waktu, termasuk kemungkinan dia akan menikah.
__ADS_1
Satu hal yang tak Syila dan Izraa lihat, bahwa ada satu pelayan yang mengintip melihat mereka makan, dalam hatinya bertanya, kenapa Syila berjilbab tapi makan dengan tangan kiri.