
“Aku hanya ingin bicara sebentar saja, sebentar saja, aku mohon.” Izraa berkata di luar kamar Syila, dia berteriak seperti orang gila, sudah 2 minggu mereka tidak bertemu, Syila tak pernah menerima kedatangan Izraa, Izraa mulai menjadi gila, karena dia butuh melihat kekasih yang bukan kekasihnya. Hanya ingin tahu keadaanya saja.
“Kita pindah rumah sakit saja, diam-diam, bagaimana?” Alzam bertanya pada Mami dan Syila, Syila yang masih belum mampu menggerakkan tangannya seperti biasa hanya menatap kosong, dia masih mencari cara bagaimana menyembuhkan tangannya, dia hanya ingin tangannya pulih, dia sungguh tersiksa tidak mampu menulis, dia sungguh depresi membayangkan jika saja tangannya tidak dapat pulih lagi.
“Kak, aku akan bicara padanya.” Syila berkata setelah berhari-hari tak membiarkan Izraa masuk.
“Nggak Syil! Aku nggak akan biarkan dia kembali ke hidupmu!” Alzam menentang habis-habisan.
“Dia akan buat keributan, dia lebih gila dari yang kalian bayangkan, satu-satunya yang menahan dia tak mendobrak pintu itu adalah karena rasa bersalah, kalian tak mengenalnya, aku akan menghentikan langkahnya, aku tak ingin lari lagi. Aku lelah harus berlari terus.”
“Biarkan mereka bertemu Zam, Syila janji kalau kalian takkan kembali bersama, aku takkan memberikan restu.” Mami memberikan syarat.
“Aku janji, Mi.”
Alzam dan mami akhirnya membuka pintu ruang perawatan Syila dan membiarkan Izraa masuk.
Mami dan Alzam hanya membuka pintu tanpa menegurnya dan mereka berdua keluar.
Izra segera masuk dan melihat Syila di ranjangnya, menatap ke depan.
“Kau bisa bicara dengan tenang sekarang.” Syila tanpa memandangnya bicara, Izra duduk samping ranjang Syila, menghadapnya.
“Aku ingin melihatmu, apakah kau baik-baik saja? Aku rindu, sangat rindu.”
“Kau hanya sedang dikendalikan oleh penyakitmu, kau hanya rindu riak itu, riak yang mampu memecah kebuntuanmu tentang hasrat, aku bukan obat, aku hanya kebetulan saja terasa seperti obat, toh kau bisa hidup dengan penyakit itu selama puluhan tahun, apa bedanya sekarang jika kau hidup puluhan tahun lagi tanpaku, obatmu.”
“Bagaimana tanganmu? Apakah ....”
“Tanganku bukan masalahnya, Za. Tanganku hanya proses dari menyadarkanku akan kebodohan. Aku memang egois seperti yang kau bilang, aku terlalu egois hingga membiarkan tubuhku menjadi tumbal atas obat yang katanya sangat kau perlukan.
Seharusnya aku tak membiarkan tubuhku menjadi obatmu, karena memang bukan itu fungsinya, Za, aku ingin kita ... berpisah. Mungkin ini agak janggal, karena kita berdua tidak pernah benar-benar saling memiliki, tidak benar-benar memiliki perasaan sebagai kekasih, kita melakukan hubungan ini atas dasar banyak alasan. Kau dan aku karena obatmu, sedang aku dan kau karena film itu, kita salah Za, hubungan ini terlalu banyak alasan untuk bisa sampai pada cinta, rasanya mustahil, karena cinta itu tanpa alasan.” Syila memandang Izraa, dia terdiam menatap Syila, merasakan sakit yang tidak pernah dia rasakan, patah hati kah ini, sesak sekali, tapi jiwa lelakinya menahan untuk menangis.
“Tanganmu apakah ... baik-baik saja?”
“Bukan salahmu tanganku masih tidak berfungsi, pun kelak jika aku tidak bisa menulis lagi, bukan salahmu, tidak ada yang salah di sini, bahkan Fenita, aku yakin ada alasan yang sangat kuat hingga dia melakukannya, beruntung kita masih bisa selamat dan Fenita ditangkap, itu cukup adil.
Mari kita memaafkan diri kita masing-masing, kita jalani hidup dengan adil dan tidak egois lagi.”
“Aku ingin disisimu, hanya sampai tanganmu sembuh, aku akan pergi setelah ....”
__ADS_1
“Juna memberikan syarat untuk uang itu, walau uang itu akhirnya kembali, tapi syarat itu tak bisa batal, aku bukan pecundang yang melanggar janji. Aku menyanggupi syarat itu, maka aku akan tepati.”
“Maksudmu?!” Izraa bangun dari duduk dan bertanya, jantungnya terasa berdetak tak beraturan, dia merasa mampu menebak apa syarat Juna.
“Juna lelaki yang baik, dari keluarga yang baik, aku mengenalnya sudah sejak lama, Juna benar Za. Bahwa, aku paling cocok dengannya, tidak dapat dipungkiri, dia menjagaku selama ini, walau sedikit menyebalkan, tapi dia selalu ada saat aku butuh, dia juga orang yang baik, bahkan mau mengusahakan uang sebanyak itu untuk aku menolong, kekasihku, itu yang dia tahu kan, walau kita hanya pura-pura pacaran.”
“Kau akan menikah dengannya?!” Izraa menebak dengan wajah memerah, matanya menyalang marah.
Syila menatap Izraa dengan dalam lalu berkata, “Za, aku menyayangimu sebagai seorang kenalan yang sudah jatuh bangun denganku hampir setahun ini, syuting itu, pacaran pura-pura, Aldo dan Fenita, sungguh waktu yang mengesankan, kita masih bisa berteman, kita ....”
“Kau akan menikah dengannya!” Izraa bertanya lagi, lebih pelan tapi penuh penekanan.
Syila mengangguk tanpa memandang Izraa.
“Kau menyerahkan dirimu hanya karena uang?” Izraa lagi-lagi menyakiti hati Syila.
Syila menatap Izraa, “Karena bagimu aku hanya objek penyembuhan, maka serendah itu aku di matamu. Salahku, sedari awal memberikan izin padamu untuk melecehkanku melalui hubungan pura-pura kita, aku terlalu naif membiarkanmu berfantasi dengan tubuhku, aku terlalu naif ingin menolongmu, aku terlalu naif, ahhh.” Syila meringis karena luka tusukan di bahunya terasa sakit, Izraa memeganga tubuh Syila yang hampir jatuh dari duduknya.
“Aku tidak tahu perasaan apa ini, apa hanya sebuah harapan sembuh, atau benar cinta, tapi yang aku tahu, aku begitu rindu padamu, aku hanya ingin melihat wajahmu dan sekarang aku sudah melihat wajahmu, aku akan terus melakukannya, bahkan di hari pernikahanmu, jika resikonya adalah kehilangan muka dan saudara, maka aku akan ambil resikonya, kau membuat dua keluarga akan saling membenci, AKU TIDAK PEDULI, AKU AKAN TERUS MENGEJARMU bahkan jika ujungnya adalah neraka, karena segila itu aku menginginkanmu!” Izraa keluar, di sana sudah ada mami dan Alzam yang baru saja kembali, mereka paham dengan raut marah Izraa.
“Aku takkan pernah melepas anak tante, aku hutang budi, nyawa harus dibayar nyawa, aku tidak peduli apapun selain itu.” Izraa mengatakannya dan pergi.
“Apa di membuatmu menangis! Apa yang dia katakan!” Alzam menggila.
“Aku, aku, aku ....”
“Apa kalian berpisah?” Mami paham.
Syila menangis semakin kencang, mami memeluknya, Syila juga tak paham, dia hanya merasa sakit di bagian dada, melihat punggung Izraa setelah dia katakan ingin putus, sungguh berat, Syila tak paham dengan yang dia rasakan.
“Itu yang terbaik Syil, aku takkan biarkan dia dekat denganmu lagi, aku takkan pernah biarkan dia mendekatimu lagi. Kita akan pindah rumah sakit, kalau perlu pindah rumah atau sementara di apartemenmu saja. Aku tak mau kau bertemu dengannya lagi, kau paham!” Alzam menggunakan kekuasaanya sebagai kakak untuk mengatur adiknya.
Syila hanya mengangguk, terserah saja, toh dia sekarang adalah orang dengan kebutuhan khusus, tak mampu mengerjakan sesuatu sendiri karena tangannya yang masih tidak berfungsi dengan baik.
...
“Aku sudah selidiki semuanya Za, apa yang managemen lakukan pada adiknya Fenita, Rey.” Manager Izraa datang ke apartemen Izraa, dia sudah mengumpulkan data yang diminta Izraa diam-diam, karena apa yang menagemen lakukan pada orang yang mengancam talentnya, biasanya dilakukan secara rahasia oleh bagian strategi. Mereka memang menjaga Izraa yang saat itu adalah aktor nomor 1 mereka dengan pendapatan tertinggi.
“Apa yang mereka lakukan pada Rey?”
__ADS_1
“Rey memang benar telah menyebar berita palsu kalau kau adalah kekasihnya, dia bahkan menunjukkan foto dirimu yang ... bertelanjang dada di kamar hotel itu.”
“Dia berarti mengambil gambarku secara diam-diam saat berada di kamar hotel itu, lalu?”
“Managemen tahu dia memiliki foto itu, karena setelah berita kau penyuka lelaki tersebar, managemen langsung bertindak secara cepat, mereka mulai menyelidiki Rey dan tahu kalau Rey telah menyebar fotomu yang bertelanjang dada dan menyebar berita palsu di sebuah grup online, dia bilang kau adalah lelaki yang sangat mencintainya dan kau memberikannya banyak hadiah, sebagai bukti Rey memberikan fotomu yang tidak senonoh itu.”
“Ok, itu salahnya, makanya managemen bertindak keras. Lalu sekarang dia di mana?” Izraa ingin tahu.
“Tapi tindakan managemen juga tak dapat dibilang benar, Za.”
“Apa yang mereka lakukan?”
“Managemen memaksa Rey memberikan foto itu kepada mereka karena managemen yakin, Rey punya foto yang lebih parah dari itu, managemen juga percaya kalau kau ... memang suka lelaki.”
“Ah brengsek! Kenapa mereka tak tanya padaku!” Izraa kesal, karena ini benar-benar lebih rumit dari yang dia bayangkan.
“Karena kau aktor nomor 1 mereka, kenyamananmu adalah hal yang paling mereka jaga, kau dijaga dengan sangat hati-hati, mereka memilih membungkam Rey dibanding meyudutkanmu.”
“Apa yang mereka lakukan pada Rey?” Izraa bertanya lagi.
“Mereka mulai menyerang Rey dan keluarganya, balik membuka aib keluarga itu, dulunya mereka keluarga yang utuh, tapi perselingkuhan ayahnya Rey dibuka oleh managemen, membuat keluarga Rey menjadi keluarga yang berantakan, orang tuanya bercerai karena berita yang disebar oleh managemen.
Rey masih tak mau memberikan foto-foto itu, walau telah diancam akan membuat kakaknya, Fenita, tidak bisa lagi meneruskan karir musiknya di negeri sendiri, managemen mengancam akan memastikan tak ada satupun perusahaan musik di negeri kita ini akan membiayai kakaknya berkarir di sini, kau tahu kan, kalau managemen punya kekuasaan itu.
Rey masih saja tak gentar, dia tetap menolak menghapus postingan di grup online itu dan masih tidak mau memberikan fotonya, hingga akhirnya terjadi kejar-kejaran di kampusnya, Rey berlari ke arah atap kampus, managemen mengerjarnya, mendesak dia dan Rey masih bertahan untuk foto-foto itu Za, hingga akhirnya dia memilih untuk lompat dari gedung kampus itu.”
“Apa! apa Rey masih hidup? Karena Fenita bilang Rey masih hidup dia bilang ada adik dan ibunya di rumah, adiknya hanya ... berkebutuhan khusus.” Izraa baru ingat itu.
“Ya, adiknya masih hidup, walau sempat mengalami kerusakan batang otak yang membuat dia kehilangan fungsi tubuh secara utuh. Seluruh tubuhnya cacat, dia hidup tapi ... seperti orang mati, hanya bisa terbaring di kasurnya saja.”
Izraa terdiam, dia tak tahu itu sama sekali, dia benar-benar tak tahu itu.
“Aku kira ini memang menjadi landasan yang kuat bagi Fenita untuk melakukan semua ini, walau tindakannya salah dan aku tidak bisa maklum, dia mencelakai kalian. Rey mahasiswa berprestasi, dia banyak ikut olimpiade ilmiah, tapi ya ... dia terlalu menyukaimu, hingga akhirnya berbuat salah. Dia sudah dapat hukuman atas fitnahnya padamu, walau sangat berat, tapi Fenita balas dendam pada orang yang salah, bukan kau yang harusnya dia kejar, tapi managemen.”
“Aku tidak tahu lagi harus apa, aku sulit membenci Fenita jika Rey bahkan memiliki kondisi yang berat sekali, aku ... aku harus apa!” Izraa bingung dan kalut.
_______________________________
Catatan Penulis :
__ADS_1
Sesak sekali membiarkanmu pergi pada masa lalumu, aku tahu, masa lalumu sungguh lebih cemerlang dan mungkin mampu memberikan apapun yang kau inginkan dan butuh, tapi aku, aku sangat mencintaimu, sangat menginginkanmu, apakah aku boleh bersamamu? (Izraa)