
“Kau sepertinya suka sekali menjatuhkan seseorang.” Syila kesal, mereka sudah di dalam mobil, hendak ke kafe milik Izraa untuk mengambil kopi pesanan.
“Kau duluan, aku terbiasa membalas soalnya.”
“Kau tak mau mengalah pada perempuan?” Syila kesal lagi ingat kejadian barusan, dia hampir saja kehilangan muka di depan ayahnya karena ejekan Izraa.
“Aku selalu melakukannya, hanya kau tak pernah sadar saja.” Izraa mengatakan itu sambil terus mengemudi kan kendaraannya.
“Kapan?” Syila bertanya.
“Itu amal, jadi kalau aku beritahu, pahalanya ditarik lagi.”
“Hah! kau pikir aku pengemis, tidak terima kasih, aku tak mau kau mengalah lagi untukku kelak, kalau aku tak sadar, pokoknya itu salahmu, aku tidak menerima amal darimu sama sekali!” Syila kesal, karena dia merasa Izraa mengejeknya lagi.
“Kau yang menantang ya, mulai sekarang, aku takkan pernah mengalah lagi.” Izraa mengatakan itu dengan penuh misteri, wajah tersenyum sinis.
“Ya, kau tak perlu mengalah, pertahankanlah apapun yang menurutmu benar, aku juga.” Syila ikut tersenyum sinis.
Izraa lalu memarkir mobilnya untuk mengambil kopi, tapi dia tak jadi turun, entah kenapa, dia menelpon seseorang, tak lama kemudian, pelayan kesayangan Syila keluar bawa kopi yang biasa mereka berdua pesan, Izraa membuka kaca menerima kopi itu dan seperti biasa, memberikan pelayan itu uang, bukan untuk pembayaran, karena Izraa pemilik kafe dan restonya itu, uangnya untuk makan siang pelayang itu.
“Kok!” Syila mau protes, Izraa menutup jendelanya setelah pelayan itu berterima kasih, mereka kembali melaju, kopi Syila sudah di tangannya sendiri.
“Kau bilang padaku untuk tidak mengalah, aku terbiasa untuk dilayani, aku turun karena mengalah padamu, kau bilang tak suka dan risih jika dia mengantarkan kopinya ke mobil kita, itu tak sopan. Idealismu, idealisku ya ... aku bayar gaji dia, aku berhak memerintahnya secara wajar, mengantar kopi ke mobilku, aku rasa masih wajar.”
Syila terdiam, kenapa Izraa sangat serius sekali, ada rasa khawatir, apalagi kira-kira hal yang akan membuat Syila sadar tentang sikap mengalah Izraa yang tidak disadari.
Mereka sampai parkiran mobil, sudah di lokasi syuting, Izraa keluar dari mobil, membawa kopinya, mengambil tas dan tanpa menunggu Syila dia berjalan menjauh dari mobil.
Syila yang terbiasa dibukakan pintu oleh Izraa akhirnya harus menaruh kopinya dulu, membuka seatbelt dengan tangan kiri, membuka pintu mobil, berusaha turun dengan menarik badannya menggunakan tangan kiri yang memegang pegangan pintu bagian dalam, setelah berhasil keluar dengan susah payah, dia kembali mengambil kopinya dengan membungkuk, lalu menutup pintu mobil dengan bagian bokongnya, menutup pintu itu dengan keras. Lalu terdengar Izraa mengunci pintu mobilnya melalui kunci digital mobil.
Mereka masuk lift bersamaan.
__ADS_1
“Jika tujuanmu adalah untuk membuatku susah, kau takkan berhasil, keluar dari mobil doang mah, easy!” Syila masih saja tidak mau mengalah. Baru satu jam sejak dia bicara tentang mengalah, Izraa sudah membuat Syila kesal sebanyak 2 kali.
Mereka keluar dari lift, Syila mengikutinya dari belakang, sudah banyak orang di sebuah ruangan yang cukup besar, mereka akan menayangkan semua bagian serial yang sudah masuk proses editing, semua artis berkumpul di sana, acara belum mulai karena peran utama dan penulisnya baru saja sampai.
Hanum langsung menyambut Syila begitu dia masuk ruangan.
“Adikku yang cantik jelita.” Hanum memeluk Syila dan menciumnya pada pipi kanan dan kiri, Syila kesal karena Hanum tahu dia tak suka dicium seperti itu, mengganggu sekali rasanya, justru Hanum tahu Syila tak suka, makanya dia lakukan, hanya untuk bercanda saja, Syila pasti langsung marah.
“Kau!” Syila kesal dan mendorong Hanum yang sudah selesai mencium pipinya benar-benar dengan mulut, bukan dengan pipi, Hanum sangat maksimal mengerjai Syila.
“Apa?! aku hanya bersikap ramah, mau marah sama kakakmu?” Hanum menjulurkan lidah.
“Calon! Lagian tak pernah datang ke rumah lagi, bisa-bisanya mengaku kakak!”
“Jaga bicaramu anak muda, kau tahu aku tak datang ke rumahmu karena syuting ini sangat padat, kau lupa itu, bahkan seorang Dokter pernah marah karena aku hilang seharian, padahal aku mengulang-ngulang syuting akibat beberapa hal sulit disamakan dengan layar lebarnya!” Hanum kesal karena calon adik iparnya ini malah menyebalkan sekali, mengungkit dia tak datang ke rumah.
“Iya kakaku sa ... yur!” Syila mendorong Hanum dengan tangan kiri, sementara kopi juga berada di tangan itu, tapi tak ada yang tumpah karena Syila hanya bercanda saja mendorong Hanumnya.
Sesi ini sengaja dibuat untuk memberi ruang pada Syila mengoreksi serial itu, apabila ada yang tidak sesuai dengan pandangannya, karena dia yang paling tahu novel itu, maka mau tidak mau harus direvisi.
Selama dua jam penuh mereka melihat serial itu satu demi satu episode, hingga episode yang paling akhir mereka ambil, walau belum pada bagian tamat, tak ada komentar apapun dari Syila, dia sangat menikmati seriap detik yang disajikan tanpa bicara apapun.
“Gimana Syil? Ada yang mau dikoreksi nggak?” Bang Aryo bertanya.
“Hmm, semuanya sudah pas Bang, tapi ada yang aku buat heran, kenapa emosi yang Izraa tempatkan di serial ini, jauh lebih terasa dibanding dengan layar lebarnya, semua emosi nyampe loh Bang, ini gue sempet mau nangis tadi, beda banget sama layar lebar, apa ini karena mengulang ya?” Syila bertanya, karena ternyata dia sangat puas.
“Gimana nggak emosinya pas, orang dia lagi jatuh cinta pas syuting, ngomong-ngomong kapan undangannya?” Bang Aryo tiba-tiba bertanya, Syila melotot.
“Undangan apa?” Syila tak paham, benar-benar tak paham.
“Undangan pernikahanmu dan Izraa lah!”
__ADS_1
“Ngaco ah!” Syila protes.
“Eh, pada kasih selamat dulu deh, ini si Syila ama Izraa mau nikah dalam waktu dekat, kita diundang ya.” Bang Aryo tiba-tiba berteriak hingga semua orang menatap Syila dengan takjub, beberapa orang iri.
Hanum melihat Syila wajahnya tak suka, tapi Hanum tahu, ini pertarungan, dia tak bisa ikut campur, dia berada di sisi Izraa. Walau kesal melihat Bang Aryo yang sangat banya mulut itu, tapi tidak bisa disalahkan juga, karena dia tidak tahu apa-apa, mungkin Izraa sengaja mengatakan informasi ini, ahanya agar Syila semua orang percaya mereka akan menikah, Syila lama kelamaan akan terpojok. Tapi apakah ada orang yang menika karena terpojok? Karena terpikat sih, banyak.
“Ah pada ngaco deh! Enggak kok, gosip itu.”
“Malu ya? dulu gue bilang kalian jadian, kalian marah dan bahkan kesal padaku, eh sekarang mau menikah, santai aja kalau sama gue mah, gue dukung, yang penting next film, novellu lagi ya?” Bang Aryo memang suka dengan novel-novel yang Syila buat, sangat terasa tulisan itu adalah pekerjaan hati.
“Udah ah! Gue mau balik ke kantor ya, udah bagus, bisa langsung naik tayang Bang, pamit ya.” Syila lalu berpaling setelah pamit pada semua orang, tapi ... Izraa kemana, kok tidak ada di sana? Syila akhirnya memutuskan untuk naik lift ke parkiran mobil Izraa, setelah sampai pada lantai parkir mobil itu, dia keluar dan ... tak melihat mobil Izraa terparkir lagi di sana.
Syila lalu menelpon Izraa.
[Kamu di mana!] Syila kesal karena dia ditinggalkan begitu saja.
[Menuju kantor, kenapa?]
[Kau meninggalkan aku?] Syila kesal dan sangat naik pitam.
[Aku hanya berjanji mengantarmu sampai lokasi syuting, aku ada meeting dengan beberapa client untuk perusahaan kita, mereka adalah orang-orang yang terbiasa menyalurkan tenaga marketing handal, aku butuh bertemu mereka setelah acara tadi, lokasinya tak searah, jadi aku jalan duluan.] Dengan nada datar, Izraa menjawab, seolah tak ada yang salah.
[Tapi harusnya kau beritahu aku dulu!] Syila marah.
[Sudah, coba kau buka pesan singkat dariku, pasti kau tak buka, makanya kau tak tahu.] Izraa lalu menutup teleponnya.
Syila akhirnya membuka pesan singkat dari Izraa yang dia abaikan, dia memang terbiasa abaikan pesan singkat dari orang, karena dia tak terlalu suka membalas pesan, terkait tangannya itu.
Ada pesan dari Izraa, setengah jam yang lalu, [Aku duluan, aku harus bertemu client, pesan taksi online saja.] Itu pesan dari Izraa.
Syila kesal, tapi dalam lubuk hatinya dia paham, Izraa sedang memberitahu lagi padanya, bahwa ini salah satu sikap dia yang tidak mau mengalah, karena biasanya, Izraa akan mundurkan jadwal bertemu client untuk mengantar Syila dulu ke kantor dengan aman, Syila sadar, dia memang melewatkan banyak kebaikan Izraa dan menganggapnya kewajiban, padahal ... Izraa tak harus melakukan itu, Syila juga selalu bilang kalau cacatnya bukanlah tanggung jawab Izraa, tapi sikapnya malah kebalikan, selalu mengandalkan Izraa dan bahkan tak berucap terima kasih karena tak sadar akan kebaikan itu.
__ADS_1