Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 38 : Dia Lagi


__ADS_3

Syila merasa terganggu dengan perkataan Hanum, mungkin saja dia dan Izraa salah paham karena satu dan lain hal, Syila berusaha mengingat apa yang mungkin menjadi celah kesalahpahaman itu, tapi dia tidak bisa menemukannya sama sekali.


Karena hal ini akhirnya membuat Syila agak lupa dengan permasalahannya dengan Aldo, Syila hari ini pulang sendiri karena Andi bilang harus menemani ibunya yang sedang tidak enak badan, maka Syila pulang sendiri ke apartemennya dan masuk ke unitnya tanpa rasa takut sama sekali karena lupa soal Aldo. Segera setelah masuk, dia mandi lalu setelah itu duduk di ruang tamu untuk kembali berkutat dengan novelnya.


Saat sibuk menulis, ada bel berbunyi, Syila bingung, siapa yang hendak bertamu malam-malam begini? sudah jam sepuluh malam, Syila lalu tersenyum, apakah itu Izraa, mungkin saja, karena dia terkadang memang suka begitu, datang tiba-tiba.


Syila berlari ke arah pintu, dia akan membuka pintunya, tapi entah kenapa dia jadi ragu, langkahnya terhenti.


Hanya untuk berjaga-jaga dia akhirnya mengintip pada lubang pintu yang fungsinya memang untuk mengintip siapa tamu di luar.


Saat mengintip, dia kaget, tubuhnya bergetar karena takut, bel pintu ditekan lagi, tapi kali ini lebih intens, Syila tidak akan membukanya. Suara bel mulai terdengar tanpa henti.


Setelah lima atau sepuluh menit bel itu di pencet, tiba-tiba tidak ada suara lagi, Syila yang masih ada di balik pintu mengintip lagi, tapi dia kaget, karena Aldo masih ada di sana, Aldo terlihat menempelkan wajah di depan pintunya, dari luar terdengar suara, Aldo berkata, Syila ingin mendengar apa yang Aldo katakan, makanya dia menempelkan telinganya di pintu.


“Aku tahu kamu di dalam, tadi aku melihatmu masuk.” Perkataan itu membuat Syila semakin ketakutan. Dia mundur dan tubuhnya benar-benar gemetaran.


Syila tidak menjawab dan membiarkan Aldo di depan pintu, karena Syila tahu, begitu Aldo dibiarkan masuk, maka habislah dia.


“Kak Syila, aku ingin bicara, aku rindu sekali padamu, aku hanya bisa melihatmu dari jauh selama ini, sekarang aku ingin selalu di dekatmu, Kak.” Perkataan itu seharusnya terdengar romantis, tapi entah kenapa perkataan itu menjadi menakutkan bagi Syila, karena ketika orang asing mengatakan rindu padamu, artinya dia selama ini mengikutimu dari jauh atau menguntitmu.


“Kak, aku hanya ingin melihat wajahmu, menamanimu tidur, itu saja, aku tidak akan melakukan apapun Kak, aku mohon, aku tidak dapat menahan kerinduan ini, aku membawakan makanan kesukaanmu, aku mohon padamu, buka pintunya.” Perkataan itu memohon, tapi nadanya lebih seperti mengancam.


Syila semakin ketakutan karena perkataan 'menemani tidur' adalah sebuah pelecehan dalam bentuk verbal, apa dia sudah gila!


Syila berlari hendak mencari telepon genggamnya, tapi saat dia berlari, tiba-tiba gagang pintu itu seperti ingin dibuka paksa, Syila berlari ke arah meja ruang tamu, dia meraih telepon genggamnya yang ada di sana dan mencoba menghubungi Andi, tapi tidak diangkat-angkat, lalu dia menghubungi kakaknya, tidak diangkat juga, lalu dia terpaksa menelpon Izraa, karena kalau menelpon Papi, maka tamat riwayat apartemen ini dan mungkin Aldo akan berakhir di rumah sakit, karena papi akan berubah menjadi monster begitu tahu anaknya hampir dilecehkan.


Tapi sayang sekali ... sama saja! tidak diangkat juga, bahkan Izraa yang selalu menghubungi duluan kali ini tidak mengangkat teleponnya, Syila menangis sejadinya, dia tahu pintunya tidak mungkin dijebol, tapi dia takut, sangat takut, baru sekarang dia menghadapi penggemar yang aneh seperti ini, betapa beraninya dia mendatangi apartemen Syila, apakah dia harus menelpon Polisi agar Aldo ditangkap, tapi itu akan menjadi skandal, dia tidak ingin mencoreng nama baiknya sendiri.


Syila berlari ke kamarnya, mengunci pintu kamar itu, menarik mejanya supaya menghalangi pintu terbuka dan memegang stick golf yang jarang sekali dia pakai hingga berdebu. Sebenarnya itu hadiah dari Penerbit karena beberapa novel Syila best seller, dia dulu suka main golf, tapi sekarang karena sibuk jadi jarang.


Dia duduk di atas kasurnya dengan meringkuk sembari tetap memegang stick golf itu sepanjang malam, hingga akhirnya subuh tiba, dia tidak tidur sama sekali.


Andi menghubunginya setelah dia solat subuh, Syila menangis sejadinya ketika Andi menghubungi, Andi tidak bertanya apapun, dia hanya bilang akan ke apartemen sekarang juga.


Tidak lama Andi datang, dia membuka pintu dengan kuncinya sendiri, dia memang punya kunci unit Syila karena dia selalu datang jadi Syila memberinya akses.


Andi mengetuk kamar Syila yang masih ditahan oleh meja.


Syila membuka pintunya dan langsung memeluk Andi begitu melihat sepupunya itu.


“Andi gue takut, gue takut Ndi, gue nggak mau sendirian.”

__ADS_1


“Tenang Cil, ada gue kok sekarang.” Andi memeluk Syila, tubuhnya lemas karena semalaman tidak tidur.


Andi membuatkan Syila makanan, Syila mandi dan bersiap ke lokasi syuting.


“Lu mau ke lokasi? Tidur aja dulu, izin hari ini, gue temenin di sini.”


“Nggak mau, gue nggak mau di apartemen ini dulu, sekarang yuk kita pergi dulu dari apartemen ini.” Syila merasa lebih aman di luar dan di keramaian.


“Yaudah kalau gitu makan dulu, baru kita pergi ke lokasi.” Andi membuatkan nasi goreng kesukaan Syila, Syila enggan makan, tapi dia paksakan, setelah semalaman sudah begadang, akan bahaya jika tidak makan.


Setelah sudah selesai makan, Syila dan Andi keluar apartemen, Syila terus menempel pada Andi, dia tidak mau melepaskan pegangan tangannya, walau dia bisa beladiri, tapi menghadapi penjahat bukan sesuatu yang bisa dia atasi, apalagi penggemar gila. Urusannya nyawa!


Andi menggandeng bahu Syila.


Mereka menunggu lift terbuka, saat lift terbuka, kosong, Syila berlari masuk dan meminta Andi untuk segera menutupnya, pintu lift akan tertutup, tapi tiba-tiba terbuka lagi, ternyata ada yang menekan tombol lift dari luar, jadi lift terbuka lagi, Syila merasa takut dan panik.


Ternyata benar, orang yang Syila takuti, Aldo hendak masuk lift, Syila berteriak, Andi lalu mendorong Aldo agar tidak masuk.


“Jangan deket-deket sama ade gue!” Andi melarang Aldo masuk lift, Aldo yang terjatuh lalu berdiri dan tertawa dengan wajah menyeringai.


“Kak Syila, aku nanti malam mampir lagi boleh ya, makanan kesukaanmu sudah kumakan, nanti malam kubelikan lagi, ya.” Pintu lift lalu tertutup, tapi suara itu masih terus terngiang di telinga Syila.


“Benerkan kata gue, dia emang gila!”


“Yaudah pokoknya gue dua puluh empat jam sama lu, ya.” Syila mengangguk.


Lalu mereka pergi ke lokasi syuting.


Saat sampai lokasi sudah penuh orang, mereka akan bersiap untuk take pertama, Izraa sudah di depan kamera, dia terlihat serius.


Lalu syuting berjalan normal seperti biasanya, Syila berkali-kali ketiduran, tapi dia bersikap waspada, begitu ada langkah kaki mendekat, dia langsung bangun dan meraih apapun untuk penjagaan, dia merasa hanya tidak aman saja.


Syuting break dulu karena waktunya makan, Izraa makan di dekat Syila karena Bang Aryo minta ngobrol, Hanum juga ada di sana. Setelah itu mereka semua pergi, tinggal Izraa bersama Syila.


“Kemarin gue telepon kenapa nggak diangkat?” Syila bertanya.


“Sudah tidur.” Jawabnya dengan tenang.


“Lalu kenapa tidak telepon balik saat sudah melihat miscall dariku?”


“Perlu emang?” masih ucapan dingin yang Syila terima.

__ADS_1


“Tidak juga.” Syila kali ini menjawab dengan ketus, Izraa lalu pergi begitu saja, Syila malas memikirkan dia lagi, karena masalahnya saat ini juga sudah banyak. Yang dia tahu, pacar terpaksanya memang tidak bisa diandalkan.


“Syil, gue pergi dulu bentar ya, nyokap minta dibeliin obat, pokoknya selalu di tempat ramai, gue nitip lu ke Bang Aryo dan Hanum, kalau mau ke toilet juga ditemenin Hanum ya, jangan kemana-mana sampai gue dateng lagi, ngerti?” Andi berkata pada Syila, Syila mengangguk dan akan patuh pada pesan kakak sepupunya itu.


Andi pergi, Syila masih terus mengantuk bahkan terlihat lingkar hitam di sekeliling matanya.


“Nape lu? begadang?” Hanum datang dan langsung menyapa dengan bercanda di sampingnya.


“Ya gitu deh.”


“Deadline?” Hanum bertanya lagi.


Syila hanya mengangguk. Dia tidak mau menambah banyak orang yang tahu masalahnya, takut sampai ke telinga papi, apalagi Hanum.


Tidak terasa waktu berjalan, syuting selesai sekitar jam tujum malam, tapi Syila merasa ada yang aneh, Andi belum balik juga, telepon genggamnya tidak diangkat, Syila mulai khawatir, dia harus kemana, kalau pulang pasti Papi bertanya dan merasa curiga.


“Za, bisa anterin pulang nggak?” Syila meminta kekasih terpaksanya untuk mengantar, Izraa menatap Syila sejenak lalu menjawab.


“Gue ada perlu, Andi kenapa?”


“Kayaknya jagain nyokapnya deh, nggak bisa dihubungi, mobil gue dibawa.”


“Naik taksi online aja.” Izraa menjawab dingin.


“Tapi … gue takut, anterin ya, please ....” Baru kali ini Syila memohon.


“Takut? cewek kayak lu bisa takut juga? bukannya lu bisa beladiri, aneh.” Izraa lalu pergi, dia benar-benar masih marah karena diabaikan dan merasa tidak dihargai sebagai seseorang yang dekat dengan Syila. Dia tak melihat ekspresi wajah Syila yang semakin ketakutan ditinggal olehnya.


Syila rasanya ingin sekali menangis, Kak Alzam juga bilang tidak bisa menjemput karena masih ada jam jaga di rumah sakit, Syila masih di lokasi syuting, lokasi mulai sepi, saat dia hendak memesan taksi online, tiba-tiba Andi menelpon, Syila lega, dia lalu menjawabnya.


[Ndi! Dari mana sih?] Syila kesal.


[Kakak Syila, Kak Andinya lagi bobo, kami udah di depan lokasi syuting, ke sini ya, nanti Kak Andinya nggak bangun-bangun.]


Syila gemetar lagi mendengar suara itu, bagaimana bisa telepon genggam Andi ada di Aldo? itu suara Aldo, jelas itu Aldo, karena semalam Syila mendengar Aldo berkata dari balik pintu, dia jadinya ingat betul suara Aldo.


[Apa yang kau lakukan pada Andi!] Syila berteriak, tidak ada orang sekarang, jadi tidak ada yang bisa Syila mintai tolong.


[Kakak Syila ke mobil ya, nanti kita cari tahu apa yang terjadi sama kak Andi.] telepon ditutup, Syila lalu berlari ke arah parkiran, dia takut, tapi dia tidak ingin Andi celaka, saat sudah sampai di parkiran, Syila melihat mobilnya, lalu dia mendekati mobil itu, kaca mobil terbuka, ada Andi di kursi depan penumpang, Aldo meminta Syila naik ke bagian belakang mobil, Syila menurutinya karena takut Andi celaka.


“Kau apakan Andi?” Syila bertanya setelah masuk, pintu mobil dikunci otomatis oleh Aldo, lalu Aldo membuka pintu mobil di sisi Andi yang sedang pingsan, setelah itu dia menendang tubuh Andi untuk keluar dari mobil, setelah tubuh Andi jatuh, dia menutup pintu mobil dan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, Syila panik dan berusaha membuka pintu mobil tapi tidak berhasil karena dikunci dari depan.

__ADS_1


“Lepaskan aku! lepaskan!” Syila menangis sejadinya, tapi tiba-tiba Aldo menepikan mobil dan menyemprot sesuatu ke wajah Syila, Syila seketika pingsan.


__ADS_2