Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 42 : Anak Mami


__ADS_3

Sudah dua hari ini Izraa bolos syuting, dia menghabiskan waktunya di rumah sakit menemani Syila.


Syila sedang diperiksa, dia dibawa Papi ke lab untuk pemeriksaan selanjutnya. Tidak lama kemudian Papi dan Alzam masuk membawa Syila dengan kursi roda.


"Gimana Om, tangannya Syila masih bisa nulis, kan? "


Izraa bertanya.


"Kalau nulis sih bisa tapi jangan angkat yang berat dulu, semuanya baik-baik saja, asal Syila nurut untuk terapi ya."


Setelah mengembalikan Syila ke ranjang, papi dan kakaknya pamit untuk tugas lagi, Andi tidak lama datang.


"Za, kamu pulang aja ya, jangan kelamaan bolos syuting, ada Andi kok di sini." Syila meminta Izraa pulang.


"Kemarin waktu kamu diculik juga ada Andi, kan?"


"Heh!" Andi kesal lalu dia pergi keluar mau membeli kopi dulu, panas kepalanya terus diungkin Izraa.


sementara Izraa dan Syila hanya berdua saja.


"Za, kamu kenapa sih beberapa hari ini?" Syila bertanya.


"Kenapa baru bertanya sekarang? "


"Ya, baru kepikiran aja sih."


"Bohong, lalu kenapa browsermu penuh dengan kata kunci namaku dan keluargaku?"


"Kau memeriksa laptopku?! "


"Bukan itu masalahnya, Syil, kenapa kamu tanya ke mesin pencarian bukan ke aku?"


"Aku hanya khawatir padamu seperti khawatir pada Juna."


"Setidaknya, hubungan kita sudah maju ya."


"Apa maksudmu?" Syila bertanya.


"Paling tidak hubungan kita yang baru beberapa bulan ini kau samakan dengan hubunganmu dengan Juna yang sudah lama itu, sudah sejak kecil kan, kau berteman dengannya?" Izraa mendekatkan wajahnya, Syila mundur karena risih.


"Apa kau telah tertarik dengan wanita lain? aku tidak keberatan kok, kita bisa akhiri hubungan ini. Aku tidak ingin perempuan barumu salah paham." Syila berkata, mencoba menjaga nada suaranya agar tak terlihat ... cemburu.


"Menurutmu apakah aku bisa tertarik pada wanita lain selain dirimu?"


"Aku pikir hal seperti itu selalu saja bisa terjadi, mengingat betapa tiba-tiba dan uniknya caramu menyukaiku." Syila berkata dengan hati-hati.


"Kalau memang hal seperti itu bisa terjadi, aku tidak akan ada di sini dan memilih menjagamu ketimbang ke lokasi syuting."


"Mungkin kau hanya iba, merasa bersalah karena kau tidak mengantarkanku pulang kemarin dan mengabaikanku beberapa hari ini."

__ADS_1


"Masalah hidupku hanya selalu tentang Penulis yang sok tahu ini." Izaa menepuk tangan Syila yang sakit, Syila meringis sedikit, bukan sakit tapi kaget tangannya dipegang.


"Kau bicara apa sih? aku tidak mengerti!"


"Apa yang kau ingin tahu sebenarnya sampai mencari tahu keluargaku dan diriku di browser itu?" Izraa bertanya lagi.


"TIdak ada, aku hanya bingung saja, kau memanggil papi dan mami pada keluarga Om Hansyar, aku hanya bingung saja, aku kalau bingung ya cari tahu, kau tahulah, seorang penulis itu suka observasi."


"Apakah aku sekarang objek tulisanmu, sampai kau harus observasi segala?" Izraa kembali mencondongkan wajahnya pada wajah Syila.


"Bukan begitu."


"Apa yang ingin kau tahu, tanyakan padaku."


"Aku hanya ingin tahu, kenapa kau tidak pulang selama itu, maksudku, sebagai seorang yang sekarang paling dekat denganmu, aku hanya ingin tahu, apakah kau ada masalah berat, apa yang aku rasakan adalah seperti aku khawatir pada Juna , itu saja."


"Jangan mengulang-ngulang soal Juna, aku tak tanya itu, kau terlalu ketakutan, apakah kau mulai merasakan sesuatu padaku? kau tahu ini kan, ketika kau mengulang-ngulang sesuatu, sebenarnya kau sendiri tak percaya itu, makanya kau mengulang-ulang agar yakin. Jadi sebenarnya, kau itu sedang meyakinkan dirimu atau diriku sendiri?"


"Jadi kau mau cerita atau tidak? jangan keluar dari konteks." Syila kesal.


"Aku meninggalkan rumah karena masalah prinsipil saja, kau tahu, mereka terlalu mengatur dan ya, begitulah, problem remaja."


"Lalu kalau hanya sekedar problem remaja, kenapa kau harus pergi sampai sepuluh tahun lebih?" Syila bertanya lagi.


"Ya, karena ... sebentar, kenapa kau tahu aku telah meninggalkan rumah selama sepuluh tahun ini? setahuku Wikipedia tidak sedalam itu memuat informasi tentang keluargaku."


"Ya, hanya menebak saja." Jawaban terbaik yang bisa Syila pikirkan.


"Ya, emang cuma nebak!"


"Apa Papi yang hubungi kamu? atau Mami? oh, aku akan bicara pada mereka."


"Eh, tidak, tidak, baik-baik, mamimu yang bilang, dia mengundangku makan siang, lalu dia bercerita tentang ... masalah keluargamu, aku waktu itu datang karena sopan santun saja."


"Kalau sudah tahu, kenapa kau bertanya lagi?"


"Aku hanya ingin tahu, apa yang begitu mengganggumu sampai pergi jauh dari keluarga, karena hidup tanpa keluarga itu pasti sulit, Za."


"Tidak perlu sibuk memikirkan diriku, yang perlu kau pikirkan adalah kesehatanmu, film dan deadline novel menunggu bukan?"


"Kau tidak ingin bercerita? kau tidak percaya padaku?" Syila kesal karena rayuannya tidak mempan, padahal dia sudah berusaha untuk selembut mungkin saat bertanya.


"Kau percaya padaku?" Izraa bertanya balik, Syila terdiam.


"Kau harus istirahat, Izraa kembali duduk di sofa sebrang ranjang Syila, dia kembali membaca bukunya."


Syila akhirnya berbaring dan memaksakan diri untuk tidur.


TIdak lama kemudian Andi datang, dia membawakan kopi juga untuk Izraa.

__ADS_1


"Za, elu nggak mau balik aja dulu? mandi, istirahat gitu." Andi berkata.


"Ya, habis ini gue pulang, tapi gue udah bayar dua orang buat jagain kalian di depan kamar ya, jangan usir, gue biasa pakai mereka kalau lagi ada fans meeting, mereka udah pengalaman jagain orang."


"Hah? elu bayar Bodyguard buat kita? ini rumah sakit Za, ada security ada papi dan kakaknya Syila, elu ...."


"Gue nggak percaya sama lu, jadi tetep gue mau kalian aman, biarin dua Bodyguard itu jagain Syila."


Izraa lalu bersiap untuk pulang, dia sebenarnya tidak ingin pulang, tapi dia cukup kesal dan harus bertemu dengan maminya, dia ingin maminya tidak ikut campur lagi.


"Kalau dia bangun nanyain gue, bilang gue pulang sebentar, elu telepon gue kalau dia nanyain gue ya."


"Dih sapa elu, ngapain ade gue nanyain elu?" Andi memasang ekspresi jijik.


"Gue pacarnya!" Izraa lalu pulang dan memerintahkan dua Bodyguard menjaga Syila dan Andi.


dia tidak pulang ke apartemen, dia mengirim pesan singkat ke maminya, dia meminta bertemu di restoran yang tempatnya private, tidak banyak orang.


Tidak lama Izraa menunggu maminya datang, begitu datang dia ingin memeluk Izraa tapi Izraa menghindar, maminya tahu kalau sepuluh tahun tidak membuat marahnya reda, itu salah satu keburukan Izraa, selalu penuh dendam.


"Za, gimana Syila?" Mami bertanya, sementara pesanan makanan sudah di atur mami kepada Pelayan restoran itu bahkan sebelum Izraa sampai.


"Kenapa Mami menemui Syila dan menceritakan masalah keluarga kita?"


"Tentu saja untuk minta tolong, dia kekasihmu, satu-satunya yang kami tahu setelah bertahun-tahun, datang dari keluarga baik, wanita hebat dan anggun, bagaimana tidak aku mendekatkan diri dan mencoba membuatnya masuk dalam keluarga kita."


"Dengan memberitahu aib keluarga kita?!!" Izraa kesal hingga tidak sadar meninggikan suara.


"Kau sepertinya begitu menyukai Syila sehingga tidak ingin terlihat buruk ya, Syila gadis beruntung."


"Bisakah kau tidak ikut campur masalahku?"


"Za, bagaimana bisa seorang ibu tidak ikut campur masalah anaknya?"


"Apakah kau benar menganggapku anak sementara saat anak kandungmu sakit saja kau tidak peduli!"


"Aku peduli padamu! aku perduli pada Sofia, aku tidak pernah memandang dia anak kandungku dan kau anak tiriku, aku mencintai kalian berdua tanpa membandingkan, kami saat itu pergi untuk kesepakatan penting, semuanya untuk kalian berdua!"


"Apakah setelah kalian mendapatkan proyek Yayasan itu, menjadi pemiliknya, Sofia bisa jalan lagi?"


"Za! jangan keterlaluan, dia adikmu!"


"Karena itu aku tidak percaya padamu dan papi, kalian berdua tidak mencintai kami, kalau kau mencintai kami sebagai anak, kalian akan tinggalkan apapun untuk berada di sisi kami saat itu, kau tahu, betapa hancurnya hati Sofia saat itu dan kalian hanya bilang tidak bisa pergi karena pertemuan bisnis itu?! bagaimana jika salah satu dari kami mati, apakah kalian akan datang? atau tetap pada pertemuan bisnis sialan itu?"


"Za ...."


"Ini terakhir aku katakan padamu, jangan pernah ikut campur masalahku atau hubunganku lagi, jika tidak, aku benar-benar akan menghilang, mengerti!" Izraa lalu pergi dari restoran itu meninggalkan maminya, mami yang sebenarnya sangat sayang padanya.


"Kau sudah dewasa, tapi tetap saja seperti anak kecilku yang suka merengek." Mami mengelap air matanya dan menghubungi Hansyar.

__ADS_1


[Pi, Mami mau ketemu calon mantu ya, tolong jangan sampai Izraa tahu, cek apakah Izraa menaruh Bodyguard di rumah sakit itu, seperti dia lakukan dulu saat Sofia kecelakaan dan melarang kita masuk menjenguknya.]


__ADS_2