Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 84 : Pendekatan kembali Tamat


__ADS_3

“Apa menurut mami aku ambil kesempatan ini?” Syila bertanya saat maminya Izraa sudah pulang.


“Terserah kamu saja, kalau mami bilang jangan kamunya mau? begitu juga sebaliknya. Kan dari dulu Syila tahu, Mami paling support apapun yang Syila mau, karena Mami tahu, hanya yang Syila inginkanlah yang bisa buat Syila bahagia.”


“Tapi, apakah Syila sanggup?”


“Belum tahu sampai kita bisa mencapai garis finish, tapi kalau kamu tanya berdasarkan pengalaman sebelumnya, kamu selalu berhasil mendapatkan apa yang kamu mau, kamu selalu mampu mewujudkan mimpi.”


“Tapi kan keadaannya berbeda, Mi.”


“Maksudnya tangan Syila?”


“Iya ....”


“Tapi kan menulis itu pekerjaan otak, tangan hanya pelaksana, kamu bisa menggunakan tangan siapapun, tapi kamu nggak akan bisa menggunakan otak orang lain untuk membuat novelmu.”


“Tapi, gimana dengan papi dan kakak?”


“Kita bicara bareng pas nanti makan malam, Hanum juga nanti ada, Mami akan minta Hanum untuk bantu membujuk Alzam, lalu mami akan bantu membujuk papi, kamu yang penting siap.”


“Mami nggak masalah, kalau aku menerima bantuan dari maminya Izraa?”


“Apapun yang buat anakku bahagia, akan aku izinkan, dulu aku marah juga karena Izraa membuat sedih dengan berkata kasar, kecelakaan terakhir bukanlah penyebab utamanya, tapi dia memarahimu, itu yang membuatku sangat kesal dan yakin kau akan terluka nantinya.”


“Baiklah, Andi juga aku panggil ya Mi, karena dia nanti pasti akan terus membantuku.”


“Ya, tentu saja, dia satu-satunya yang akan terus bersamamu.”


Lalu Syila pamit ke kamar, sementar mami akan menelpon Hanum, dia ingin agar calon menantunya itu membantu, karena yang akan paling sulit dibujuk adalah Alzam, hanya Hanum yang akan bisa membantu.


...


Malam pun tiba, lalu semua orang sudah berkumpul di meja makan, mami sengaja memasak semua masakan kesukaan yang ada di meja makan, untuk memanjakan mulut mereka dan akhirnya bisa berpikir jernih, karena ada pepatah yang mengatakan, kalau ingin orang setuju padamu, kenyangkan dulu perutnya, baru bicara. Kebahagiaan memakan makanan yang disukai masih tersisa dan membuat suasana hatinya menjadi baik.

__ADS_1


“Wah, ada perayaan apa nih? Makanannya tumben enak-enak semua?” Alzam mengambil nasi dan lauk kesukaannya, Hanum tersenyum dan ikut mengambil makan.


“Emang selama ini masakan mami kurang enak kah?” Mami pura-pura marah.


“Nggak kok Mi, biasanya ada aja yang Alzam kurang suka, bukan karena tidak enak, tapi bukan selera Alzam.”


“Mi, nanti diajarin ya Hanum, biar bisa masak kesukaan Alzam.”


“Gampang itu mah, tapi Num, kalau sibuk mah, masak nggak prioritas, yang penting suami kenyang, ga masak sendiri, tapi meja makan selalu tersedia mah cukup, nggak usah terlalu membebani diri dengan mengharuskan masak, masak mah suatu saat semua orang akan bisa, tapi bukan prioritas.”


Mami memang calon mertua yang menjadi idaman semua calon menantu, mungkin karena dia berasal dari kamu atas yang paham, kalau perempuan bisa berdaya upaya untuk bermanfaat di banyak bidang, perempuan tidak selalu di dapur, mendampingi suami dengan bisnis, membantu suami dengan bekerja bahkan menafkahi keluarga, dengan pendidikan tinggi, mami mampu melihat dengan lebih luas, makanya tak heran, Hanum akan memiliki kemampuan mengambil keputusan sendiri tentang rumah tangganya.


Bahkan papi sudah persiapkan rumah untuk mereka berdua jika menikah nanti, papi memang tak ingin Alzam tetap tinggal di rumah setelah menikah nanti, untuk membuat mereka memiliki rumah tangganya sendiri.


Mengingat bahwa, ini yang tidak akan pernah Syila dapatkan, begitu dia menikah nanti, dia akan dikendalikan oleh ibu mertuanya, apakah kalian juga merasa khawatir soal itu, aku pun sama.


“Iya tante, tapi mungkin untuk makanan kesukaan Alzam, Hanum akan masak sesekali, walau mungkin tak senikmat miliki Tante.”


“Iya Tante.”


Semuar orang melanjutkan makan, lalu setelah selesai, mami menahan semua orang untuk tetap duduk, dia beralasan bahwa ada makanan penutup, papi tadinya ingin cepat-cepat istirahat, sedang Hanum juga menahan Alzam, yang tadinya bersikeras sudah kenyang.


Semua orang mendapat puding es krim yang cukup terkenal dari restoran jepang langganan mami, dia membelinya online tadi, lalu menyajikannya pada semua orang, keadaan tenang, lalu mami memberi kode pada Syila untuk memulai percakapan.


“Pi, Kak, Ndi, tadi maminya izraa datang ....” Syila membukanya dengan ragu.


Alzam langsung berhenti menyendok pudingnya, bahkan ekspresinya mulai berubah menjadi marah yang tertahan.


“Ada apa dia ke sini?” Alzam bertanya, papi hanya diam saja, karena sebenarnya, dia yang paling duluan berdamai dengan keluarga Izraa.


“Dia ke sini karena menawarkan kerja sama untuk membangun bisnis penerbitan bersama.”


“Apa!” Alzam langsung bereaksi keras.

__ADS_1


“Kak dengar dulu ya, jangan diinterupsi dulu.” Papi menenangkan anaknya dengan cukup berwibawa, agar anaknya tidak marah dulu.


Alzam diam, Hanum memegang tangan Alzam, supaya Alzam tidak emosi.


“Begini Kak, kata maminya Izraa, dia akan membantu Syila membangun perusahaan penerbitan, kan Syila sekarang belum bisa menulis, tapi Syila bisa membantu banyak Penulis lain yang hebat, untuk bisa menerbitkan bukunya, Syila bisa membantu mereka dengan menjadi editor, jadi tulisan mereka akan lebih profesional lalu menerbitkannya dan terakhir, juga membantu memasarkan.


Karena para pembaca Syila pasti ikut mendukung Syila dan para penulis baru yang berbakat.”


“Jadi kamu memang mau mendapatkan bantuan itu dari maminya Izraa? Apakah papi tidak bisa medanai?” Alzam bertanya.


“Tidak bisa, karena papi sudah habis dana cukup banyak untuk terapiku.” Syila mengingatkan.


“Aku akan carikan dana jika kau memang tertarik.”


“Kak! Ini bukan soal ego-egoan, tapi ini soal dana yang memang aku butuhkan banyak, bukan bicara puluhan juta, Kak. Jika memang maminya Izraa mampu, kenapa nggak ambil kesempatan ini?”


“Lalu kau mau jika dia mengendalikan hidupmu?” Alzam yang paling menggunakan logikanya.


“Apa yang dia ingin kendalikan kak?” Syila masih belum paham.


“Hubungan kau dan Izraa. Kau mau dipaksa menikahinya karena untuk balas budi?” Alzam kesal karena Syila seperti orang bodoh.


“Aku akan menolak jika memang tidak ingin menikah dengannya, mereka hutang budi padaku, aku pikir ini karena tanganku makanya mereka begitu.” Syila hampir menangis, itu membuat papi sedikit marah pada Alzam.


“Zam, papi tak punya dana sebanyak itu, tidak dapat dipungkiri, kebutuhan Syila untuk terapi sangat banyak, papi bahkan sudah habis ratusan juga, karena itu tak dicover asuransi kita, lalu jika Syila memang ingin melakukan itu, kita akan dukung, ini semua untuk kebaikan Syila, aku pikir ini jalan yang baik untuk dia lakukan dari pada hanya fokus pada sakitnya.” Papi mencoba membujuk Alzam.


“Terserah kalau kalian memang mau mendukungnya, tapi Alzam tidak, maaf dan Alzam tahu, jika memang suara Alzam tak dihiraukan, tak masalah, kau bisa jalan sendiri tanpa dukunganku bukan?” Alzam lalu pergi dari meja makan tanpa menghabiskan makanan penutupnya, Hanum lalu mencoba mengejarnya dan memberi kode pada mami, agar dia membiarkan Hanum yang membujuknya, masuk ke kamar Alzam, ini memang tidak baik, tapi mami dan papi percaya.


Sementara Syila sedih, dia dan Andi masuk ke kamar untuk menenangkan diri.


“Pi, aku akan tetap menjalankan ini bersama Syila, aku akan mendukungnya.” Mami bicara pada papi.


“Aku ikut keputusanmu, lagian hubunganku dengan keluarga Izraa memang tak bisa putus. Aku Direktur rumah sakit milik keluarga mereka, aku bekerja pada mereka. Jadi silahkan kau lakukan yang menurutmu baik, aku hanya bisa mendukung dari belakang, semoga Hanum bisa meluluhkan hati Alzam.” Papi berharap.

__ADS_1


__ADS_2