
Setelah mereka menyatakan berpartner melalui tos ria, suasana kembali hening, pada dasarnya baik Izraa maupun Syila memang lebih suka ketenangan dan kestabilan dibanding dengan hiruk pikuk cinta yang rumit.
Izra terus saja menyetir, sementara Syila hanya tenggelam dalam ide cerita selanjutnya, hati marahnya dan keterkejutan akan nekatnya Izraa membuat serangan ide pada otak Syila, rasanya dia ingin segera mengetik untuk membuat novel baru, karena tidak membawa laptop andalannya, akhirnya Syila mengetik di telepon genggamnya, dia mengetik ide-ide baru itu di aplikasi note pada telepon pintar itu.
Tanpa sadar, mereka berdua sudah berkendara cukup lama, sekitar empat puluh lima menit.
“Mau apa lu?” Izraa bertanya.
“Apa aja.” Dia menjawab bahkan tanpa tahu apa yang dimaksud Izraa dengan ‘mau apa lu’.
“Coklat panas apa dingin?”
“Kopi item panas.” Syila menjawab dengan fokus masih pada layar telepon genggamnya, ternyat Izraa membawa mereka berdua ke salah satu restoran drive thru, restoran fastfood dan juga kafe, dimana kau bisa memesan makanan atau minuman tanpa harus turun dari mobilmu.
Izraa juga memesan makanan ringan untuk mereka berdua. Sudah cukup malam, tapi tidak membuat keduanya ingin segera pulang.
Melihat Syila begitu bergairah dalam melakukan pekerjaannya membuat Izraa menjadi tertarik akan dunia yang sedang Syila geluti.
“Nulis sejak kapan Syil?” Syila sudah memegang kopinya dan makan makanan ringan yang Izraa beli. Mereka berhenti di pinggir pantai. Membuka pintu mobil dan berbincang, udara pantai malam memang dingin, tapi kehangatan yang mereka mulai rasakan pada hubungan yang awalnya hanya keprofesionalitasan saja, menjadi hubungan persahabatan, tentu ini semua akan hancur begitu Izraa melihat telapak kaki Syila kelak. Karena ini masih di waktu 1 bulan sebelum kejadian tersebut.
“Sejak SMP Za, gue suka nulis puisi, lalu cerpen manis, sampai ketika gue mulai dewasa, gue tahu bahwa tulisan itu nggak melulu soal cinta, ada tulisan horor yang banyak cabangnya dan ada lagi tulisan misteri, makanya tulisan gue juga berkembang, nggak hanya soal cinta.” Syila menjawab, mereka masih di dalam mobil dengan keadaan pintu terbuka, hanya agar bisa mematikan mesin mobil dan menikmati angin malam pantai di Jakarta ini.
“Tapi kok bisa sih selalu best seller?” Izraa bertanya lagi.
“Kalo itu gue nggak tahu dengan pasti, selain jalan Tuhan, mungkin karena tulisan gue deket sama hal-hal yang terjadi di sekitaran, jadi saat orang baca tulisan gue, dia akan bilang ‘wah gue banget nih’. Itu sih asumsi gue.”
“Bisa jadi.”
“Kalau lu, dari kapan jadi artis?” Kali ini Syila yang bertanya.
“Masa nggak tau, emang waktu milih gue jadi peran utama elu nggak observasi dulu?”
“Heh! Lu pikir gue punya waktu buat profillng lu dulu?!” Syila kesal karena dia tidak ingin Izraa tahu bahwa dia sudah menyelidiki Izraa terlebih dahulu di kafe itu.
“Santai aja, kan lagi di pantai.” izraa menanggapi dengan santai.
Syila kembali sibuk dengan kopi dan juga makanan ringannya setelah mendengar Izraa berkata seperti itu.
Udara pantai cukup dingin, Syila yang memakai dress saja menyilangkan tangan agar tubuhnya bisa sedikit hangat.
Tidak, dia tidak mengharapkan Izraa menyelimutinya dengan jaket yang dikenakan, dia hanya sedang merasa benar-benar kedinginan, lalu … Hatchi!!! Syila bersin.
Izraa keluar dari mobil lalu mengambil sesuatu ke bagasi, setelahnya dia kembali ke kursi pengemudi dan melempar sesuatu ke Syila.
“Apaan nih!” Syila bertanya.
“Lumayan, lu kan kedinginan.”
“Ya, nggak handuk juga kali Za.” Syila kesal karena Izra melempar handuk ke wajah Syila.
“Gue takut virus lu nyebar di mobil gue, repot sterilinnya. Dah pake, terus kalau bersin tutup muka lu pake anduk itu.”
“Lu tuh ya! udah pulang yuk.” Syila mengajak Izraa pulang.
__ADS_1
“Lah, elu minta gue anter?” Izraa bertanya, Syila baru sadar, mereka tidak sedekat itu sampai Izraa harus mengantarnya pulang.
“Eh sorry, gue pesen taksi online aja deh.” Syila malu.
“Nah gitu, emang lu pikir gue supir lu! udah gue tolongin, malah ngelunjak.” Izraa asli sudah kembali.
“Iya-iya, Om.” Syila masih merasa malu.
Tidak lama kemudian, taksi online sudah datang menjemput Syila.
“Nih anduknya.” Syila mengembalikan handuk Izraa.
“Nggak usah lu bawa aja, kalau nggak lu buang juga nggak apa-apa. Kan gue bilang, takut kena virus lu.”
“Ih, sombong sekali, Anda!” Syila kesal karena Izraa terasa angkuh sekali, benar-benar seperti cuaca Indonesia sekali perubahan sikap Izraa ini, pagi terik, siang bisa tiba-tiba dingin dan tak lama turun hujan.
Syila akhirnya membawa handuk berwarna abu-abu itu dan masuk ke dalam taksi online.
“Pak, ke jalan melati di Jakarta pusat ya.” Syila menginstruksikan supir untuk mengantarnya ke rumah.
“Kirain warna handuknya bakal pelangi.” Syila bergumam.
“Kenapa Mbak?” Supir taksi online bertanya pada Syila, dia kira Syila berbicara padanya.
“Eh, enggak Pak.” Syila sedang bergumam tentang warna handuk Izraa, karena dalam pikirannya teringat kembali tentang gosip itu, bahwa Izraa tidak menyukai wanita. Walau Syila tidak terlalu peduli, tapi dia sedikit percaya.
Sementara Izraa yang masih di pantai itu ditelepon oleh Juna.
[Dimana lu!] Juna terdengar marah.
[Lu bawa Syila ke sana?] Juna semakin marah.
[Urusan gue, kan gue pacarnya.]
[Terserah ya, tapi gue sahabatnya dan Syila wanita terhormat, jadi jangan macam-macam. Dia nggak seperti perkumpulan lu yang bebas itu!]
Izraa tersenyum sinis mendengar itu.
[Ya sorry, perkumpulan gue emang bebas, tapi setidaknya kami nggak munafik dan suka memaksa macam lu.] Izraa lalu menutup teleponnya.
“Gue nolongin Syila cuma karena kasian, Juna dan keluarganya memang suka keterlaluan kalau keinginan mereka nggak tercapai, mereka suka melakukan hal di luar batas.” Izraa berbicara sendiri. Dia memang tidak akur dengan sepupunya yang sok sempurna itu.
Apalagi sejak gosip mengenai Izraa yang tidak menyukai wanita, Izraa makin menjadi olok-olokan keluarga Juna setiap ada pertemuan keluarga, setidaknya kali ini bisa membuat Juna dan keluarganya malu.
Satu kali dayung, dua tiga pulau terlampaui.
Walau bagi Izraa, membuat keluarganya senang, juga bukan hal yang selalu dia ingin lakukan.
...
“Jadi benar kamu dan lelaki nggak jelas itu ada hubungan?” Papinya Syila sudah menghadangnya di depan pintu begitu Syila masuk gerbang rumah.
“Lelaki nggak jelas? Namanya Izraa, dia tuh pemain film senior Pi, masa dibilang nggak jelas, ya kan, Ndi?” Syila meminta pembelaan dari satu-satunya sekutu.
__ADS_1
“Sorry, aku nggak ikutan ya. Selamat malam.” Andi yang diharapkan menjadi bala bantuan malah kabur, Syila lupa bahwa Papinya adalah orang yang paling ditakuti keluarga, sejauh ini, hanya Syila yang suka membantahnya.
“Papi, Syila capek, bisa kan kita obrolin ini dengan tenang nanti-nanti aja?”
“Nggak bisa! Papi mau kamu putus sama dia! ngerti.”
“Ok Bos, laksanakan.” Syila bergegas ingin meninggalkan Papinya.
“Syila!” Papinya menarik Syila untuk tetap mendengar marahnya.
“Apa lagi sih Pi, kan Syila udah setuju. Syila sama Izraa bakal putus, bubar, end. Gitu aja kok repot.”
“Lakukan sekarang juga, Papi mau liat kamu lakukan itu di depan Papi.”
“Ok, nggak ada masalah.” Syila lalu menelpon Izraa, untung dia sudah menyimpan nomor itu ketika dulu proses reading.
[Kenapa?] Syila me-loud speaker telepon genggamnya, agar papinya bisa mendengar perkataan Izraa, dia begitu mengangkat telepon langsung bertanya tanpa sapaan.
[Za, Papi minta kita putus.] Nada Syila terdengar sedih, tentu itu hanya akting, Izraa bisa membaca situasi ini.
[Tapi Syil, kita bisa bicarain ini baik-baik, kan, ke Papi?] Izraa memperkuat akting Syila.
[Nggak bisa sayang, maaf, mungkin cinta kita memang hanya bisa sampai di sini saja.] Syila menambahkan kesedihan yang lebih dalam pada wajahnya. Mereka terdengar saling melempat kalimat yang dihiperbola.
[Sayang, aku mohon.]
[Sorry Za sayang.] Syila menutup teleponnya, di sebrang sana Izraa tertawa, ini benar-benar seru menurutnya.
“Papi udah dapetin apa yang Papi mau kan?”
“Ok.”
“Sekarang giliran Syila yang minta imbalan atas permintaan Papi, Syila minta, Papi jangan lagi paksa Syila untuk deket dengan Juna dan keluarganya.” Syila menatap papinya dengan tajam.
“Tapi ….”
“Bukannya Papi yang ajarin Syila, jika seseorang memberikanmu sesuatu, balas dengan kebaikan yang lebih, sekarang Syila menuntut itu, Syila telah menurut semua mau Papi, sekarang giliran Papi.” Syila membuat Papinya terjebak, sama seperti yang mereka lakukan tadi pada Syila.
“Asal selanjutnya Papi kamu libatkan dalam memilih suami, maka Papi tidak akan memaksa kamu dekat dengan Juna lagi.”
“Baik, jadi, Syila boleh ke kamar sekarang?” Syila lalu berjalan dengan anggun, seperti biasa, Syila selalu menang.
Tapi kali ini berbeda, ada peran Izra di dalamnya, baru kali ini Syila memiliki partner dalam mewujudkan keingianannya, partner selain Andi.
_________________________________________________
Catatan Penulis :
Jangan lupa ya, ini masih masa di mana Izraa belum mengungkapkan penyakitnya, seperti part 1 yang dijelaskan sebelumnya, ini masih masa 6 bulan lalu dimana Izraa dan Syila baru bertemu dan mulai membangun hubungan.
Nanti kalau sudah sampai di part sambungan di mana Izraa mengungkapkan penyakitnya, aku akan jelaskan dan beri kalian tanda supaya nggak bingung ya.
Jangan lupa Vote, jangan lupa mampir juga di cerpenku ya dan kasih like.
__ADS_1
Terima Kasih.