Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 82 : Pendekatan kembali 5


__ADS_3

“Kami akan memotong lehernya kalau dia berani melakukan itu.” Papi dengan dingin berkata itu. Tentu maksudnya tidak benar-benar seperti itu, mereka akan membuat Kevin yang datang dari keluarga biasa saja itu menderita tanpa pekerjaan dan bahkan membuat izinnya dicabut, mereka mampu melakukannya.


Kalau saja Izraa tahu, bahkan papinya secara khusus mendatangi papinya Syila dan meminta agar membujuk putrinya untuk segera memutuskan hubungan Syila dengan Kevin secara halus, apakah kalian ingat ketika Syila berbicara dengan papinya dan papinya bilang bahwa ada seorang ayah yang anaknya cacat ingin agar dia dan Kevin putus karena putrinya mencintai Kevin. Maka itu adalah ayahnya Izraa dan Sofia. Dia yang meminta ayahnya Syila membujuk Syila putus dengan Kevin dan mengatakan bahwa ada perempuan cacat yang membutuhkan Kevin lebih dari apapun untuk bertahan hidup.


“Lalu sekarang apa yang harus aku lakukan? Aku tak mungkin menyatukan Syila dan Kevin dalam rumah yang sama kelak ketika kami menikah.”


“Kau sudah berjanji untuk tinggal di rumah ini kelak setelah kau menikah dengan Syila dan mau meneruskan usaha kami.” Mami mengingatkan.


“Kami akan biarkan Sofia tinggal terpisah bersama Kevin.” Papi mengambil keputusan.


“Tidak, aku takkan membiarkan adikku menderita sendirian, kalau dia disiksa oleh Kevin bagaimana?” Izraa tak tega membiarkan adiknya pergi dari rumah ini.


Salahnya berjanji untuk tinggal bersama kelak ketika mereka menikah, perjanjian antara dai dan kedua orang tuanya sungguh membebaninya sekarang.


“Maka kalian harus tinggal bersama, aku pikir Syila bukan orang yang rendah dan bisa tergoda lagi dengan mantannya begitu kita semua tinggal bersama.”


“Bukan itu masalahnya, sekarang apakah dia akan tetap mau menikah denganku jika saja dia tahu kita akan tinggal bersama di sini.” Izraa bingung.


“Jangan bilang padanya kalau dia akan tinggal bersama kami, aku akan memperlakukan dia sangat baik, aku akan menjadi mertua yang sangat memanjakannya, kau tahu kan, kami para pebisnis tidak memakai metode menekan menantu hanya untuk mendapatkan perhatian anak kami, nilainya di mataku sangat tinggi.” Maminya Izraa memang bukan wanita yang suka menindas, dia menggunakan energinya untuk urusan bisnis, urusan rumah tangga dia tak terlalu pikirkan, dia sungguh perempuan dengan pemikiran yang sangat modern.


“Maka masalah selesai bukan?” Papinya Izraa merasa tak perlu ada yang dipermasalahkan lagi.


“Kalau Sofia tahu, kalian akan habis.” Izraa masih kesal.


“Kalau tak ada yang beritahu, dia takkan tahu.” Mami menjawab.


“Aku berharap tak ada seorang pun yang akan memberitahunya kelak,” Izraa berharap.


“Maka semua tetap pada rencana kan? kau mau makan malam dulu?” Mami menawarinya makan, karena sudah sejak lama mereka tak makan bersama.


“Aku sudah makan di rumah Syila.”


“Wah beruntung sekali keluarga itu bisa makan malam denganmu, mereka juga akan semakin beruntung karena kita akan besanan.” Mami sangat percaya diri, hanya Syila yang mampu membuat anaknya pulang beberapa kali ini, walau bukan untuk memperbaiki hubungan, tapi melihat anak lelakinya pulang, tetap saja terasa menyenangkan.

__ADS_1



“Jadi, Izraa benar-benar tak tahu kalau Kevin adalah pacar adiknya?” Andi bertanya, dia dan Syila ada di kamar, Andi bilang akan menginap karena capek, tentu tidak di kamar Syila, dia akan tidur bersama Alzam, saat ini dia hanya sedang ingin ngobrol dengan sepupu yang baru saja berbaikan itu.


“Dari ekspresinya sih dia sepertinya memang tidak tahu sebelumnya, dia sangat terkejut dan buru-buru pulang aku yakin dia ingin memastikannya.”


“Kalau Izraa akhirnya ilfil gimana Syil?” Andi hanya bertanya saja, karena jujur, dia pikir dua orang itu sudah saling sayang, walau Andi tahu, hubungan mereka palsu.


“Nggak apa-apalah, lebih baik begitu, jadinya dia nggak ngotot untuk selalu berdekatan, Ndi, kau tahu kan alasannya dia ingin bersamaku, taka da ketulusan di dalamnya.”


“Mau denger pendapat gue nggak?” Andi tiba-tiba bertanya.


“Soal?”


“Hubungan kalian.”


“Apa?”


“Tapi nggak boleh marah ya?” Andi mengingatkan lagi.


“Ya.”


“Tapi kan penilaianmu sering salah.” Syila mengingatkan.


“Brengsek kau.” Sebagai saudara mereka memang sangat akrab dan berkata kasar sudah biasa pada keadaan tertentu ya. Kalau mood buruk tentu saja keakraban tetap tak berpengaruh.


“Benar kan? Ndi, Izraa ingin bersamaku karena dia merasa sehat secara mental, dia ingin perasaan itu, tapi seperti obat yang punya efek buruk jika dikonsumsi berlebihan atau dalam jangka waktu yang panjang, maka aku juga mungkin akan menjadi efek buruk bagi Izraa, maksudku bagaimana jika jodohnya bukan aku dan dia malah menjauh dari jodohnya karena sibuk denganku?”


“Nggak masuk akal ah, Syil.”


“Kok?”


“Kemungkinan dia bukan jodoh itu, sama dengan kemungkinan dia juga jodohmu, malah kau yang salah karena menjauhkan dia darimu. Ada apa sih Syil sebenarnya?” Andi tahu ada yang salah tapi tak tahu apa itu.

__ADS_1


“Hmm, gue cuma takut aja Ndi, takut kejadian sama Kevin berulang lagi.”


“Dikhianati?”


“Ya.”


“Orang bagi Izraa lu itu cuma satu orang di dunia ini, nggak ada yang lain, cuma lu yang bisa membuat dia merasakan gairah, Syil. Jadi, gimana caranya dia selingkuh? Sama siapa?”


“Sama dirinya sendiri, kalau akhirnya dia sembuh dan tak butuh obat lagi gimana? Kalau akhirnya dia bisa merasakan gairah tanpa obat lagi, maka efek kehadiranku akan tidak begitu berarti Ndi, aku akan menjadi orang yang tidak berharga lagi baginya.”


“Wah, ini jujur sih … lebih masuk akal dibanding yang tadi-tadi elu bilang sebagai alasan ingin Izraa menjauh. Kalau ini beneran terjadi sih bakal perih banget buat lu, karena akhirnya dia bisa sehat tanpa obatnya. Aku akan sendirian lagi Ndi, ditinggalkan oleh orang yang mungkin saat itu aku mulai mencintainya, jadi … mumpung saat ini aku belum mencintainya, masih mampu dan nyaman tanpa kehadirannya, aku ingin dia menjauh, aku ingin mengeleminasi kemungkinan aku mencintainya kelak.”


“Kevin tuh pengaruhnya gede juga ya Syil, dia bisa buat lu jadi takut jatuh cinta.”


“Gue nggak takut jatuh cinta, tapi ini soal penyakit mental Ndi, gue takut kalau kita menjalin hubungan beneran, maka akhirnya gua yang bakal sakit, gue emang egois nggak mau sakit sendirian.”


“Kalau misalkan Izraa memang jatuh cinta, bukan karena penyakitnya itu, apakah cinta tak bisa pudar? Malah kalau gue bilang, cinta adalah hal yang paling lemah di dunia ini, banyak variable yang bikin kemampuannya bertahan untuk tetap ada itu menjadi lemah, kayak kondisi, situasi, perubahan hormon, suasana hati, keluarga, adat dan banyak hal lain.


Cinta itu justru sesuatu yang paling sulit untuk dipercaya, Syil.”


“Perasaan gue yang pesimis sama cinta dan juga menjadi korban dari pengkhianatan, tapi kenapa jadi elu yang kelihatan kayak punya pengalaman buruk sama cinta?” Syila tertawa mendengar Andi berkata itu.


Andi terdiam, dia teringat beberapa waktu lalu saat Syila sedang marah padanya, Izraa datang ke rumahnya dan meminta bantuan untuk masalah kerjasama yang dianggap ganda itu, Izraa benar-benar mencari cara supaya Syila takkan terkena dampak, Andi melihat ada ketulusan yang bahkan nilainya melampaui cinta, walau rasa itu mungkin diawali bukan dengan cinta, tapi dengan kebutuhan, kau tahu kan, kalau hubungan kalian karena saling butuh, itu justru lebih kuat, cinta itu bisa saling berpisah, tapi kalau saling butuh mungkin tidak, maka dari itu, Andi sangat ingin Izraa menjadi pendamping Syila kelak, dia merasa Izraa mampu membahagiakan Syila, ditambah Izraa paham soal Syila, dia paham bahwa menulis adalah hidupnya, mereka berada di satu pergaulan, yaitu pergaulan seni, maka akan mudah bagi mereka untuk saling mendukung untuk setiap pekerjaan.


Tapi Andi tak mampu memaksa, jika Syila tak ingin bersama izraa.


Sementara Izraa pulang ke apartemannya dan begitu sampai dia lalu mengirim pesan singkat pada Syila.


[Selamat tidur, istirahat ya, terima kasih untuk hari ini.] Izraa mengirim pesan itu.


Syila terkejut karena Izraa seolah tak merasa kehilangan ketertarikan padanya atas informasi menjijikan yang Syila beritahu sebelumnya mengenai adiknya yang pacaran dengan mantan pacar Syila secara memaksa, walau adiknya tak tahu itu.


Syila tak menjawab, dia hanya kaget saja, Izraa bersikap seolah tak terjadi apa-apa.

__ADS_1


[Lusa aku jemput, untuk workshop serial kita.] Izraa mengingatkan bahwa serial yang dibiayai oleh Ammarhudi akan mulai diproduksi, Izraa ingin Syila datang karena dia tetap menjadi pemeran utamanya, hal yang jarang terjadi, jika pemain film mau main serial, tapi karena ini novel milik Syila, maka Izraa tak masalah.


Melihat pesan itu, Syila terdiam, ada sedikit senyum di wajahnya, dia sedikit tenang, karena tidak lagi merasa rendah akibat menyembunyikan kenyataan soal Kevin.


__ADS_2