Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 111 : Kevin


__ADS_3

“Aku menunda meetingku karena sekertarisku bilang kau ingin bertemu dan aku pikir ini penting karena kau tidak pernah meminta bertemu sebelumnya.” Papinya Sofia bertanya.


“Ya, aku kemarin dipanggil untuk diperiksa oleh Polisi, mereka bilang keluarga dari pejabat itu menuntut malpraktek yang banyak saksi katakan, akulah yang melakukan operasi itu, tapi bukan aku yang melakukannya, operasi itu Alzam yang lakukan.”


“Tapi yang aku dengar dari para saksi, kau ada di ruang operasi itu bersama Alzam dan juga perawat, perawat yang ada di sana juga bilang kau yang mengoperasinya.”


“Tapi bukan aku yang melakukannya. Bisakah aku meminta supaya CCTV di ruang operasi itu dibuka dan diberikan kepada yang berwajib, karena aku butuh untuk membela diriku.”


“Tidak bisa, karena tidak ada, Kevin. Kau tahu kalau kita melayani orang-orang penting, permintaan supaya CCTV dimatikan pasti kita lakukan, apalagi permintaan operasi ini juga ilegal, jadi tentu saja tidak ada CCTV untuk melindungi kedua belah pihak.”


“Karir kedokteranku akan hancur jika kasus ini masuk sampai sidang, tidak aka nada pasien yang percaya lagi padaku kalau sampai hal ini diketahui media, bahkan rumah sakitmu akan diperiksa karena hal ini.”


“Rumah sakit akan diperiksa, tapi asal kau tahu, kalau aku adalah seorang pebinis yang sudah sangat lama, kami punya tim kuasa hukum yang biasa menangani hal ini.”


“Maka bantu aku, bantu aku dengan tim kuasa hukum rumah sakit ini Pak, aku tidak mungkin membela diriku dengan pengacara yang biasa saja, harus pengacara yang sangat handal, mereka menggunakan operasi ilegal sebagai bagian dari bukti dan menghapus kenyataan bahwa operasi ilegal adalah permintaan mereka.”


“Kevin, aku bisa saja membantumu, tapi apa untungnya buatku?” Ayahnya Sofia bertanya.


“Kau ingin apa dariku?” Seolah tak paham, Kevin bertanya.


“Tidak ada satupun di dunia ini tak terselesaikan jika dibantu dengan uang. Maka, semuanya akan mudah jika kau punya uang yang banyak, aku bukan orang yang langsung kaya raya sejak lahir, bahkan ayahku hanya seorang Dokter di klinik kecil, aku bukanlah seorang Dokter tapi aku sangat ingin mendirikan rumah sakit untuk memuaskan mimpi ayahku yang tidak pernah terwujud. Aku menjalani hidup cukup berat sebelum ini dan aku mengatakan bahwa uang bisa menyelesaikan segalanya karena aku tahu, aku tahu dengan benar bahwa, yang kau butuhkan saat ini hanyalah uang.


Jika kau punya prinsip, maka kau juga harus tetap punya uang untuk memaksimalkan prinsipmu. Sebagai orang yang tahu kau orang yang sangat hebat, aku akan membantumu tanpa imbalan, aku akan membantumu menyelesaikan kasus, kau bisa memperjuangkan kasusmu agar tak naik sidang menggunakan jasa dari kuasa hukum rumah sakit ini tanpa bayaran sepeser pun, itu hanya karena aku suka padamu dan jika Winda tahu kau dalam masalah, dia juga pasti sedih, maka sekarang aku hanya ingin membantumu tanpa pamrih karena kau datang padaku.”


“Pak … terima kasih.” Lalu Kevin pamit untuk bertemu dengan sumber masalahnya.

__ADS_1


Kevin melihat Alzam sedang duduk termenung di sebuah taman, Kevin melihatnya dari jauh, di lantai atas rumah sakit itu, dia lalu menelpon Alzam dan memintanya menunggu di situ, karena Kevin ingin bicara.


Mereka berdua lalu bertemu di taman itu, memilih tempat yang sepi.


“Jadi, kenapa mereka semua kompak menuduhku yang mengoperasi, jika saja CCTV ada, semua orang akan tahu kalau kau yang mengoperasinya.”


“Kevin, sekolahlah dulu, lanjutkan spesialisasimu, aku tahu kau begitu ingin jadi Dokter bedah tapi tak kesampaian karena biaya, kau sudah membuat nyawa orang terancam!”


“Bukan aku yang mengoperasinya! Tapi kau!” Kevin berteriak, dia memang tidak terlalu suka Alzam sejak dia masuk rumah sakit ini, Alzam sangatlah bersinar di mata para Dokter senior, sebagai Dokter bedah muda, tapi Kevin, dia hanya Dokter umum yang sangat pintar, tapi apa daya dia tak pernah bisa melanjutkan kuliah karena biaya, waktu sudah dia ambil untuk bekerja, sedang kalau tak bekerja dan memilih fokus kuliah dia tak punya orang yang bisa biayai, maka dari itu, ini memang soal biaya.


“Kita berdua sama-sama tahu apa yang terjadi sebenarnya di meja operasi itu, Kevin, kau pikir para perawat itu sengaja mengadu karena tak suka padamu, mereka hanya mengatakan hal yang sebenarnya, Kevin kau bisa membunuh orang karena ambisimu yang selalu gegabah dan merasa mampu menolong padahal kau tidak mampu.”


“Kau yang tidak mampu, kau terlalu lamban! Aku pastikan aku akan menang kali ini, aku takkan biarkan siapapun menginjakku, apalagi anak ingusan sepertimu, kau bisa menjadi Dokter bedah hanya karena orang tuamu yang kaya. Kau hanya anak manja!”


Kevin lalu akhirnya pergi meninggalkan taman itu meninggalkan Alzam yang sendirian, dia sedang merenungi pasien yang koma itu, walau dia tak kena masalah, tapi tetap saja merasa bersalah, Kevin bukan lelaki baik bagi Alzam, dia sangat … licik, idealisnya untuk membantu sebanyak mungkin pasien, cenderung menghalalkan segala cara, hingga akhirnya gegabah.



“Hanya ingin tahu, apakah kalian sejauh itu hingga mungkin memutuskan untuk menikah?”


“Wah, kalau menikah mungkin masih jauh, tapi jelas, jika menikah, aku ingin dengan Kevin.”


“Apakah kau yakin … apa dia orang yang cukup baik?” Alzam bertanya.


“Tentu saja, aku menggunakan instingku yang baik dalam menilai seseorang, apalagi calon teman hidup.”

__ADS_1


“Tapi Cil, bukankah cinta bisa menumpulkan insting? Makanya ada istilah, cinta buta.”


“Kak, ada apa sih? Kok tiba-tiba jadi serius gini? Apa kau ada masalah dengan Kevin?” Syila bertanya. Dia tak tahu karena memang masalah rumah sakit tidak pernah dibawa ke rumah oleh papi dan Alzam.


“Tidak, aku tidak pernah ada masalah dengan Kevin, aku hanya memastikan saja kalau kau bahagia.”


“Aku tidak pernah menemukan lelaki yang begitu cocok denganku, selain Kevin, dia orang yang terasa tepat, Kak. Walau dia banyak melewatkan waktu bersama kami atau ingkar janji, tapi aku tahu, dia melakukan itu karena dedikasinya yang tinggi dalam pekerjaan, maka dari itu, aku kagum padanya dan hanya dia yang bertahan padaku saat aku sibuk menulis dan kami sedang bersama, dia tak rewel sama sekali, menungguku selesai, kami nyaman jika berdua saja dan berdiam, tak bicara dan repot cari obrolan, karena kami diam saja saling nyaman, aku merasa akan mampu menjalani sisa hidup bersama lelaki itu.”


“Baiklah, aku tenang kalau begitu, aku berharap kau selalu bahagia dengan pilihanmu, Syil.”


“Ya, tentu saja aku akan berusaha bahagia agar kakakku ini bisa tenang.”


Alzam tersenyum dan dalam hatinya dia semakin khawatir, tak mungkin bisa mengatakan yang sebenarnya pada adik yang sedang jatuh cinta, itu bisa membuatnya patah hati.



“Hei sayang, aku bawa sarapan.” Lagi, Syila membawa sarapan pada kekasihnya, dia datang tanpa menunggu pesan singkatnya dibalas, akhir-akhir ini Kevin hampir tidak pernah membalas pesan dan teleponnya juga tidak diangkat, maka setelah beberapa hari Syila memutuskan untuk mendatanginya saja, membawa sarapan.


“Syila, maaf aku tidak bisa, kau harus menangani beberapa pasien, kau tidak bisa stay di ruanganku untuk sarapan.”


“Oh iya sayang, tidak apa, aku taruh sarapan untukmu di sini ya. Aku bisa sarapan di kantor penerbitku nanti.”


“Tidak perlu, aku sudah sarapan tadi, aku takut makanan ini nanti basi karena mungkin aku juga akan melewatkan makan siangku.” Kevin setelah mengatakan itu lalu pergi meninggalkan Syila sendirian yang sedikit kecewa, Kevin terasa … dingin.


Walau dulu Kevin juga sangat sibuk, tapi dia tak dingin seperti ini, bahkan Kevin tak memanggilnya sayang dan pergi begitu saja.

__ADS_1


Syila mencoba menghibur diri dengan mengatakan bahwa mungkin Kevin sedang banyak urusan dan masalah, maka Syila menitipkan sarapan Kevin pada  salah satu perawat dan pergi, dia juga mengirim pesan yang tentu saja, tidak pernah dijawab Kevin sama sekali.


Syila mencoba untuk tegar, hingga hari itu tiba, hari di mana dia akhirnya tahu, kalau ini bukan hanya soal kesibukan, tapi juga soal … wanita lain.


__ADS_2