Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 41 : Salah Paham Lagi


__ADS_3

Keesokan harinya Syila bangun di sore hari. Mami, papi, Alzam, Andi dan Izraa serta kedua orang tua Izraa ada di sana saat Syila bangun.


“Sayang, sayang, Ya Allah, Ya Allah.” Mami menangis sejadinya melihat Syila bangun dengan tangan digips.


“Mi, ini di mana?” Syila melihat semua orang, ramai sekali, dia merasa tenang lagi, karena tadi bermimpi buruk masih berada di gubuk itu.


“Syila di rumah sakit Nak, kamu aman, semua ada, semua jagain Syila, ya.” Mami menangis lagi.


“Papi mana?” Syila bertanya, papi yang berada di belakang mami, maju dan memegang tangan Syila yang tidak patah.


“Pi, periksa Syila Pi, Syila takut dia macem-macem, Pi.” Syila menangis dan berusaha untuk bangun, tapi tidak bisa.


“Sudah Nak, sudah Papi periksa semua, kamu luka-luka tapi dia tidak berhasil melecehkanmu, kamu hebat Nak, hebat bisa melawan dia.” Papi menjawab dengan mengusap rambut anaknya.


Syila perlahan ingat apa yang terjadi.


“Pi, Izraa mana, tahan dia Pi, dia bawa pistol, dia mau tembak lelaki itu Pi, jangan sampai dia tembak Pi, nanti dia masuk penjara, Pi tol ….” Syila menangis dan sedikit sesak nafas mengingat itu, karena yangdia ingat terakhir kali dia memeluk Izraa mencegahnya menembak Aldo lalu dia pingsan.


“Aku di sini, enggak, aku nggak bawa pistol lagi, aku temenin kamu.” Izraa berdiri di dekat Syila, papi, maminya Izraa melihat itu terlihat sangat bahagia, melihat Izraa pertama kalinya begitu mencintai seorang gadis, walau mungkin Izraa belu begitu sadar, karena dia merasa hanya nafsu yang meliputi perasaannya pada Syila, karena telapak kaki itu dan penyakitnya.


“Jangan tembak dia ya Za, aku takut kamu bunuh dia dan di penjara.”


“Maafin aku ya, maafin aku.” Izraa meminta maaf karena sempat mengabaikan permohonan Syila pulang bareng, pengabaian dia dan malah sibuk ingin membunuh Aldo, bukannya segera memeluk Syila yang ketakutan.


“Nggak perlu minta maaf, aku yang salah, nggak seharusnya aku tinggal sendirian, maafin Syila ya Pi, udah sering ngebantah Papi, waktu Syila diculik, Syila merasa ini karena sering membantah Papi.”


“Nggak Nak! Yang salah si brengsek itu, dia yang gila, tidak seharusnya kamu merasa bersalah, dia sudah ditangkap Polisi dan Papi akan pastikan dia dihukum setimpal!” Papi terlihat emosional.


Papi lalu memeriksa Syila dan mengatakan bahwa Syila sudah stabil, semua orang duduk mengobrol, orang tua Izraa pulang setelah satu jam di ruang perawatan, papi harus menemui beberapa Pasiennya, lalu Kak Alzam menemani mami makan dulu, karena dari pagi mami nggak mau makan, sedang Izraa dan Andi masih di ruangan.


“Acil mau minum?” Andi bertanya.


“Nggak, aku mau bobo aja, tolong jagain ya Ndi, jangan pergi.” Syila berkata, Izraa mendengar itu langsung kembali mendekati Syila dan duduk di samping tempat tidurnya memegang tangannya.


“Tidur ya, tenang aja, aku nggak akan kemana-mana.” Izraa memegang tangan Syila, Syila juga memegang tangannya, dia butuh Izraa saat ini, dia sangat percaya pada Izraa karena Izraa pernah dalam kondisi di mana dia bisa melakukan apapun tapi dia tidak melecehkan Syila, jadi Syila tahu, Izraa akan menjaganya.

__ADS_1


“Laptopku, laptopku mana? Tulisanku banyak di sana, aku nggak backup di cloud, laptopku mana.” Karena baru ingat dia membawa laptopnya saat diculik Aldo, dia bahkan hampir bangun dengan tiba-tiba ketika ingat itu, tangannya sakti lagi, Izraa buru-buru menidurkan Syila agar tidak kesakitan.


“Ada di mobil kok, gue ambilin ya, di parkiran.” Andi yang menjawab.


“Iya, Ndi minta kawal sama security ya, takut kalau ….”


“Dia udah di kantor Polisi Cil sayangku.” Andi mengingatkan.


“Iya maaf, tapi pastikan kalau kamu mendekati mobil ada banyak orang ya.” Syila sepertinya trauma.


“Iya sayang.” Andi lalu keluar untuk mengambil laptop.


Syila perlahan tertidur karena memang obatnya membuat ngantuk, Izraa masih memegang tangan Syila, melihat wajah Syila dan melihat bagian wajah di antara matanya berkerut, Izraa memegang bagian itu agar Syila tidak ketakutan lagi, karena jika seseorang begitu ketakutan, tidak sengaja bagian wajah di antara mata itu akan berkerut tegang.


Kerutan di antara mata itu akhirnya tidak ada lagi, wajah Syila lebih tenang, Izraa tersenyum dan mengusap kepala Syila.


Semua penyesalan itu benar-benar menghantui Izraa, dia baru sadar satu hal, betapa menakutkannya kehilangan Syila.


Izraa selama ini berpikir bahwa rasa sukanya pada Syila bukanlah cinta, tapi sebuah rasa nafsu yang akhirnya dia rasakan setelah dari lahir tidak mampu merasakan apapun baik pada lelaki ataupun wanita.


Izraa sengaja pacaran dengan Syila dan menunggu sampai Syila akhirnya mau berhubungan badan dengannya secara sukarela, hanya untuk kesempatan itulah Izraa menjadikan Syila kekasih. Tidak ada rasa ingin melindungi ataupun takut kehilangan, itu dulu.


Andi datang setelah setengah jam dari parkiran, lama karena harus menunggu liftnya yang selalu ramai, Andi menaruh laptopnya di meja dekat ranjang, Syila telah melepas tangan Izraa yang menggenggamnya, dia sudah sangat tenang.


“Za, tolong cekin dong, itu laptop rusak nggak, soalnya Syila selalu bawa itu di tasnya, takutnya kemarin pas berantem sama si brengsek, laptopnya kena, cek dong, masih nyala nggak? tadi gue belum sempet cek soalnya mami ketinggalan dompet, Alzam juga nggak bawa cash, gue mau anter dompet mami dulu ya ke kantin.” Andi berbicara dengan sangat cepat dan memberikan laptop Syila pada Izraa.


Izraa tidak menjawab, dia lalu membuka laptop Syila, ada passwordnya, gimana mau cek kalau nggak bisa masuk. Lalu Izraa menelpon Andi menanyakan password laptopnya, Andi mengirim password laptop Syila melalui pesan singkat.


Izraa membuka laptopnya, memeriksa keadaan laptop itu, saat sedang memeriksa laptopnya, dia baru ingat kalau naskah terbaru belum dia ambil dari emailnya, dia berniat membuka email melalui browser di laptop Syila saja, karena emailnya bisa dibuka dari web, dia membuka browser dan mulai masuk ke emailnya, mendownload naskah terbaru dari Bang Aryo dan mengirim naskah itu ke ponselnya melalui pesan singkat.


Saat akan menutup browser atau mesin pencarian dan hendak mematikan laptop, tidak sengaja jarinya menekat huruf H pada URL atau bagian di mana kita biasanya mengetik apapun yang hendak kita cari di sana, sehingga di bagian pencarian padar laptop Syila keluar apa yang Syila cari sebelumnya yang dimulai dari huruf H, pencarian pertama yang keluar adalah nama ayahnya HANSYAR, kenapa nama ini muncul di browser Syila sebagai saran pertama untuk huruf H, biasanya hal itu muncul karena pemilik laptop ini sedang mencari tahu tentang nama itu, karena muncul di pencarian pertama.


Izraa berdebar, dia lalu membuka history, di mana semua pencarian Syila di browser bisa terlihat.


“Apa yang dia cari dengan semua situs ini?” Izraa semakin berdebar, karena hanya ada dua nama selama beberapa hari terakhir ini di mesin pencariannya, nama Hansyar dan Izraa, apakah Syila mencari tahu tentang Izraa dan keluarganya, itu yang Izraa pikirkan, dia berkeringat, ternyata Syila tidak secuek itu, tidak setidakpedulian itu padanya, Syila selama beberapa hari ini tidak observasi tema novelnya, dia hanya mencari tahu tentang Izraa dan keluarganya, hanya situs yang membahas Izraa dan Hansyar yang ada di mesin pencariannya.

__ADS_1


“Udah bisa?” Andi tiba-tiba datang, Izraa bisa menyembunyikan keterkejutannya, dia mengangguk, menutup aplikasi pencarian dan mematikan laptop Syila.


“Bisa kok, aman.” Jawab Izraa setelahnya.


“Nih, mami suruh gue beliin elu ini, kata mami, dia nggak liat elu makan apapun dari kemarin.”


“Iya makasih.”


“Syila gimana?”


“Udah tenang, tidurnya nggak ngigo, artinya dia nggak lagi ketakutan.”


“Kali ini pasti dia nggak boleh lagi tinggal di apartemen ama papi, kemarin tanpa kejadian apapun aja papi over protectif, apalagi sekarang setelah kejadian, papi pasti akan sangat mengekang Syila.”


“Gue kalau punya anak kayak Syila juga bakal begitu.” Izraa berkata sambil makan nasi goreng yang dibawakan Andi dari maminya Syila.


“Maksud lu? anak pembangkang kayak Syila?” Andi sewot.


“Bukan, anak yang cantik, berbakat dan pintar, gue bakal takut banget kalau anak gue itu disakiti sama orang, karena menurut papinya Syila, Syila itu sangat berharga.”


“Ih, gue pengen nangis dengernya, elu bisa bijak juga.”


“Emang elu, cengeng.” Izraa meledek.


“Biarlah gue cengeng, dari pada elu, emosian!” Andi kesal.


Izraa melanjutkan makan sembari tersenyum-senyum penuh makna, walau ada sedikit rasa sesal lagi karena dia telah salah paham pada kekasih terpaksanya itu.


Setelah makan Izraa istirahat dengan tidur di samping Syila, Andi tidur di sofa, mami ada di dekat Andi, Alzam harus tugas dulu sebentar.


Syila bangun dan dia melihat tangan Izraa masih memegang tangannya, Syila tersenyum, tanpa sadar dia mengusap kepala Izraa dengan tangannya yang tidak sakit.


“Terima kasih kamu sudah menemukan aku.” kata Syila dengan pelan, Izraa tidak mendengarnya, dia sangat kelelahan karena kemarin mengejar Syila dengan kecepatan tinggi, baru terasa sekarang seluruh tubuhnya sakit.


________________________________________________________

__ADS_1


Catatan Penulis :


Aku ingin menjagamu, ingin di dekatmu, ingin terus bersamamu, tapi mungkin sulit jika hatimu tidak menyambut, apakah memang sesulit itu menerima hatiku?


__ADS_2