
“Jadi, kamu tahu kan maksudku? Aku tidak bermaksud menjegal kebahagianmu, sungguh! Tapi aku takut.”
“Kak, tenang saja, aku paham kok.” Syila memeluk kakaknya, mereka sedang berada di kamar Syila, ada Andi juga di sana, sementar Hanum sudah pulang ke rumah, dijemput supirnya tadi, karena sudah malam, Hanum lebih suka dijemput supirnya daripada diantar Alzam, karena khawatir berbahaya di jalanan dan kurang efisien.
“Tapi, apa kau benar-benar percaya kalau maminya Izraa benar-benar berniat tulus?”
“Tak ada yang tulus murni di dunia ini Kak, bahkan keluarga, kakak sayang sama aku karena ada alasan, kita satu darah, dilahirkan dari rahim yang sama, kalau kakak dan aku orang asing, apakah kakak akan melakukan itu? Sesuatu yang dilakukan karena ada alasan, tidak ada ketulusan murni kak, bahkan kakak mendapat manfaat dari menyayangiku.”
“Hah! Nggak gitu lah. Memang apa manfaatnya buatku menyayangimu?”
“Perasaan bahagia karena telah memenuhi tanggung jawab sebagai kakak, perasaan itu adalah manfaat yang kakak dapatkan dari menyayangiku, perasaan bahagia itu bahkan nilainya tak dapat ditakar.”
“Permainan katamu memang tak pernah berubah, tapi jujur, aku jadi tahu, kau bukan wanita yang mudah dibodohi, tapi pemahaman tentang keluarga yang tidak bisa tulus murni, itu aku tidak setuju, karena keluarga adalah satu-satunya tempat yang bisa kau andalkan menjadi satu-satunya kumpulan orang yang mungkin takkan memanfaatkanmu.”
“Ya, takkan memanfaatkan, itu bedanya, tapi saling bermanfaat. Saling menjaga dan juga saling membahagiakan, itu namanya saling bermanfaat kan, kak?”
“Ya terserahlah adikku yang menyebalkan, kau memang menyebalkan.”
“Tapi sayang kan?”
“Tidak, biasa saja, sudahlah, pokoknya terserah kau saja, jika memang kau yakin dengan langkahmu, kami akan dukung, tapi kalau langkahmu salah, jangan pernah ragu untuk putar balik, kami akan sediakan jalannya, kalau jalannya tidak lagi ada dari mereka.”
“Siap bos, makasih ya bos udah izinin.”
“Ya, walau kau tidak benar-benar butuh izinku, izin papi yang paling penting.”
“Ya, kalau papi, sudah beri izin, tadi mami bilang begitu.”
“Baiklah. Sudah malam Ndi, ke kamar gue yuk.” Alzam mengingatkan Andi agar tidak ketiduran di sini, walau dulu sering sekali, dia lebih suka tidur bareng Syila dibanding Alzam, karena mereka bisa mengobrol sampai malam, tentu tidak di tempat tidur yang sama, tapi Andi tidur di sofa atau kasur lantai yang memang ada di rumah itu.
Andi lalu ikut Alzam keluar, meninggalkan Syila yang terlihat bahagia.
__ADS_1
…
[Tan, Syila bisa ketemu?] Syila menelpon maminya Izraa.
[Iya dong bisa, ini soal apa?] Pura-pura tidak tahu dia.
[Soal usulan membuat perusahaan penerbit, Tan. Syila sudah rembukan sama semua orang dan mereka setuju Syila membangun usaha itu.]
[Oh, kalau begitu, Syila harus datang ke kantor kami ya, kita harus bicara dengan beberapa pemegang saham, karena dana yang kami kucurkan mungkin cukup banyak, maka dari itu kita harus rapat di sini, apa Syila tak keberatan?] Maminya Izraa bertanya.
[Iya Tante, Syila juga bermaksud untuk ke kantor Tante, kira-kira kapan bisa ke san Tan?]
[Hari ini sebelum makan siang bisa?]
[Bisa Tan, minta alamat lengkap ya Tan.]
[Nggak perlu, nanti orang Tante jemput Syila ya, biar kamu nggak nyasar, lagian di sini banyak supir operasional.]
[nggak usah Tan, itu merepotkan.] Syila menolak, dia berencana pergi dengan Andi dan Andi yang akan menyupir mobilnya.
[Hmm, ok Tan, terima kasih.] Syila tahu, maminya Izraa memaksa, maka dia biarkan, toh ini bukan hal yang krusial.
Lalu Syila meminta Andi untuk bersiap, karena mungkin sebentar lagi dia akan dijemput oleh supir kantor.
Butuh sekitar 1 jam supir kantor perusahaan itu menjemput Syila dan Andi, security rumah memberitahu, lalu Syila dan Andi keluar, saat keluar Andi lalu bergunjing.
“Waw, mobil operasional kantor yang mewah, mercy keluaran terbaru shay! Beban nggak lu, dijemput pakai tuh mobil?” Andi terlihat mengejek tapi juga bangga.
“Santai, jangan keliatan norak, kita sedang berhadapan dengan bos perusahaan besar, kalau kita keliatan norak, nanti disangka mudah dimanipulasi, ini baru mobil, mungkin besok mereka akan menyogok kita dengan helikopter saat kita melakukan hal yang bertentangan dengan yang mereka inginkan.”
“Wah, gadis ini memang ahli strategi.” Andi bertepuk tangan, seolah ini adalah pertunjukan teatrikal yang perlu diberi penghargaan.
__ADS_1
Syila naik ke mobil dengan supir membukakan pintu untuknya dan juga Andi, mereka berdua duduk di bagian belakang, di samping supir juga duduk seseorang, Syila melihat siapa orang itu, tapi dia tak kenal, entahlah, masa supir juga, kan ini bukan perjalanan jauh, kenapa juga butuh 2 supir, tapi Syila tak terlalu banyak berpikir karena dia hanya sedang sibuk memikirkan hal lainnya.
Andi memeriksa semua hal yang mungkin akan Syila butuhkan kelak untuk meeting penerimaan dana dari para investor ini.
Tak lama kemudian mereka sampai, lalu supir kembali membuka pintu untuk Andi dan juga Syila, sementara lelaki yang tadi duduk di samping supir ikut turun dan dia yang mengantar Syila dan Andi masuk ke gedung.
Gedung yang sangat tinggi dan besar, banyak orang lalu lalang memakai baju formal, ya, Syila tahu Izraa memang anak orang kaya, tapi tak pernah menyangka dia anak dari pengusaha yang memiliki perusahaan gajah sebesar ini.
Mereka masuk tanpa pemeriksaan karena lelaki yang membawa mereka masuk dan duduk di samping supir itu ternyata memiliki tingkat security yang cukup tinggi di gedung itu, mereka masuk tanpa pemeriksaan seperti tamu lain dan melewati pintu dengan kartu elektronik dengan mudah, satu kali menempelkan kartu Syila dan Andi masuk karena pintu putar yang berbahan besi itu tertahan setelah kartu milik lelaki itu di tempelkan, tidak seperti tamu lain yang harus menempelkan satu kali lalu pintu terbuka dan tertutup lagi otomatis.
Setelah itu Syila dan Andi diarahkan ke lift paling pojok, di mana semua tamu tidak berada di depan lift itu, ternyata ada tulisan VIP di bagian atas liftnya, jadi hanya orang-orang tertentu yang boleh masuk. Karena itu Syila dan Andi menjadi sorotan semua orang, mereka terlihat penasaran siapa sebenarnya Syila dan Andi itu, diantar menaiki lift itu.
Syila tak nyaman karena dia dilihat banyak orang. Lelaki yang mengantar mereka lalu sadar akan hal itu dan menatap semua orang dengan kasar, agar mereka semua berhenti menatap Syila, akhirnya mereka tak lagi menatap Syila.
Tak lama lift terbuka, begitu mereka masuk, tercium wangi yang sangat segar, lampu lift sangat terang tapi tak menilaukan, lift ternyata cukup besar dan tertutup, tidak seperti lift lain yang ada di gedung ini, semua rata-rata liftnya terbuat dari full kaca, jadi terlihat siapa yang ada di dalamnya, sedang kalau lift VIP benar-benar tertutup. Mungkin sengaja dibuat tertutup hanya agar tak terlihat siapakah tamu penting itu.
Mereka berhenti di lantai paling atas, rupanya lift lain kalau mau naik ke lantai paling atas harus menggunakan kartu akses, tapi lift VIP memang diperuntukkan untuk lantai paling atas, lantai di mana ruangan kerja mami dan papi Izraa, ruang meeting VIP, kolam renang dan juga tempat gym untuk para Direksi dan juga ada banyak fasilitas lain untuk para pegawai VIP.
Syila sedikit takjub, karena makin masuk ke dalam perusahaan, makin tahu bahwa banyak hal hebat tersembunyi di sini dan ini milik dua orang yang gigih.
Lalu mereka keluar lift setelah sampai di lantai 50, lantai paling atas.
Setalah pintu terbuka, Syila melihat semua lantai terbuat dari kaca, kitab isa melihat pemandangan luar saat berjalan, Andi dan Syila semakin kagum.
Mereka berjalan di arahkan ke sebuah ruangan, dari luar terlihat dua daun pintu yang menutup sebuah ruangan yang sangat besar.
“Ini ruangan Bapak, Ibu Syila akan meeting di sini, silahkan masuk.” Lalu lelaki itu membuka pintu, Syila baru paham apa tujuannya lelaki itu ikut menjemput, ternyata dia yang mengantar Syila dan Andi sampai di sini.
Syila masuk dan saat dia masuk, dia melihat seorang pria duduk berdampingan dengan istrinya, itu adalah papi dan mami Sila, lalu di hadapan mereka ada seorang pria.
Tentu saja, anak mereka.
__ADS_1
Syila tersenyum dan berkata dalam hati, [Aku sudah mempersiapkan ini.]
Mereka berdua lalu masuk dan menyapa semua orang yang dikenal.