Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 27 : Terpancing


__ADS_3

Syila pulang ke rumah seperti biasa makan malam wajib bagi keluarga. Pada saat sampai, mami sedang menyiapkan makanan bersama Asisten Rumah Tangga.


“Mi, Syila mandi dulu ya, papi sama kakak udah pulang?” Syila bertanya.


“Udah, masih pada di kamar, sama kok, baru sampai juga.” Mami menjawab tanpa menoleh, dia sedang sibuk mempersiapkan masakan.


“Mi, kok banyak banget sih makannyan? Emang mau ada tamu?” Syila heran karena ada begitu banyak menu yang mami siapkan.


“Oh iya.” Mami mendekati Syila, dia akhirnya meninggalkan masakan dan mendekati Syila.


“Kakak mau bawa calon pacarnya, katanya dia udah deketin, baru sekarang mau diajak ke rumah, kita harus dukung dia ya Syil, ingat, kakak susah banget suka ama orang, sekalinya suka, dianya susah dideketin, kayaknya emang perempuan terhormat gitu, kata kakakmu, dia anggun dan berkelas.” Mami seperti ibu-ibu komplek penggosip, berbicara dengan berbisik karena gosipnya sensitif.


“Iyaaa, yaudah, Syila mau mandi dulu ya.”


“Mandi aja loh, jangan pake nulis lagi, kamu kebiasaan suka tiba-tiba duduk terus nulis, keluar kalau dipanggil.”


“Iya Mi.” Lalu Syila ke kamarnya, tidak terlalu peduli juga dengan perempuan itu, asalkan baik itu cukup, mami juga bilang dia perempuan terhormat, pasti tidak salah pilih, yang Syila takutkan malah, kalau sampai hubungannya dengan Izraa sampai ketahuan, bisa bahaya, jika papi murka, maka akan sama dengan kurungan. Papi selalu menganggap Syila itu anak kecil yang perlu diproteksi dengan sesuatu yang lebih, derita anak bungsu sudah begitu perempuan perempuan pula.


Setelah mandi, Syila melihat jam, masih jam tujuh, dia lalu berpakaian rumah seadanya tapi cukup rapih karena akan ada tamu.


Satu jam Syila menulis, seperti kata mami, dia lupa turun untuk makan, mami menggedor pintu kamarnya dengan kesal.


“Iya-iya.” Syila bergegas keluar, dia tidak memakai jilbab, karena semua muhrim, termasuk tamunya, kan perempuan, calon pacar kakaknya.


“Kelamaan! Harus banget apa Mami gedor dulu.” Maminya marah.


“Mi, jangan kenceng-kenceng, ntar calon mantu denger mundur loh, Mami marahin anak aja gitu, apalagi nanti kalau ama mantu, dia pasti mikirnya gitu.” Mami menutup mulutnya, sadar kalau dia harus menjaga sikap agar menantunya tidak takut.


“Yaudah cepet.” Mami berbicara dengan berbisik, Syila mengikuti mami ke meja makan.


“Syil nih, kenalin.” Mami berada di depan dan akhirnya memberi Syila jalan untuk melihat calon pacar kakaknya.


“Lah! Hanum!” Syila keget, ternyata Hanum! perempuan terhormat apanya! Syila berkata dalam hati.


“Syila.” Hanum menanggapi dengan pendek dan dingin.


“Kalian udah kenal?” Kak Alzam bertanya dengan wajah sumringah.


“Kenal, dia itu salah satu aktris utama di filmku.” Syila duduk di sebelah Hanum, dia menatap Syila dengan pandangan curiga, Hanum tersenyum licik, wah kalau sampai jadi menikah, bisa jadi perang saudara di rumah ini.


“Hanum ikut proyeknya Syila?” Mami bertanya, mereka semua sudah di meja makan, sedang makanan mulai dihidangkan oleh beberapa Asisten Rumah Tangga.


“Iya Tante, Alhamdulillah, Dik Syila ini ngajak Hanum dalam proyek filmnya.” Dia menekan kata ‘dik’, untuk merendahkan Syila, hanya Syila yang sadar akan hal itu, karena dia biasanya memanggil Syila dengan sebutan Mbak, tapi Syila nggak mau ribut karena hal sepele.


“Oh bagus, jagain Syila ya, dia suka lupa waktu kalau nulis atau lagi kerjain proyek.”


“Loh, kan udah ada pa ….” Syila menendang kaki Hanum, dia tahu, Hanum mau bilang kalau Syila udah ada pacar, gosip Izraa dan Syila jadian pasti sudah menyebar walau mereka bilang ingin itu ditutupi, tapi siapa yang tahu dengan mulut Izraa.


“Ada apa?” Papi curiga.


“Ada Andi, Managernya Om, Andi selalu jagain Syila, ya kan Dik?”


Syila mengangguk terpaksa.


Perempuan terhormat dan anggun ini sepertinya ingin dihajar, Syila sudah mengepalkan tangan, Hanum melihat itu dan semakin tersenyum, aroma kemenangan tercium, ekspresi kemenangannya membuat Syila kesal, si wanita sok tahu dan keras kepala.


“Iya, si Andi tapi masih takut sama Syila, kalau kamu mungkin bisa kena.”


“Iya Mi, tapi Syila memang perempuan yang sangat hebat, penulis berbakat, tapi terkadang keras kepala, sebenarnya Hanum cukup suka dengan karya Syila.” Basa-basi busuknya Hanum.


“Suka? kalau kamu kenal dia, kamu nggak akan suka dia.” Kak Alzam seperti biasa menimpali.


“Loh kok gitu?” Hanum ingin tahu keburukan Syila dari sumber terpercaya.


“Ya, dia tuh jarang mandi, males banget, kerjanya cuma nulis aja, nggak kebayang nanti kalau jadi istri orang, pasti suaminya tobat.”


“Oh begitu, wah mungkin minatnya aja yang beda, tapi seharusnya Syila mulai belajar mengurus rumah, biar nanti kita bisa sharing-sharing, Hanum suka ngurus rumah Tante.” Ini sih menjatuhkan orang dengan sopan lalu meninggikan dirinya sendiri, luar biasa wanita terhormat ini.


“Wah Hanum calon mantu idaman nih.”


Syila tersedak mendengar perkataan mami, lalu Hanum memberikan air mineral dari gelas untuknya, ingin terlihat seperti malaikat mungkin.


“Hati-hati, Dik.” Hanum terlihat cekatan, padahal biasanya semua diurus Asisten, dasar tukang cari muka.


“Syil! Jangan malu-maluin ah, ada tamu juga.” Kakaknya mengejek.


“Sorry ya MBAK HANUM yang terhormat.” Syila menekan kata Mbak dengan sangat tegas, Hanum hanya mengangguk dan tersenyum kemenangan, ini pasti digunakan untuk menjatuhkan Syila, Hanum akan sangat senang mampir ke sini terus, bahaya ini, mana syuting masih belum selesai. Itu yang ada di pikiran Syila.


“Makanan penutup Num, Tante buat puding buah, cobain deh, enak nggak?” Mami menawarkan puding buah dari sebuah gelas kecil ke Hanum, Hanum mengambilnya dan makan.

__ADS_1


“Enak Tante, kapan-kapan Hanum diajarin buat puding ya.” Basa-basi lagi.


“Yaelah, ngapain repot bikin sih, kan udah ada tuh puding instant, tinggal lu beli aja buah, abis itu lu tata deh sesuai selera di cetakan ager, beres, jadi.”


“Tapi ini beda Dik, pudingnya sangat segar dan manisnya pas, buahnya juga bikin makin cantik, kalau instant kan ada pengawetnya.”


“Tuh denger kata Hanum, kamu mah emang males.”


[Ini keluarga gue apa keluarga Hanum sih?!] Syila kesal karena dia dari tadi dijatuhkan sehingga berbicara dalam hati.


“Cobain es buahnya Num, itu juga tante buat sendiri pake bahan yan seger, nggak instant-instant kok.” Lagi-lagi Syila disindir, tapi itu tidak membuatnya marah, Mami memang begitu, tapi Syila tahu, Mami sayang sama Syila.


Makan malam terasa lama sekali untuk Syila, lalu setelah selesai makan, mereka semua berkumpul di ruang keluarga, bukan di ruang tamu, sepertinya Hanum memang sudah diterima dengan baik oleh mami dan papi, Syila kembali ke kamar, dia kesal melihat Hanum di sini, dia tidak mau Hanum menjadi bagian keluarga ini, walau Hanum bukan wanita yang jahat, tapi itu mungkin menjadi pilihan terakhir Syila untuk menerima Hanum sebagai bagian keluarga.


[Lagi dimana?] Syila menelpon.


[Apartemen lah, elu nggak mau ketemu, gue mau kemana lagi?] Izraa menjawab, ternyata yang ditelepon Izraa.


[Oh.]


[Kenapa?”] Izraa bertanya.


[Lu tau nggak, Kak Alzam bawa cewek ke rumah dan lu tahu siapa ceweknya?]


[Siapa? emang gue kenal?]


[Kenal banget, gebetan lu.]


[Oh, lah itu kan elu.]


[Ih, apa sih?!] Syila kesal, masa kakaknya bawa dirinya sendiri ke rumah.


[Ya siapa lagi, gue nggak punya gebetan.]


[Hanum!] Syila sedikit berteriak, tapi dia lalu menutup mulutnya takut terdengar.


[Oh.] Hanya tanggapan sederhana.


[Elu nggak kecewa, kehilangan penggemar nomor satu?] Syila berbicara yang menyebalkan.


[Nggak, buat apa? dia bukan gebetan gue, kalau gue nganggep orang yang suka gue sebagai gebetan, maka akan ada jutaan perempuan yang jadi gebetan gue.]


[Liat aja sosmed gue, berapa followersnya? Lu bakal tahu, sebanyak apa yang suka gue.]


[Hei, followers itu bisa saja haters juga, nggak selalu fans.] Syila protes.


[Itu sih elu, kalau gue rata-rata fans ya, makanya jangan judes, jadi banyak haters kan.]


[Za! Elu tuh ya, gue nelpon supaya gue bisa curhat, tapi malah lu nyebelin.]


[Kenapa gue?]


[Maksudnya?] Syila nggak ngerti.


[Kenapa saat elu ngerasa nggak nyaman elu nelpon gue? kenapa nggak Andi, bukannya kalian lebih dekat, kenapa lu malah telpon gue buat curhat? Jangan bilang ini karena rasa kemanusiaan ya, itu nggak akan mempan lagi.]


[Ya, karena ….]


[Cepet jawab, jangan bertele-tele.] Izraa memancing.


[Oh, itu karena nomor lu itu paling atas di daftar recent telepon dan chat gue, jadi ya gue random aja telpon lu, Andi lagi sama keluarganya, gue nggak mau ganggu.] Syila tersenyum karena mendapat alasan masuk akal.


[Oh begitu, gue pikir karena emang yang lu pikirin saat ada masalah itu gue, seharusnya begitu, kan?] Izraa seperti mengemis sebuah pengakuan.


[Ngarang, gue kalo ada masalah juga suka nelpon Bang Aryo.]


[Beda, itu kan masalah di pekerjaan, ini masalah pribadi.]


[Nggak juga Za, ini masalahnya setengah pribadi setengah pekerjaan, lu kenal Hanum, mantan gebetan juga, siapa tahu elu bisa bantu, itu intinya.]


[Bantu apa gue? doa?]


[Ya, siapa tahu mau memulai hubungan dengan Hanum, dia pasti mau lu jadiin pacar beneran dan siapa tahu bisa langgeng sampai pernikahan.] Syila asal bicara.


[Kalau bisa begitu lebih gampang sih, kau pikir mudah menanganimu?] Izraa meledek Syila yang tidak sama seperti yang lain, itu membuat Syila marah.


[Elu sama aja ama keluarga gue, selalu ngerendahin gue, yaudah, gue emang nggak sebaik itu.] Syila menutup telepon dan membanting telepon genggamnya, dia kesal, karena jujur, dia menelpon Izraa karena memang hanya Izraa yang terpikir olehnya saat ini.


Izraa menelpon terus, tapi Syila akhirnya mematikan telepon genggamnya, dia kesal, kalau ke mami nggak bisa marah, mami hanya bercanda walau menyakitkan direndahkan di depan orang yang nggak suka Syila dan Syila juga nggak suka dia, apalagi papi, mana berani ngelawan, mau ngelawan Kak Alzam, kasihan, takutnya nanti wibawanya jatuh di depan wanita itu.

__ADS_1


Syila kesal dan memutuskan untuk tidur saja, nggak mood menulis juga, sudah runtuh semua energinya karena marah.



Tidak terasa sudah pagi, mami membangunkan untuk sarapan, hari ini off syuting, makanya Syila mau bangun lebih siang setelah solat subuh tidur lagi.


“Iya, Mi.” Syila bersiap mau keluar tanpa mandi dan tanpa gosok gigi, benar-benar bangun lalu mau sarapan.


“Roti bakar apa nasi goreng?”


“Nasi gorenglah, Mi.” Syila memintanya setelah sudah sampai di meja makan.


“Kamu semalem kok main tidur aja, Hanum pulang mau pamit, kamu malah udah tidur, nggak sopan tau.”


“Bodo amat, Syila nggak akur tau sama dia!” Syila akhirnya buka suara.


“Kok gitu, pasti kamu deh yang cari masalah duluan.” Mami sepertinya sudah tertipu.


“Ah terserahlah.”


“Syil, baik-baik ya sama Hanum, kakakmu suka banget sama dia. Kak Alzam itu sangat susah suka perempuan, sekalinya suka ya Hanum itu, jadi kamu harus bantu ya.” Mami membujuk.


“Hmm.”


“Syil, bisa ikut gue dulu nggak?” Andi tiba-tiba datang, dia terlihat kesal dan panik.


“Masih pagi mau kemana?” Papi juga tiba-tiba datang dan serperti Andi yang tiba-tiba masuk ke rumah dan meminta Syila ikut, padahal dia belum mandi.


“Iya, tapi gue belum mandi.” Syila tidak mau.


“Soal kerjaan Pi, ini dokumennya di mobil, cuma perlu diliat aja, nggak perlu kemana-mana. Yuk, cepet.” Andi menarik tangan Syila.


“Pagi-pagi udah ngomongin kerjaan aja.” Papi tetap kesal, tapi Andi tidak peduli dan tetap menarik Syila.


“Ada apa sih?” Syila menarik tangannya, mereka sudah di depan mobil.


“Masuk gih.” Andi minta Syila masuk ke mobil di bagian penumpang samping kemudi.


“Kok, mana dokumennya, lagian ngomongin dokumen ngapain di mobil, aneh banget tau.”


“Udah cepet masuk.” Andi membuka pintu mobil dan mendorongnya masuk, Syila jadi terpaksa masuk mobil dan ….


“Loh, ngapain lu di sini, mati gue, Ndi! Papi kalo liat dia, bisa mati kita!” Syila hendak keluar mobil, tapi Izraa menarik tangannya, lalu dia seperti ingin menyalakan mobil, Syila buru-buru menutup pintu mobil takut kalau mobilnya rusak karena Izraa mengendarai mobilnya dengan tiba-tiba dan kasar, takut juga kalau papi mendengar keributan ini.


Andi melihat Syila dan Izraa sudah pergi dengan mobilnya, buru-buru keluar, dia tidak boleh keliatan masih di luar, sementara Syila sudah pergi , papi pasti bertanya nanti, Syila pergi dengan siapa. Andi memesan ojek online dan mencari tempat makan fast food terdekat untuk menunggu Syila selesai dengan Izraa.


“Lu ngapain sih!” Syila kesal, Izraa mengemudikan kendaraannya sudah stabil tidak seperti tadi ngebut saat keluar komplek.


“Kenapa lu nggak angkat telepon dan mematikan telepon?”


“Ya gue lagi males ngomong.”


“Kalo males ngomong jangan pernah hubungin gue, seenaknya matiin telepon trus ngilang.”


“Elu ke rumah gue cuma karena itu?” Syila kaget.


“Ya, emang gara-gara apa lagi? mana yang lebih mengkhawatirkan kalau telepon dimatikan lalu tiba-tiba hilang.”


“Za, gue di rumah sendiri, masalah gue juga nggak pelik-pelik amat, soal Hanum itu soal sepele, jadi ngapain elu heboh.”


“Gue juga mikirnya gitu dulu.”


“Hah?”


“Saat lihat orang bertengkar di jalanan, lalu si perempuan pergi meninggalkan mobil, si laki-laki mengejar terus perempuan itu sampai menggangu jalan, lalu ada lagi sepasang kekasih bertengkar di restoran, perempuannya memutuskan meninggalkan lokasi, tapi si laki-laki menarik sekuat tenaga agar perempuan tidak pergi, aku juga menganggap para lelaki itu sangat bodoh karena melakukan itu.”


“Gue makin nggak paham arah omongan lu.”


“Gue ngerti, mungkin lelaki itu merasa kecewa dengan sikap wanitanya, tapi dia lebih takut kalau kehilangan wanita itu, makanya dia turunkan harga diri dengan mengejar, menarik dan memohon, karena menurutnya kekasihnya lebih berharga daripada harga diri. Itu yang sedang aku lakukan sekarang, karena aku khawatir dan merasa takut … kehilanganmu.”


Syila menatap Syila dengan lekat, dia tidak sedang kagum, justru dia sedang ketakutan, jika begini, kemungkinan Izraa melepaskan Syila akan sangat tipis. Izraa sudah menunjukan, betapa dia tidak mau kehilangan Syila dan melakukan hal yang mungkin selama hidupnya tidak pernah dia lakukan.


Merasa jatuh ... cinta, dengan hebat.


_________________________________________________________


Catatan Penulis :


Cinta itu soal apa? jatuh, tertatih dan kehilangan harga diri? bodoh sekali.

__ADS_1


Itu dulu apa yang aku pikirkan, tapi semenjak aku bertemu denganmu, aku tak masalah dikatakan bodoh, asal bisa meneguk sedikit rasanya jatuh ... cinta.


__ADS_2