
Juna dan juga Syila pergi ke bank pagi-pagi, tepat setelah mereka sampai di bank, Juna langsung disambut oleh seorang wanita, dia adalah financial advisor yang memang akan mendampingi semua nasabah prioritas, salah satu keuntungan menjadi nasabah prioritas adalah, pendampingan oleh financial advisor dalam setiap kegiatan keuangan yang akan dilakukan oleh nasabah priotas tersebut.
Juna dan Syila dibawa ke ruangan khusus, tempat nasabah prioritas melakukan kegiatan keuangan.
Pegawai Juna sudah menelpon sebelumnya, memberitahu bahwa Juna akan mengambil dana yang cukup banyak, mereka bilang akan mempersiapkan dananya dan akan siap segera, makanya Juna datang ke bank pagi-pagi agar dana benar-benar disiapkan segera.
Juna dan Syila ditawari kopi dan roti sebagai jamuan, bagaimana tidak, Juna memiliki jumlah dana yang cukup besar, tidak heran, dia kan juga pengusaha.
“Mohon ditunggu ya Pak, dana sedang disiapkan seperti permintaan bapak,” ucap financial advisor itu. Dia seorang wanita yang sangat cantik, tubuh semampai dan memiliki kemampuan komunikasi yang cukup baik.
Juna dan Syila meminum kopi yang disediakan tanpa memakan rotinya, karena tidak terlalu bernafsu untuk makan.
Setelah menunggu 2 jam untuk mengurus segala macam urusan, akhirnya Juna mendapatkan dana yang dia butuhkan, 800 juta sudah diserahkan ke dalam tas yang sudah Juna bawa, lalu mereka berdua ditinggalkan di ruangan pribadi itu, ruangan khusus memjamu tamu.
“Uangnya sudah ada, tapi apakah kau yakin, akan memberikan begitu saja dana sebanyak ini untuk seseorang yang tidak kalian kenal?”
“Kami mengenalnya Juna, dia orang yang menolong kami. Aku tahu kalau ini mungkin sangat berlebihan, tapi tidak dapat dipungkiri, kami menghadapi orang yang kejam.”
“Kalau aku bantu gimana?” Juna tiba-tiba berkata hal yang tidak dimengerti Syila.
“Maksudmu?” Syila bertanya.
“Kau serahkan dana ini pada Izraa, setelah itu, kita temui Aldo, maksudku, sebagai orang yang juga banyak pengalaman menangani orang-orang yang jahat, kita hanya perlu pendekatan yang benar.”
“Maksudmu, kita ke penjara dan temui Aldo?” Syila memastikan lagi.
“Ya, kita tanya apakah dengan menculik Fenita dia akan mendapatkan keuntungan? Kalau sedari awal tujuannya hanya mendapatkan perhatianmu, maka seharusnya kita bisa saja bernegosiasi, pendekatan seperti ini biasanya akan berhasil, karena kalau kau beri dia uang sekarang, besok-besok yang mungkin diculik adalah keluargamu, orang yang diberikan uang, takkan pernah menemukan kepuasan, mereka itu seperti vampire, takkan berhenti menghisap, hingga darahnya habis.”
“Maksudmu aku harus memohon padanya?”
“Bukan memohon, tapi kau harus bernegosiasi.”
“Dalam negosiasi, ada tawaran yang harus aku berikan, kau mau aku memberikan tubuhku padanya?”
“Bodoh ah! Kau ini dulu pintar, kebanyakan bergaul dengan lelaki itu, kau jadi dangkal!”
__ADS_1
“Jun!”
“Maksudku, dia suka padamu karena karyamu bukan? Karena bukumu bukan? Coba tawarkan karyamu yang dibuat khusus untuknya. Orang yang menyukai seseorang karena karyanya, akan menganggap karyanya itu sesuatu yang lebih berharga dibanding uang, itu akan menjadi trophy-nya. Dia akan menganggap itu adalah hal paling berharga dalam hidupnya.”
“Oh, aku paham, aku bisa membuatkannya buku, autobiograpi tentang dia dan keluarganya, mungkin dia akan semakin bangga bukan? Aku menulis untuknya tentang kehidupannya?” Syila bersemangat karena akan mendapatkan celah untuk membatalkan semua kekacauan ini.
”Ya, begitu maksudku.”
“Ini sih masuk akal, aku akan berikan uang ini pada Izraa dulu, dia akan memberikan uangnya malam hari, setidaknya kalau kita berhasil membujuk Aldo, kemungkinan uang yang diminta akan dibatalkan, karena diganti dengan karyaku, lalu Fenita kan selamat, Izraa jadi tak punya beban lagi pada siapapun.”
“Kau memikirkan sekali hidup lelak itu ya, Syil? Kau benar jatuh cinta padanya seperti dulu kau jatuh cinta pada Kevin?”
“Pertanyaan bodoh ah! Ayo kita pergi ke apartemen Izraa dulu untuk mengantar uangnya, lalu kita jalankan rencana cadangan kita, kalau pun gagal, Izraa tetap bisa memberikan uangnya dan Fenita akan tetap selamat.”
“Aku pintar kan? Kau memang paling cocok denganku, Syil.”
“Aku tidak pernah meragukan itu Jun, sampai kau menghancurkan persahabatan kita dengan cinta monyetmu.” Syila kesal karena Juna selalu mengarah ke sana, dia masih berharap pada hubungan yang lebih intim lagi antara mereka berdua, padahal Syila tahu, Juna hanya mencari aman. Baginya Syila wanita yang paling dipercaya, dia tak percaya pada siapapun untuk dinikahi karena takut dimanfaatkan, makanya menikahi Syila, wanita yang paling dia percaya adalah pilihan terbaik atas rasa tak percayanya pada siapapun.
Mereka berkendara ke apartemen Izraa, setelah dari bank lain untuk mengambil uang tunai pada rekening Syila dan juga pada kotak depositonya, Syila mengambil uang tunai sebanyak 700 juta.
Syila hanya sendirian naik ke unit Izraa, Juna menunggu di lobby.
“Ini dananya, total 1,5M. Akan genap 2M setelah kau gabung dengan uang yang ada padamu.”
“Kau dapat dari mana?” Izraa bertanya.
“Sudah, tak perlu kau pikirkan, selamatkan Fenita, maka kami berdua sudah bukan lagi jadi bebanmu, untuk yang 800 juta aku pinjam dari kolegaku, kita akan ganti berdua, untuk uangku yang 700 juta, tidak perlu kau ganti, karena ada kesalahanku juga dari penculikan ini, biar aku menanggung yang paling banyak, karena hadirnya Aldo adalah kesalahanku, seperti yang kamu bilang.” Syila berkata dengan dingin.
Izraa melihat Syila dengan pandangan bersalah, tapi memang mereka berdua terjebak dalam situasi yang cukup berat.
“Hati-hatilah Za, ingat ini, jangan gegabah, lindungi dirimu, aku akan bantu doa agar ini semua berjalan lancar.”
Syila hendak pergi, Izraa menahan tangan Syila dan berkata, “Terima kasih, maafkan aku karena ….”
“Sudah, tidak ada yang perlu dimaafkan, kita memang harus hadapi bersama.” Syila melepas tangan Izraa dan perdi dari unit itu.
__ADS_1
Dia menemui Juna di lobby.
“Sudah kau berikan?”
“Ya, sudah aku berikan. Sekarang kita ke penjara temui Aldo.”
Juna dan Syila kembali berkendara, mereka bertekad untuk bernegosiasi.
Juna pikir akan sulit menemui lelaki itu, tapi ternyata tidak, mereka darang ke penjara, melapor pada petugas untuk izin menemui Aldo dan Aldo setuju untuk bertemu, maka di sinilah mereka.
“Kau rindu padaku ya?” Aldo yang begitu duduk dan melihat Syila langsung berkata dengan kurang ajar.
“Bisakah kau duduk dengan tenang?” Juna meminta Aldo untuk diam dan tenang, Syila tidak takut lagi, mungkin karena semua hal mengerikan yang dia alami akhir-akhir ini membuatnya semakin kuat.
“Ini siapa? Kekasih barumu lagi?” Juna mengejek.
“Apa maumu?” Syila bertanya.
“Mauku? Jelas kan? Aku mau kamu.”
“Kamu tahu kan, kalau aku tidak akan memberikan itu, kau tidak bisa paksa seseorang untuk mencintaimu dan ….” Juna memegang tangan Syila yang berada di bawah meja, maksudnya meminta Syila berhenti bicara, Juna akan ambil alih pembicaraan ini.
“Aku adalah pengacara Syila, kami ke sini ingin menawarkan sesuatu padamu.”
“Oh hanya pengacaranya saja, kau tidak suka pada wanita ini? Dia cantik sekali bukan?”
Juna menahan diri dan melanjutkan perkataannya, “Dia memang cantik, kebetulan kami teman sejak kecil, tapi tak mudah untuk bisa bersamanya, dia menolak banyak pria, bukan kau saja, tapi dia memohon padaku untuk menemuimu dan menawarkan sesuatu yang sangat besar, aku rasa, kau sudah mendapatkan perhatiannya.” Juna memainkan peran sebagai manipulator, dia ingin memberi makan pada ego Aldo, cara ini selalu berhasil. Seolah Aldo pria yang istimewa.
“Apa tawarannya cantik?” Aldo tersenyum, itu membuat Syila jijik.
“Syila akan membuatkan buku biografi dan kumpulan puisi khusus untukmu, dia akan menerbitkan buku itu sendiri dan mengumumkan ke publik bahwa buku itu benar tentangmu. Semua orang akan paham kau telah dimaafkan dan sebagai bagian dari kehidupan Syila, bagaimana? Apakah kau setuju?” Juna menggunakan kata yang sebaik mungkin untuk bisa mendapatkan kepercayaan Juna.
“A-aku suka itu! Sungguh kau akan melakukannya untukku?” Aldo semakin terlihat bersemangat.
“Ya, aku akan lakukan tapi … lepaskan Fenita.”
__ADS_1
Hening … Aldo terdiam lalu bertanya, “Wanita ****** itu? aku sangat ingin dia celaka, dia ….”
Syila menatap dengan was-was pada perkatan Aldo.