Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 69 : Berpisah 7


__ADS_3

“Bagaimana mereka tahu tentang kondisiku?” Syila terlihat masih gemetar.


“Aku tidak tahu, tapi aku pikir informasi semacam ini pasti sudah beredar sejak lama, hanya saja kita tak pernah tahu.


“Tapi aku memantau komentar di seluruh sosial mediaku, tidak ada pembaca novelku yang mengungkit kecacatan tanganku, kalau mereka dapat kabar miring, mereka pasti mengadu padaku entah melalu DM atau yang lain, tapi ini tak ada. Aku memantau semua komentar dan chating yang masuk di seluruh sosial mediaku!” Syila berteriak karena kesal.


“Kalau kau berteriak karena curiga aku yang bocorkan, itu artinya kau keterlaluan Syila, aku kakakmu, mana mungkin aku yang menyebarkan!” Andi kesal karena dia merasa Syila mencurigainya.


“Mungkin kau memberitahu secara tak sengaja, seperti kau beritahu aku terapi dan mereka mencari tahu sisanya.”


“Kepada siapa aku memberitahu terapimu! Kalau maksudmu membocorkan secara tak sengaja, maka seluruh keluargamu berpotensi! Karena kami semua tahu jadwal terapimu! Dan kami semua mengantarmu!” Andi kesal karena Syila masih mencecarnya, walau Andi tahu Syila sedang kalut, tapi dia juga punya perasaan, tak boleh seenaknya Syila menuduhnya, Andi merasa Syila seharusnya percaya 100 persen padanya.


“Mami, papi dan Alzam tidak punya koneksi pada wartawan!”


“Hanum?” Andi memberi pandangan.


“Hanum sangat takut pada kak Alzam, dia sangat berhati-hati setelah kejadian terakhirku dengannya, dia sudah berubah!”


“Lalu kau pikir sekarang aku yang berubah? Menjadi jahat? Lalu apa keuntungannya buatku kalau memang aku orang yang melakukan itu!” Andi kesal karena Syila terus menuduhnya.


“Aku ingin segera sampai rumah!” Syila menangis dan Andi akhirnya diam. Selama perjalanan, mereka berdua hanya diam.


Begitu sampai rumah Syila turun tanpa dibantu Andi, lalu langsung masuk, Andi tidak masuk ke rumah, melainkan langsung keluar dari rumah Syila dengan membanting pintu gerbang, Syila yang tadinya hendak masuk terkejut Andi semarah itu. Tapi, Syila tak punya ruang kosong untuk mempedulikan perasaan orang lain, karena saat ini, dia sangat kalut, maka semua orang harus memaklumi apa yang dia lakukan salah.


Syila masuk dengan wajah muram, maminya keluar karena tahu ada yang membuka pintu rumah.


“Loh, kenapa?” Mami kaget karena Syila berantakan dan wajahnya kalut.


Syila berlari masuk ke kamar dan membanting tubuhnya di tempat tidur, mami menutup pintu kamar dan mendekati tempat tidur Syila. Mami mengelus kepala Syila yang masih menggunakan jilbab itu dengan sangat lembut. Dia biarkan dulu Syila menangis sepuasnya.


Setelah beberapa waktu, Syila akhirnya sudah mau bicara.


“Ada apa?” Mami bertanya duluan saat Syila berhenti menangis dan tersisa hanya sesegukannya saja.


“Aku sudah bilang tidak ingin ketahuan soal tanganku, tapi saat sesi bicara, ada seorang wartawan yang tiba-tiba bertanya padaku soal tangan cacat ini, aku kesal, aku marah, dia mempermalukanku di sana, dia bahkan menghinaku dengan mengtakan proyek film ini akan menjadi proyek film terakhir, reporter itu sengaja menghinaku!” Syila menangis lagi, walau Syila menjelaskannya sambil menangis, Syila tapi mami sudah menangkap semua ceritanya dengan baik.


“Siapa yang memberitahu reporter itu kalau kamu sakit?”


“Tidak tahu, karena hampir semua orang PH dan kru film tahu aku sakit, tapi aku tak yakin mereka akan melakukannya, karena apa untungnya mereka melakukan itu? film ini adalah apa yang mereka harus jaga.”


“Kau mencurigai siapa? Izraa? Hanum? Atau Aryo sutradara itu?” Mami bertanya dengan nada menyelidik.


“Entahlah, tapi Andi marah padaku.”


“Kok bisa? Andi orang yang paling sabar padamu, kenapa bisa dia marah?” Mami bingung.


“Aku bilang padanya, apakah mungkin dia membocorkan ini secara tak sengaja?”


“Lalu?”

__ADS_1


“Andi bilang kalau dia tak melakukannya dan malah menuduh Mami, papi dan kak Alzam yang mungkin juga melakukannya, jika Andi punya kemungkinan itu, karena kalian semua tahu jadwal terapiku.”


“Hmm, Andi mencoba membela diri, makanya dia memberimu analogi.”


“Aku sedang sakit, dipermalukan, tapi Mami malah bela Andi!” Syila kesal lagi.


“Aku tidak sedang membela Andi, tapi aku membantumu melihat dari sisi lain, karena emosimu saat ini menutupi logikamu.”


“Jadi menurut Mami, Andi nggak mungkin, walau melakukannya secara tak sengaja?” Syila bertanya lagi.


“Aku bisa jamin itu, Andi bukan orang jahat yang memanfaatkanmu, kalau dia mau, tentu saat ini dia akan kaya raya, membeli mobil pribadi saja, Andi tak mampu, kalau dia memang bermain di belakangmu, maka akan kita lihat dia memamerkan kehidupan mewah, tapi nyatanya tidak kan?”


“Kalau secara tak sengaja?”


“Misalnya?”


“Ya, dia keceplosan bicara jadwal terapiku lalu ada yang dengar dan membocorkannya ke reporter?”


“Dia juga bukan tipikal orang yang ceroboh, malah kau jauh lebih ceroboh dibandingnya.”


“Jadi siapa lagi yang berniat jahat pada Syila?”


“Orang yang mampu melakukannya hanya ... maminya Izraa atau papinya Izraa.”


“Hah? kok mami bisa curiga? Apakah mereka ada waktu untuk mengurus hal kecil seperti ini? hal sepele yang tidak akan menguntungkan atau merugikan bisnis meraka!”


“Ada keuntungannya untuk mereka.” Mami mulai berspekulasi, walau dia bukan pebinis, tapi dia punya feeling yang kuat sebagai ibu.


“Mereka hanya punya dua anak, Izraa sulung dan Sofia adik perempuannya, maka pewaris perusahaan sudah dapat dipastikan Izraa, karena anak perempuan mereka itu ... cacat. Maaf Mami tidak bermaksud untuk menghina, hanya sedang mengemukakan analisa.”


“Ya, terus Mi?” Syila jadi penasaran apa yang ada di pikiran mami.


“Saat ini hubungan mereka tidak baik dengan Izraa, dia juga tak terlalu ingin berkecimpung di dunia bisnis, makanya mungkin mereka melihat sakitmu adalah peluang.”


“Hah? kok bisa?” Syila bertanya.


“Ya, peluang untuk membujuk anak mereka kembali lagi ke keluarga dan mau mengurus bisnis mereka kelak.”


“Hubungannya denganku? Hingga mereka membocorkan sakit ini?”


“Mereka akan menggunakanmu sebagai hadiah, bujukan agar Izraa bisa kembali.”


“Emang bisa? Kalau akunya nggak mau gimana? Kan ini bukan cuma tergantung Izraa, tapi tergantung aku juga.”


“Papinya Izraa datang pada papimu dan mengatakan bahwa, kondisimu itu kurang baik dan Izraa satu-satunya pilihan yang paling baik untukmu, keluarga mereka yang terpandang itu bisa sesuai dengan keluarga kita, lalu maminya Izraa juga menemuiku sebelum kita bertemu di butik Ana, dia bilang bahwa kalian itu saling mencintai jadi kita tak boleh menghalangi. Dia bahkan rela datang ke butik Ana dan membelikanmu baju, walau tidak terlalu mahal, tapi dia mencoba memberikan yang kau sukai.”


“Rupanya mereka sedang bergerilya untuk menjadikanku hadiah bagi harapan kepulangan anaknya? Makanya mami  curiga kalau maminya Izraa yang melakukan ini, agar semua orang tahu aku cacat dan tidak ada lelaki yang mau padaku, karena papinya Izraa bilang pada papi, bahwa kondisiku kurang baik dan mungkin tak akan ada pria lain yang datang, makanya Izraa pilihan yang terbaik, begitu kan?”


“Itu yang mami dan papi curigai.”

__ADS_1


“Maka aku harus menjauh kan, Mi?” Syila bertanya.


Mami terdiam, dia menunduk.


“Jangan bilang kalau kalian melakukan perjanjian menjualku pada mereka!” Syila khawatir.


“Tentu saja kami takkan pernah melakukan hal rendah seperti itu, tapi jujur, aku cukup bangga anakku diperlakukan begitu istimewa.”


“Mi! mereka tidak memperlakukanku istimewa, mereka sedang menjadikanku umpan! Mereka ingin aku membujuk anaknya kelak untuk mengurus perusahaan! Bahkan aku dengar kalau beberapa project berikutnya akan didanai keluarga Izraa untuk bukuku, ini benar-benar sebuah jebakan yang membuatku terikat sepenuhnya pada mereka!”


“Aku tidak suka Izraa, kau tahu kan, aku juga tak mengizinkan kalian menikah, jadi jangan menuduhku membiarkanmu masuk jebakan, tapi apa yang kau lakukan untuk Izraa hingga membuat tanganmu sakit begini, apalagi kalau namanya bukan cinta! Aku takkan pernah membiarkan kau menjadi umpan bagi seseorang, tapi kalau kaunya cinta, masa aku mau larang mati-matian, kebahagiaanmu nomor satu untukku!” Mami kesal, tadi dia menuduh Andi, sekarang menuduh ibunya sendiri, kecacatan membuat akal sehatnya hampir hilang.


“Aku tidak mencintai Izraa sebegitunya!”


“Ya, kau juga pernah bilang kalau ini bukan cinta sungguhan, tapi ... tapi apa yang kau dan Izraa lakukan, itu wujud cinta yang sebenarnya, saling berkorban!”


“Mi, kau sudah terjebak oleh trik yang mereka lakukan, bahkan kau tahu, ada indikasi ke arah sana dan kau malah mendukung! Aneh!”


“Aku tak ingin anakku sendirian sampai akhir hayatnya!”


“Kau sedang berbicar dengan anakmu sendiri yang kau takut dia sendirian, ini aku di depan matamu! Kenapa kau takut hal yang belum terjadi, apa kau mendoakanku cacat selamanya?!” Syila kesal dan akhirnya meminta Mami untuk membiarkannya sendirian dulu.


Syila tak punya siapapun saat ini, Andi tetap jadi daftar kecurigaanya, walau keluarga Izraa menjadi barisan utama dalam catatan kecurigaannya, tapi kemungkinan lain tetap dia jaga, agar dia tak tertipu lagi.


[Jun, kenapa?] Rupanya Juna telah melihat artikel tentang Penulis yang cacat, makanya dia telepon Syila.


[Are you ok?]


[Ya, aku ok, tenang saja, tak ingin bunuh diri juga.]


[Kenapa bisa ada wartawan yang tahu? Kau kan sudah sangat menutupi keadaanmu?]


[Entah! Aku tidak mau mikir dulu, capek dan kesal.]


[Kau mau aku datang?]


[Tidak, ini sudah hampir malam, aku hanya ingin istirahat.]


[Ok, tapi kalau ada apa-apa, kau telepon aku ya, aku akan datang, tenang saja, aku masih sahabatmu kok, walau telah kau buat patah hati berkali-kali.]


[Iya sahabat.] Syila tersenyum dan menutup teleponnya, lalu saat dia hendak tidur, tiba-tiba teleponnya berdering kembali, terpaksa dia lihat siapa yang telepon, takut penting.


Ternyata seseorang yang sudah lama sekali Syila lupa, seseorang yang seharusnya tak menelpon dalam keadaan seperti ini, karena dia pasti menambah keadaan semakin kacau.


[Syil, apa kabar, ini Kevin.]


Tentu saja Syila tahu ini Kevin, nomornya masih tersimpan di telepon pintarnya.


[Aku baik.]

__ADS_1


[Aku ke rumah ya ....]


Syila terdiam, kesal karena kalau benar keluarga Izraa mau menjadikannya umpan, apa Syila perlu membalas dengan menjadi duri dalam hubungan Kevin dan Sofia? biar sekalian orang tuanya Izraa membencinya dan tidak lagi berharap pada hubungan mereka.


__ADS_2