
Izraa melihat GPS telepon genggam Syila yang sudah keluar tol, sementara Izraa sudah setengah jalan di tol, mereka berbelok ke kanan, Izraa terus menambah kecepatan, dia tidak ingin kehilangan jejak, akan sangat bahaya.
Ada kabar dari Polisi, kalau mobil yang mereka laporkan telah dibawa Aldo, ternyata tidak ada, padahal di GPS terlihat mobil itu keluar tol, rupanya Polisi telah memblokir akses tol tempat Aldo keluar itu dan memeriksa setiap mobil, tidak ada mobil Syila, mereka juga tidak punya foto Aldo, nama pun mungkin saja bukan nama asli, jadi sulit melacaknya, jika saja Aldo masih pakai mobil Syila, mencegat mereka di pintu tol akan sangat mudah, tapi rupanya Aldo pintar, dia mengganti mobil, untung telepon genggam Syila masih bisa dilacak, kemungkinan saat mengganti mobil Aldo tidak sadar, kalau Syila masih menyimpan telepon genggamnya di kantung baju.
“Za, dia udah ganti mobil, pantes Pak Polisi nggak bisa cegat dia di pintu tol.”
Izraa tidak menjawab, dia hanya terus saja mengemudi dengan kecepatan tinggi, tidak lama kemudian dia sudah keluar tol, Izraa menyapa Polisi agar dibiarkan jalan tanpa menunggu pemeriksaan, Andi menunjukan pesan dari Komandan mereka, sehingga Izraa bisa langsung jalan tanpa melakukan pemeriksaan sementara Polisi juga di belakang mereka, tapi tanpa sirine, agar tidak membuat si Aldo was-was jika mereka sudah dekat.
Izraa terus mengikuti GPS telepon genggam Syila terlihat mereka telah berhenti di suatu lokasi, Izraa semakin melajukan mobilnya dengan cepat, dia lalu berbelok sesuai arah GPSnya, tapi aneh, ini adalah perkebunan teh, Izraa tidak pikir panjang, dia menerobos perkebunan teh itu walau mobil besarnya jadi baret karena membelah perkebunan teh.
Ada jejak ban mobil, Izraa melihat dari depan, saat lampu mobilnya menyorot ke depandan terlihat tanah basah yang habis dilewati mobil, itu memang jalan untuk mobil kecil. Izaa meminta Andi untuk mengirim pesan kepada Polisi yang masih belum terlihat di belakang, mereka tertinggal jauh karena Izraa mengemudi dengan kecepatan tinggi, isi pesannya adalah untuk mematikan lampu jauh, karena Izraa tidak ingin menimbulkan kecurigaan Aldo dan membuatnya lari lagi atau malah berbuat jauh terhadap Syila.
Keringat dingin mulai banjir di wajah Izraa, dia tidak mampu membayangkan apa yang akan dilakukan Aldo.
Dari kejauhan Izraa melihat ada mobil kecil parkir di sebuah gubuk, Izraa memberhentikan mobilnya cukup jauh.
“Kok berenti, cepet jalan.” Andi bertanya.
Izraa tidak menjawab, dia lalu membuka sabuk pengamannya, mengambil sesuatu yang ada di laci depan Andi.
“Astaga, pistol Za!” Andi terkejut melihat Izraa ternyata punya senjata api, dia memeriksa pelurunya, ternyata senjata api beneran, bukan airsoft gun. Andi panik melihatnya.
“Za, lu jangan aneh-aneh ya, maksud gue kalau senjata api terlalu berbahaya, kalau lu bunuh orang itu, lu bisa masuk penjara.”
“Gue bahkan rela masuk neraka kalau sampai Syila terluka, gue bakal bunuh dan cincang-cincang badannya.” Izraa berkata sambil menyelipkan senjata api itu di belakang celananya.
Dia lalu membungkuk dan memberi kunci stir pada Andi.
“Pake ini, lu hantam kepalanya kalau punya kesempatan, ngerti lu!” Izraa terlihat sangat menakutkan saat marah, Andi sedikit kagum karena ternyata Izraa sangat perduli pada Syila, Andi malah curiga bahwa mereka berdua sebenarnya sudah saling jatuh cinta, tapi belum sadar.
Andi dan Izraa berdua turun dari mobil dengan mengendap-endap, Izraa sengaja memarikir mobilnya jauh karena tidak ingin Aldo dengar suara mobilnya mendekati gubuk, setelah sampai di gubuk, Izraa menguping dulu.
__ADS_1
“Lepasin gue brengsek!” Terdengar suara teriakan Syila, karena itu akhirnya Izraa menendang pintu masuk gubuk yang terbuat dari triplek tipis itu, sepertinya ini gubuk sementara untuk para petani teh istirahat saat sedang menanam atau sedang memetik daun teh, jadi benar-benar alakadarnya.
Saat pintu terbuka, Izraa melihat Syila memakai gamis panjang dan juga cadar yang terlekat tidak sempurna, sepertinya ada adegan tarik menarik sebelumnya, Izraa lega, Syila masih berpakaian lengkap, dia takut kalau Syila dilecehkan maka dia takkan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.
“Izraa, wah lelaki sok pahlawan ini, ngapain kalian ke sini!” Aldo terlihat frustasi, dia mengambil gunting rumput yang ada di dekatnya, tentu saja ada gunting itu, kadang memang dibutuhkan saat memetik atau menanam teh.
Izraa mengeluarkan pistolnya, Aldo kaget karena Izraa mengeluarkan pistol, dia langsung menjatuhkan gunting besarnya itu dan menangis.
“Aku tidak salah, perempuan jalan ini yang menggodaku! Dia menulis kata ‘DEAR’ di novel yang aku mintakan tanda tangan, dia menulis itu, bukankah DEAR artinya sayang? Dia yang menggodaku duluan, lalu kenapa sekarang dia berteriak dan menolak melepaskan pakaiannya, dia yang menggodaku duluan, dia suka padaku tapi sekarang berubah pikiran, apa ****** ini mempermainkanku!”
Dorrr!!!
Suara tembakan terdengar, Syila dan Andi kaget mereka bahkan menutup telinga karena ketakutan, Izraa menembak kaki Aldo, Aldo semakin menjerit dan berteriak ketakutan, dia memohon agar tidak ditembak lagi, tapi Izraa mendekatinya dan menendang gunting rumput yang tadi dilempar oleh Aldo.
Izra menodongkan senjata apinya ke kepala Aldo, Aldo memohon agar tidak ditembak, Izraa bersiap menarik pelatuk senjata apinya, Syila melihat itu langsung berlari ke arah Izraa dan memeluknya dari depan.
“Za, aku nggak apa-apa, aku selamat, jangan tembak dia Za, jangan tembak dia, aku mohon.” Syila memegang tangan Izraa yang menodong senjata api itu, Syila berusaha untuk menjauhkan senjata api itu dari kepala Aldo, Aldo melihat Syila memeluk Izraa langsung bersujud karena ketakutan dan kecewa pada kebodohannya.
"Aku ingin membunuhnya, aku ingin dia mati, aku ingin melihat isi kepalanya tercecer keluar, berani sekali isi kepala itu memikirkan tentangmu, berani sekali isi kepala itu berharap kau akan mencintainya, dia pikir mudah mendapatkanmu, kau bukan wanita murahan!" Izraa masih tetap yakin untuk menembaknya.
"Aku takut Za, bisakah kau lihat aku dulu, aku ketakutan! bisakah kau memelukku dulu, aku mohon." Syila menggunakan tubuhnya untuk membujuk Izraa agar dia tak lagi menjadikan kepala Aldo sebagai sasaran bidikan senjata apinya.
"Aku ingin dia mati!" Izraa masih terus tak tergoyahkan.
Syila menangis sejadinya, dia memohon agar Izraa memeluknya, Izraa perlahan luluh dan akhirnya menggunakan kedua tangannya untuk memeluk Syila, karena itu, kepala Aldo dan jadi sasaran bidik senjata api Izraa.
Senjata api itu berhasil dijauhkan oleh Syila, Izraa tidak jadi menembak Aldo, Syila lalu berbalik dan berkata pada Aldo.
“Aku melakukan ini untuk melindungi Izraa, aku tidak mau dia masuk penjara karena sampah sepertimu! Apa kau bilang? Aku menggodamu karena kata-kata DEAR itu? kau tahu, puluhan orang aku berikan semua kata mutiara itu dimulai dengan kata DEAR, itu adalah sapaan sopan dariku, kau tidak seistimewa itu Aldo.” Setelah mengatakannya, Syila lalu berbalik dan berpegangan pada Izraa lalu pingsan, Izraa menangkapnya dan menggendong Syila. Sedari tadi Syila sebenarnya sudah sangat ketakutan dan lelah, dia akhirnya tumbang.
Saat keluar sudah ramai Polisi, papi dan Kak Alzam serta warga sekitar, garis Polisi segera dipasang agar tidak ada yang merusak barang bukti.
__ADS_1
Izraa keluar dengan menggendong Syila di tangan, papi berlari menghampiri Izraa.
“Syila gimana?” Papi terlihat khawatir, saat Izraa bilang dia baik-baik saja, air mata papi luruh, papi yang selama ini keras ternyata sangat menyayangi Syila, bahkan tadi masih coba menenangkan Alzam, tapi sekarang saat melihat Syila pingsan, papi menangis dan menarik Syila dari gendongan Izraa, dia akan memeriksa keadaan anaknya, sudah ada ambulan juga di sana.
Papi menidurkan anak bungsunya di ranjang ambulan dan memeriksa semua tubuh Syila, melepas baju gamis Syila yang di double ke baju awal yang dia pakai. Rupanya untuk mengelabui Polisi Aldo menutupi tubuh Syila dengan gamis panjang dan lebar serta cadar pada wajahnya, dia tidak membuka baju Syila tapi memakaikan tambahan gamis itu.
Ada beberapa memar di wajah dan tubuhnya, sepertinya Syila sebelum ini melawan dengan keras tapi tidak berhasil, makanya ada banyak memar di beberapa bagian tubuhnya.
Papi meminta Syila di bawa ke rumah sakit juga, untuk memeriksa areal pribadinya, untuk memastikan tidak ada pelecehan yang dilakukan oleh Aldo.
Papi ikut ke ambulans, sementara Kak Alzam dan Andi naik mobil papi, Izraa mengendarai mobilnya ke rumah sakit, Andi sudah menelpon mami dan mengatakan kalau Syila baik-baik saja agar mami bisa tenang.
Lalu mereka semua ke rumah sakit.
Saat tiba di sana, papi mengawal pemeriksaan, karena dibawa ke rumah sakit yang papi pimpin, butuh waktu beberapa jam sampai semua hasilnya keluar, ternyata tangan Syila patah, setelah di rontgen baru ketahuan, pantas dia pingsan, pasti dia menahan sakit selama itu dan bahkan berhasil menenangkan Izraa.
“Jadi gimana Pi?” Alzam bertanya, mereka semua ada di depan ruang UGD tempat Syila diperiksa.
“Tanganya patah, memar di sekujur tubuh dan wajah, areal pribadi tidak diketemukan tanda-tanda kekerasan.” Papi terlihat lega, karena papi takut kalau Syila akan depresi jika saja hal itu terjadi.
Izraa terlihat tiba-tiba akan pergi ke luar, Andi mengejarnya dan menarik Alzam untuk ikut mengejar.
“Za, jangan aneh-aneh, Syila pasti nanyain elu di mana, kalau elu sekarang pergi, dia pasti sedih, balik lagi ke UGD.” Andi berusaha menarik Izraa, Alzam tidak tahu apa yang terjadi, jadi dia hanya diam saja, tapi saat Andi menunjuk senjata apinya Izraa yang tersembunyi dibalik bajunya, Alzam paham.
“Za, lu mening balik deh ke UGD, saat ini Syila butuh kita, gue paham elu marah, papi dan gue yang lebih berhak marah dan bahkan buat perhitungan ama bocah itu, tapi saat ini bukan itu prioritasnya, saat ini Syila prioritas kita.” Alzam menarik paksa Izraa untuk kembali ke UGD, setelahnya Andi dan Alzam berjaga agar Izraa tidak pergi lagi, karena mereka berdua yakin, Aldo akan habis jika saja Izraa bertemu dengannya saat ini.
Beraninya bocah kecil itu menyentuh Syila yang sangat berharga bagi seorang Izraa.
___________________________________________
Catatan Penulis :
__ADS_1
Bagi Sang Pecinta, tubuh yang dicintainya adalah apa yang paling berharga, ini tidak tentang bagaimana tubuh itu menjadi hal yang dipuja, tapi bagaimana tubuh itu adalah apa yang paling suci yang ingin dijaga.