
Langit senja selalu mampu menunjukkan pesonanya, Syila adalah seseorang yang sangat menyukai langit, setiap kali ada kesempatan untuk menikmati betapa indahnya warna langit, dia akan seperti tersihir, lupa di mana dan sedang dengan siapa.
Seperti sore ini, saat mereka sedang pulang bersama, Syila tak sengaja memandang langit senja hingga akhirnya tersihir oleh indah yang ditampakkan dengan sempurna, hingga tak sengaja mengacuhkan Izraa yang sedang mengajaknya berbicara.
“Syil ....” Izraa memanggil ulang dengan lembut.
“Eh sorry, kenapa Za?” Syila akhirnya kembali ke alam nyata setelah tadi terbang ke khayalan seolah sudah ada di atas awan senja yang indah.
“Kau ingin Jane mengatur interview kapan?” Izraa bertanya.
“Setelah ddecor selesai, furnitur juga sudah lengkap dan kantor sudah rapi.” Syila tak paham maksud Izraa.
“Kau belum membuat target waktu untuk para pegawai saat ini?”
“Belum, memangnya harus aku?”
“Ya, tentu saja, ini perusahaanmu, setelah jadwal kau buat, baru kau bisa mengatur delegasinya, hanya untuk jadwal harus kau yang membuat, hingga semua orang tahu, apa isi kepalamu dan target yang hendak kau capai.”
“Oh, baiklah.”
“Bukankah kau kuliah bisnis? Kenapa hal seperti ini saja tidak paham.”
Syila memukul tangan Izraa, karena kesal di cemooh soal kuliah, dia sudah lulus lumayan lama dan tidak terjun pada dunia bisnis, tapi langsung kepenulisan, jadi ilmu dasar yang dia dapatkan, tidak bisa diaplikasikan, sudah lupa karena tidak pernah dipakai.
“Makanya aku butuh kau, bantu akulah, aku kan mesti cek para Penulis yang akan aku bantu, jadi untuk urusan seperti itu, bisakah kau membantuku?”
“Kau menyuruhku mengurus rumah tangga?”
“Hah!”
“Ya kan masalah decor, furnitur dan jadwal itu adalah masalah rumah tangga, logistik dan ....”
“Nggak usah ngaco, kita berdua sepakat untuk mengurus perusahaan ini bersama, maka aku meminta bantuan partnerku untuk mengurus yang aku tak mampu lakukan.” Syila memilih kata yang tepat, agar percakapan ini tak terlalu intim.
“Oh ok, baiklah, berarti kau memang butuh aku kan?”
__ADS_1
“Secara tekhnikal, tentu saja, kau adalah partnerku.”
“Untuk berapa lama? Bisakah aku mengajukan selamanya?”
Syila terdiam, karena upaya untuk menjauhkan percakapan menjadi intim, malah membuatnya terjebak jadi percakapan yang jauh sampai ke dasar jurang rumah tangga, partner adalah pemilihan kata yang bisa dibelokkan dengan mudah oleh Izraa, kok bisa-bisanya Syila tak mampu memprediksi hal tersebut.
“Kau mau makan dulu atau langsung pulang?” Izraa bertanya.
“Pulang langsung, aku ingin makan malam di rumah.”
“Baiklah.”
Mobil lalu melaju dengan santai menembus jalanan ibu kota yang tidak terlalu ramai.
Mereka sampai rumah, Izraa membukakan pintu mobil dan membantu Syila keluar dari mobil, bantuannya tidak terlihat berlebihan, karena Syila memang butuh bantuan.
“Kau mau mampir?” Syila menawari Izraa untuk mampir.
“Tidak, terima kasih,” Izraa menjawab.
Izraa tahu kalau itu hanya pertanyaan basa-basi, etika karena telah diantar sampai rumah.
Ketika dia naik, mami sedang menyiapkan makan malam, papi dan Alzam mungkin sebentar lagi akan sampai rumah, mereka sering pulang bersama, tapi juga terkadang pulang sendiri-sendiri.
Alzam sebenarnya paling malas menyetir, seringkali mobilnya ditinggal saja di rumah sakit, dia tak seperti papi pakai supir, karena merasa terlalu berlebihan kalau harus meminta supir pada mami, urusan supir dan asisten rumah tangga memang diatur mami, jadi jika dia malas menyetir, karena pulangnya saat jam macet, maka dia akan minta menebeng mobil papi yang disupiri, jadi selama perjalanan Alzam bisa istirahat.
“Hei, sudah pulang ibu CEO.” Mami terlihat senang melihat Syila yang terlihat lelah tapi aura mukanya sangat bersemangat.
“Mi, malu ah.”
“Mandi dulu sana, abis itu makan malam bersama. Izraa mana? Langsung pulang?”
“Kok Mami tahu kalau aku diantar Izraa?” Syila yang tadinya hendak masuk kamar untuk mandi.
“Oh, iya, hanya menebak saja, ini kan hari pertama kalian kerja bersama, dia pasti menawarkan pulang bersama.” Mami menjawab dengan tenang sambil tetap menyiapkan makan malam, padahal dia terkejut.
__ADS_1
Syila memandang mami, dia terlihat tenang, Syila tidak jadi curiga, pasti hanay insting ibu, dia lalu masuk ke kamarnya, setelah mendengar pintu kamar anaknya dikunci, mami lalu terdiam dan berkata dalam hati, hampir saja.
Tak lama kemudian Alzam, papi dan Andi sudah sampai rumah, Andi bilang memang akan mampir karena ada yang harus dia bicarakan dengan Syila.
Semua orang berkumpul di meja makan.
Bunyi sendok dan garpu yang beradi dengan piring, mereka fokus makan, semua orang lelah dengan pekerjaan seharian ini.
Hingga akhirnya mami mengeluarkan pencuci mulut, beragam buah yang sudah didinginkan, lalu mulailah obrolan tentang perusahaan Syila hari ini.
“Jane tuh ya, gue bener-bener kesel banget sama perempuan ular itu.”
“Setiap tempat akan ada kok wanita seperti itu, jangan terlalu diambil hati, aku saja dulu sangat tidak suka Hanum, tapi setelah kenal, ternyata dia perempuan yang hangat dan baik sekarang malah calon kakak iparku dan dia adalah support system yang sangat aku andalkan di luar keluarga, kita tidak bisa menilai orang dalam satu malam Ndi.” Benarlah dugaan Izraa, kalau dia dan maminya frotal pada Jane, pastilah Syila akan protes.
“Memang ada kejadian apa? siapa Jane?” Mami menanyakan orang yang dibicarakan Andi.
“Itu loh Mi, dia itu pegawai perusahaan maminya Izraa, sekertaris umum yang memegang divisi sekertaris, sekarang dia diperbantukan di perusahaan Syila, tapi dia tadi kayak sengaja menggiring kami untuk makan siang di restoran, mungkin ingin mempermalukan Syila.” Andi kesal kalau ingat kejadian tadi.
“Wah, perempuan yang menakutkan, hati-hati Syila. Lalu bagaimana akhirnya?”
“Tidak terjadi apa-apa, aku baik-baik saja kok, pulang dengan semangat kan? walau lelah karena harus bekerja seharian.” Syila langsung menginjak kaki Andi, agar tak cerita soal serangan paniknya, takut mami jadi khawatir.
“Syukurlah, karena kalau Syila kenapa-kenapa, itu tidak hanya akan merusak hubungan dua kelurga, tapi juga hubungan bisnis kita semua.” Papi memberikan dukungannya agar Syila paham, papi tetap mengutamakannya.
“Tenang aja, semuanya baik-baik saja kok.” Syila menatap Andi agar mendukung perkataannya.
“Iya kok Mi, Pi, santai, ada Andi dan Izraa kan, jadi kami jagain Syila kok.”
“Hal seperti ini kan tidak ada apa-apanya dibanding diculik dan ditusuk Pi, jadi Syila pasti bisa menghadapi ini dengan mudah.”
Mami melihat Syila sambil tersenyum, dia senang karena anaknya tidak lagi hanya menyesali takdir lagi, dia bahkan bisa bercanda dengan semua kejadian ini.
Maka maminya Syila mulai percaya bahwa apa yang dikatakan maminya Izraa benar, bahwa ... dia akan mampu membuat Syila kembali bersinar lagi, janji yang dia katakan dan dia bilang akan tepati, katanya ini lebih dari tanggung jawab seorang ibu karena anaknya diselamatkan, tapi juga sebagai bagian dari memenuhi keinginan anaknya agar bahagia.
Maminya Syila juga hanya ingin Syila bahagia di tangan yang tepat.
__ADS_1
Tanpa tahu bahwa, mereka berhadapan dengan orang tua yang mengedepankan bisnis di atas apapun.
Maka jika waktunya Syila akan terluka, maka mungkin saja mereka tetap melakukannya jika pilihannya adalah bisnis mereka.