
“Syila mungkin ini sedikit melanggar batasan, tapi papi hanya ingin tahu apakah hubunganmu dengan Kevin baik-baik saja?” Papi bertanya. Ini sore hari, papi sedang libur.
Mereka ada di kamarnya Syila, papi meminta berbicara di sana, pintu ditutup, Syila lumayan curiga karena bingung merasa aneh papi ingin bicara berdua saja.
“Ada apa Pi? Kok tumben penasaran sekali?” Syila bertanya, ini sudah lebih dari satu minggu setelah hari itu, hari di mana papinya Izraa Pak Hansyar memohon.
“Aku dengar ada keributan di rumah sakit antara kau dan juga Kevin, beberapa orang menjadikannya gunjingan hingga sampai padaku, bolehkah aku tahu ada apa?” Papinya bertanya. Sebenarnya dia tak terlalu peduli dengan gunjingan itu, selama Syila tak mengeluh padanya, maka dia merasa semua baik-baik saja.
“Oh soal itu.” Syila menyesal karena kemarin kehilangan keanggunannya, tak seharusnya dia melakukan itu, mengkonfirmasi perasaan seseorang, itu adalah hal bodoh, kalau kau bertanya-tanya tentang perasaannya padamu padahal kalian sudah berkomitmen untuk bersama dalam hubungan yang lebih intim, itu artinya ada yang salah, karena sejatinya ketika sudah memiliki hubungan, pertanyaan itu sudah terlewati, karena pertanyaan itu seharusnya ditanyakan hanya jika hubungan belum sejauh komitmen yang disepakati.
Kecuali perasaannya hilang seketika, bisa saja, maka kau tak perlu bertanya, tapi mengerti saatnya harus pergi, jangan konfirmasi, karena itu membaut harga dirimu jatuh.
“Jadi … benar kalau hubunganmu dengannya tak baik-baik saja?” Papi bertanya.
“Hmm, kami memang bertengkar, tapi namanya juga pacarana kan, Pi. Aku sama kak Alzam aja sering bertengkar apalagi dengan pacar.” Syila mencoba untuk memberikan pandangan secara logis.
“Tapi kalau membuatmu sampai kelepasan, aku rasa masalahnya cukup besar.”
“Tidak kok, biasa saja.” Syila masih mencoba membantah.
“Syila, papi akan langsung pada intinya saja, bahwa Kevin seorang lelaki yang baik, dia Dokter dengan dedikasi yang tinggi, tapi bukan itu yang Papi harap menjadi pertimbanganmu, karena kebahagiaanmu adalah hal paling penting, jadi Papi nggak masalah kalau kalian berpisah.”
“Kenapa papi ingin kami berpisah?” Syila bertanya, karena Papinya selama ini sangat sayang sekali pada Kevin, Syila merasa tenang karena mampu membuat papinya lebih menghargainya karena berpacaran dengan Kevin, penolakan Syila menjadi Dokter, membuat Papi terkadang terlihat kecewa padanya, Syila merasakan itu. Walau bukan menjadi pertimbangan utama, tapi salah satunya untuk papi bangga, makanya Syila berhubungan dengan Kevin.
Ini sudah tiga hari dan Kevin tidak menghubunginya lagi, padahal setelah pertengkaran itu, Kevin sempat membaik dan mereka sempat jalan bersama, saat itu dompetnya ketinggalan dan melarang Syila mengambilkan dompet itu, tapi Syila bersikeras dan Kevin malah menuduhnya cemburuan, padahal Syila jadi curiga karena sikap Kevin yang takut barang pribadinya dipegang, sekarang Syila terlihat jadi Perempuan yang jahat dan arogan.
Sekarang, karena omongan papi ini, terus terang Syila masih ingin memperbaiki hubungannya dengan Kevin dan mencari tahu, apakah Kevin memang sudah tak mencintainya lagi? Karena akan percuma jika saja hanya Syila yang mempertahankan hubungan ini.
“Tidak, aku hanya takut kalau pertimbanganmu untuk tetap bersamanya, bukan karena hati, tapi mungkin karena Papi, jadi Papi ingin kau menjalani hubunganmu karena kau mencintainya.”
__ADS_1
“Aku mencintainya Pi, aku ingin bersamanya, aku pikir aku bisa bikin bangga Papi, karena tak bisa jadi Dokter, tapi mungkin bisa bersama kekasih yang kelak jadi suami dan dia seorang Dokter, Syila cuma mau papa mengerti, bahwa lama kelamaan, perasaan untuk memenuhi keegoisan Syila agar dibanggakan papi, berubah menjadi perasaan cinta yang tak ingin kehilangan, Pi.” Syila tak sengaja meneteskan air mata.
“Syila dengar, Papi hanya ingin Syila bahagia, terserah Syila mau jalanin atau pisah, tapi kalau Syila tak bahagia, Papi tak masalah sama sekali jika hubungan kalian selesai.”
“Pi, Syila sudah cukup besar kok, jadi Syila tahu mana yang harus Syila lakukan dan tidak, jadi … Papi percaya saja, Syila akan selalu memilih yang menurut Syila benar, jadi Papi jangan terlalu khawatir.” Syila memeluk papinya dan papi keluar setelahnya, meninggalkan Syila yang masih terpaku dengan layar di telepon pintarnya yang tak juga kunjung muncul pesan dari kekasih, Syila memang tak lagi menghubunginya duluan, agar dia rindu dan mungkin menghargai Syila dengan lebih baik.
Tapi Syila salah, lelaki itu tak sama sekali rindu, dia sibuk dengan calon istri barunya.
…
“Kalau Dokter terlalu sibuk, tak seharusnya mengantar sampai parkiran begini, kan Winda ada perawat pribadi.” Kevin mendorong kursi roda Winda, sementar perawat pribadinya ada di belakang berjalan mengawasi mereka.
“Tak masalah, hanya mengantarmu saja, lagian sudah tak ada lagi pasien kok, sudah malam, mungkin tinggal jadwal visit. Winda, terima kasih ya, karena kamu sudah membawakan makan malam, terima kasih juga sudah menemaniku makan malam. Jadi aku bisa fokus bekerja setelah ini.”
Supir sudah menyalakan mobil dan bersiap untuk Winda masuk mobil. Kevin lalu menggendong Winda dengan kedua tangan dan memasukkan dia ke mobil, sementar perawat melipat kursi rodanya, memasukkan ke bagasi dan duduk di samping supir.
Di antara sumringah itu, dari kejauhan ada seorang wanita berjilbab yang menutup matanya dan menangis karena melihat betapa manisnya perlakukan kevin pada wanita itu, berbeda sekali dengannya, betapa kasar Kevin padanya, dulu sekali, ya … dulu sekali dia begitu juga padanya. Apa wanita itu yang membuat Kevin berubah?
Dokter itu kembali ke ruang kerjanya untuk istirahat, belum juga dia duduk, ada seseorang yang mengetuk pintunya dan masuk begitu saja tanpa dipersilahkan, ya, dia adalah kekasihnya yang diabaikan.
“Aku takkan mencari keributan, aku ingin membicarakannya baik-baik Kevin, bisakah kau menyediakan waktu untukku?” Syila duduk di hadapannya dengan tenang tanpa menuduh atau marah-marah, walau dia berhak atas apa yang dia lihat barusan, karena melihat Kevin mendorong kursi roda wanita itu, Syila pikir dia pasien lama Kevin hingga diantar oleh Kevin sampai ke parkiran rumah sakit, tapi melihatnya digendong dan Kevin tetap membungkuk setelah menurunkannya dari gendongan di mobil itu lalu mengecup keningnya ... dia bukan wanita biasa.
Syila melirik ke arah kotak makan yang masih kotor, seolah kotak itu adalah kotak makan yang isinya baru saja dihabiskan, Syila tersenyum sinis, paham kalau wanita itu mungkin yang membawakan makanannya.
“Aku sebenarnya ke sini bawa bekal untuk makan malammu, tapi mungkin aku terlambat, kau sudah makan ya?” Syila mencoba berbasa-basi dulu.
“Syil ....”
“Dokter Kevin, aku melihatmu mendorong kursi roda itu, menggendongnya dan mengecup keningnya, aku tahu wanita itu bukan kerabatmu, kau tak punya adik perempuan, kalaupun dia adalah sepupumu, rasanya janggal jika kau mengecup keningnya dan tak mungkin juga dia keponakanmu, karena dari wajahnya aku tahu kalau umurnya mungkin tak jauh di bawahku. Maka aku simpulkan, bahwa, dialah penyebab semua sikapmu yang berubah ini, bukan?” Syila berkata dengan tenang, setengah mati dia menahan emosinya dan memastikan air mata tidak jatuh.
__ADS_1
Pintu ruang kerja Kevin sudah tertutup rapat, Kevin menunduk, mengacak rambutnya, seolah dia sedang diinterogasi oleh seorang Polisi wanita yang cerdas. Dia sedang mencari cara mengelak dan tidak harus menyelesaikan hubungan ini, dia butuh waktu untuk mengulurnya, dia masih ingin Syila menjadi kekasih, tapi kecerdasan gadis ini dengan insting yang tajam, serta caranya menangani emosi, sungguh terlihat mengintimidasi.
“Dia pasienku, wanita yang sangat baik dan cerdas, orang tuanya berkata padaku bahwa, gadis itu sebelumnya sangatlah murung, seperti tak memiliki harapan lagi untuk hidup karena kecacatan yang tidak dia dapatkan dari lahir, dia wanita yang sangat cantik dan berwawasan luas serta baik, tapi takdirnya sungguh tragis karena kecelakaan.
Ayahnya datang padaku memohon, karena setelah bertemu denganku dan menjadi pasienku, Winda menjadi sangat bersemangat dan riang lagi, dia seperti memiliki semangat hidup.
Aku sudah katakan bahwa ... aku memiliki kekasih, tapi ayahnya memohon, hanya sampai gadis itu mampu berdiri lagi di kakinya sendiri, hanya sampai gadis itu bisa mendapatkan kembali semangat hidup, aku ingin mendampinginya, Syil.”
Syila menutup matanya cukup lama setelah mendengar kata yang dilontarkan oleh Kevin, itu caranya menahan rasa sakit yang menyelusup di dalam dadanya karena patah hati yang cukup dalam.
Ada gadis lain yang dipuji oleh kekasihnya, landasannya memang kasihan, tapi ... dia bahkan bersedia menjadi sandaran gadis itu, artinya, Syilalah yang dikorbankan. Jika semua orang memihak pada gadis itu, yang karena kecacatan menjadi boleh mendapatkan apapun yang diinginkan, sedang Syila yang katanya lebih beruntung karena sehat, tidak masalah jika harus kehilangan orang yang sangat dia cintai.
“Kevin, kau harus menyelesaikan hubunganmu denganku, karena jika kau ingin memulai dengannya, kau tidak bisa terus bersamaku.” Syila akhirnya membuka mata dan terlihat jelas, dia menahan air mata agar tidak jatuh.
“Syila, aku mohon, ini hanya sampai gadis itu mampu untuk melanjutkan hidup dengan lebih baik, setelah itu aku akan kembali padamu.”
“Baiklah, jika memang masa itu benar akan ada, kau bisa datang padaku, tapi maaf, aku tak bisa menjadi simpananmu sementara kau menjaganya dan selalu mengabaikanku, aku tidak bisa Kevin, aku melakukan ini bukan untuk gadis itu dan mengalah, tidak Kevin. Aku melakukan ini untuk diriku sendiri, aku tak sanggup selalu ketakutan setiap saat karena memikirkan betapa gadis itu bebas bersamamu sedang aku, harus rela kau acuhkan. Tidak Kevin, rasanya sakit sekali jika membayangkan, bagaimana kau mengabaikanku beberapa waktu ini dan menuduhku cemburuan! Kau tahu dengan jelas bahwa aku bukan jenis wanita seperti itu.
Kevin, maaf, mulai saat ini, aku memutuskan hubungan kita, aku harap kau akan bahagia dengannya.” Syila bangkit dan hendak keluar dari ruang kerja itu, Kevin meraih tangan Syila hingga mereka berhadapan, dia bermaksud untuk menarik dan memeluknya, Syila menahan tubuh Kevin dengan mendorong dadanya agar mereka tidak berpelukan.
“Tidak Kevin, maaf.” Syila menarik tangannya.
“Tunggu aku, aku janji akan kembali padamu.” Kevin memohon dengan wajah memelas.
Syila tak menjawab, dia keluar dari ruang kerja kekasih yang baru saja jadi mantan, dia berjalan, lalu tak lama berlari menuju mobilnya yang diparkir tak jauh dari parkiran gadis yang menjadi selingkuhan kekasihnya, yang menggunakan kecacatan sebagai bujukan atas cinta milik orang lain.
Setelah masuk mobil, dia lalu menangis sejadinya, bagaimana tidak, dia sedang berada di fase sangat mencintai kekasihnya, merasa Kevin sangat sempurna, tapi harus menelan pil pahit karena dipaksa berpisah oleh seorang wanita cacat yang tidak bisa Syila labrak, perempuan itu biar bagaimanapun, mungkin tak bermaksud merebut, tapi dia datang dia saat yang tak tepat, Kevinlah penjahatnya, seharusnya dia bisa tegas pada apa yang dia inginkan.
Maka di sinilah waktu terburuk Syila.
__ADS_1