Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 108 : Rencana Pernikahan 46


__ADS_3

“Kakakku sungguh menjadi orang yang berbeda.” Sofia berkata, dia dan Kevin sedang menuju rumah Sofia, Kevin mengantar Sofia pulang, sementara supir mengiringi di belakang.


“Memang dia orang yang bagaimana sebelumnya?” Kevin bertanya, tak benar-benar peduli untuk mengenal kakak calon istrinya, tapi dia ingin tahu, seperti apa orang yang ktanya sudah merebut orang yang Kevin pikir takkan pernah mampu untuk move-on.


“Dia orang yang sangat dingin pada perempuan, dulu saat sekolah dia tak pernah satu kali pun membaca perempuan ke rumah kami, bahkan saat aku jodohkan dengan temanku, kakakku tetap saja dingin, kadang temanku sampai menangis karena kakakku sama sekali tidak menjaga sopan-santun, sebagai lelaki seharusnya kau ramah walau sebenarnya tidak menyukai seorang perempuan kan? tapi kakakku, tidak peduli hal itu, kalau tidak suka, ya tidak suka.”


“Rumor itu ... apakah benar?” Kevin bertanya dengan hati-hati, Sofia paham maksudnya.


“Rumor kalau dia suka lelaki? Rumor itu bahkan pernah ada juga saat kami sekolah, tapi aku pikir kalau benar pun, orang tuaku tidak terlalu peduli, karena untuk mereka yang penting adalah bisnis, mungkin takkan pernah melarang, karena mereka cukup bebas. Sudah tahu hal itu, kakakku tetap tidak juga membawa lelaki spesial ke rumah kami, artinya, memang dia hanya tidak tertarik saja pada cinta.


Kalau dia memang suka lelaki, pasti dia sudah membawa lelaki ke rumah kami atau bahkan dekat dengan salah satunya, tapi tidak tuh, dia tetap sendirian, dia suka sekali sendirian, dalam hidupnya, hanya aku perempuan spesial yang ada di hidupnya.


Walau dalam sepuluh tahun terakhir, kami hidup terpisah, tapi tak satu ulang tahun pun dia lupa kirim hadiah.


Dia melakukan perang dingin pada kami, tapi tidak lupa pada hari pentingku.


Apa kau sempat terkejut saat tahu dia kakakku?” Sofia bertanya, karena ini kali pertama mereka bertemu secara bersamaan.


“Ya, sedikit terkejut, tidak tahu kalau dinia ternyata sesempit ini.”


“Ya, karena dia tak pernah pulang selama 10 tahun terakhir, di tahun ke empat, bahkan fotonya diturunkan oleh papi, apa kau tak heran, kenapa rumah sebesar itu tak ada foto keluarga?” Sofia bertanya lagi.


“Tidak terlalu heran.” Kevin berasal dari keluarga yang biasa saja, bahkan saat dia kuliah kedokteran, orang tuanya sempat menyerah karena beasiswa yang Kevin dapatkan, tidak membayar semua kebutuhan kuliahnya secara penuh, untuk biaya praktek dan lainnya harus ditanggung sendiri. Maka tidak memiliki foto keluarga, adalah hal yang biasa, rumah kecilnya dan keluarga yang sibuk mencari uang kemana saja, tidak punya waktu memikirkan foto keluarga.


Maka jika saja dia bisa menjadi salah satu orang penting di rumah sakit itu bahkan mungkin memilikinya kelak, itu adalah langkah besar, Kevin haus uang karena dulu banyak kekurangan, sungguh Dokter yang tidak bijaksana.


“Papiku sengaja menurunkan semua foto keluarga kami karena banyak tamunya yang datang lalu bertanya, di mana anak lelakinya, itu membuat papi sangat kesal. Apalagi ketika rekan bisnisnya bahkan mempertanyakan kenapa kak Izraa tak terjun di dunia bisnis, tapi malah menjadi artis yang banyak rumornya.


Makanya papi akhirnya menurunkan semua foto keluarga kami, setelah itu, kami tak pernah foto keluarga lagi.”


“Foto keluarga bukan hal yang penting.”


“Tapi karena itu, kau tidak tahu kalau Izraa adalah kakakku, aku bangga padanya.”


“Apa kakakmu benar mencintai Syila?” Kevin bertanya dengan khawatir.


“Ya, tentu saja, terlihat sekali bukan? bagaimana dia sangat khawatir pada Syila, membela Syila dan membuat perusahaan itu, asal kau tahu saja, investor sebenarnya bukan perusahaan ibuku, tapi kakakku memakai uang pribadinya untuk membangun taman bermain bagi Syila, perusahaan itu.”


“Mudah sekali bagi kalian membangun bisnis, bahkan menamainya taman bermain.” Kevin mengatakannya dengan picik, dia iri, karena bisa bebas mencintai orang yang dia suka, bahagia karena mampu melakukan apapun untuk orang yang dia cintai, sementara Kevin harus terjebak pada seorang gadis yang kakinya diamputasi.


Tak lama kemudian mereka sampai, Kevin mengantar Sofia sampai masuk rumah, di ruang tamu ada papinya Sofia, dia terlihat sedang bersantai dengan istrinya.


“Sudah pulang sayang?” Ibunya bertanya, dia lalu mengambil kursi roda yang sedang didorong Kevin, lalu mendorong kursi itu untuk mengantar Sofia ke kamarnya.


Sedang Kevin buru-buru mendekati calon ayah mertuanya yang sibuk dengan televisi, di sana ditayangkan pertandingan catur.


“Malam Om, sedang menonton?” Kevin berbasa-basi.

__ADS_1


“Ya Kevin, ke sini, kau mau kopi?” Papinya Sofia bertanya.


“Tidak terima kasih, kami baru saja dari kafenya Izraa.”


“Baiklah.” Papinya Sofia lalu fokus pada acara yang dia tonton lagi.


“Om, apakah om tahu bahwa beberapa alat di ruang operasi ada masalah?” Kevin bertanya tiba-tiba.


“Tidak, papinya Syila belum lapor pada Om, memang apa masalahnya?”


“Alat-alat itu rusak saat digunakan ketika kami sedang operasi.”


“Apa!” Papinya Izraa terkejut.


“Ya, aku pikir ini terjadi satu atau dua kali, tapi beberapa Dokter mengalami hal yang sama denganku juga.”


“Ini aneh, kenapa papinya Syila tidak melapor padaku, seharusnya dia melapor untuk ketersediaan mesin baru, kau tahu kan, alat-alat dan mesin-mesin operasi itu sangatlah mahal, kita perlu untuk meeting budjetnya. Tidak bisa seenaknya ganti.”


“Aku tidak tahu Om, mungkin papinya Syila lupa, terkadang umur memang membuat ingatan seseorang menjadi lebih lemah.”


Kevin mulai melaksanakan serangannya.


“Aku akan tanyakan padanya, aku akan pastikan kalau alat-alat itu segera diganti, aku tak mau kena masalah kalau ada pasien yang celaka karena alat kita yang tidak memadai.”


“Om, jangan bertanya, Om takkan menemukan apapun jika bertanya, seharusnya Om datang untuk sidak, Om pasti akan banyak menemukan hal yang ganjil dan tidak benar. Karena papinya Syila mungkin bisa dipercaya, tapi Alzam, aku rasa ... dia sangat ... arogan.”


“Ya, dia kakaknya Syila.”


“Dia terlihat sangat tenang, walau terakhir kali Syila sakit, dia sempat mengusir kami untuk pergi dan tak perlu melihat Syila. Tapi dia terlihat tenang dan sopan.”


“Tidak Om, itu hanya apa yang dia ingin perlihatkan, buktinya dia sempat kasar ketika Syila sakit dulu, dia hanya menyembunyikan sifat aslinya.”


“Memang sifat aslinya seperti apa?” Papinya Izraa bertanya.


“Dia terkadang suka membebankan pekerjaan pada Dokter lain, dia menggunakan sistem senioritas yang cukup tinggi, bahkan beberapa Dokter penah sakit karena menghandle jadwalnya dan juga jadwal Alzam, mereka tak berani melawan karena papinya Syila dan Alzam adalah Direktur di rumah sakit itu, mereka mencari aman saja makanya menurut.”


“Menurutmu, aku mesti apa?” Papinya Izraa bertanya.


“Datang sidak, aku akan beritahu kapan waktu terbaik Om, hanya agar Om bisa melihat kondisi rumah sakit kami yang sebenarnya.”


“Baiklah, aku akan menunggu kabar darimu.”


“Baik Om, kalau begitu aku pamit pulang ya.” Kevin lalu keluar dari rumah itu.


Tak lama kemudian istrinya duduk kembali di samping suaminya.


“Kevin sudah pulang?” Maminya bertanya.

__ADS_1


“Ya, dia sudah pulang.”


“Tadi kalian ngobrol apa?” Maminya Izraa bertanya.


“Hanya obrolan biasa saja, soal rumah sakit.”


“Oh, baiklah, apa aku perlu tahu apa yang kalian bicarakan?”


“’Tidak perlu, hanya urusan sepele saja.”


“Baiklah, kau mau aku tambah kopi? Atau kau mau teh?”


“Tidak, aku ingin tidur cepat malam ini.”


Lalu dua orang kaya itu masuk ke kamar mereka.


Sementara di jalan lain, ada sepasang manusia yang hanya saling terdiam selama 15 menit dan mulai mengobrol, Izraa mengantar Syila pulang, Andi pulang ke rumahnya.


“Kok kau tiba-tiba ada di kafe?” Syila bertanya.


“Aku memang ingin kopi, itu saja.”


“Kebetulan sekali ya.” Syila tak percaya.


“Ya, kebetulan.”


“Kebetulan yang sangat presisi.”


“Ya, kebetulan yang sangat presisi.” Izraa hanya mengulang, tentu saja dia bohong, Syila tetap diawasi oleh para bodyguard bayaran Izraa, makanya Izraa tahu Syila di mana dan keberadaan Kevin yang mungkin membuat Syila tak nyaman karena  Sofia juga ada di sana.


“Kau tidak memata-mataiku kan?”


“Kau terlalu percaya diri, aku terlalu sibuk untuk selalu melihatmu selama dua puluh empat jam, itu melelahkan, melihatmu di kantor seharian saja rasanya menyiksa.”


“Kau mau kuhajar!” Syila kesal karena seolah Syila yang mengejar-ngejar Izraa karena perbincangan mereka.


“Memang bisa?”


“Kau menghinaku?”


“Tidak, aku hanya bertanya.”


“Terserah sajalah, tapi terima kasih untuk malam ini ya.”


“Tentu saja, kau makin paham kan, kalau kau butuh aku?”


Syila diam saja, tidak ingin menanggapi, Izraa sedikit melirik, ingin melihat ekspresi Syila, tapi Syila sangat datar.

__ADS_1


Izraa yakin, kalau Syila tak menyangkal, artinya dia memang merasa membutuhkannya. Awal yang baik untuk rencana pernikahan ini.


__ADS_2