
Setelah selesai semua prosedur pemeriksaan, Anita dan putranya pun segera keluar, menuruju ruang pengambilan obat. Namun sebelumnya, Anita bermaksud ke toilet dulu. Dia pun menyuruh Andika supaya berjalan duluan menuju ruang pengambilan obat.
Keluar dari toilet, tangisan dari sudut ruangan sana menarik perhatian Anita. Dia berjalan menghampiri, dilihatnya dari kejauhan seorang gadis sedang tertunduk menangis keras tanpa menghiraukan keadaan sekelilingnya.
****
Arisa yang dari tadi sudah menunggu dengan gelisah di depan ruang operasi ibunya. Tidak lama kemudian, dokter pun keluar.
"Bagaimana keadaan ibu saya, Dok ?" tanya Arisa.
"Maaf kami sudah berusaha, untuk saat ini Ibu Anda masih dalam keadaan koma Nona, kami tidak bisa memprediksi kapan pasien akan sadar, mengingat kecelakaan yang dialaminya sangat parah." dokter menjelaskan dengan datar membuat Arisa semakin menangis lebih keras seketika itu ketika dokter dan perawat sudah berjalan meninggalkan tempat itu.
"Mak....mak harus kuat....mak harus sembuh....Arisa tidak mau hidup sendiri." tangisannya semakin menjadi-jadi. Johan pun bingung bagaimana lagi harus menenangi sahabatnya itu.
****
Sekilas Anita memandangi gadis itu, tiba-tiba ketika Arisa mendongakkan kepalanya, Anita kaget.
Erina??? Erinakah itu???? Dengan cepat dia berjalan mendekati dan bermaksud untuk mencari tahu.
"Erina..." teriak Anita sambil berjalan ke arah Arisa
Arisa dan Johan sama-sama kaget dan memandang ke arah suara.
Apaan sih, kok ada lagi yang memanggil nama Erina di saat begini, gak pas banget sih waktunya....ini siapa lagi???
"Kamu Erina kan, nak? Kamu masih hidup? kamu baik-baik saja." tanya Anita sambil menatap Arisa dari atas sampai ke bawah sampai tak berkedip matanya.
"Maaf nyonya, seperti Anda salah orang. Teman saya ini namanya Arisa, bukan Erina." jawab Johan sopan
"Tetapi kamu mirip sekali dengan Erina. Erina calon menantu saya...." lanjut Anita masih tidak percaya kalau gadis di depannya ini bukan Erina, karena memang wajahnya mirip sekali, meskipun wajah Arisa kurang polesan dibandingkan Erina, sambil mengingat-ingat kembali wajah Erina.
__ADS_1
"Bukan nyonya, saya bukan Erina. Saya Arisa." jawab Arisa
"Oh, maafkan saya, kalau begitu saya mungkin salah orang. Maaf sudah menggangu kalian." Anita mengakhiri pembicaraan, terlihat wajah kecewa pada wajahnya itu. Diapun berjalan meninggalkan tempat itu untuk menyusul Andika.
****
"Mama, ke mana saja? Kok lama?" tanya Andika ketika melihat Anita berjalan mendekatinya.
"Tidak, tadi mama hanya ke toilet saja. Lalu....." Anita terhenti sejenak berpikir apakah dia perlu menceritakan apa yang dilihatnya tadi.
"Lalu kenapa, Ma?" tanya Andika penasaran.
"Mama tadi melihat seorang gadis yang mukanya mirip Erina, mama kirain itu Erina, padahal Erina kan....." hampir saja dia mau mengatakan bahwa Erina sudah meninggal.
"Erina masih di luar negeri." lanjutnya
Erina???? pasti gadis itu, pelayan cafe yang kutemui kemarin. Tetapi, kenapa Erina ada di rumah sakit? Siapa yang sakit. Andika menjadi penasaran. Namun, sesaat kemudian, namanya dipanggil untuk menerima obat yang telah diresepkan dokter. Lalu, Anita mengajak Andika untuk langsung pulang, sehingga Andika tidak sempat mencari tahu, apakah benar Erina sedang di rumah sakit ini.
Bagaimana mungkin Erina masih hidup? atau jangan-jangan jenazah yang dimakamkan kemarin itu bukan Erina. Pikir Anita karena memang dia tidak ikut menghadiri pemakaman Erina kemarin.
Mungkinkah itu gadis yang dilihat oleh Andika, sehingga dia berpikir Erina masih hidup. Akh...aku akan mencari tahu tentang gadis itu.
Aku yakin gadis itu pasti Erina. Pasti dia juga hilang ingatan gara-gara kecelakaan sepertiku makanya dia tidak ingat denganku . Andika masih tetap bersikukuh dengan keyakinannya itu.
****
Saat ini, Arisa sedang menemani ibunya yang terbaring koma di salah satu ruang perawatan. Dia sendirian, Johan tidak bisa menemaninya karena harus kembali ke tempat kerjanya. Tidak lama kemudian, seorang perawat masuk untuk memintanya mengurus administrasi perawatan ibunya itu. Dia berjalan lesu menuju ruang administrasi. Begitu kagetnya, ketika melihat tagihan biaya rumah sakit, ini baru biaya operasi yang tadi, belum lagi biaya-biaya selanjutnya. Dari mana dia harus mendapatkan uang sebanyak itu, pikirnya. Kepada siapa dia harus meminta tolong, Johan juga pasti tidak mempunyai uang sebanyak itu untuk membantunya.
Dia berjalan lesu kembali ke ruang perawatan ibunya. Pikirannya buntu untuk memikirkan jalan keluar membayar tagihan rumah sakit itu. Hatinya kalut memandang ibunya, satu-satunya keluarga yang dimilikinya saat ini. Ayahnya telah meninggal saat dia masih SD, dia tidak punya saudara, bahkan keluarga dari orang tuanya di kampung pun dia tidak tahu karena sudah lama kedua orang tuanya merantau tingggal di kota dan belum pernah sekalipun membawanya pulang kampung. Di tengah kegalauan hatinya, akhirnya dia terlelap karena saking capeknya memikirkan semua yang terjadi hari ini.
*****
__ADS_1
"Tolong cari tahu semua hal tentang gadis yang mirip dengan Erina, Ibunya sedang dirawat di rumah sakit XXX saat ini. Informasikan kepada saya semua hal yang kamu dapatkan." perintah Anita kepada satu orang suruhannya di telepon.
"Siap, bu."
"Saya perlu informasimu secepatnya." lanjut Anita
"Siap, laksanakan, Bu...saya akan bergerak sekarang." jawab laki-laki itu dari seberang telepon. Anita pun menutup teleponnya berharap akan cepat mendapatkan informasi tentang gadis yang mirip Erina itu.
Andika sendiri tidak keluar- keluar dari kamar sejak kembali dari rumah sakit tadi. Anita kemudian berjalan menuju kamar putranya itu untuk sekedar mengecek apa yang sedang dilakukan Andika.
Tok....tok....tok.....
"Bisa mama masuk, Nak?" tanya Anita dari luar
"Masuk saja, Ma. Tidak dikunci kok." Anita pun segera masuk ke dalam dan mendapati Andika sedang berbaring di atas ranjangnya sambil menikmati musik yang sedang diputarnya. Sekilas, Andika menampakkan senyuman menyambut kedatangan mamanya itu.
"Tumben, kamu kelihatan senang sekali hari, Nak." tanya Anita sambil mengelus kepala putranya itu
"Oh...tidak.....biasa saja kok." jawab Andika singkat, kemudian melanjutkan bersenandung mengikuti alunan musiknya.
"Ya sudah, mama tidak mau gangguin kamu ya, selamat menikmati musiknya ya. Nanti akan mama panggil, kalau sudah waktunya makan malam." lanjut Anita bergegas keluar dari kamar, namun hatinya ikut senang melihat perubahan Andika dari kemarin. Dirinya sudah lebih ceria dibandingkan awal-awal baru keluar dari rumah sakit.
*****
"Kamu sudah dapatkan informasinya? Sekarang beritahukan semuanya kepada saya." Anita menerima telepon dari orang suruhannya.
"Bagus....bagus....kerjamu bagus....saya akan mentransfer bayaranmu nanti." ucap Anita senang setelah mendengarkan semua informasi dari orang suruhannya itu.
"Sekarang kamu bantu aturkan, supaya saya dapat bertemu dengan gadis itu besok!" perintah Anita.
"Siap, Bu. Laksanakan !!!" Lalu Anita menutup teleponnya dan berjalan menuju dapur.
__ADS_1