
“Karena ini sungguh penting, makanya Syila meminta izin Mami.” Syila berbicara di meja makan saat makan malam hari ini, dia ingin ibunya mengizinkan pergi ke acara prelaunching filmnya itu.
“Di sana kau akan bertemu dengan Izraa?” Maminya langsung pada kekhawatiran, tidak ingin anaknya lupa, bahwa hubungan mereka masih belum direstui juga.
“Ada, dia kan peran utamanya.”
“Yasudah nggak usah.” Papi tiba-tiba menjawab, kak Alzam tersenyum mendengar itu.
Syila menunduk terdiam dan melanjutkan makan, bukan Izraa yang ingin dia lihat, tapi dia ingin lihat film yang dirampungkan, itu saja.
Semua orang melanjutkan makan dengan tenang, mami melihat Syila, air mukanya terlihat sangat sedih, mami terdiam, hatinya bergertar karena ikut merasakan kesedihan yang sama.
Selesai makan malam, Syila masuk ke kamar dan menutup pintu, meminta untuk tidak diganggu.
Papi masuk ke ruang kerja untuk membaca dan Alzam kembali ke rumah sakit, sementara Mami ke kamar, di kamanya dia menelpon seseorang.
[Aku ingin bertemu, besok makan siang, tempat aku yang tentukan, aku ingin bicarakan hubungan anak kita.] Mami Syila menelpon mami Izraa.
...
“Terima kasih karena akhirnya menghubungiku.” Maminya Izraa berbasa-basi, dihadapan mereka terhidang makanan yang tidak berat, karena ini memang pertemuan untuk membahas hal yang serius, jadi makanan bukan menu utamanya.
“Aku hanya ingin langsung pada topik saja, maaf jika aku melewatkan sesi ramah tamah.”
“Silahkan.” Maminya Izraa cukup tahu, kalau ini akan menjadi diskusi yang alot, karena mamanya Syila yang masih kecewa, jujur saja, jika Syila anaknya dan berkali-kali celaka karena lelaki lain, pasti dia juga akan sulit merestui hubungan ini, maka dia bersedia bekerja keras untuk mendapatkan restu demi anaknya dan tentu saja, bisnisnya juga.
“Aku kira sulit untuk menyampaikan ini secara langsung, mengingat kita memiliki hubungan yagn sangat baik akhir-akhir ini, aku juga tahu kalau anda mengunjungi beberapa temanku untuk ... membujuk, terima karena itu aku anggap sebagai perhatian, tapi ... kita sama-sama tahu bahwa hubungan ini akan sulit dijalani, anakku ... saat ini dia sangat rapuh, apa yang menjadi impiannya dan hobinya mungkin akan sirna seketika karena tangan itu, maka aku memohon padamu, bisakah kita jauhkan anak kita agar tidak bersama lagi?” Maminya Syila berkata dengan tegas, hanya jika saja ada kemungkinan untuk bisa dilakukan, dia ingin punya sekutu, sayang ... sekutunya bukan berada di pihaknya.
“Aku setuju, mari kita jauhkan anak kita, aku pun jika Syila adalah anak perempuanku, aku tidak ingin dia menjadi menderita karena menikahi pria yang dia ... CINTAI!” Maminya Izraa mulai menyerang dengan kata yang terdengar masuk akal.
“Aku tidak bermaksud untuk memisahkan mereka, aku juga tak yakin apakah mereka berdua benar-benar dalam kondisi saling mencintai, bisa saja ini hanya saling tertarik dan masih bisa untuk hidup masing-masing saja.”
__ADS_1
“Aku pun setuju dengan pemahamanmu, bahwa, mereka pasti hanya saling tertarik, tapi apakah ketertarikan mampu untuk membuat seseorang bertaruh nyawa? Izraa bahkan mengejar Aldo si penguntit itu ketika Syila diculik, mengeluarkan senjata api untuk menghabisinya, jika saja Syila tak memeluknya, mungkin anakku sekarang sudah ada di penjara dan dihukum karena membunuh seseorang.”
“A-apa maksud anda dengan mengatakan bahwa Izraa menodongkan pistol pada Aldo?” Maminya Syila memang tak pernah diberi tahu tentang kejadian ini, kejadian di mana Syila diselamatkan, karena kondisinya yang terlalu lemah akibat jantung yang menua, banyak hal disembunyikan darinya.
“Ya, kau tahu, Izraa membawa senjata api saat mencoba menyelamatkan Syila dan berniat membunuhnya, anakku tak pernah tertarik pada wanita mana pun selama ini, aku pikir dia ... ya, sesuai gosip itu, aku pikir dia tak suka wanita karena hampir tidak pernah membawa wanita ke rumah sejak remaja, tapi ketika dia datang untuk menjemput Syila ke rumah dan khawatir saat tangan Syila kena kopi panas di gelasnya, wajah ketakutan Syila sakit itu, membuatku sadar, Izraa bukannya tak suka perempuan, tapi dia hanya belum ketemu orang yang tepat saja selama ini.
Maka aku selalu pertanyakan, apakah ini namanya hanya tertarik saja?”
Mami Izraa adalah wanita pebisnis yang tangguh, ada kalanya dia yang menyusun strategi bisnis suaminya, dia paham betul, orang yang sudah yakin pada satu hal, tak bisa digoyahkan dengan hal sebaliknya, maka dia harus digoyahkan dengan keyakinannya sendiri.
Seperti saat ini, dia yakin kalau Syila dan Izraa sebaiknya berpisah karena Izraa dan Syila tidak benar-benar jatuh cinta, hanya dua orang yang dipertemukan dengan intens akibat proyek film itu, maka keyakinan tersebut, coba digoyahkan oleh maminya Izraa dengan cara memberi pandangan berbeda, yaitu, kemungkinan tentang mencintai jauh lebih dalam.
Maka jika titiknya di sana, akan sangat sulit memisahkan mereka dengan paksa, akibatnya akan jauh lebih berat bagi dua sejoli itu.
Melihat maminya Syila mulai goyah karena terdiam, maka maminya Izraa mulai melancarkan serangan lagi, “Lalu jika memang Syila hanya tertarik, kenapa dia mau membujuk sahabatnya Juna untuk memberi pinjaman padanya untuk membantu Izraa? Kau tahu kan, uang itu tidak sedikit, ratusan juta, aku tidak begitu ingat jumlah pastinya, datang ke tempat di mana perempuan itu janjian dengan Izraa dan menyerahkan tubuhnya untuk menyelamatkan Izraa, aku tahu dengan baik, pada saat itu, pasti Syila tak berpikir jauh, dia hanya menggunakan instingnya, jika saja dia tak membiarkan tubuhnya yang terluka, maka akibatnya pada Izraa jauh lebih berat, mungkin saja dalam perhitungan Syila, karena kita tahu dia gadis pintar, Izraa mungkin akan tidak selamat, maka dia memilih efek yang paling ringan, yaitu, mengorbankan dirinya sendiri.” Maminya Izraa mengambil cangkir tehnya dengan anggun, menyeruput teh itu tanpa suara sambil memandang maminya Syila, jelas, maminya Syila bukan lawan yang sepadan, dia tak paham kalau pemikirannya sedang dimanipulasi oleh mami Izraa agar berpikir bahwa dua sejoli itu memang sangat saling jatuh cinta.
Tentu saja, apa yang maminya Izraa katakan, hanya tebakan saja, dia selama ini selalu memantau Izraa dan Syila menggunakan jasa yang profesional, dia selalu memastikan orang di sekeliling Izraa bukan orang yang jahat, semua orang kaya sepertinya memang selalu memastikan anak-anaknya bergaul dengan orang-orang yang tepat, memastikan uang mereka takkan dimanfaatkan oleh segelintir niat buruk yang dilancarkan pada kelemahan mereka, yaitu ... anaknya.
Semua yang dikatakan maminya Izraa benar, bahwa serangkaian yang dilakukan Izraa dan Syila dalam saling menyelamatkan satu sama lain, kemungkinan karena cinta itu besar, siapapun yang melihat dan mendengar cerita ini, pasti akan anggap Syila dan Izraa saling mabuk kepayang satu sama lain.
Bagaimana penyakit Izraa yang tidak diketahui orang tua atau bahkan Manager dan Managemennya, hanay Dokternya saja yang tahu dan Syila saat ini.
Semua yang Izraa lakukan adalah atas dorongan penyakitnya, lalu semua yang Syila lakukan karena rasa bersalah sebelumnya, selalu ada variable lain selain cinta ... tapi bisa juga karena cinta yang tidak disadari, menurut kalian?
“Aku kita, kita tak bole gegabah dalam menilai suatu masalah, karena bisa jadi, kalau kita salah langkah, kita justru menyakiti hati anak kita dan mengancam masa depannya.
Kita larang sekarang, lalu mereka depresi dan trauma, tidak mampu lagi menemukan orang yang bisa saling mencintai sebesar mereka kepada satu sama lain, maka kita akan menjadi orang tua yang menyesal kelak.” penutupan yang pamungkas dari maminya Izraa, ini pemahaman yang coba dia tancapkan pada maminya Syila, karena bagi perempuan yang mendahulukan perasaan, tentu ini hal yang jauh lebih merugikan bagi anak perempuan, karena jika dia memang benar merasakan cinta yang besar, akan sulit baginya menerima hati siapapun.
Maminya Syila teringat akan bagaimana dia sangat berat melepas Dokter Kevin, lalu tetap hidup tanpa cinta, hingga akhirnya menemukan Izraa, ini akan menjadi pukulan berat lainnya.
“Aku sudah mendenga semua yang ingin kau katakan, jangan datangi teman-temanku lagi hanya untuk membujukku, kau pasti membayar mahal untuk melakukan itu, karena teman-temanku suka baang-barang mewah.
__ADS_1
Aku sudha mendengar dengan jelas apa yang menjadi pemikiranmu, aku pamit.” Maminya Syila hanya mengatakan itu dan keluar dari tempat VIP room sebuah restoran mahal.
Maminya Izraa melihat wanita calon besannya itu pergi lalu dia menelpon seseorang.
[Aku sudah membantumu untuk mendapatkan restu kembali, percaya padaku, besok Syila akan datang dan itu karenaku, kau hutang budi padaku, kelak akan aku tagih dan harus kau bayar.] Maminya Izraa berkata dengan senang.
[Apa yang kau lakukan pada maminya Syila?]
[Kau kan tahu, aku ini pandai membujuk, ketika kau datang padaku semalam dan memintaku membujuknya, aku menggunakan segenap kemampuanku untuk dapat mengubah pemikirannya, sekarang tergantung kau, kau harus berubah, pastikan kau menjadi menantu kesayangan mereka setelah ini, tapi ... ketika aku memintamu untuk membalas budi kelak, kau tidak boleh menolak.” Maminya Izraa berkata layaknya pada seorang rekan bisnis, dia sudah tidak bisa lagi mendekati Izraa sebagai seorang ibu, karena kesalahan masa lalu selalu membuat Izraa menjaga jarak, makanya, sebagai rekan bisnis pun tak masalah, yang penting, Izraa sudah mau berhubungan lagi dengan mereka, pelan-pelan, maka Izraa akan kembali, Syila adalah kunci gerbang yang sudah tertutup rapat itu, maka ini adalah win-win solution.
...
“Syil, mami mau bicara bentar boleh?” Maminya Syila masuk ke kamar anaknya, Syila hanya sednag menonton televisi di kamarnya.
“Ya, Mi.” Syila mematikan televisinya dan mami duduk di samping tempat tidurnya.
“Syil, besok kita ke butik ya, kita harus fitting, kamu cuma punya waktu besok untuk beli baju.”
“Beli baju? Untuk apa?”
“Untuk acaramu, prelaunching film itu, kau harus terlihat cantik di sana, mami sudah booking dengan butik agar menyiapkan baju terbaik mereka. Tapi kita cuma bisa ambil yang ada saja, nggak bisa buat yang kamu banget.”
“Mi! aku boleh pergi?!” Mata Syila berbinar-binar.
“Ya, kau boleh pergi, Andi yang akan antar seperti biasa, tapi pastikan, acara itu tidak akan membuatmu tidak nyaman ya.”
“Makasih Mi.” Syila memeluk mami dengan satu tangannya.
“Syil, kamu bahagia?” Mami bertanya, masih dalam pelukan.
“Sanga Mi, sangat bahagia, Syila memang mau datang ke tempat itu, mau sekali, Syila seneng banget.”
__ADS_1
Maminya semakin mengira bahwa karena ada Izraalah makanya Syila begitu bahagia, maka dia mengkonfirmasi omongan manipulatif ibunya Izraa sebagai sesuatu yang nyata dan benar.
Dia sudah masuk perangkap dengan mudah.