Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 49 : Pelaku 4


__ADS_3

v“Fenita terima kasih karena kau mau datang.” Syila mengajak masuk Fenita yang datang dengan membawa buah-buahan, dia menelpon Syila karena mereka sudah bertukar nomor telepon ketika Fenita menjenguk Izraa beberapa waktu lalu saat Izraa masih di rumah sakit.


“Kebetulan aku sedang tak ada kegiatan Syil, ini buah untuk yang sakit, kalau yang ini, untuk yang sudah sehat.” Fenita memberikan syal yang dia beli di Paris saat ke sana, belum pernah digunakan dan bisa dijadikan kerudung karena syalnya terbuat dari bahan satin yang halus dan tidak transparan.


“Wah kau repot sekali membawakanku juga hadiah, duduk dulu, kupanggilkan Izraa, oh ya, kau mau minum apa?”


“Hmm, apa yang best seller di sini?” Fenita punya selera humor yang ringan tapi selalu berhasil, dia bercanda seolah rumah Syila adalah restoran.


“Kalau yang best seller itu kopi susu dingin dengan gula aren dicampur sedikit garam laut, rasanya, perpaduan gurih dan manis, kau mau?”


“Syil! Aku bercanda, tapi kopi jenis itu adalah favoritku!” Syila dan Fenita langsung akrab, Syila merasa nyaman dengan wanita yang berhati tulus itu.


“Berarti kita punya persamaa, sama-sama suka kopi!” Mereka berdua tertawa lalu saat Syila hendak ke belakang, dia melihat Izraa sedang berjalan menuju ke arahnya.


“Ada Fenita, kau ....” Izraa melewati Syila yang hendak memberitahu kedatangan penolongnya, Izraa melewati Syila begitu saja seolah dia tak ada, wajahnay sumringah saat melihat ke arah Fenita dan menyapanya.


“Wah, apa kabarmu, Nita?”


Syila terdiam, sejak kapan Izraa punya panggilan berbeda pada wanita penolongnya itu, seperti nama panggilan akrab, kan mereka baru kenal.


Syila sedikit penasaran, tapi dia tak ingin berpikir jauh, dia akan membuatkan Fenita kopi susu andalannya.


Syila ke dapur dan membuatkan kopi untuk Fenita dan dirinya, sedang Izraa dibuatkan jus dari buah yang Fenita bawa. Dia tak boleh dulu konsumsi kafein kata ayahnya. Sedang pada kopi, teh dan coklat terdapat kafein, makanya Syila memilih membuatkan jus dari buah yang Fenita bawa.


Lalu sisa buahnya dia potong untuk dimakan bersama. Butuh waktu sekitar 15 menit sampai Syila selesai di dapur lalu membawa semua yang sudah dia buat dengan nampan ke depan, ke ruang tamu di mana Fenita dan kekasih palsunya berada.


Saat dia sampai di ruang tamu, dia melihat Izraa sedang tertawa terbahak-bahak, Syila baru pertama kalinya melihat Izraa tertawa dengan begitu lebar.


“Eh Syila, kau repot-repot sekali, seharusnya kau beritahu aku kalau mau menyiapkan semua ini, aku akan membantumu di dapur, kau ini kan juga baru saja sembuh!” Fenita terlihat kesal karena Syila menyiapkan semuanya sendirian.


“Tenang saja, ini mah gampang, kalau repot juga ada mbak di belakang, kau ini tamu, masa tamu disuruh nyiapin hidangan sendiri, di mana sopan santunku?” Syila tersenyum dan memberikan minuman yang dia bawa pada Fenita dan Izraa.


“Kau memang punya?” Tiba-tiab Izraa bertanya.


“Apa?” Syila tak paham maksud Izraa.


“Sopan santun.”


“Kau!” Syila kesal karena Izraa malah menghinanya, padahal sudah dibuatkan jus segar dengan gula yang diganti madu agar tetap enak walau tak pakai gula.


“Za, Syila nih gadis manis, mana mungki tak punya sopan-santun, kalian nih pasangan yang sangat unik dan lucu!” Fenita memuji dengan tulus.


“Fenita, rumahmu di sekitar sini juga kan?” Syila bertanya.


“Iya, di sekitar sini, itu di blok D, nomor 12.”


“Oh ya.”


“Kau tahu di mana itu?” Izraa lagi-lagi hendak mencemooh Syila.


“Tahu lah!”

__ADS_1


“Masa? Kau kan tidak suka bergaul orangnya, yang kau suka itu hanya buku dan juga kesendirian, mana mungkin kau tahu rumah Fenita.”


“Aku tahu!” Syila berbohong, dia saja kadang suka lupa blok rumah Juna, padahal berteman sejak kecil, tapi rumah sahabatnya suka lupa. Apalagi rumah orang asing.


“Tenang saja, kapan-kapan kalian main ya, kenalan dengan orang tua dan adikku.”


“Kau berapa bersaudara?” Syila bertanya sambil menyuap apel yang sudah dia potong dengan sebuah garpu kecil yang dia sudah siapkan untuk masing-masing orang, agar bisa memakan buah tanpa menyentuh buah itu dengan tangan langsung, walau jika tak ada Fenita, Syila bahkan akan makan buah tanpa mengupasnya lebih dulu. Karena ada tamu, dia jadi lebih sopan dan mengerti tata krama.


“Hanya 2 bersaudara, aku adikku dan orang tuaku.”


“Kau tinggal berempat di rumahmu?”


“Tidak, bertiga, ayahku ... ibuku single mom Syil, jadi kami hanya tinggal bertiga, ayahku tinggal bersama istrinya di luar kota. Bertiga pun kalau aku di rumah, kalau aku sedang ke luar kota atau ke luar negeri, pasti ibu dan adikku harus tinggal berdua.”


“Tak apa, yang penting kalian saling memiliki. Aku saja tinggal sendirian.” Izraa yang memang datang dari keluarga utuh tak akur ini paham, kadang mungkin Fenita juga merasa sendirian. Izraa menghiburnya, walau sedikit tak nyaman karena Izraa terlihat perhatian pada Fenita, Syila tak ingin menunjukkannya, karena dia tak ingin terlihat jahat pada wanita yang sudah baik membantu Izraa saat dia ditembak orang-orang jahat itu.


“Ya, aku sih sudah terbiasa ya, tidak terlalu menganggap perpisahan orang tua sebagai hal yang berat, apalagi aku fokus pada tujuan hidupku untuk menjadi musisi hebat, jadi urusan orang tuaku tidak mempengaruhiku sama sekali.


“Kau wanita hebat, Nita.” Izraa memujinya, kali ini Syila sedikit mengernyitkan dahi, karena Izraa terlihat berlebihan, seperti bukan Izraa yang Syila kenal, ini tulus karena Fenita membantu atau Izraa sengaja ingin menarik perhatian Fenita? Syila sempat terdiam sesaat.


“Jadi, bagaimana perkembangan tentang penyelidikan kalian, Za? sudah tahu siapa yang menyerang?” Fenita menggulirkan obrolan ke arah yang sempat mereka lupakan karena fokus pada penyembuhan Izraa.


“Hmm, belum dilanjutkan Fen, aku dan Izraa fokus pada kesembuhan Izraa.”


“Oh, begitu, aku mau minta maaf, karena hal seperti ini membuatku bersemangat, aku memulai penyelidikan melalui beberapa orang yang aku kenal, maaf ya.” Fenita menyerahkan sesuatu, sebuah flashdisk, Syila buru-buru mengambil sebuah layar yang tidak terlalu besar, orang-orang menyebutnya tablet, sebuah layar yang bisa difungsikan seperti telepon pintar tapi dengan layar yang bisa mencapai 2 sampai 3 kali lipat telepon pintar biasa.


Syila juga mengambil konektor agar bisa menyambungkan flashdisk yang Fenita bawa ke tablet yang dia punya, setelah menyambungkan flashdisk ke tabletnya. Mereka baru tahu, ternyata Fenita membawa rekaman CCTV yang dia minta dari pengelola perumahan.


“Kau harus menyertakan surat keterangan Polisi untuk bisa memintanya, tapi aku tidak bisa melakukan itu, karena aku tak punya hak melapor, kalian juga pasti sudah melapor ke Polisi kan. Beruntung ibuku kenal dekat dengan kepala security yang anaknya bekerja di perusahaan ibuku, aku minta tolong pada ibuku untuk meminta rekaman ini di sepanjang jalan kau jalan, karena di lokasi kejadian, tak ada CCTV, tapi sepanjang jalan yang kau lewati ada rekaman CCTVnya, maka dari itu kau harus melihat rekamannya.”


“Kau mendapatkan ini ilegal Feni?” Syila menegaskan dan ini sebenarnya tidak sopan.


“Iya memang ilegal, Cil! Makanya Nita hanya menunjukkannya pada kita, bukan menyerahkannya pada Polisi, masa kayak gini aja nggak paham!” Izraa mengingatkan kalau Syila sudah tak sopan menegur Fenita seperti itu.


“Maaf Fen.”


“Tak apa Cil.” Fenita merangkul Syila, Fenita memang sangat baik.


Tapi Syila malu karena langsung ditegur oleh Izraa seperti itu.


Lalu mereka memutar videonya dan berdiskusi, lebih tepatnya hanya Izraa dan Fenita yang berdiskusi, Syila diam saja, dia merasa sakit hati dan sulit mengendalikan rasa kesalnya karena ditegur tadi, sisi kekanakan Syila terlihat sekali di kondisi ini.


Izraa dan Fenita asik berdiskusi tentang mobil yang tertangkap kamera CCTV, hingga mereka akhirnya menemukan mobil yang ternyata mengikuti Izraa sejak keluar dari rumah Syila, mobil itu bahkan tertangkap terparkir di dekat rumah Syila, Izraa benar-benar sudah dipantau dan diikuti.


“Za, ini sih sudah jelas, mereka sengaja menguntitmu dan bermaksud mencelakaimu!” Fenita kaget dan cukup khawatir.


“Ya, aku pikir begitu.”


“Kau masih tidak ada yang dicurigai? Orang yang membencimu atau ... Syila?”


“Kalau aku memang banyak musuh, banyak orang yang tidak suka aku, tapi ... kalau sampai ingin membunuh, rasanya berlebihan sih.”

__ADS_1


“Kalau Izraa tak ada, mungkin aku ada, Fen.” Syila tiba-tiba sudah kembali pada fokusnya.


“Siapa?” Fenita bertanya.


“Kau tahu kan, kalau aku juga sakit, tanganku patah, aku belum cerita kan, kenapa tangan bisa patah?”


“Iya belum, kenapa memang?” Fenita terlihat sangat penasaran.


“Aku diserang juga Fen, oleh fansku, dia penggemar bukuku, dia menculikku dan akhirnya Izraa berhasil menemukanku, aku selamat tapi tanganku patah karena lelaki itu menyerangku.”


“Astaga Syila!” Fenita terlihat sedih dengan keadaan Syila.


“Tenang saja, tanganku baik-baik saja kok, Fen.  Sudah sembuh sekarang.”


“Jadi kau curiga lelaki itu yang menyerang Izraa?”


“Mungkin bukan dia, karena dia di penjara saat ini, tapi kalau orang suruhannya, siapa yang tahu, aku pikir bisa saja dia ingin balas dendam karena merasa bahwa Izraa telah menggagalkan rencananya dan membuatnya di penjara.”


Syila terlihat menyesal karena masalahnya, Izraa harus tertembak.


“Bisa saja dia, aku akan menyelidikinya, aku akan suruh orang-orangku untuk mengawasinya, karena kalau dia yang suruh, pasti pelaku datang ke penjara untuk berkunjung atau keluarganya yang akan menemui pelaku penembakan itu.” Izraa jadi kesal lagi pada pria itu, pria yang membuat tangan Syila patah.


Tapi Syila salah sangka, dia pikir Izraa kesal karena Syila, dia tertembak.


Syila merasa bersalah dan tak punya muka.


“Baiklah, kalau begitu, aku pamit pulang ya. Kalian berdua cepat sembuh, kita harus menemukan pelakunya!” Fenita ikut geram dan bermaksud pamit.


“Oh ya Fen, makasih ya syalnya, bagus sekali, ini aku cuma punya ini di rumah, semoga kau suka.” Syila memberikan novelnya, 3 novel trilogi yang dia buat saat pertama kali menjadi Penulis, novel paling best seller pada masanya.


“Wah, kau repot sekali, tapi terima kasih, aku suka membaca loh, beruntung sekali aku bertemu dengan seorang Penulis, bolehkan aku berteman dengan Penulis ini? biar aku bisa baca novelnya gratis..” Fenita berbinar saat diberikan buku.


“Kau jangan berlebihan, seharusnya Syila yang merasa beruntung berteman denganmu, karena kau musisi hebat, aku sudah melihat beberapa konsermu di youtube, permainan musikmu sungguh luar biasa.”


Syila kembali melihat Izraa dengan tatapan terkejut, karena Izraa ternyata mencari konser Fenita di youtube, apakah Izraa tertarik pada Fenita? Syila berdebar karenanya, perasaan iri apa ini?


__________________________________________


Catatan Penulis :


Kau tahu rasanya takut ... takut kepergian.


Walau cinta ini bukan sesuatu yang nyata, tapi apa yang aku rasakan untukmu, itu nyata.


Maka ketika kau akhirnya harus pergi, sakitku pun nyata.


Aku kesulitan bernafas saat melihatmu sumringah saling menatap dengannya, tertawamu yang lebar itu, membuatku ingin memukul wajahmu, bagaimana bisa kau tertawa selebar itu untuknya, sedang untukku, tak satu kata pun kau lontarkan, apa aku memang tak pernah terlihat?


Rasanya ingin menghilang saat tahu, sudah ada orang lain yang kau tunjuk untuk menguasai hatimu.


Aku tahu, sejak awal, aku tak pernah ada dalam perhitunganmu.

__ADS_1


__ADS_2