Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 52 : Pelaku 6


__ADS_3

Fenita berkendara dengan aman tapi entah dari mana datangnya, sebuah mobil yang dengan kecepatan tinggi, menghantam mobil Fenita dengan sangat kencang, Fenita tak bisa mengendalikan mobilnya akibat hantaman itu, dia kehilangan kendali, mobil berputar lalu akhirnya berhenti dengan meninggalkan Fenita yang sudah berlumuran darah.


Orang yang menabraknya keluar dari mobil yang hanya penyok itu, sepertinya mereka paham betul bagaimana mencelakai orang dengan plot kecelakaan.


“Bagaimana keadaannya?” Seorang lelaki berbadan kekar bertanya, Fenita masih setengah sadar, dia melihat dua orang lelaki mendekatinya, salah satunya dia kenal, wajah itu dia sangat kenal, wajah yang ... menembak Izraa.


...


“Fen!” Syila mengelus kepala Syila dengan lembut, dia menangis, sementara Izraa ada di sisi samping lainnya.


“Aku nggak apa-apa kok.” Syila berusaha kuat untuk memberitahu teman-temannya dia baik-baik saja.


“Syil, aku sama Izraa di sini terus ya, kami cari kontak orang tuamu, mereka tidak bisa dihubungi,” uhar Syila.


“Mereka memang begitu, aku di mana?” Fenita mencoba untuk bangkit, Syila membantunya menegakkan badan.


“Kau di rumah sakit, kami dihubungi Polisi yang membawamu ke rumah sakit, karena telepon terakhirmu adalah aku.” Izraa menjelaskan, dia duduk di samping Fenita.


“Oh syukurlah, karena telepon terakhirku kamu, kalau orang tuaku, pasti mereka kebingungan. Karena orang tuaku itu sibuk, mereka sudah berpisah, tidak satu rumah dan sibuk dengan pekerjaann masing-masing, hanya ada adikku, tapi dia ... tidak bisa datang, karena adikku itu orang yang berkebutuhan khusus.”


“Oh, kasihan sekali kau, aku akan temani kamu di sini ya.”Syila kembali membelai kepala Fenita.


“Makasih Syil. Nggak perlu repotklah, aku sih udah biasa sendiri, cuma adikku saja kasihan, nanti tolong telepon rumahku, biar suster yang menjaga adikku bisa stay lebih lama, karena dia pulang malam setiap harinya.”


“Oh iya, aku akan hubungi rumahmu, kau beritahu saja nomornya.” Andi juga ada di sana juga, setelah diberikan nomor oleh Fenita, Andi menelpon rumah dan memberitahu suster adiknya untuk stay lebih lama. Susternya menyanggupi, lalu Andi menyampaikan apa yang suster itu katakan pada Fenita.


“Bagaimana kejadiannya Fen?” Syila bertanya.


“Iya, bagaimana? Mereka kabur, itu tabrak lari, sialnya tak ada CCTV di dekat kau di tabrak, Nit.” Izraa ikut menimpali.


“Aku tidak tahu, terlalu cepat, aku hanya menaati rambu lalu lintas, melajukan mobilku dengan kecepatan sesuai dengan peraturan, lalu tiba-tiba mobil itu datang ... tidak, ini bukan kecelakaan, Za ... ini memang kesengajaan, aku ditabrak dari samping.”


“Kok bisa? Kenapa kau yakin kalau ini kesengajaan?” Izraa bertanya.


“Aku melihat salah satunya turun dari mobil itu, mobil yang menabrakku. Orangnya aku sangat kenal, orang yang ... menembakmu, Za!” Fenita berkata dengan menahan sakit pada kepalanya.


“Apa!” Syila terkejut dan mulai mennagis lagi, semakin banyak korban yang akhirnya berjatuhan karena dirinya.


“Apa kau yakin?”

__ADS_1


“Aku yakin, karena di melongok ke arahku, dia melongok menunjukkan wajahnya, tadinya dia hanya berbicara dengan samar, aku tidak terlalu yakin walau sudah menebak, tapi ketika dia melongok ke dalam mobilku, aku makin yakin, dia orang itu. Beruntung aku mendengar sirine Polisi, itu membuat mereka akhirnya ... urung menarik tubuhku keluar, sepertinya mereka ingin memastikan kalau aku, MATI!”


“Astagfirullah! Astagfirullah!” Syila menangis sejadinya, “maafkan aku Fen, maafkan aku, ini salahku. Kalau bukan karena aku salah menulis kata itu, mungkin kau dan Izraa takkan celaka, maafkan aku ya, Fen.” Syila menangis.


“Syil, bukan salahmu, ini penjahatnya yang salah, si Aldo yang salah, kau jangan menjadi terlihat seperti pecundang begini dong!” Fenita kesal karena melihat Syila menjadi begitu lemah.


“Aku akan ke penjara, aku akan meminta dan memohon kepada Aldo untuk berhenti, aku akan bersujud kalau perlu, aku tidak mau ada korban lagi!”


“Andi, bawa Syila pulang, pastikan dia tak keluar, pastikan semua orang suruhanku tetap berjaga, Fenita aku yang jaga di sini.” Izraa melihat Syiloa kalut dan bisa saja melakukan hal bodoh, langsung memerintah Andi, Andi paham dan menarik Syila keluar dari kamar Fenita dan akhirnya mereka berdua pulang.


“Jangan terlalu kasar padanya, dia hanya merasa bersalah.” Fenita kesal Izraa kasar pada kekasihnya.


“Aku tidak kasar, tapi Syila bukan tipikal wanita yang bisa dikendalikan dengan kelembutan, dia sangat keras kepala, aku harus memastikan dia aman.”


“Kau sangat mencintainya ya, Za?”


“Tentu saja, dia kekasihku.” Izraa mengatakan dengan logis.


“Aku iri pada Syila, dia sangat beruntung memilikimu, tapi aku tahu, Syila pantas mendapatkanmu, tak ada yang lebih pantas.”


“Sudahlah, jangan berpuitis, kau ini memang seniman, tapi sekarang kau sedang sakit, istirahatlah, aku akan disini menemanimu.”


“Jaga diri? Kalau kau bisa jaga diri, kau takkan di rumah sakit, lagian, kenapa kau melakukan tindakan nekat dengan datang ke penjara itu sih? aku sangat terkejut waktu kau katakan akan ke sana.”


“Aku hanya geregetan dengan apa yang dilakukan Aldo, cinta sih cinta, tapi jangan mencelakai orang dong. Apalagi begitu tahu background keluarganya, dia pasti minta bantuan keluarganya yang mafia itu, sebagai hutang asuh yang keluarga aslinya tak lakukan, pasti jaminannya adalah karena dia tak dibuang keluarga itu, hingga membuat dia harus tinggal bersama keluarga yang tak menyayanginya.


Keluarga aslinya pasti tak keberatan membantu, toh kejahatan yang mereka lakukan sudah banyak, makanya tak heran akhirnya sekarang Aldo merasa jadi orang yang bebas melakukan apapun, walau dipenjara, aku hendak mengancamnya. Tapi malah begini kejadiannya.”


“Kau ini, perempuan yang sama keras kepalanya dengan Syila.”


“Tapi aku kan bukan dia.”


“Kenapa kau sebaik ini pada kami, Nita?”


“Hmm, ini juga yang menjadi pertanyaanku, kenapa aku begitu nyaman pada kalian, mungkin sejauh ini yang bisa aku jawab hanya, saat membawamu ke rumah sakit, lalu Syila datang, aku benar-benar merasa sangat terenyuh dengan perasaan kalian berdua. Kau yang saat sekarat hanya memanggil nama Syila, lalu Syila yang dalam keadan masih sakit, berlari datang ke rumah sakit untuk melihatmu, sungguh cinta yang sangat besar kalian miliki, cinta yang belum pernah aku rasakan, maka mulai saat itu aku merasa ingin melindungi cinta kalian.” Fenita mengatakan dengan tulus, matanya berkaca-kaca saat mengatakan itu.


“Kalau begitu, tugasku melindungimu sekarang, karena kau baik, mau melindungi cinta kami berdua.” Izraa tersenyum, senyum yang tidak pernah dia berikan pada wanita manapun selain Syila.


“Sekarang kau kakakku ya?” Fenita menembak status pada Izraa.

__ADS_1


“Aku kakakmu, ayahmu dan kakekmu, terserah mana yang mau kau anggap, sekarang kau istirahat dulu, kalau Dokter datang untuk visit, aku akan bangunkan, kami akan bergantian menjagamu.”


“Makasih kakak.” Fenita tersenyum lalu tertidur.


“Iya adik.” Sedikit banyak, Izraa mengingat adiknya, makanya dia begitu perhatian pada Fenita yang baik ini.


Sementara itu Andi dan Syila masih di mobil, menuju rumah.


“Aku harusnya menjaga Fenita di rumah sakit, kenapa Izraa malah menyuruhku untuk pulang!”


“Karena kau ngaco, mau datang ke penjara, kau itu Penulis tapi kok bodoh, padahal kau juga sesekali menulis novel pelaku kejahatan, tapi kenapa kau tak dapat menangkap apa yang Aldo inginkan sebenarnya?”


“Memang apa yang dia inginkan?”


“Serangkaian kejahatan yang dia lakukan pada kalian ini, sebenarnya, tujuan dia hanya satu, dia ingin mendapatkanmu! Kalau kau menyerah datang padanya dan memohon, dia akan memintamu untuk membebaskan dia, sekali dia bebas, maka habislah kau! sekali kau memohon padanya, maka dia akan meminta kau melayaninya seumur hidup dengan ancaman keselamatan semua orang, Izraa sednag mengusahakan agar kau aman, jadi kau jangan membuat apa-apa yang Izraa usahakan menjadi sia-sia, kau akan membuat semua orang yang celaka akhirnya akan kecewa, karena dia akan mendapatkan apa yang diinginkan!”


“Tapi Ndi, kenapa malah Izraa menjauhkan aku darinya dan Fenita? Apakah Izraa tidak ingin aku di dekatnya lagi?”


“Hah? serius ini yang ada di otak lu? benar kata Izraa ya, elu cuma harus di rumah sekarang, elu bener-bener harus di kunci di rumah sekarang, otak lu udah geser kayaknya sejak disekap ama si brengsek Aldo itu!”


Syila akhirnya diam, dia tak pernah merasa ini akan jadi begitu rumit.


...


Hari berjalan dengan sangat lamban bagi Syila, dia tak bisa lagi ke luar rumah dulu, proses syuting juga masih berjalan, Andi dan Izraa bergantian menjaga Fenita, dengan 4 bodyguard di luar kamar rumah sakit itu. Bahkan papinya Izraa datang untuk menjenguk, karena Fenita tidak di rumah sakit orang tuanya Izraa. Ini semua karena papinya kenal Fenita yang membawa anaknya dulu ke rumah sakit ketika sehabis ditembak.


“Aku nggak enak loh Om, kok sampe repot ke sini, bawa bunga segala.”


“Biar Fenita cepat sembuhlah, kan kemarin juga  Fenita sibuk waktu Izraa sakit, masa Om nggak datang sekedar jenguk, tadi Om udah ketemu sama Dokter yang nanganin kamu, ternyata dulu dia sempat jadi mahasiswanya Om, jadi bisa liat kondisi kamu dari dia, kamu akan cepat pulih, kamu itu wanita yang kuat, jadi kamu harus semangat ya.”


“Semangat dong Om, orang didatangin sama Dokter hebat begini, makasih ya Om.”


“Iya Fen, kamu cepat sehat ya, nanti kalau kontrol, jangan ke sini, ke rumah sakit Om aja, nanti Om minta papinya Syila yang periksa, dia Dokter yang hebat, biar kamu cepet pulih.”


“Waduh aku beruntung sih kenal sama keluarga Izraa dan Syila.”


“Kami yang beruntung kenal sama anak baik kayak kamu.”


“Berarti kita saling memberikan keberuntungan ya, Om.” Fenita dan papinya Izraa tertawa, Izraa yang saat ini ada di sana tersenyum melihat pemandangan, betapa hangatnya Fenita pada semua orang, jika saja hatinya tidak dipenuhi Syila, Fenita adalah wanita yang sangat pantas untuk siapapun, termasuki dirinya.

__ADS_1


__ADS_2