Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 51 : Pelaku 5


__ADS_3

“Kau itu ... masuk penjara karena menculik Syila kan?” Fenita sangat kesal, ingin rasanya dia pukul lelaki ini tapi dia terlalu kecil untuk melawan.


"Kau siapa? anteknya? mau menyiksaku? atau sudah ada racun di sini?" Lelaki itu berkata dengan arogan.


"Aku akan memastikan hidupmu seperti di Neraka.”


Fenita lalu tersenyum setelah mengatakannya. Dia menaruh makanan yang dia bawa dalam rangka kunjungan sosial di penjara itu.


“Tenang saja, aku tidak memberikan racun di sana, karena … kita tidak boleh mengotori makanan, itu dosa.” Fenita ingin Aldo menerima makanan itu, karena Aldo terlihat ketakutan setelah melihat senyuman Fenita.


Aldo menerima makanannya dan menjauh untuk makan.


Fenita lalu menelpon Izraa setelahnya. Izraa sedang di kafe dengan Syila, dia meminta Izraa mengeraskan suaranya agar Syila juga mendengar apa yang akan dia katakana, untuk sejenak, Fenita pergi ke belakang dan meninggalkan panci makanan yang dia bawa untuk para narapidana, anak buahnya yang sekarang membagi makanan.


“Kenapa Fenita?” Syila bertanya.


“Aku Sudah bertemu dengan Aldo, aku sudah menemukan bukti bahwa dialah yang merencanakan penembakan pada Izraa, Syila. Kalian harus hati-hati karena mungkin di luar sana dia menyuruh seseorang untuk tetap mencelakakan kalian.”


“A-apa itu benar Fen?” Syila terdengar gugup.


“Ayahnya bukan orang biasa Syil, Za, aku sudah menyelidiki semuanya, kalian lihat nanti dokumen yang aku kirimkan ya, kalian baca pelan-pelan, besok aku akan mampir untuk memberitahu kalian apa rencana kita selanjutnya, karena ini sudah bukan hal yang bisa kita anggap main-main.


Jangan libatkan Polisi, karena bisa jadi, akan semakin besar dan kalian akan sangat dalam bahaya yang jauh lebih besar.”


“Fen, makasih ya.” Izraa mengatakannya dengan tulus, Syila hanya diam saja, Walau dalam hati dia sudah menebak bahwa ini kerjaan Aldo, tapi … dikatakan dengan gamblang seperti tadi, benar-benar menyayat hati Syila, karena dia tak pernah ingin orang lain celaka karena dia.


“Maafkan aku Izraa.” Syila mengatakannya dengan penuh penyesalan, sementara Izraa melihat dokumen yang dikirim Fenita melalui pesan singat dari pesan singkat di telepon pintarnya.


“Ini data orang tua Aldo, ternyata dia anak seorang preman ternama di Jakarta, orang tuanya adalah pengusaha bisnis prostitusi, Fenita mendapatkan identitas orang tua aslinya. Makanya dokumen ini berbeda dengan yang aku miliki.”


“Orang tua aslinya? Dokumen yang kau miliki? Kau juga menyelidiki Aldo?” Syila terlihat ngeri mendengar baik Izraa maupun Fenia menjadi orang-orang yang melewati batasan.


Walau Syila adalah penulis novel genre thriller, tapi berbuat seperti itu sama sekali tidak ada dalam pikiran Syila, datang dari keluarga yang hangat dan berkecukupan walau sempat bangkrut, membuat Syila tumbuh menjadi wanita yang sangat baik dan selalu berlaku dalam norma yang ada.


“Aku sudah mendapatkan dokumen orang tuanya, pantas mereka selalu membandingkan Aldo dengan saudarnya, Aldo merasa tidak disayang dan menjadi orang yang haus perhatian, mendapatkan perhatianmu sedikit saja dia sudah merasa kau memiliki perasaan yang dalam, itu semua karena otaknya tak mampu untuk mengidentifikasi bagaimana perhatian yang wajar itu dia dapatkan.


Beruntung kita punya Fenita yang bisa mendapatkan informasi itu dengan sangat cepat, jadi kita bisa melakukan langkah pencegahan, karena mungkin, Aldo sudah tahu tentang keluarga aslinya dan meminta mereka untuk mencelakaiku dan mungkin selanjutnya kamu.

__ADS_1


Ayo kita pulang, tidak aman di luar, aku akan meminta untuk penjaga rumahmu memperketat penjagaan, Fenita bilang jangan hubungi Polisi, aku paham, aku akan meminta beberapa orang suruhanku berjaga di rumahmu.


Ndi, kau harus minta izin pada RT dan RW komplek rumah Syila agar orang-orangku diizinkan untuk berjaga di depan rumahmu, aku akan memastikan kau aman, tenang saja.”


“Za, lebih baik kita telepon Polisi saja, karena akan sangat berbahaya kalau kau tidak dalam penjagaan.” Syila menganjurkan, tapi Izraa hanya menggeleng dan mengajak mereka pulang.


Izraa benar-benar melakukan apapun yang dia katakan, bahkan dia menemani Andi untuk berbicara dengan RT dan RW setempat untuk memastikan bahwa mereka akan memberi izin dengan penjagaan yang ketat di rumah Syila.


Walau mereka merasa Izraa berlebihan dan menasehati supaya melapor ke Polisi saja, tapi Izraa berbohong bahwa dia punya orang dalam polisi yang sedang menyelidiki diam-diam mengenai pelakuanya. Ketua RT dan RW tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


Setelah menemani Andi, Izraa yang sebenarnya masih belum pulih, akhirnya pulang ke rumah Syila.


Saat sampai rumah ternyata sudah banyak orang.


“Izraa apakah ini memang tindakan tepat?” Papi bertanya pada Izraa, Syila hanya diam saja, dia malu pada semua orang, karena penggemarnyalah yang membuat ini semua terjadi.


“Maaf om, tapi aku harus melakukan ini, kalau tidak kita bisa kecolongan, Fenita sudah memberikan data orang tua kandung Aldo, mereka bukan penjahat biasa, mereka punya anak buah yang akan membuat Syila celaka, mereka sudah mencoba padaku, beruntung Fenita ada, makanya gagal, sekarang pasti targetnya Syila, Fenita ingin kita semua bersiap.”


“Za, bukan apa-apa tapi ini bisa membuat gaduh komplek rumah papinya Syila, mereka akan menganggap kalau Syila yang menyebabkan semua kekacauan ini dan membuat komplek akhirnya tidak tenang.” Papinya Izraa yang berkata kali ini.


“Gimana kalau di rumah kami saja Za? Di rumah kita, bukanlah komplek perumahan kita lebih tertutup, kau bisa menaruh orang sebanyak yang kau mau di dalam rumah, tidak seperti ini, di rumah Syila mereka berkumpul di luar, itu akan membuat orang menjadi cemas.” Tidak dapat dipungkiri, perkataan ibunya Izraa benar, karena halaman rumah keluarga Izraa jauh lebih besar dan luas. Jangankan ada kasus ini, sekarang saja penjaga rumah mereka sangat banyak.


“Jadi, ini tujuan kalian ke sini?” Izraa bertanya dengan ketus.


“Bu-bukan, Nak. Ini hanya sebuah saran agar kau dan Syila tetap nyaman dan aman.”


“Papi sih setuju, nggak apa-apa Syila di sana, Papi percaya sama kamu, Za.” Syila melihat ayahnya dengan tatapan tajam, ini bagian dari rencana lagi kah? Syila sebal, tapi hanya bisa diam. Papinya Syila memaksa Izraa memanggilnya papi, tapi tetap saja Izraa tak ingin memanggilnya begitu, terlalu terburu-buru.


“Apakah keluarga Syila keberatan dengan tinggalnya aku di sini?” Izraa tahu, akan sangat tidka nyaman bagi Syila untuk tinggal di keluarganya, dia akan tertekan dan mungkin sulit menulis, Izraa tak mau Syila tak nyaman, makanya dia menggunakan permainan Psikologis untuk menanggal jebakan ini.


“Bukan begitu, Izraa, masa Papi sama mami nggak suka kamu di sini, kamu jagain Syila loh, yasudah, Pak, Bu, biarlah Izraa di sini, penjaga juga nanti di dalam rumah saja, aku akan siapkan tempat istirahat mendadak di garasi dan halaman depan aku akan tambahkan bangku yang nyaman untuk berjaga. Jadi takkan ada warga yang melihat orang berkerumun di luar, begitu sajalah.” Papi tak ingin menantunya merasa diusir, sudah sekali dia melakukan kesalahan dengan meminta Syila putus, sekarang terlalu beresiko, jika saja dia memaksa Syila ke rumah Izraa.


Papi dan Mami Izraa setuju, dia tak ingin hubungan ini juga kandas, kedua orang tua mereka benar-benar mendukung hubungan ini dengan sangat kuat.


“Kalau begitu, mohon undur diri, Syila juga harus istirahat.” Izraa benar-benar orang yang dominan, dia tak sungkan di rumah ini, selayaknya anak dalam keluarga.


Kak Alzam melihat Izraa dengan tatapan aneh, dia merasa keberatan dengan semua hal yang Izraa lakukan ini, berlebihan, dia sebagai orang yang intorvert, banyak orang di rumah sungguh membuatnya takkan nyaman.

__ADS_1


Izraa dan Syila akhirnya ke kamar masing-masing.


...


Malam tiba, mereka semua sudah makan malam bersama, lalu setelah itu Alzam terlihat ke arah ruang tamu, melongok ke depan dna melihat ada banyak orang di sana, bukankah perjanjiannya hanya dua orang, tapi sekarang kenapa jadi lima orang?


Alzam menghembuskan nafas dengan keras karena kesal.


“Aku tahu ini tak nyaman bagimu, Zam. Maaf ....” Izraa tiba-tiba sudah ada di belakangnya.


Alzam kaget tapi mencoba menguasai rasa terkejutnya, “Aku memang tidak nyaman. Aku takkan menutupinya darimu, aku pikir ini berlebihan, Za. Kita harusnya ke Polisi, bukan malah begini.”


“Menurutmu, apakah luka tembak ini hal sederhana?” Izraa menunjuk luka tembaknya mengingatkan Alzam apa yang sudah terjadi.


“Makanya kita harus lapor Polisi.”


“Jaringan preman mereka luas, aku sudah cek! Mereka bisa saja memiliki orang dalam di kepolisian! Bagaimana kalau kita lapor, malah akan jadi menelakai Syila, kau itu terlalu sering di dalam rumah sakit, hingga tak paham bagaimana dunia begitu menakutkan.


Aku sudah melewatkan dua waktu, di mana Aldo mencoba mencelakai Syila, pertama saat dia datang ke apartemen Syila dan kedua saat dia diculik.


Kalau sekali lagi Syila kena ditangkap dan kita tak sadar, aku akan buat ini jadi pertumpahan darah yang mereka takkan pernah bayangkan.


Dua kali  Syila selamat, siapa yang jamin ketiga kalianya dia akan selamat!” Izraa berkata dengan keras.


Alzam ingin marah juga, tapi ... Izraa benar, apa yang dilakukannya hanya untuk Syila, Alzam tak boleh halangi.


Izraa meninggalkan Alzam yang tertegun, sadar bahwa sebesar itulah cinta Izraa pada adiknya, bahkan dia tak pernah melihat Kevin memperlakukan Syila sebaik itu.


...


Sedang di tempat yang sangat jauh, Fenita baru saja pulang dari penjara, dia mengendarai mobilnya sendiri, sudah berpisah dengan pegawainya yang membantu di penjara tadi.


Fenita berkendara dengan aman tapi entah dari mana datangnya, sebuah mobil yang dengan kecepatan tinggi, menghantam mobil Fenita dengan sangat kencang, Fenita tak bisa mengendalikan mobilnya akibat hantaman itu, dia kehilangan kendali, mobil berputar lalu akhirnya berhenti dengan meninggalkan Fenita yang sudah berlumuran darah.


Orang yang menabraknya keluar dari mobil yang hanya penyok itu, sepertinya mereka paham betul bagaimana mencelakai orang dengan plot kecelakaan.


“Bagaimana keadaannya?” Seorang lelaki berbadan kekar bertanya, Fenita masih setengah sadar, dia melihat dua orang lelaki mendekatinya, salah satunya dia kenal, wajah itu dia sangat kenal, wajah yang ... menembak Izraa.

__ADS_1


__ADS_2